28
Okt
09

Bagaimana Memupuk Aktivitas Seks yang Positif

Bagi banyak orang, seks merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan. Padahal, pengetahuan tentang seks adalah penting karena hal ini dapat menjadi alat penyatu pasangan suami-istri dalam memberi dan menerima cinta. Kegiatan seks bukanlah semata-mata aktivitas di atas ranjang saja. Tetapi, dalam hubungan yang penuh cinta dan rasa saling percaya, seks menawarkan kesempatan untuk membuka diri dan menemukan kenikmatan sehingga pengalaman dan gairah seksual suami-istri akan meningkat.

Kenyataannya, dari hasil observasi dan bincang-bincang secara pribadi dengan teman-teman, saya menemukan bahwa aktivitas seks mulai berkurang bahkan seperti menghilang dari pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah. Padahal, fisik mereka masih sehat dan kuat. Sebagian besar, kalau tidak dipusingkan oleh masalah tentang anak, ya tenggelam dalam pekerjaan dan kegiatan rutin sehari-hari. Sehingga, tidak ada lagi energi yang tersisa untuk memadu kasih dengan pasangannya. Akibatnya, aktivitas seksual menjadi minim dan tidak nikmat lagi. Konsekuensinya, kehidupan seks banyak pasangan menjadi hambar dan mati sebelum waktunya.

Seks sangat berkaitan dengan segala aspek dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali, salah persepsi atau ketidaktahuan kita dalam menyikapi persoalan seks secara tidak langsung telah mengakibatkan hubungan suami-istri menjadi renggang dan retak. Bahkan, dalam banyak kasus, hal ini sebagai pemicu terjadinya perceraian.

Teman saya yang bernama Nuri (bukan nama sebenarnya) pernah bertanya, “Bagaimana mungkin seorang suami yang tidak memahami aktivitas seks bisa mengerti dan memahami kenikmatan dalam bercinta? Setiap kali akulah yang harus memulai. Itu pun sering ditolak dengan alasan capek. Lama-kelamaan kita juga bisa malas dan jadi mati rasa, benar ‘kan, Vin?”

Wah, gawat juga ya??? Pantas, setiap kali bermasalah dengan suaminya, dia selalu menelponku untuk mengeluarkan uneg-uneg-nya. Dari curhat-curhat rutin inilah akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa tanpa disadari, seks termasuk salah satu pemicu masalah komunikasi antara Nuri dengan suaminya.

Setelah terdiam sejenak, saya pun mulai memberikan penjelasan tentang pentingnya seorang perempuan mengenal dan peka terhadap tubuhnya sendiri. Terus terang, pengetahuan ini saya dapatkan dari buku yang dibaca saat masih kelas tiga SMA dulu. Jadi, memang sudah lama sekali. Bukunya berjudul “Every Woman” dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Buku ini mampu meningkatkan wawasan kita tentang pendidikan seks dan merupakan salah satu buku terbaik dan sangat berguna yang pernah saya baca. Isinya tidak hanya mengajarkan bagaimana mendapatkan kenikmatan seks, tetapi juga menjelaskan akibat-akibat yang timbul jika seks dilakukan secara liar, bebas dan sembarangan. Jadi, kita harus benar-benar mampu mengontrol diri dan berpikir jernih serta tidak mengikuti hawa nafsu saja agar terhindar dari penyakit-penyakit yang dapat merusak kualitas keturunan kita kelak.

Kemudian, saya meneruskan, “Jika kita memiliki hubungan yang mesra dan harmonis dengan pasangan, maka kemungkinan besar penyelewengan tidak akan terjadi. Bahkan, saat anak-anak semakin besar dan menjadi lebih mandiri, kita akan punya lebih banyak waktu untuk menumbuhkan dan menguatkan kembali tali cinta dan kasih dengan pasangan. Tentu saja ini baru mungkin jika komunikasi berjalan mulus. Bagaimana Nuri? Kamu setuju tidak dengan pernyataanku ini?”

Nuri menganggukkan kepalannya. “Tapi Vin, bagaimana aku mampu membuat keadaan menjadi lebih baik? Suami sering membuat aku frustrasi. Walaupun dia itu baik dan sangat bertanggung jawab terhadap keluarga kami, tapi banyak hal yang kini telah sirna dan lenyap dalam hubungan kami berdua.”

“Nuri, tidak ada hal yang sulit di dunia ini asal kita mau berpikir jernih dan melakukan segala sesuatu dengan tulus dan dari lubuk hati yang terdalam. Aktivitas seks yang positif sebenarnya berawal dari hal-hal kecil yang sering kita lewatkan. Tidak usah terus mencari-cari kesalahan dan kekurangan pasangan kita. Tetapi, marilah kita mulai dari diri kita sendiri dulu dengan melakukan beberapa hal sederhana yang dapat memberikan rasa dan warna pada hubungan kalian yang telah hambar dan memudar itu.”

1. Senyuman

Saat beradu pandang dengan suami di pagi hari dan ketika menyambut kepulangan suami dari kantor, cobalah untuk tersenyum. Berikan senyuman termanis hanya untuk dia. Hal ini tentu akan membuat hatinya damai dan tentram setelah seharian bekerja demi keluarga. Suami pasti akan senang bila tahu istri yang dicintainya merasa bahagia. Dengan demikian, akan timbul keinginan untuk selalu berada di dekat kita.

2. Rasa Percaya Diri

Jangan terlalu khawatir dengan tubuh kita yang tidak sempurna. Lemak yang sedikit berlebihan di sana sini bukanlah masalah utama. Yang penting, rawatlah diri kita agar terlihat bersih dan menarik. Suami pasti lebih suka bercengkerama dengan istri yang percaya diri, mengerti dan memahami kebutuhan fisik, emosional serta spiritualnya. Istri yang penuh percaya diri pasti lebih bersemangat sehingga mampu memancarkan energi positif bagi seisi rumah.

3. Pujian

Setiap orang pasti ingin dihargai dan dihormati. Pujian yang simpel dan sederhana tentu akan membuat perbedaan. Mulailah memperhatikan hal-hal positif yang telah suami lakukan untuk kita. Kemudian, berilah pujian yang sewajarnya. Misalnya: “Kamu memang suami yang baik. Aku merasa beruntung memilikimu.” Percayalah, apa yang kita berikan pasti akan kembali kepada kita lagi. Jadi, tidak usah heran jika suatu saat suami mulai memuji hal-hal positif yang kita lakukan untuknya atau pun keluarga. Biasanya, laki-laki memang jarang memberikan pujian secara gamblang. Akan tetapi, dengan kepekaan yang terus-menerus terasah, kita dapat merasakan pujian tersebut dengan membaca raut wajah dan bahasa tubuh mereka. Kadang-kadang pujian juga tersirat dari kata-kata yang mereka ucapkan.

4. Variasi

Kita pasti akan cepat bosan dengan irama hidup yang monoton. Jadi, mulailah berpikir untuk menciptakan variasi-variasi yang mungkin serta sesuai dengan kepribadian dan norma-norma yang kita junjung. Variasi tidak hanya dibutuhkan saat beraktivitas seks. Tetapi, tambahkanlah bumbu dalam kegiatan dan rutinitas sehari-hari agar hidup terasa lebih bergairah. Untuk itu, asahlah terus pikiran agar kreativitas kita berkembang sehingga suasana di rumah menjadi lebih hidup.

5. Sikap Terbuka

Penting bagi pasangan untuk selalu bersikap terbuka satu dengan yang lain. Belajarlah untuk menjadi pendengar, pembicara dan pencerita yang baik bagi pasangan kita. Karena, orang yang pandai dan piawai dalam berkomunikasi akan mampu menyampaikan pikiran, tujuan dan maksudnya dengan baik dan jelas. Semakin kita mengenal pasangan kita, semakin timbul hasrat dan keinginan untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Apakah itu untuk bertukar pikiran atau pun bercengkerama misalnya.

