10
Des
09

Maju Kena, Mundur pun Kena

Di suatu pagi yang cerah…

Hm… Tiada yang hebat dan mempesona
Ketika kau lewat di hadapanku, biasa saja
Masa perkenalan lewatlah sudah
ada yang menarik bayang-bayangmu, tak mau pergi…

Menyanyi banyak mendatangkan manfaat. Apakah itu sebagai ekspresi perasaan atau untuk menghidupkan suasana.

Entah mengapa, pagi itu aku memilih lagu ‘Nuansa Bening’ dan menyenandungkannya dengan gayaku sendiri di rumah. Saat suami selesai sarapan, aku pun bertanya, “Suka ngak dengan nyanyian gua barusan? Baguuuus ngaaaak?” Biasa… ini adalah salah caraku untuk mengawali percakapan pagi dengan sang kekasih hati.

“Bagus. Tapi sayang ‘kan kalau cuma gua yang dengerin.”

“Maksudnya?”

“Coba kalau banyak yang dengar kamu nyanyi….”

“Kenapa harus didengarin orang lain? Gua ‘kan nyanyinya memang spesial buat lu aja.”

“Pandai nyanyi dan suara bagus gitu, sukanya dinikmati sendiri saja. Rugi tahu! Minggu depan anak sepupu gua nikah di Bandung. Nah, itulah saatnya kamu nyanyi di hadapan orang banyak.”

“Apaaaaaaaaaa? Kenapa sih setiap ada kerabat kamu yang nikah, gua harus nyanyi?”

“Iya dong, supaya semua orang tahu kalau kamu itu bisa nyanyi. Disamping itu, gua ‘kan bisa nebeng jadi terkenal juga. Pasti orang-orang akan bilang… Itu lho istrinya A Huat pandai nyanyi. Ha… ha… ha….”

“Dasar curang. Sukanya mendompleng aja. He… he… he…. Ngomong-ngomong, bisa nyanyi bukan berarti bagus lho. Ngak usah ge er. Kualitas suara gua hanya biasa-biasa saja kog.”

“Siapa bilang. ‘Kan orang lain yang memberikan penilaian. Mulai sekarang, kamu lebih baik siapkan sebuah lagu dan terus berlatih untuk dinyanyikan di Bandung nanti.”

“Aduh, ngak usah macam-macamlah. Gua malas kalau harus ke Bandung, nih. Gua ngak usah ikut ya?”

“Terserah….”

Akhirnya, sehari sebelum hari H, terpaksa aku memutuskan untuk pergi juga karena Lisa ingin ikut. Namun, Lisa berubah pikiran dan membatalkan rencananya menjelang keberangkatan. Tanpa Lisa, aku pun tidak termotivasi lagi untuk pergi.  Tapi, suami yang sudah terlanjur senang dan berharap-harap aku tetap ikut terus saja membujuk dan merayu. Aku tidak mungkin bisa mengelak karena di rumah juga sudah ada dua pasang kerabat suami yang akan ikut dengan kami.

Kami baru meninggalkan Jakarta menuju Bandung menjelang siang hari. Dalam perjalanan, aku berusaha keras untuk menyelaraskan pikiran dan hati agar tetap positif sehingga bisa menikmati suasana selama perjalanan. Anggap saja aku ikut agar bisa bertemu dengan anakku, Eric yang sekarang tinggal di Bandung. Bukankah aku juga sudah mengenal sebagian besar kerabat suami sejak dulu, jauh sebelum aku bertemu suamiku lebih dari dua puluh tahun yang lalu? Karena, mereka adalah kenalan almarhum kedua orangtuaku saat Ayah masih bekerja di Rengat pada tahun 1970-an. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan ‘kan?

Ada. Ada yang perlu kukhawatirkan. Bagaimana kalau aku benar-benar diminta menyanyi di depan orang banyak? Ada sekitar 600 orang di sana karena pestanya dalam format ‘Makan Meja’. Sudahlah, daripada pusing-pusing. EGP ajalah.

Singkat cerita. Malamnya, baru saja kami tiba di tempat resepsi dan masih belum sempat mencari tempat duduk, aku langsung ditodong agar mau menyumbangkan lagu saat pesta berlangsung nanti.

“Apa ngak ada yang lain, Ci?” Aku berusaha menolak dengan halus.

“Dari pihak pengantin perempuan baru dua orang. Kita butuh lebih. Masa’ kalah sama pihak pengantin laki-laki. Ayolah. Kalau dalam bentuk karaoke sih banyak yang mau. Tapi karena pakai band, banyak yang tidak berani.”

“Oke deh. Tapi saya akan bicara dengan personil band pengiring dulu ya.”

Aku sadar, kalau menolak terus dan suami tahu, pasti akan dimarahi habis-habisan. Jadi, harus kuatkan hati. Beruntung, aku sudah terbiasa nyanyi dengan iringan band sejak SMA dulu. Malah sebenarnya aku jarang sekali berkaraoke. Karena masih ada waktu dan pesta belum dimulai, aku menuju panggung dan berbicara dengan personil band. Adalah penting memilih lagu dari daftar yang biasa dimainkan oleh band pengiring dan mencocokkan nada dasar. Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar kerabat dari pihak pengantin perempuan datang dari Riau, maka aku pun mencari tahu beberapa lagu Mandarin yang bisa dan biasa dimainkan band pengiring.

Satu setengah jam kemudian, namaku dipanggil untuk tampil. Walaupun hati ini berdegup sedikit lebih kencang, aku berusaha untuk tenang. Saat menyanyi, aku sempat dag dig dug juga karena semua mata tertuju padaku. Orang-orang yang kukenal itu terlihat sangat serius memperhatikan diriku. Yang membuatku lebih kaget lagi adalah ketika beberapa orang, satu per satu mulai naik ke panggung menyerahkan angpao. Gaya apa pula ini? Ya ampun… mereka tidak tahu kalau hal ini malah mengganggu konsentrasiku dalam bernyanyi ya? Untung lagunya benar-benar aku kuasai. Jadi, hal yang tak terduga ini bisa segera kuatasi.

Saat turun panggung, banyak yang memberi pujian. Ibu pengantin perempuan yang juga adalah saudara sepupu suamiku berkomentar, “Setahu aku, kamu dulu ngak menguasai bahasa Mandarin ‘kan?” Aku sempat terdiam beberapa saat sebelum memberikan respon. “Iya, memang dulu aku tidak bisa. Sekarang pun juga tidak mahir. Tapi dibandingkan dulu memang sudah jauh lebih baik.” Aku sempat heran darimana dia bisa menebak kemampuan Bahasa Mandarinku? Apa mungkin karena penghayatan lagu saat menyanyikan ‘Ai Qing De Gu She’ – ‘Cerita Tentang Cinta’ tadi? Ah, tidak usah ambil pusing…

Malam itu, sebenarnya aku tidak terlalu puas dengan penampilanku. Dan, orang yang bisa aku ajak berdiskusi adalah siapa lagi kalau bukan SUAMIKU.

“Gimana? Penampilan gua tadi kurang bagus ya.”

“Sudah cukup bagus. Tapi memang lebih bagus saat kamu nyanyi di rumah sih.”

“Harusnya tadi gua ngak usah nyanyi, ya. Malu-maluin.”

“Semua orang memuji kamu, kog. Hanya aku saja tahu kalau kamu bisa lebih baik dari itu karena sehari-hari aku terbiasa mendengan kamu menyanyi. Makanya, kalau disuruh latihan, ya lakukan saja. Tidak usah banyak cincong. Penyanyi itu ‘kan harus punya 4S: Siap Selalu Setiap Saat. Ketika diminta nyanyi, sudah tahu lagu apa yang akan didendangkan.”

“Gua ‘kan bukan penyanyi profesional. Pun, tidak punya niat untuk jadi penyanyi profesional, kog. Nyanyi ‘kan buat gua cuma sekedar hobi saja.” Protesku.

“Iyalah, gua tahu. Kalau begitu, jadilah penyanyi amatir yang kualitasnya profesional.”

Bisa nyanyi ternyata serba salah juga. Sudah maju untuk unjuk kemampuan pun masih dihadiahi kritikan yang pedas. Tapi, kalau tidak maju, pasti lebih parah lagi. Bisa-bisa marahnya diulang-ulang terus sampai telinga ini jadi panas mendidih. Apalagi sekarang aku sudah punya guru vokal. Standar yang diharapkan pasti lebih tinggi lagi. Dalam hal menyanyi, suamiku ini memang selalu alot.

Walaupun demikian, aku sadar bahwa sebenarnya maksudnya adalah baik. Karena tidak bisa menyanyi, suami jadi banyak berharap padaku. Bayangkan, meskipun sudah mati-matian latihan untuk menyanyikan sebuah lagu, tetap saja banyak nada yang sumbang saat dia ingin mencoba kemampuannya. Sampai-sampai aku suka tidak bisa tahan ketawa. Namun, ada satu pelajaran yang aku petik dari sikapnya yang optimis itu. Suamiku adalah orang yang piawai mentertawakan dirinya sendiri. Gayanya yang lucu itu selalu membuat kami terhibur.

Kalau ingat kata-katanya, aku jadi suka senyum-senyum sendiri. “Orang-orang bisa lari kalau dengar gua nyanyi. Jadi, gua itu kalau nyanyi bukan untuk menghibur, tapi untuk buat orang ketawa. Hebat ‘kan? Kamu aja selalu tertawa terbahak-bahak kalau dengar gua nyanyi, kan? Jadi, ingat! Suaramu yang bagus itu jangan disimpan sendiri ya… Katakan IYA pada setiap kesempatan yang datang. Siapa takut?”

Mulai detik itu juga, jika aku dihadapkan pada pilihan: nyanyi tapi dikritik, atau tidak nyanyi tapi dimarahi habis-habisan. Lebih baik aku maju saja dan nyanyi. Karena, pasti lebih banyak untung daripada ruginya.

Akhir kata, seringkali memang dibutuhkan orang lain untuk melihat potensi diri yang kita miliki.

09
Des
09

Havermut

Saat suami tiba di rumah sehabis main bulu tangkis tadi malam, setengah berbisik dia berkata padaku, “Havermut.” Aku langsung paham bahwa dia lapar dan ingin mengisi perutnya dengan sesuatu yang tidak terlalu berat. Maklum, jam sudah menunjukkan pukul 11.15 pm.