Jadi, jelaslah kini bahwa untuk menikmati hubungan seks yang positif, kita harus melakukannya secara holistik atau menyeluruh. Seks yang nikmat tidak terjadi begitu saja saat kita berada di tempat tidur. Tetapi, semuanya berawal dari interaksi sehari-hari dengan pasangan. Disamping itu, pengetahuan tentang seks juga penting. Saat ini sudah banyak buku yang mengupas hal ini. Jadi, kalau kita masih menganggap seks adalah masalah yang tabu untuk dibicarakan, kemungkinan besar kita telah ketinggalan kereta. Aktivitas seks yang positif akan membuat hidup menjadi lebih bergairah dan menyenangkan. Sehingga, jangan biarkan aktivitas seks mati sebelum waktunya.

Di mana ada kemauan, disitu pasti ada jalan. Semoga bermanfaat!

Love_Making

12
Okt
09

Saling Memuji

You don’t love a woman because she is beautiful, but she is beautiful because you love her. ~ Anonymous

Two-Thumbs-Up1

Di balik musibah pasti ada hikmah yang dapat dipetik. Sejak gempa dahsyat yang terjadi di kota Padang tanggal 30 September yang lalu, hubungan saya dengan Paman dan Bibi menjadi lebih akrab lagi. Saya pun jadi lebih sering memikirkan keadaan dan kondisi mereka saat ini. Kenapa tidak? Sejak dulu, mereka telah menjadi bagian dari hidup saya dan sudah saya anggap seperti orangtua sendiri. Apalagi, kedua orangtua saya sendiri telah lama tiada. Jadi, apa pun yang terjadi pada Paman dan Bibi, pasti tidak akan luput dari pantauan saya dan kedua adik saya. Mungkin inilah untungnya pernah hidup bersama keluarga Paman selama lebih kurang dua belas tahun di Padang sehingga ikatan batin yang terjalin tak lekang oleh waktu dan tak lapuk oleh jarak.

Tanpa terasa, sudah sepuluh hari Paman dan Bibi berada di Jakarta. Yaitu, sejak Padang, kota di mana Paman dan Bibi selama ini tinggal, jadi porak poranda karena gempa. Dalam kurun waktu tersebut, saya pun telah empat kali mengunjungi mereka. Dan, selama kunjungan tersebut, ada satu hal positif yang terus mengisi pikiran saya. Sehingga, saya pun tertarik untuk meniru dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jika pernah membaca tulisan saya sebelum ini yang berjudul “Tegar”, anda pasti sudah tahu kalau saat ini Paman sudah tidak lagi dalam kondisi kesehatan yang prima. Hidup Paman hampir sepenuhnya bergantung kepada Bibi. Bahkan untuk aktivitas yang ringan dan rutin sekali pun. Putra sulung Paman juga harus ikut merawat dan menjaga Paman. Bayangkan, makan harus disuapi, minum harus dibantu, jalan pun harus dipapah, dan tentunya masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu. Beruntung, saya memiliki seorang Bibi yang tegar dan teguh. Setiap hari, dia merawat Paman dengan sabar, telaten dan sepenuh hati.

Menurut hemat saya, apa yang Paman dapatkan tidak mungkin tertandingi oleh pelayanan VIP rumah sakit mana pun. Untuk hal ini, saya benar-benar harus angkat topi untuk Bibi dan sepupu saya. Sebagai contoh, butuh waktu satu jam untuk menyuapi Paman agar bubur semangkuk habis dimakan. Akan tetapi, yang membuat saya terkesan dan terharu adalah setiap kali Paman selesai dengan buburnya, Bibi langsung mengangkat kedua jempolnya sambil berkata, “Cin Gao” yang artinya ’sangat pintar’. Kata-kata dalam bahasa Hokkian ini biasa diucapkan untuk memberikan pujian atau dukungan pada lawan bicara kita. Oh ya, sehari-hari kami memang terbiasa berbicara dalam bahasa Hokkian.

Jika Bibi tidak langsung mengangkat kedua jempolnya, otomatis Paman yang akan melakukannya terlebih dahulu sambil berkata, “Cin Gao.” Sungguh pemandangan yang bisa membuat hati siapa pun terenyuh. Selama empat puluh dua tahun hidup bersama, komunikasi di antara mereka masih saja terjalin dengan begitu baik, bahkan lebih baik lagi di saat Paman semakin kehilangan daya dan kekuatannya. Saking penasaran, saya mencoba berimajinasi kira-kira apa ya yang terlintas dalam pikiran mereka saat saling memberikan semangat dengan kedua jempol tersebut.

Bibi : “Aku sudah melakukan tugasku dengan baik, kamu senang?”
Paman : Iya, terima kasih sudah menjaga dan merawatku dengan baik.”
Bibi : “Syukurlah.”
Paman : “Kamu benar-benar istri teladan.”

Kejadian di atas terus berputar dan berputar di benakku. Pagi tadi, saat sedang membaca koran, saya pun menceritakan kejadian tersebut kepada suami. Berharap bisa langsung mempraktekkannya, saya meminta tolong agar dia mau membuang kertas yang ada di tanganku ke tong sampah yang sebenarnya hanya beberapa langkah dari tempat kami duduk. Dengan senang hati suami pun mengikuti ‘perintah’ tersebut. “Xie xie”. Terima kasih, kataku sambil tersenyum dan mengangkat kedua jempol untuk menghargai bantuannya.

Dengan senyuman, suami juga ikut mengangkat kedua jempolnya sambil memperlihatkan tatapannya yang penuh arti. Luar biasa! Pelajaran dan teladan yang baru saya dapatkan dari Paman dan Bibi memang layak untuk terus dipraktekkan dan dipupuk agar menjadi sebuah kebiasaan. Bagaimana dengan Anda? Apakah tertarik untuk mengikuti jejak saya? Jika iya, mulailah sekarang juga dengan orang-orang yang anda cintai dan kasihi. Anda pasti akan lebih bahagia lagi. Selamat mencoba dan semoga berhasil!

04
Okt
09

Tegar

P1010422Saat membuka mata pagi hari ini, aku terus menangis. Menangis dan menangis sampai mataku sembap dan hidungku bengkak. Aku tak kuasa menahan rasa sedih karena teringat akan pertemuan tadi malam dengan Paman dan Bibi yang baru datang dari Padang untuk mengungsi ke Jakarta. Karena, kota Padang telah porak poranda.

Masih jelas dalam ingatan saat Rabu sore tanggal 30 September 2009 yang baru beberapa hari berlalu. Melalui Facebook, seorang teman meminta agar yang punya sanak saudara di Padang segera mencek keluarganya. Gempa dahsyat dengan kekuatan 7.6 SR baru saja terjadi. Tanpa pikir panjang, aku langsung menghubungi saudara sepupuku yang di sana tapi tidak berhasil. Akhirnya, setelah menelpon saudara lainnya yang ada di Jakarta, aku mendapat kabar bahwa Paman dan Bibi dalam keadaan baik dan selamat. Rumah mereka hanya retak-retak kecil di beberapa tempat. Sedangkan rumah tetangga di seberang jalan roboh. Terus terang, aku sangat khawatir karena kesehatan Paman yang terus memburuk akibat penyakit yang sudah bertahun-tahun bersarang dalam tubuh.

Awalnya, Paman, Bibi dan seorang sepupuku masih ingin bertahan di Padang karena akan repot membawa Paman yang tidak sehat ke Jakarta. Lagipula, bukankah kita selalu merasa aman dan nyaman jika berada di rumah sendiri? Akhirnya, setelah dipertimbangakan lagi, mereka setuju untuk mengungsi ke Jakarta sambil menunggu kondisi kota Padang membaik.