“Aku masakin ya…”

Ketika melihat ada roti tawar di atas meja, suami langsung berubah pikiran, “Ngak usah, ngak usah. Aku makan roti tawar saja. Repot kalau harus masak dulu.”

Aku belum sempat mengambil panci dari lemari. Tapi sama sekali tidak ingin mundur karena otak sudah terlanjur memberikan perintah. “Sudah malam begini. Lebih baik makan havermut daripada roti tawar. Ngak repot kog. Lagipula, hanya kerjaan lima menit saja.”

“Ah, aku tidak mau kamu repot. Ngak usah ya…” Suami berusaha meyakinkanku.

“Tidak. Havermut saja. ‘Kan aku yang mau masakin… Kamu mandi dulu aja. Pasti aku sudah siap saat kamu selesai nanti.”

Tanpa tawar-menawar lagi, suami langsung naik ke atas untuk mandi.

Beberapa saat kemudian…

“Aku kesel deh, airnya terlalu banyak sehingga havermut-nya keenceran.”

“Tidak apa-apa kog.”

“Tapi kali ini encernya benar-benar keterlaluan,” kataku penuh sesal.

“Aku ‘kan bukan orang yang rewel. Sudah untung ada yang mau masakin. Sudahlah. Ngak usah kesal. Toh havermut-nya sudah masuk ke dalam perut. Oke?”

“Ya. Tapi aku benar-benar bodoh karena tidak mau mendengar kata hati. Harusnya aku buang sebagian airnya saat pertama mengaduk waktu baru mendidih. Havermut yang ini beda, jadi tidak boleh kebanyakan air.”

“Sudahlah. Memang kebanyakan air, tapi tidak apa-apa kog. Sungguh!”

“Iya deh. Terima kasih ya atas pengertiannya…”

Senyuman suamiku yang penuh arti benar-benar membuat hatiku berbunga. Malam yang sangat menyenangkan. Akhirnya, pikiranku pun melayang pada kebiasan kelima yang diajarkan Steven Covey dalam bukunya “The Seven Habits of Highly Effective People”.

SEEK FIRST TO UNDERSTAND, THEN TO BE UNDERSTOOD.

26
Nov
09

Selamat Jalan Paman!

Siang ini, saat HP-ku berdering dan kulihat nama saudara sepupuku tertera di layar, perasaanku langsung tidak enak. Jangan-jangan yang akan kudengar adalah kabar buruk. Setelah mengungsi ke Jakarta pasca gempa besar yang terjadi kota Padang, paman yang sudah dalam kondisi sakit berat beserta bibi telah balik lagi ke Padang tanggal 15 Nopember yang lalu.

Ternyata, dugaanku tidak meleset. Sepupuku mengabarkan bahwa Paman baru saja meninggal dengan tenang siang ini. Walaupun tahu bahwa cepat atau lambat saatnya pasti akan tiba, tetap saja aku tak kuasa menahan tangis saat berita duka ini kudengar langsung dari sepupuku. Aku mencoba untuk tidak berlama-lama larut dalam kesedihan dan mulai berpikir apa yang sepatut dan seharusnya kulakukan. Aku mulai mencari tiket agar bisa pulang ke Padang secepatnya dan segera menyebar kabar duka tersebut kepada sanak saudara lainnya.

Kenangan-kenangan indah dan manis saat masih tinggal bersama keluarga Paman di Padang satu per satu muncul dari ingatan. Masa dari masih kelas satu Sekolah Dasar sampai tamat Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun, ada satu hal yang tidak mungkin terlupakan. Aku masih duduk di kelas dua SMA. Waktu itu sekolah mengadakan perlombaan nyanyi lagu Minang dan aku adalah salah satu pesertanya.

Saat Paman tahu bahwa aku akan membawakan lagu Minang, Paman langsung menawarkan untuk memanggil temannya ke rumah agar bisa melatih aku. Menurut Paman, menyanyikan lagu Minang itu tidak mudah. Lafal dan cengkoknya harus tepat.

Tentu saja tawaran Paman tidak aku sia-siakan. Selanjutnya Paman langsung menghubungi Om Coco, menjemput dan membawanya ke rumah agar bisa melatih aku. Paman tidak salah karena Om Coco memang hebat. Dia mengajariku bagaimana menyanyi dengan cengkok Minang. Memang tidak gampang sih, tapi masukan dari Om Coco sungguh sangat berguna. Bukan itu saja, setelah selesai latihan, Om Coco juga memberikan bonus buat kami. Beliau menyanyikan lagu “O Sole Mio” yang sangat terkenal itu dan suaranya begitu indah dan merdu. Aku sampai terpana dibuatnya.

Akhirnya, ketika perlombaan usai dan hasil diumumkan, aku sama sekali tidak menduga bisa mendapat juara dua karena peserta lainnya juga bagus-bagus. Aku sangat berterima kasih pada Paman karena telah memanggil Om Coco untukku. Bahkan sampai saat inipun aku masih ingat syairnya…

KOK UPIAK

Kok upiak pai ka ladang
Baok rotan ka tali timbo
Kok upiak nantilah gadang
Adaik sopan nan kadijago

Cubadak masak dibatang
Tumbuah luruih dakek parigi
Nak rancak diliek urang
Budi elok pamikek ati

Upiak rambahlah paku, tarang jalan ka parak
Upiak rubahlah laku, sayang rang bakeh awak

SELAMAT JALAN PAMAN TERCINTA
Beristirahatlah dengan tenang
Kenangan ini akan terus kusimpan di hati
Sejak ayah meninggal saat aku masih kelas tiga SMP
Paman sudah kuanggap sebagai pengganti ayahku
Terima kasih karena sudah ikut menjaga keluarga kami selama bertahun-tahun
Budi dan kebaikan Paman tidak mungkin akan terbalas sampai kapanpun

08
Nov
09

Salah Jalan

Setiap kali mendapatkan jadwal bicara untuk ‘Parenting Seminar’, saya selalu merasa dag dig dug saat melihat lokasi sekolah. Kalau daerahnya masih di sekitar Jakarta Barat, bolehlah lapang rasa dada ini. Akan tetapi, jika tempatnya ada di Bekasi, Bogor atau daerah lainnya yang cukup jauh, saya pasti mulai sibuk dan panik bertanya sana sini untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang titik-titik yang harus dilalui agar bisa sampai ke tujuan. Maklum, membaca peta dan membayangkan arah adalah kelemahan terbesar yang ada dalam diri saya. Apalagi, jika tempat-tempat tersebut masih asing atau sama sekali belum pernah saya kunjungi.

Apa boleh buat, kebahagiaan yang saya rasakan saat berbagi cerita dan pengalaman dengan para orangtua murid ternyata mengalahkan rasa bimbang dan gamang saat menuju lokasi yang tidak biasa. Selama ini, sudah berpuluh-puluh sekolah yang saya datangi. Walaupun tempatnya ada yang jauh dan asing, namun saya selalu berhasil tiba di tempat tujuan tanpa halangan yang berarti. Tentu saja, catatan hasil tanya sana-sini itu sangat membantu. Kenyataannya, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh jua. Demikianlah yang terjadi pada saya hari Sabtu kemarin, 7 Nopember 2009, saat dalam perjalanan menuju Kota Harapan Indah, Bekasi.

Sesuai catatan, saat tiba di depan pintu tol menuju Cikampek, harusnya ambil tiket tol dulu. Entah kenapa saat melihat ke kiri dan ada tulisan Cikunir yang letaknya persis bersebelahan dengan pintu tol Cikampek, saya jadi bimbang. Padahal, jelas-jelas pada catatan saya tertulis : ambil tiket tol, tetap di jalur kiri, terus keluar gerbang tol Cikunir 4. Tapi, entah kenapa saya berpikir lain, “Mungkin saya harus keluar Cikunir. Kalau terus dan salah tentu saya tidak tahu bagaimana bisa kembali lagi. Mungkin seharusnya memang Cikunir dan angka empat itu tidak ada.” Saat tiba di depan loket, saya mulai sedikit heran karena hanya perlu membayar Rp 1.000 dan tidak diberi tiket. Sebenarnya insting saya meminta saya untuk mundur, tapi tidak saya lakukan. Malahan, saya bertanya kepada penjaga pintu tol, “Pak, apakah benar kalau mau ke Kota Harapan Indah lewat jalan ini?”

“Iya, benar. Ibu lewat saja.” Saat melihat polisi di jalan, saya pun bertanya dan mendapatkan jawaban yang sama. Akan tetapi, perasaan saya mulai galau dan rasa khawatir mulai menyelemuti diri karena daerah yang saya lewati tidak klop dengan catatan yang ada. “Tidak bisa. Saya pasti sudah salah jalan,” Demikianlah hati ini berbisik. Saat sadar kalau sudah salah jalan, saya pun menelpon Pak Handy, orang yang menjelaskan arah dan jalan menuju ke lokasi. Ternyata saya memang sudah salah jalan. Akan tetapi, saat saya tanya bagaimana kembali ke jalur yang benar, Pak Handy juga tidak bisa membantu. Saya pun menelpon suami saya dan hasilnya sama saja. Tidak ada yang bisa membantu saya keluar dari daerah asing ini. Sepanjang jalan saya hanya melihat tulisan Kali Malang dan Jatiwaringin. Sebegitu luaskah Bekasi sehingga daerah yang satu tidak terkoneksi dengan lainnya walaupun masih sama-sama bernama Bekasi? Apa boleh buat, yang penting jangan panik supaya pikiran tetap jernih.” Saya mulai menghitung dampak terburuk dari kesalahan ini. Mungkin  saya akan terlambat sampai di sekolah atau sama sekali batal berbicara pada seminar yang akan dimulai pada pukul 10.30 pagi. Saat melirik jam, saya tahu bahwa waktu yang tersisa hanya satu jam saja.

Saat mencari jalan keluar, saya mulai berpikir, “Sepertinya harus mengarah ke tol Cikampek deh. Tapi kenapa ya sepanjang jalan lebih banyak tulisan ke Cawang, Pondok Gede, dan Bogor? Kalau ambil Cawang artinya kembali ke Jakarta dong? Ngak bisa. Harus tetap menuju tol Cikampek.” Agar tidak salah, setiap kali bertemu Polisi, saya langsung menanyakan arah tol Cikampek. Dua kali Polisi meminta saya untuk terus saja. Terus terang, rasanya jalan yang saya tempuh sudah sedemikian panjang dan lama, tapi tetap belum ada juga tanda-tanda yang menuju ke Cikampek. Akhirnya, setelah Polisi ketiga memberitahukan agar setelah lampu merah kedua ambil kiri, barulah saya bisa sedikit lega.