Dalam ingatanku, Padang adalah sebuah kota yang indah dan bersih. Kota ini selalu ada dalam kenangan karena di sinilah aku dibesarkan. Kami sekeluarga tinggal tinggal bersama keluarga paman selama belasan tahun yaitu sejak aku masih berusia lima sampai delapan belas tahun. Jadi, saat tahu bahwa Padang telah luluh lantak karena gempa, hatiku pun ikut menangis. Tanpa terasa, sudah dua puluh lima tahun aku meninggalkan kota ini. Dan, jika dihitung-hitung, selama ini aku hanya pernah kembali sebanyak enam kali saja. Yang terakhir adalah tujuh tahun yang lalu dan secara fisik kota ini sudah sangat berubah. Kini, walaupun sebagian besar kota telah rusak, kenangan yang tersimpan akan tetap berkibar.

Saat mendengar dan melihat kehancuran kota dari foto-foto maupun video yang di-posting teman-teman via Facebook, aku merasa getir. Akan tetapi, air mata masih bisa kutahan dan hanya sempat mengambang sebentar di pelupuk mata. Tadi malam, saat bertemu Paman dan menyaksikan sendiri kondisi fisiknya yang sudah begitu lemah, hatiku serasa diiris-iris. Paman masih mengenaliku dan sorot matanya telah mewakili kata-kata yang tidak terucapkan. Bibi yang telah mendampingi paman selama empat puluh dua tahun terlihat begitu tabah dan teguh dalam merawat dan menjaga Paman. Malahan Bibi masih bisa bercanda bahwa sekarang dia sudah berganti profesi menjadi perawat. Melihat semua ini, aku jadi tidak tahan dan meneteskan air mata. Dengan sekuat tenaga aku berusaha menahannya agar tidak tumpah ruah.

Saat makan malam bersama Bibi dan keempat saudara sepupuku, kami pun mengenang masa-masa indah ketika masih bersama-sama dulu di Padang. Aku juga sempat memberikan penjelasan kepada putriku, Lisa yang ikut duduk di sana bahwa beginilah keadaan kami dulu, selalu ada yang dibicarakan saat duduk bersama baik di meja makan ataupun di ruang keluarga. Aku pun menjelaskan kepada Lisa bahwa keluarga Paman sudah kuanggap seperti keluarga sendiri. Dua belas tahun tumbuh bersama telah membuat tali persaudaraan kami lekat dan taut. Tiga orang saudara sepupuku kini sama-sama tinggal di Jakarta dan kami memang tidak bisa selalu bertemu karena kesibukan masing-masing. Walaupun demikian, jika ada hal penting, kami pasti segera berkumpul. Aku juga senang karena Lisa menyaksikan sendiri bagaimana Paman dirawat dan dijaga dengan baik oleh keluarganya.

Ketika membahas masalah gempa di Padang, aku tidak mendeteksi adanya pikiran negatif dari Bibi dan sepupuku (anak tertua Bibi yang tinggal bersama mereka di Padang). Mereka juga menceritakan kejadian-kejadian positif dibalik cerita-cerita sedih setelah gempa. Misalnya, ada seorang tetangga yang telah tertimbun reruntuhan selama 34 jam tapi masih hidup dan hanya mengalami luka ringan saja. Bibi juga mengatakan bahwa selama ini kita hanya menonton bencana langsung dari TV. Saat mengalami sendiri baru rasanya ngeri. Yang membuat aku terperangah adalah saat Bibi membandingkan gempa di Padang dengan yang terjadi di China tahun lalu. “Gempa di Se Chuan jauh lebih payah dan parah. Saat gempa terjadi cuaca begitu buruk. Ditambah lagi dengan tanah longsor sehingga akses ke sana terputus sama sekali. Tentara yang akan membantu evakuasi harus diturunkan dari udara. Bagaimanapun apa yang terjadi di Padang masih jauh lebih baik karena bantuan bisa segera datang.” Aku hanya bisa terpaku dan tubuhku seakan membeku. Bibi tetap tidak berubah. Tabah, pasrah dan tegar.

Kenangan indah, kondisi Paman yang cukup memprihatinkan, serta ketabahan dan ketegaran Bibi sungguh membuat aku terharu. Itulah sebabnya tadi pagi aku terus menangis saat pikiran-pikiran tersebut tidak mau pergi. Tiba-tiba, aku teringat akan sebuah buku yang berjudul ‘Masa-masa Sulit, Anak-anak yang Tegar’ yang diterjemahkan dari ‘Tough Times, Strong Children’, ditulis oleh Dan Kindlon, Ph. D. Buku ini aku baca sekitar empat setengan tahun yang lalu. Isinya memberikan ilham kepada kita untuk bertindak secara berani bagi anak-anak kita ketika mereka merasa takut. Dan, hal terpenting yang aku dapatkan adalah bagaimana orangtua dapat bersikap proaktif untuk memberdayakan dan memberi kekuatan kepada anak-anak dalam menghadapi ketidakpastian masa depan. Masa-masa sulit memang membutuhkan orangtua yang tegar.

Akhir kata, dalam renungan aku merasa begitu beruntung telah dibesarkan di tengah-tengah orang dewasa yang terbukti tegar, tabah dan kuat saat menghadapi kemalangan. Mereka adalah kedua orangtuaku yang telah tiada serta Paman dan Bibi. You’ll be in my heart, always!

26
Sep
09

“Dingin”

Aku dan suamiku, Anton baru saja selesai bercengkerama dan bermaksud untuk tidur. Tetapi, baru beberapa detik aku merebahkan diri pada kasur yang empuk, tiba-tiba terdengar sebuah lagu yang sudah tidak asing lagi ditelinga…

“Tolong, tv-nya jangan dimatikan dulu, sayang! Itu Emilia Contessa bukan?” Kataku sambil melompat dari tempat tidur, lalu pindah ke depan tv. Hatiku pun jadi berbunga saat Anton juga ikut duduk di sebelahku. Ternyata aku salah besar. Bukan Emilia Contessa yang sedang menyanyi di Metro TV, melainkan Hetty Koes Endang, idolaku saat masih di SMP & SMA dulu. Aku senang sekali bisa mendengar suara Hetty lagi yang masih merdu dan indah seperti dulu. Lagu yang dibawakan adalah “Damai Tapi Gersang” karya Ajie Bandi.

Terus terang, selama ini tv di kamar lebih sering menyala saat suami sedang ada di rumah. Jika melihat aku sedang berada di depan komputer atau duduk membaca, dia langsung memakai earphone agar suara tv tidak mengusikku. Bolehlah ge er sedikit saat tahu bahwa suami lebih senang berada di dekatku daripada harus duduk sendirian di depan tv ruang keluarga.

Kemudian, saat Hetty membawakan lagu kesukaanku yang berjudul “Dingin”, aku benar-benar tidak tahan lagi dan mulai ikut beryanyi…

Malam yang dingin, aku sendiri
Dingin dingin hati ini tambah dingin, entah mengapa
Kalau cinta memang aku sudah tak punya
Air mataku pun kini keringlah sudah, dingin…

Tiba-tiba aku sedikit menyesal karena tidak bisa menahan diri untuk tidak menyanyi. Bukankah lebih baik jika suamiku menikmati suara Hetty yang indah dan terlatih itu daripada suaraku yang hanya biasa-biasa ini? Saat kulirik, Anton hanya tersenyum-senyum saja. Setelah acara selesai, tv-pun dimatikan karena sudah waktunya untuk tidur. Namun, aku masih ingin ‘bermain-main’ sebentar dengan lagu Hetty. Jadi kuulangi lagi bagian refrain-nya saja:

Kaujanjikan berbulan madu, ke ujung dunia (Gua ngak pernah minta bulan madu, kan?)
Kaujanjikan sepatuku dari kulit rusa (Gua ngak butuh sepatu, hanya minta buku saja, ha.. ha..)
Tapi janji tinggal janji, bulan madu hanya mimpi
Tapi janji tinggal janji di bibirmu (Thanks ya, rasanya sampai hari ini kamu belum pernah ingkar janji deh)

Itulah enaknya jika menyanyi tanpa harus tergantung iringan musik. Bisa ditambah dengan kata-kata sendiri. Ha… ha… ha…. Suamiku memang sudah terbiasa dengan istrinya yang tidak bisa diam ini. Menyerah pada nasib dan pasrah saja. Setelah selesai, aku belum juga bisa diam, “Gua bisa nyanyi ‘kan?” Anton hanya mengangguk. “Terima kasih ya sudah mendorong aku untuk les nyanyi. Saat ini gua sih paling pede kalau nyanyi di depan kamu saja. Yah, kalau dibanding Hetty, suara gua sih ngak ada apa-apanya. Tapi kamu suka ngak saat gua nyanyi tadi?” Anton kembali mengangguk dan kemudian tersenyum penuh arti. “Terima kasih sudah membiarkan aku menjadi diriku sendiri. Oke, selamat tidur ya.” Saat kulihat jam, ternyata sudah pukul 2 pagi dan aku baru saja mau tidur. What a wonderful moment.

winter

24
Sep
09

Terbebas dari Rasa Sakit

painPagi ini, saat akan mulai melakukan yoga, telepon rumah berdering. Ternyata teman baikku, Riana (bukan nama sebenarnya) yang menelpon. “Pasti ada yang hendak dibicarakan atau didiskusikan. Jadi, tidak apalah kalau yoga harus ditunda dulu,” kataku dalam hati. Ria memang sudah sangat biasa bertukar pikiran denganku mengenai masalah anak, keluarga ataupun pendidikan. Tapi akhir-akhir ini, karena bermasalah dengan lutut kanannya, kami pun lebih sering membahas masalah kesehatan.

“Vin, kamu ngak pergi.”

“Enggak. Aku ‘kan lebih senang mengeram di rumah. Tadi malam sih sudah jalan-jalan sebentar bersama keluarga ke GI. Hari ini rencananya sih mau di rumah saja. Kalau pun keluar paling hanya untuk cari makan saja.”

“Oh ya, Vin. Dulu kamu pernah sakit lutut ‘kan? Sampai ke dokter dan melakukan MRI segala. Terus akhirnya kog bisa sembuh?”

“Mungkin karena yoga dan jalan pagi, Ria.”

“Aku ini sudah bolak-balik ke dokter dan minum beberapa jenis obat. Tapi ngak sembuh-sembuh, tuh. Karena peradangan, aku sampai ngak berani memakai kakiku secara berlebihan. Aku khawatir dan takut akan terjadi hal-hal yang buruk padaku. Sekarang saja tangan kanan juga mulai sakit. Kita ini ‘kan seumur, Vin. Dulu saat lututmu sakit berarti kamu belum umur 40 ya?

“Iyalah. Masa lebih tua dulu dari sekarang, ha.. ha.. ha… Sebenarnya, kalau mau cepat sembuh, kita harus mau merawat pikiran juga. Kalau terus khawatir dan sering berpikir yang tidak-tidak, penyembuhan pasti akan terhambat. Bertahun-tahun lalu, saat lutut kiriku mulai terasa nyeri dan ngilu, aku berusaha untuk tetap tenang dan mulai mereka-reka apa penyebabnya. Mungkin karena aku pernah jatuh, bisa juga terlalu banyak injak kopling atau suka duduk terlalu lama ketika sedang asyik membaca buku. Maklum Ria, kalau ada buku di tangan, badan seakan berubah menjadi patung. He.. he.. he…”

“Tapi kog sakitmu itu bisa hilang, Vin?”

“Setelah membayar cukup mahal untuk biaya MRI dan hasilnya adalah nihil, dokter hanya memberikan ‘Osteor’ saja (kalau ngak salah ingat ya). Rasa sakit itu sebenarnya petanda bahwa ada yang salah pada tubuh kita. Jadi, jangan anggap enteng. Saat itu, sudah beberapa tahun, dua kali seminggu, aku ikut senam body conditioning. Jadi, walau ngilu atau nyeri datang menyerang, aku tetap ikut senam namun menghindari gerakan-gerakan yang mungkin bisa memperparah rasa sakit. Artinya, aku tetap konsisten melakukan aktivitas yang biasa dilakukan. Empat tahun yang lalu, aku mulai beralih ke yoga. Dan, sejak dua tahun lalu, selain yoga dua sampai tiga kali seminggu, aku selingi dengan dengan jalan pagi dua kali seminggu. Konsekuensinya, sudah cukup lama lututku tidak pernah nyeri dan ngilu lagi.”

“Tapi, rasanya susah ya, Vin, untuk menjadi disiplin seperti kamu!”

“Ria, manusia itu pada dasarnya malas, termasuk diriku. Namun, kalau kita mempunyai TUJUAN saat melakukan sesuatu, pasti motivasi diri akan datang dengan sendirinya. Aku mau sehat. Menurutku, cara yang termudah dan termurah adalah dengan yoga sendiri di rumah serta jalan pagi. Praktis ‘kan?”

“Heran, setelah berbicara dengan kamu, aku jadi penuh semangat ya. Tapi, untuk tetap disiplin berolah raga dan tetap berpikir positif itu ‘kan tidak mudah, ya?”

“Ya, pastilah! Tidak ada yang gampang di dunia ini. Semua harus dilatih dan dibiasakan. Masalahnya, kita mau atau tidak membuat diri kita menjadi lebih peka, bersedia tidak mengurangi rasa malas, dan tetap fokus serta konsisten saat memupuk sebuah kebiasaan yang positif?”

“Iya ya. Itulah biang keroknya. Sering kali kita hanya mau sehat tapi malas berolahraga. Ingin pintar tapi tidak suka belajar. Aku harus lebih sering bicara denganmu, Vin agar bisa ikut ‘mencuri’ semangatmu.”

“Semangat bisa menular, hanya saja untuk mempertahankannya itu yang tidak mudah. Sering kali semangat akan cepat luntur jika tidak diiringi dengan tekad yang kuat.  Orang lain hanya bisa memberikan motivasi. Dan, hanya diri kita sendirilah yang bisa membuatnya tetap tinggal. Dengan senang hati, kamu boleh kog nelpon aku kapan saja.”

Tidak lama setelah itu, pembicaraan kami pun berakhir. Sejam kemudian, Ria menelpon lagi dan bermaksud mengajak aku bertemu di Puri Mal. Terus terang aku jelaskan bahwa aku hanya ingin tinggal di rumah saja hari ini untuk menulis. Akhirnya, pembicaraan kami pun melenceng ke topik yang bagi banyak orang masih tabu. Saking serunya, kami berdua sampai tertawa terbahak-bahak. Ingin tahu topik yang dibahas? Nantikan tulisan saya selanjutnya.

15
Sep
09

Laporan yang Menyejukkan Hati

Pagi ini adalah jadwal saya bertemu dengan guru kelas Lisa untuk mengambil rapor mid semester. Ketika tiba di depan kelas, saya sempat menunggu beberapa menit karena Mr Connor (guru Lisa) masih berbincang-bincang dengan orangtua murid yang lain. Lisa tidak bisa ikut dengan saya karena masih merasa tidak nyaman setelah tadi malam satu gigi geraham belakang kiri bawah dicabut.