Benar, ketika melihat pelang bertuliskan Cikampek, saya pun tersenyum sambil mentertawakan kebodohan dan ketololan sendiri. Salah keluar pintu tol telah membuat semua catatan yang ada di tangan jadi tidak berlaku. Parahnya, saya jadi tersesat begini lagi. Tidak ada waktu untuk berkecil hati atau menyesali apa yang telah terjadi. Bukankah pasti ada hikmah dibalik semua ini? Mungkin setelah meminta maaf karena terlambat, saya bisa memulai seminar dengan cerita salah jalan ini…

“Sama seperti kejadian salah jalan yang saya alami saat menuju ke sini. Sebagai orangtua, kita juga bisa salah dan ketika sadar, tentu harus ada yang dilakukan, bukan? Misalnya, kita bisa bertanya kepada yang lebih tahu, mencoba mencari solusi melalu media. Misalnya via internet, buku atau pun seminar. Dan, yang paling penting adalah tetap tenang dan jangan panik. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya asalkan kita mau berusaha….” Selanjutnya, saat membahas topik seminar tentang “Boundaries with Kids” atau Batasan-Batasan dengan Anak, hadirin terlihat mendengarkan dengan seksama. Dalam sesi tanya jawab, orangtua seakan tidak mau ketinggalan dan terlihat antusias ketika menanyakan masalah anak-anak mereka. Bahkan setelah seminar berakhir, saya masih harus tinggal sekitar satu jam lagi untuk mendengarkan masalah mereka agar bisa memberikan masukan.

Saya memang terlambat dua puluh menit dari jadwal 10.30 yang yang telah ditentukan. Akan tetapi, melihat respon positif dari yang hadir, semua rasa capek dan penat yang saya rasakan sebelum tiba di lokasi seakan hilang tak berbekas. Baru pada pukul 13.45, saya bisa meninggalkan sekolah untuk kembali ke Jakarta. Walaupun terjebak macet saat masuk tol dalam kota, saya tetap berusaha untuk positif dan menikmati kemacetan. Sebenarnya, yang paling susah dilawan saat itu adalah rasa lapar yang telah membuat sekujur badan jadi gemetar. Ditambah lagi, sore itu sebenarnya saya ada janji dengan Pak Ikhsan. Beliau ingin mengajak istri dan putrinya ke rumah untuk konsultasi.

Saat hendak menelpon untuk memundurkan waktu pertemuan, tiba-tiba saya terima SMS dari Pak Ikhsan. Beliau menanyakan apakah jadwal pertemuan bisa diundur hingga jam enam sore. Wah, kebetulan sekali. Memang itu yang sedang saya pikirkan. Kog bisa pas sekali, ya? Karena, saya tidak mungkin dapat memberikan konsultasi dalam keadaan lapar dan gemetar. Paling tidak saya butuh istirahat satu jam untuk memulihkan stamina. Mungkin inilah yang dinamakan kekuatan pikiran. Ketika kita berpikir positif, maka hal-hal baik akan datang pada kita.

Malam itu, pertemuan dengan keluarga Pak Ikhsan membuat hari saya terasa sangat menyenangkan. Hidup selalu terasa lebih indah bila kita mendapatkan kesempatan untuk berbagi dengan orang lain. Terlebih-lebih jika yang dibagi itu adalah pengetahuan dan pengalaman yang mungkin bisa berguna bagi orang lain. Bukankah semakin banyak masalah yang datang pada saya, maka semakin bertambah pula kesempatan untuk meningkatkan kemampuan konsultasi atau coaching yang sudah ada? Semoga!

The good life, as I conceive it, is a happy life. I do not mean that if you are good you will be happy; I mean that if you are happy you will be good. ~ Bertrand Russel

13959_189588473831_675948831_3853357_4615052_n

28
Okt
09

Bagaimana Memupuk Aktivitas Seks yang Positif

Bagi banyak orang, seks merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan. Padahal, pengetahuan tentang seks adalah penting karena hal ini dapat menjadi alat penyatu pasangan suami-istri dalam memberi dan menerima cinta. Kegiatan seks bukanlah semata-mata aktivitas di atas ranjang saja. Tetapi, dalam hubungan yang penuh cinta dan rasa saling percaya, seks menawarkan kesempatan untuk membuka diri dan menemukan kenikmatan sehingga pengalaman dan gairah seksual suami-istri akan meningkat.

Kenyataannya, dari hasil observasi dan bincang-bincang secara pribadi dengan teman-teman, saya menemukan bahwa aktivitas seks mulai berkurang bahkan seperti menghilang dari pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah. Padahal, fisik mereka masih sehat dan kuat. Sebagian besar, kalau tidak dipusingkan oleh masalah tentang anak, ya tenggelam dalam pekerjaan dan kegiatan rutin sehari-hari. Sehingga, tidak ada lagi energi yang tersisa untuk memadu kasih dengan pasangannya. Akibatnya, aktivitas seksual menjadi minim dan tidak nikmat lagi. Konsekuensinya, kehidupan seks banyak pasangan menjadi hambar dan mati sebelum waktunya.

Seks sangat berkaitan dengan segala aspek dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali, salah persepsi atau ketidaktahuan kita dalam menyikapi persoalan seks secara tidak langsung telah mengakibatkan hubungan suami-istri menjadi renggang dan retak. Bahkan, dalam banyak kasus, hal ini sebagai pemicu terjadinya perceraian.

Teman saya yang bernama Nuri (bukan nama sebenarnya) pernah bertanya, “Bagaimana mungkin seorang suami yang tidak memahami aktivitas seks bisa mengerti dan memahami kenikmatan dalam bercinta? Setiap kali akulah yang harus memulai. Itu pun sering ditolak dengan alasan capek. Lama-kelamaan kita juga bisa malas dan jadi mati rasa, benar ‘kan, Vin?”

Wah, gawat juga ya??? Pantas, setiap kali bermasalah dengan suaminya, dia selalu menelponku untuk mengeluarkan uneg-uneg-nya. Dari curhat-curhat rutin inilah akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa tanpa disadari, seks termasuk salah satu pemicu masalah komunikasi antara Nuri dengan suaminya.

Setelah terdiam sejenak, saya pun mulai memberikan penjelasan tentang pentingnya seorang perempuan mengenal dan peka terhadap tubuhnya sendiri. Terus terang, pengetahuan ini saya dapatkan dari buku yang dibaca saat masih kelas tiga SMA dulu. Jadi, memang sudah lama sekali. Bukunya berjudul “Every Woman” dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Buku ini mampu meningkatkan wawasan kita tentang pendidikan seks dan merupakan salah satu buku terbaik dan sangat berguna yang pernah saya baca. Isinya tidak hanya mengajarkan bagaimana mendapatkan kenikmatan seks, tetapi juga menjelaskan akibat-akibat yang timbul jika seks dilakukan secara liar, bebas dan sembarangan. Jadi, kita harus benar-benar mampu mengontrol diri dan berpikir jernih serta tidak mengikuti hawa nafsu saja agar terhindar dari penyakit-penyakit yang dapat merusak kualitas keturunan kita kelak.

Kemudian, saya meneruskan, “Jika kita memiliki hubungan yang mesra dan harmonis dengan pasangan, maka kemungkinan besar penyelewengan tidak akan terjadi. Bahkan, saat anak-anak semakin besar dan menjadi lebih mandiri, kita akan punya lebih banyak waktu untuk menumbuhkan dan menguatkan kembali tali cinta dan kasih dengan pasangan. Tentu saja ini baru mungkin jika komunikasi berjalan mulus. Bagaimana Nuri? Kamu setuju tidak dengan pernyataanku ini?”

Nuri menganggukkan kepalannya. “Tapi Vin, bagaimana aku mampu membuat keadaan menjadi lebih baik? Suami sering membuat aku frustrasi. Walaupun dia itu baik dan sangat bertanggung jawab terhadap keluarga kami, tapi banyak hal yang kini telah sirna dan lenyap dalam hubungan kami berdua.”

“Nuri, tidak ada hal yang sulit di dunia ini asal kita mau berpikir jernih dan melakukan segala sesuatu dengan tulus dan dari lubuk hati yang terdalam. Aktivitas seks yang positif sebenarnya berawal dari hal-hal kecil yang sering kita lewatkan. Tidak usah terus mencari-cari kesalahan dan kekurangan pasangan kita. Tetapi, marilah kita mulai dari diri kita sendiri dulu dengan melakukan beberapa hal sederhana yang dapat memberikan rasa dan warna pada hubungan kalian yang telah hambar dan memudar itu.”

1. Senyuman

Saat beradu pandang dengan suami di pagi hari dan ketika menyambut kepulangan suami dari kantor, cobalah untuk tersenyum. Berikan senyuman termanis hanya untuk dia. Hal ini tentu akan membuat hatinya damai dan tentram setelah seharian bekerja demi keluarga. Suami pasti akan senang bila tahu istri yang dicintainya merasa bahagia. Dengan demikian, akan timbul keinginan untuk selalu berada di dekat kita.

2. Rasa Percaya Diri

Jangan terlalu khawatir dengan tubuh kita yang tidak sempurna. Lemak yang sedikit berlebihan di sana sini bukanlah masalah utama. Yang penting, rawatlah diri kita agar terlihat bersih dan menarik. Suami pasti lebih suka bercengkerama dengan istri yang percaya diri, mengerti dan memahami kebutuhan fisik, emosional serta spiritualnya. Istri yang penuh percaya diri pasti lebih bersemangat sehingga mampu memancarkan energi positif bagi seisi rumah.

3. Pujian

Setiap orang pasti ingin dihargai dan dihormati. Pujian yang simpel dan sederhana tentu akan membuat perbedaan. Mulailah memperhatikan hal-hal positif yang telah suami lakukan untuk kita. Kemudian, berilah pujian yang sewajarnya. Misalnya: “Kamu memang suami yang baik. Aku merasa beruntung memilikimu.” Percayalah, apa yang kita berikan pasti akan kembali kepada kita lagi. Jadi, tidak usah heran jika suatu saat suami mulai memuji hal-hal positif yang kita lakukan untuknya atau pun keluarga. Biasanya, laki-laki memang jarang memberikan pujian secara gamblang. Akan tetapi, dengan kepekaan yang terus-menerus terasah, kita dapat merasakan pujian tersebut dengan membaca raut wajah dan bahasa tubuh mereka. Kadang-kadang pujian juga tersirat dari kata-kata yang mereka ucapkan.