Saat saya memperkenalkan diri sebagai mamanya Lisa, Mr Connor yang berasal dari Irlandia langsung menyambut dengan gembira, “Saya senang punya murid seperti Lisa. Walaupun pendiam, tapi dia sangat percaya diri. Dia juga mampu mengikuti pelajaran dengan baik.” Memang, baik Lisa maupun Eric tidak ada yang suka ngomong seperti saya. Sehingga di rumah tidak ada saingan. Enak ‘kan? Sebenarnya ngak juga, sih. Itulah sebabnya agar tidak merasa kesepian maka saya lebih suka menghabiskan waktu luang dengan membaca dan sekarang ditambah lagi dengan menulis.

Mr Connor menjelaskan bahwa sebelum ini dia tidak begitu mengenal Lisa karena hanya pernah mengajar saat Lisa masih di kelas 8 (sekarang Lisa duduk di kelas 11). Saat pertama kali mengarahkan Lisa untuk program sosial ‘mengajar anak jalanan’ beberapa minggu yang lalu, Mr Connor khawatir apakah Lisa akan mampu menyesuaikan diri atau tidak. Beliau takut Lisa tidak terbiasa dengan keadaan yang serba kumuh dan kotor itu. “Lisa, if you don’t feel comfortable, I want you to think that these kids are less comfortable than you are but they still can smile.” Lisa, jika kamu merasa tidak nyaman, cobalah berpikir bahwa keadaan anak-anak ini lebih tidak nyaman lagi, namun mereka masih bisa tersenyum.”

Ternyata apa yang dikhawatirkan Mr Connor tidak menjadi kenyataan. Dalam waktu singkat Lisa sudah duduk bersila dengan anak-anak itu dan mulai mengajar mereka. Setiap Senin jika saya bertanya kepada Lisa bagaimana kegiatan mengajarnya pada hari Minggu, Lisa pasti menjawab, “Great, Mr Connor.” Luar Biasa. Mungkin pada kebanyakan orang, jika diminta untuk mengajar, mereka akan melakukan tugasnya dengan begitu saja. Sedangkan Lisa, dia mampu melihat dan mengajar sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Dengan kata lain, Lisa mampu mengajar dengan hati.

Terus terang, dalam hati saya merasa senang dan bangga tetapi tidak mau terlena. Saya pun menanyakan apa hal-hal yang harus menjadi perhatian bagi Lisa. Jawaban Mr Connor adalah Bahasa Inggris, terutama yang bersifat kesusastraan, tata bahasa dan pemakaian/pemilihan kata-kata yang tepat. Secara keseluruhan nilai Lisa cukup baik. Sebenarnya, saya pun tidak pernah mau khawatir dengan hasil belajar anak-anak. Bagi saya yang lebih penting adalah bagaimana proses belajar itu berjalan. Anak-anak harus mencintai kegiatan belajar itu sendiri. Mereka harus belajar dengan perasaan senang dan gembira bukan karena terpaksa. Karena, belajar adalah kegiatan seumur hidup.

Setelah mendengarkan pendapat dari saya, Mr Connor pun bercerita tentang seorang anak yang dipaksa oleh orangtuanya untuk mengambil program IB (International Baccalaureate) padahal anak tersebut tidak mau. Akhirnya, anak tersebut menjadi depresi sampai-sampai sekolah menyarankan untuk berkonsultasi dengan psikiater. Bayangkan, soal mudah yang harusnya bisa dikerjakan oleh siapa saja, tidak bisa dikerjakannya. Sepertinya, anak itu menyimpan rasa marah yang sangat mendalam tetapi orangtuanya tidak bisa mengerti.

Memang, inilah yang sering saya khawatirkan saat membahas masalah anak dengan para orangtua. Banyak yang hanya memikirkan perkembangan kemampuan intelektual saja, tapi mengabaikan perkembangan spiritual dan emosional anak. Apakah membesarkan seorang anak hanya untuk memperlihatkan dan membanggakan kepada dunia bahwa anak kita adalah pintar dan hebat? Coba tanyakan kepada diri kita masing-masing, apa sih hal terpenting dalam hidup? Apakah kebahagiaan? Bukankah orang yang bahagia itu biasanya tahu bagaimana menyeimbangkan hidup?

Mr Connor sendiri mengakui bahwa apa yang dipelajari anak-anak Sekolah Menengah zaman kini jauh lebih berat dari masa beliau sekolah dulu. Padahal Mr Connor itu masih termasuk muda, lho. Usianya kemungkin besar masih awal 30-an. Sambil menunjuk nilai Lisa untuk pelajaran “Theory of Knowledge”, Mr Connor menjelaskan bahwa pelajaran ini setaraf dengan Ilmu Filsafat untuk mahasiswa. Dalam hati, saya merasa beruntung karena dulu mau mau ‘repot-repot’ belajar demi sebuah kesadaran agar menjadi tahu dan mau menggali serta tidak berhenti mencari cara terbaik agar anak-anak tidak terbebani dengan kurikulum yang berlaku. Tetapi, bagaimana membuat motivasi belajar mereka bisa tetap bertahan. Sebenarnya, cara yang paling tepat dan mudah adalah dengan menjadi contoh hidup bagi anak-anak kita sendiri.

Terus terang, awalnya saya berpikir hanya akan mengambil rapor saja kemudian langung pulang. Tak disangka perbincangan kami berlangsung sampai tiga puluh lima menit. Akhirnya, saya melangkah keluar kelas dan meninggalkan sekolah dengan suasana hati yang sejuk. Semester lalu, saya juga berkesempatan berbincang dengan guru kelas Lisa sebelumnya, Mr Rey yang berasal dari Filipina. Dari beliau saya banyak mendapatkan informasi tentang sistem pendidikan di sana. Di samping itu, Mr Rey juga menjelaskan tentang tingkatan dalam belajar. Sangat menarik.

Akhir kata, hidup akan terasa menyenangkan jika kita mampu menemukan jawaban dan solusi yang dibutuhkan. Sering kali hal ini malah akan memperluas wawasan kita. Sehingga, kita akan termotivasi untuk terus bertumbuh dan berkembang.

satisfied

07
Sep
09

Motivasi Belajar dalam Diri Anak (2)

Ketika anak ‘berkuasa’ atas dirinya sendiri, sadar bahwa dia boleh memiliki cita-cita setinggi langit, dan tidak menyerah di saat kegagalan datang menyapa, maka tugas orangtua sebagai mesin pendorong bagi anak akan jauh lebih mudah.

Ada beberapa teknik yang cukup berhasil saya terapkan kepada Eric dan Lisa (anak-anak saya) ketika mereka masih kecil, antara lain:

1. Bercerita

Saya sengaja mengajak mereka tidur lebih awal supaya punya waktu untuk mendongeng atau bercerita sekitar 5-10 menit bagi mereka. Setiap cerita selalu saya akhiri dengan pesan moral yang dapat dipetik. Tentu saja, lama-kelamaan saya kehabisan cerita sehingga saya mulai mengarang cerita sendiri. Biasanya cerita saya kait dengan kejadian sehari-hari. Misalnya, anak-anak kecil paling malas kalau disuruh belajar, bukan? Jadi, saya mulai bercerita tentang seorang Putri Raja yang malas belajar sehingga tidak disukai banyak orang. Biasanya Lisa langsung protes, “Mama nyindir aku, ya?” Trus langsung saya jawab, “Kog Lisa yang tersinggung? Memang hari ini Lisa malas belajar, ya? Ya udah, mama ganti cerita yang lain saja.” Tentu saja Lisa tidak mau jika cerita tersebut saya ganti karena dia pasti ingin tahu apa yang terjadi dengan Putri Raja tersebut di akhir cerita. Secara tidak langsung, bercerita bisa menumbuhkan rasa penasaran / rasa ingin tahu dalam diri anak. Setuju?