4. Variasi

Kita pasti akan cepat bosan dengan irama hidup yang monoton. Jadi, mulailah berpikir untuk menciptakan variasi-variasi yang mungkin serta sesuai dengan kepribadian dan norma-norma yang kita junjung. Variasi tidak hanya dibutuhkan saat beraktivitas seks. Tetapi, tambahkanlah bumbu dalam kegiatan dan rutinitas sehari-hari agar hidup terasa lebih bergairah. Untuk itu, asahlah terus pikiran agar kreativitas kita berkembang sehingga suasana di rumah menjadi lebih hidup.

5. Sikap Terbuka

Penting bagi pasangan untuk selalu bersikap terbuka satu dengan yang lain. Belajarlah untuk menjadi pendengar, pembicara dan pencerita yang baik bagi pasangan kita. Karena, orang yang pandai dan piawai dalam berkomunikasi akan mampu menyampaikan pikiran, tujuan dan maksudnya dengan baik dan jelas. Semakin kita mengenal pasangan kita, semakin timbul hasrat dan keinginan untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Apakah itu untuk bertukar pikiran atau pun bercengkerama misalnya.

Jadi, jelaslah kini bahwa untuk menikmati hubungan seks yang positif, kita harus melakukannya secara holistik atau menyeluruh. Seks yang nikmat tidak terjadi begitu saja saat kita berada di tempat tidur. Tetapi, semuanya berawal dari interaksi sehari-hari dengan pasangan. Disamping itu, pengetahuan tentang seks juga penting. Saat ini sudah banyak buku yang mengupas hal ini. Jadi, kalau kita masih menganggap seks adalah masalah yang tabu untuk dibicarakan, kemungkinan besar kita telah ketinggalan kereta. Aktivitas seks yang positif akan membuat hidup menjadi lebih bergairah dan menyenangkan. Sehingga, jangan biarkan aktivitas seks mati sebelum waktunya.

Di mana ada kemauan, disitu pasti ada jalan. Semoga bermanfaat!

Love_Making

12
Okt
09

Saling Memuji

You don’t love a woman because she is beautiful, but she is beautiful because you love her. ~ Anonymous

Two-Thumbs-Up1

Di balik musibah pasti ada hikmah yang dapat dipetik. Sejak gempa dahsyat yang terjadi di kota Padang tanggal 30 September yang lalu, hubungan saya dengan Paman dan Bibi menjadi lebih akrab lagi. Saya pun jadi lebih sering memikirkan keadaan dan kondisi mereka saat ini. Kenapa tidak? Sejak dulu, mereka telah menjadi bagian dari hidup saya dan sudah saya anggap seperti orangtua sendiri. Apalagi, kedua orangtua saya sendiri telah lama tiada. Jadi, apa pun yang terjadi pada Paman dan Bibi, pasti tidak akan luput dari pantauan saya dan kedua adik saya. Mungkin inilah untungnya pernah hidup bersama keluarga Paman selama lebih kurang dua belas tahun di Padang sehingga ikatan batin yang terjalin tak lekang oleh waktu dan tak lapuk oleh jarak.

Tanpa terasa, sudah sepuluh hari Paman dan Bibi berada di Jakarta. Yaitu, sejak Padang, kota di mana Paman dan Bibi selama ini tinggal, jadi porak poranda karena gempa. Dalam kurun waktu tersebut, saya pun telah empat kali mengunjungi mereka. Dan, selama kunjungan tersebut, ada satu hal positif yang terus mengisi pikiran saya. Sehingga, saya pun tertarik untuk meniru dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jika pernah membaca tulisan saya sebelum ini yang berjudul “Tegar”, anda pasti sudah tahu kalau saat ini Paman sudah tidak lagi dalam kondisi kesehatan yang prima. Hidup Paman hampir sepenuhnya bergantung kepada Bibi. Bahkan untuk aktivitas yang ringan dan rutin sekali pun. Putra sulung Paman juga harus ikut merawat dan menjaga Paman. Bayangkan, makan harus disuapi, minum harus dibantu, jalan pun harus dipapah, dan tentunya masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu. Beruntung, saya memiliki seorang Bibi yang tegar dan teguh. Setiap hari, dia merawat Paman dengan sabar, telaten dan sepenuh hati.

Menurut hemat saya, apa yang Paman dapatkan tidak mungkin tertandingi oleh pelayanan VIP rumah sakit mana pun. Untuk hal ini, saya benar-benar harus angkat topi untuk Bibi dan sepupu saya. Sebagai contoh, butuh waktu satu jam untuk menyuapi Paman agar bubur semangkuk habis dimakan. Akan tetapi, yang membuat saya terkesan dan terharu adalah setiap kali Paman selesai dengan buburnya, Bibi langsung mengangkat kedua jempolnya sambil berkata, “Cin Gao” yang artinya ’sangat pintar’. Kata-kata dalam bahasa Hokkian ini biasa diucapkan untuk memberikan pujian atau dukungan pada lawan bicara kita. Oh ya, sehari-hari kami memang terbiasa berbicara dalam bahasa Hokkian.