Kemudian, cerita saya teruskan…  Karena malas, suatu hari Putri Raja tersebut kena batunya. Akhirnya, dia pun sadar dan mulai berubah menjadi rajin. “Jadi Lisa, dalam hidup ini, kita harus punya tujuan. Kalau malas, jelas tidak ada tujuannya karena tidak perlu berbuat apa-apa, hanya duduk atau tidur saja. Sedangkan, kalau mau rajin dan supaya sikap tersebut bisa bertahan lama, tanyalah kepada diri sendiri, rajin itu tujuannya apa sih? Dan, apa untungnya kalau saya rajin?”

Saat ini, karena anak-anak saya sudah besar tentu cerita di atas sudah lama saya tinggalkan dan saya ganti dengan cerita yang berasal buku-buku motivasi atau bacaan lain yang saya baca, dan dari hal-hal yang terjadi sehari-hari. Bagi saya, bercerita sangat membantu dalam menyampaikan sebuah pesan, apalagi pesan yang bisa meningkatkan motivasi anak. Anda akan takjub bagaimana anak-anak begitu mudah dan cepat mengerti serta menangkap pesan yang kita maksud. Dengan bercerita, anak-anak tidak akan merasa dikritik atau dikuliahi. Akibatnya, pesan yang disampaikan akan mudah meresap dan menetap dalam diri mereka.

2. Memuji

Saat Eric masih duduk di kelas TK-B, saya membaca sebuah buku karangan Martin E. P. Seligman, Ph.D. yang berjudul “The Optimistic Child”. Salah satu teknik yang sangat manjur yang sudah saya terapkan kepada anak-anak waktu itu adalah ‘Cara Memuji’. Sebelum itu, yang saya tahu adalah jika anak mendapat nilai bagus, maka pujian yang disampaikan adalah ‘Kamu Hebat, Nak’ atau ‘Kamu Pintar’. Juga, jika anak bersikap baik, maka pujian yang umum adalah ‘Kamu Anak yang Baik’. Ternyata, dari buku tersebut saya belajar bahwa pujian harus diberikan secara spesifik/khusus. Alasannya, jika anak kita dibilang pintar, padahal dia tahu kalau dia hanya pintar dalam beberapa pelajaran saja sedangkan dalam pelajaran lainnya nilainya hanya pas-pasan, maka dia akan menganggap orangtuanya tidak berkata jujur atau apa adanya.

Sebagai contoh, ketika anak mendapat nilai bagus untuk pelajaran matematika, maka katakanlah, “Kamu pintar dalam pelajaran Matematika, ya Nak.” Atau ketika anak bersikap sopan kepada tamu yang datang, maka katakan, “Mama senang sekali karena kamu tadi bersikap sopan kepada teman mama.” Ketika kita memuji kepandaian atau kebaikan anak secara spesifik, maka akan tumbuh rasa optimis dalam diri anak. Jika anak menjadi optimis, otomatis motivasi diri akan tertanam dengan mudah. Jadi, sebuah pujian yang spesifik akan menjadi obat mujarab untuk menumbuhkan motivasi belajar dalam diri anak.

3. Target

Satu hal yang selalu saya tanamkan kepada anak-anak adalah buatlah target (nilai) yang akan dicapai. Ketika anak-anak sadar akan target tersebut, maka orangtua pun akan mudah dalam membimbing atau mengarahkan  mereka dalam membuat rencana belajar agar target bisa tercapai. Saya masih ingat, waktu masih anak-anak masih duduk di Sekolah Dasar, target minimum untuk nilai rata-rata rapor yang menjadi target Eric adalah 7.5, sedangkan Lisa adalah 6.5.

Dengan target dan rencana yang ada di tangan, biasanya hasil yang diraih selalu melebihi target. Bukan itu saja, prestasi belajar juga akan stabil karena anak-anak sudah terbiasa disiplin dan bekerja untuk mencapai target yang telah ditentukan sendiri. Seandainya, jika target tidak tercapai, orangtua tidak perlu marah. Mari bersama-sama dengan mereka, kita lakukan evaluasi. Apa yang membuat target tidak tercapai dan langkah-langkah apa yang akan diambil agar target untuk semester berikutnya bisa tercapai.

motivation-getmotivated

Sebenarnya, dari pengalaman saya bersama para orangtua yang datang atau telepon untuk berkonsultasi, cara-cara diatas bukanlah sesuatu yang susah untuk diterapkan. Masalahnya, banyak orangtua tidak cukup konsisten dan sering buyar (tidak fokus) karena berharap semuanya bisa dengan cara cepat/instan. Jadi, jika anda ingin berhasil menumbuhkan motivasi belajar dalam diri anak, hanya ada dua hal yang harus diingat: FOKUS dan KONSISTESI.

27
Agu
09

Motivasi Belajar dalam Diri Anak (1)

Hanya sesaat setelah tulisan berjudul “Ranking atau Motivasi Belajar” saya terbitkan di blog ini sekitar dua minggu yang lalu, seorang teman lama meminta agar saya juga menulis tentang cara/teknik memotivasi anak agar mau belajar untuk dirinya sendiri. Untuk beberapa saat, saya pun termenung dan tercenung. Masalah motivasi belajar adalah yang paling sering ditanyakan kepada saya saat berbicara di hadapan orangtua. Dan, rendahnya kemauan belajar sebagian besar pelajar saat ini telah membuat banyak orangtua menjadi cemas dan khawatir.

Sebenarnya motivasi itu apa sih? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, MOTIVASI adalah dorongan yang menyebabkan seseorang mau melakukan sesuatu untuk mencapai sebuah tujuan. Dengan kata lain, motivasi belajar baru akan tertanam jika anak-anak mengerti bahwa mereka belajar untuk sebuah alasan atau tujuan. Masalahnya, alasan atau tujuan yang akan kita sampaikan juga harus benar. Karena jika salah arah, motivasi belajar tidak akan bertahan lama sehingga cepat pudar dan luntur.

Berdasarkan pengalaman dan hasil observasi di lapangan, banyak orangtua yang memaksa anaknya belajar agar mendapatkan nilai bagus saat menghadapi ulangan. Ada juga orangtua yang hanya ingin anaknya selalu mendapat nilai sempurna (10) sehingga ketika pulang membawa nilai 9 saja sudah dimarahi. Akibatnya, prestasi belajar anak tidak akan bertahan lama. Mengapa? Karena saat masih kecil, anak sangat membutuhkan rasa aman. Dan, hal ini hanya akan timbul jika anak mendapatkan cinta kasih yang tulus dan tanpa pamrih dari orangtuanya.

Bayangkan, apa yang akan terjadi jika anak dimarahi karena tidak bisa memenuhi standar yang ditetapkan oleh orangtuanya? Perlahan tapi pasti motivasi yang sudah ada akan mulai terkikis. Anak akan kehilangan rasa aman karena merasa tidak mungkin dapat menyenangkan hati orangtuanya jika tidak mendapat nilai bagus di sekolah. Saat rasa aman hilang, dorongan untuk berprestasi pun mulai mendapat tekanan berat. Akhirnya, saat tingkatan kelas semakin tinggi dan pelajaran menjadi lebih berat dan sulit, anak sudah kehilangan gairah belajar. Jadi, segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah bertahan lama.

Hal lain yang penting kita tanamkan dalam diri anak adalah mengenai proses belajar. Belajar adalah sebuah usaha untuk mendapatkan kepandaian atau ilmu. Karenanya, perlu dilakukan terus-menerus agar anak tumbuh menjadi pembelajar seumur hidup atau life-long learner. Jangan sampai anak berpikir bahwa aktivitas belajar hanya dilakukan saat masih duduk di bangku sekolah saja. Sehingga, ketika sekolah selesai, proses belajar juga usai.

Kini, bagaimana kita bisa menumbuhkan motivasi dalam diri anak agar mau belajar untuk dirinya sendiri? Ada tiga hal utama yang harus terpatri dulu dalam pikiran dan penalaran kita sebelum masuk pada cara atau teknik memotivasi anak.

1. Berani Menjadi Diri Sendiri

I do not try to dance better than anyone else. I only try to dance better than myself. ~ Mikhail Baryshnikov

Langkah pertama, kita harus meyakinkan setiap anak bahwa mereka itu unik. Artinya, tidak ada yang persis sama di dunia ini bahkan saudara kembar sekalipun. Jadi, anak harus mengenal dirinya sendiri dulu. Tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Cara belajar setiap anak juga berbeda. Sehingga, orangtua memegang peranan penting dalam menyampaikan pesan ini kepada anak.

Jika anak tahu bahwa mereka tidak dibandingkan dengan orang lain, maka tidak ada beban psikologis saat diminta untuk berprestasi. Konsekuensinya, anak akan lebih leluasa menggali dan mengembangkan semua potensi yang ada dalam diri. Selanjutnya, tanamkan dalam diri anak bahwa mereka mampu dan memiliki kesempatan untuk terus menjadi lebih baik lagi dari hari ini, asal saja mereka mau. Jika ada kemauan, pasti ada jalan. Artinya, perbaikan atau peningkatan yang berkesinambungan perlu dilakukan agar anak bisa mencapai prestasi maksimal sesuai dengan kemampuan yang ada.

2. Berani Bermimpi

Shoot for the moon. Even if you miss, you’ll land among the stars. ~ Brian Littrell

Saat anak masih kecil, pernahkan kita bertanya seandainya sudah besar nanti mau jadi apa. Semakin tinggi cita-cita, semakin kita punya senjata untuk mendorong mereka. Karena, untuk mencapai impian dibutuhkan usaha dan kerja keras. Sebagai contoh, jika cita-cita seorang anak adalah ingin menjadi pilot atau dokter, kita bisa mulai menanamkan hal positif dalam diri mereka. Tanyakan kepada mereka, “Jika hendak menjadi pilot atau dokter, perlu tidak mendapat nilai bagus dalam pelajaran Matematika/Biologi/Fisika? Untuk mendapat nilai bagus, perlu tidak belajar dengan giat dan rajin?” Kunci utamanya adalah tetapkan impian setinggi mungkin kemudian beri dorongan positif untuk meraih cita-cita tersebut. Di sini, orangtua harus pandai dan cermat dalam menggali dan mengarahkan anak dengan pertanyaan-pertanyaan yang membangun.

Bandingkan, jika orangtua beraksi negatif saat mendengar anaknya kelak ingin menjadi dokter. “Apa, mau jadi dokter? Nilai matematika kamu saja jeblok, mana mungkin bisa jadi dokter. Jangan pernah bermimpilah!” Bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi jika orangtua terus-menerus menghilangkan harga diri anaknya. Kepercayaan diri anak tidak akan tumbuh jika sering dicemooh, apalagi oleh orang yang paling dekat dengannya. Orangtua harus yakin dan percaya bahwa anaknya bisa. Sebab, biasanya kata-kata orangtua sangat berpengaruh dan bisa berperan sebagai racun atau obat yang mujarab. Jadi, berhati-hatilah dengan kata-kata yang akan kita ucapkan sehingga mulailah memupuk pikiran yang positif dalam diri kita.

Sebagai contoh, waktu putra saya, Eric masih duduk di kelas V SD, beberapa teman memperingatkan saya bahwa jika anak sudah duduk di bangku SMP, maka orangtua harus mencarikan guru les pelajaran untuk mereka. Alasannya, kita sudah tidak bisa lagi mengajarkan pelajaran SMP sehingga anak yang pintar sekalipun juga banyak yang les.

Saya hanya mengangguk walaupun dalam hati bertanya-tanya, “Apa iya?” Kemudian, saya mencoba untuk melihat ke belakang. Dulu orangtua saya tidak pernah repot mengurusi saya belajar dan semuanya oke saja, tuh! Jadi kalau dulu saya bisa belajar sendiri, maka anak-anak juga harus bisa. Saya lebih suka jika anak memiliki kemampuan belajar sendiri dan bisa mencari solusi jika menemui masalah. Jadi, bagi saya, les pelajaran adalah pilihan terakhir jika seorang anak memang tidak mampu mengikuti pelajaran yang diberikan di sekolah.

Sejak hari itu, saya bertekad dan mulai fokus mengarahkan anak-anak agar bisa mengembangkan self-learning ability atau kemampuan belajar sendiri. Benar! Kedua anak saya tidak pernah ikut les pelajaran. Bahkan, sejak mereka duduk di kelas 1 SMP, saya sudah tidak perlu lagi membimbing dan mengarahkan mereka belajar.

3. Berani Gagal

Success is not final, failure is not fatal. It is the courage to continue that counts. ~ Winston Churchill

Sering kali kita memaksa anak belajar karena takut mereka mendapat nilai jelek. Sehingga, secara tidak langsung, yang kita tanamkan dalam diri anak adalah “Awas! Jangan pernah gagal, ya!” Padahal, kegagalan itu sangat berguna dan memang dibutuhkan sebagai cambuk untuk maju. Percayalah, kegagalan akan membuat anak kita menjadi lebih kuat dan tahan banting. Tentu saja, saya tidak bermaksud agar anak-anak dibiarkan sampai tidak naik kelas. Orangtua harus punya perhitungan yang matang. Kalau terus mendapat nilai jelek juga tidak benar.

Sebagai contoh, ketika masih duduk di IV SD, putri saya, Lisa pernah mendapat nilai 2 untuk ulangan matematika. Walaupun gundah-gulana, saya tetap berusaha untuk tenang. Saat terpuruk, yang dibutuhkan anak adalah dukungan orangtuanya, bukan omelan yang terus-menerus. Kemudian, kami mengevaluasi apa yang menjadi akar masalah. Waktu itu, Lisa memang lemah di pelajaran Matematika. Jadi, saat nilai ulangan berikutnya naik menjadi 4, dengan senang hati saya langsung memuji usaha dan kemajuan yang telah dicapai. Ajaib! Setelahnya, Lisa tidak pernah lagi mendapatkan angka mati untuk ulangan Matematika. Paling rendah hanya 5 dan itupun hanya sesekali saja.

motivation

Akhir kata, menjadi orangtua zaman sekarang tidak bisa lagi dengan hanya memakai cara-cara lama yang kita dapatkan secara turun-temurun dari orangtua atau generasi diatas kita. Menjadi orangtua zaman sekarang jauh lebih sulit dan rumit. Kemajuan zaman dan kecanggihan teknologi di satu sisi memang telah membuat hidup kita menjadi lebih nyaman dan praktis. Tetapi, dampak negatifnya juga tidak tanggung-tanggung. Misalnya, anak-anak sekarang lebih suka bermain game di depan komputer daripada membaca atau bercengkerama bersama keluarga. Sehingga, orangtua sekarang harus lebih kreatif dan terus mengasah otak agar peka terhadap perkembangan zaman. Jika hal ini kita lakukan, maka tugas sebagai orangtua pasti akan menjadi lebih mudah dan ringan.

(bersambung)

20
Agu
09

Konser Ruang Schola Cantorum

Senin, 17 Agustus 2009

Hari yang istimewa. Bukan saja karena Indonesia sedang merayakan hari jadinya yang ke-64. Tetapi, untuk kedua kalinya saya ikut konser ruang yang diadakan oleh Schola Cantorum atau biasa disingkat dengan SCHORUM. Nama yang indah bukan? Sebagai informasi, Schorum tempat kami belajar menyanyi ini dipimpin dan dikelola oleh Charles Nasution, seorang guru vokal yang memiliki dedikasi tinggi terhadap bidang yang digelutinya.

Sebenarnya konser ruang mulai dirintis sejak tahun lalu dan diadakan setiap tiga bulan sekali. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada para murid agar bisa tampil di hadapan teman-temannya sendiri. Konser ini awalnya diadakan di Schorum. Akan tetapi, sejak Maret 2009 konser mulai diadakan bergilir di rumah beberapa anggota Schorum.

Awalnya saya merasa tidak enak untuk ikut karena bagi saya, belajar nyanyi hanyalah untuk hobi saja. Lagipula, semua anggota Schorum yang lain terdiri dari anak-anak muda. Beberapa diantaranya bahkan lebih muda dari putri saya, Lisa. Jadi, rasanya ngak enak aja, sih.

Akan tetapi, sejak coba-coba ikut pada awal tahun ini, saya mulai berpikir berbeda. Tidak ada salahnya, kog. Paling tidak saya bisa bertemu dengan banyak anak muda zaman sekarang. Jadi, ada ladang baru buat observasi, nih, sekaligus memberi contoh kepada mereka bahwa ibu-ibu seperti saya masih mau belajar, lho!

Kini, kembali ke hari Senin yang lalu. Pukul 10.30 pagi, ditemani Lisa, kami segera menuju lokasi. Ketika memasuki perumahan yang dituju, saya bertanya kepada Satpam di mana lokasi blok yang dicari. Saya tidak menyebutkan nama jalan karena berpikir blok saja sudah cukup. Akibatnya, saya pun kesasar sampai jauh ke belakang perumahan dan ternyata rumah yang dituju adalah sebidang tanah kosong.

Terpaksa jua saya kembali ke pintu masuk dan bertanya sekali lagi. Saya baru tahu bahwa perumahan tersebut terdiri dari kompleks lama dan baru. Jadi, nama jalan juga penting untuk disebutkan. Yah, selalu saja ada hal baru yang bisa dipelajari dari setiap kesalahan, bukan?

Saat konser dimulai, satu per satu ke depan menyanyi sesuai dengan urutan yang dipanggil. Saya mendapatkan kesempatan kedua dan lagu yang saya bawakan adalah ‘Annie’s Song’-nya John Denver. Saya juga merasa terhibur dengan lagu-lagu yang dibawakan oleh anggota yang lain. Senang juga bisa melihat anak-anak muda dengan serius belajar menyanyi dan siap untuk tampil.

Seperti biasa, puncak acara adalah mendengarkan suara emas-nya guru kami yang biasanya anak-anak panggil Abang atau Kakak. Bagi kami semua, Charles Nasution adalah sosok yang luar biasa. Saat menyanyi, suaranya pun benar-benar memukau. Dan, itu didapatkan dengan terus berlatih dan berlatih. Percaya atau tidak, sampai hari ini, Charles masih tetap belajar dengan gurunya yang sudah bersamanya selama delapan belas tahun. Unbelievalbe! Rasanya rugi deh kalau belum pernah mendengarkan suara emas beliau.

Sebelum Abang menyanyi, beliau memberitahukan sebuah kabar duka. Salah seorang anggota Keluarga Besar SCHOLA CANTORUM yang bernama Olive meninggal dunia dalam usia 24 tahun. Setamat dari Fakultas Kedokteran UI, Olive minta ditempatkan di PTT Ambon dan baru tiga bulan berada di sana. Tak diduga Olive terkena peluru nyasar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab di sana.

Kami semua merasa sedih… sedih dan pedih sekali. Olive bukan hanya menjadi dokter saja, tapi dia juga mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak kecil di daerah terpencil sana. Bayangkan, Olive mau hidup dan berbakti jauh dari keramaian dan kenyamanan kota besar. Di sana, untuk mandi saja harus mengambil air sejauh dua kilometer. Dan, Olive meninggal hanya karena keteledoran seseorang. Semoga Olive diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan amal dan ibadahnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan juga diberi ketabahan dalam menghadapi dan menjalani cobaan ini.

Akhirnya, lagu yang dibawakan Abang berjudul ‘BUKAN CINTA BIASA’ – Afghan menjadi penutup konser sore itu. Bahkan setelah lagu selesai dipersembahkan, ada yang sampai menangis karena terharu. Hanya ada dua kata yang bisa menjelaskan performance Charles pada sore itu… LUAR BIASA! Kami bangga punya guru seperti Abang.

IMG_9495IMG_9498

19
Agu
09

Merantau

Beberapa hari yang lalu, seorang teman meyakinkan saya agar mau menonton film ‘Merantau’. “Kamu ‘kan sedang menulis buku, jadi perlu nonton film ini.” Akan tetapi saya berkelit dan menganggap film tersebut tidak ada hubungannya dengan buku yang sedang saya kerjakan. Saya memang dibesarkan di kota Padang yang terletak di Propinsi Sumatera Barat. Dan, dari sinopsis yang sudah saya baca, ‘Merantau’ memang bercerita tentang salah satu tradisi yang berasal dari Ranah Minang. Lagipula, ini film silat, Bung! Rasanya dengan waktu yang terbatas, saya merasa tidak perlu untuk menontonnya.

“Paling tidak kamu bisa melihat acting Christine Hakim yang menurut saya bagus sekali!” begitu dia melanjutkan setelah argumentasi dari saya. Akhirnya, kata-kata pamungkas inilah yang berhasil membuat saya penasaran. Akhirnya saya mulai mencari-cari waktu yang tepat untuk melangkahkan kaki menuju bioskop. Tapi, enaknya kapan ya? Hari biasa, saya mungkin bisa, tapi Lisa sekolah. Ngak enak kalau ngak sama Lisa. Akhirnya, pada hari Minggu yang baru lalu, saat men-drop Lisa untuk mengajar di bawah kolong jembatan, saya bertanya apakah dia mau ikut nonton setelah selesai mengajar nanti? Untuk menghemat waktu agar tidak bolak-balik ke bioskop, saya juga memberikan pilihan apakah mau nonton dua film sekaligus: ‘Ups’ dan ‘Merantau’? Atau kalau cuma mau satu saja, pilih yang mana?

“Salah satu saja, Ma. ‘Merantau’ saja?” Begitulah jawaban dari Lisa. Saya yakin Lisa memiilih ‘Merantau’ karena ingin menyenangkan hati saya. Tapi, ngak apa-apalah. Anak juga harus mengalah demi orangtuannya, bukan? Jangan hanya orangtua saja yang selalu berkorban untuk anaknya. Akhirnya, malam itu, kami menuju Plaza Senayan…

Bagaimana dengan filmnya? Tentu saya tidak akan menceritakan isi film tersebut. Tidak adil bagi yang belum sempat nonton. Bisa-bisa saya diprotes karena telah menghilangkan rasa penasaran mereka. Sesuai dengan sinopsis, adegan silatnya memang mantap. Menurut saya, tidak kalah juga dengan film-film silat Mandarin yang pernah saya gilai di era tahun 70-an dan awal 80-an dengan bintang-bintang yang bersinar saat itu: Lo Lieh, Ti Lung dan Chen Lung.

Akhirnya, pesan yang terdapat di penghujung cerita telah meninggalkan kesan yang mendalam. Saya suka dengan kata-katanya. “Katakan kepada Emak bahwa saya sudah melakukan yang terbaik.” Memang betul, selagi kita masih bernafas, lakukanlah hal-hal berguna yang kita anggap terbaik agar tidak menyesal di kemudian hari.

Memang di sana-sini terdapat satu dua kekurangan. Misalnya, dialog Bahasa Minang yang terdengar kaku di telinga serta alur cerita yang agak lambat dan sedikit membosankan. Walaupun demikian, saya cukup bangga dengan film produksi negeri sendiri dan merasa beruntung telah mengikuti nasihat teman saya tadi. So, thank you, friend!

Bagaimana dengan acting Christine Hakim? Setuju, BAGUS SEKALI!

merantau