Jika Bibi tidak langsung mengangkat kedua jempolnya, otomatis Paman yang akan melakukannya terlebih dahulu sambil berkata, “Cin Gao.” Sungguh pemandangan yang bisa membuat hati siapa pun terenyuh. Selama empat puluh dua tahun hidup bersama, komunikasi di antara mereka masih saja terjalin dengan begitu baik, bahkan lebih baik lagi di saat Paman semakin kehilangan daya dan kekuatannya. Saking penasaran, saya mencoba berimajinasi kira-kira apa ya yang terlintas dalam pikiran mereka saat saling memberikan semangat dengan kedua jempol tersebut.

Bibi : “Aku sudah melakukan tugasku dengan baik, kamu senang?”
Paman : Iya, terima kasih sudah menjaga dan merawatku dengan baik.”
Bibi : “Syukurlah.”
Paman : “Kamu benar-benar istri teladan.”

Kejadian di atas terus berputar dan berputar di benakku. Pagi tadi, saat sedang membaca koran, saya pun menceritakan kejadian tersebut kepada suami. Berharap bisa langsung mempraktekkannya, saya meminta tolong agar dia mau membuang kertas yang ada di tanganku ke tong sampah yang sebenarnya hanya beberapa langkah dari tempat kami duduk. Dengan senang hati suami pun mengikuti ‘perintah’ tersebut. “Xie xie”. Terima kasih, kataku sambil tersenyum dan mengangkat kedua jempol untuk menghargai bantuannya.

Dengan senyuman, suami juga ikut mengangkat kedua jempolnya sambil memperlihatkan tatapannya yang penuh arti. Luar biasa! Pelajaran dan teladan yang baru saya dapatkan dari Paman dan Bibi memang layak untuk terus dipraktekkan dan dipupuk agar menjadi sebuah kebiasaan. Bagaimana dengan Anda? Apakah tertarik untuk mengikuti jejak saya? Jika iya, mulailah sekarang juga dengan orang-orang yang anda cintai dan kasihi. Anda pasti akan lebih bahagia lagi. Selamat mencoba dan semoga berhasil!

04
Okt
09

Tegar

P1010422Saat membuka mata pagi hari ini, aku terus menangis. Menangis dan menangis sampai mataku sembap dan hidungku bengkak. Aku tak kuasa menahan rasa sedih karena teringat akan pertemuan tadi malam dengan Paman dan Bibi yang baru datang dari Padang untuk mengungsi ke Jakarta. Karena, kota Padang telah porak poranda.

Masih jelas dalam ingatan saat Rabu sore tanggal 30 September 2009 yang baru beberapa hari berlalu. Melalui Facebook, seorang teman meminta agar yang punya sanak saudara di Padang segera mencek keluarganya. Gempa dahsyat dengan kekuatan 7.6 SR baru saja terjadi. Tanpa pikir panjang, aku langsung menghubungi saudara sepupuku yang di sana tapi tidak berhasil. Akhirnya, setelah menelpon saudara lainnya yang ada di Jakarta, aku mendapat kabar bahwa Paman dan Bibi dalam keadaan baik dan selamat. Rumah mereka hanya retak-retak kecil di beberapa tempat. Sedangkan rumah tetangga di seberang jalan roboh. Terus terang, aku sangat khawatir karena kesehatan Paman yang terus memburuk akibat penyakit yang sudah bertahun-tahun bersarang dalam tubuh.

Awalnya, Paman, Bibi dan seorang sepupuku masih ingin bertahan di Padang karena akan repot membawa Paman yang tidak sehat ke Jakarta. Lagipula, bukankah kita selalu merasa aman dan nyaman jika berada di rumah sendiri? Akhirnya, setelah dipertimbangakan lagi, mereka setuju untuk mengungsi ke Jakarta sambil menunggu kondisi kota Padang membaik.

Dalam ingatanku, Padang adalah sebuah kota yang indah dan bersih. Kota ini selalu ada dalam kenangan karena di sinilah aku dibesarkan. Kami sekeluarga tinggal tinggal bersama keluarga paman selama belasan tahun yaitu sejak aku masih berusia lima sampai delapan belas tahun. Jadi, saat tahu bahwa Padang telah luluh lantak karena gempa, hatiku pun ikut menangis. Tanpa terasa, sudah dua puluh lima tahun aku meninggalkan kota ini. Dan, jika dihitung-hitung, selama ini aku hanya pernah kembali sebanyak enam kali saja. Yang terakhir adalah tujuh tahun yang lalu dan secara fisik kota ini sudah sangat berubah. Kini, walaupun sebagian besar kota telah rusak, kenangan yang tersimpan akan tetap berkibar.

Saat mendengar dan melihat kehancuran kota dari foto-foto maupun video yang di-posting teman-teman via Facebook, aku merasa getir. Akan tetapi, air mata masih bisa kutahan dan hanya sempat mengambang sebentar di pelupuk mata. Tadi malam, saat bertemu Paman dan menyaksikan sendiri kondisi fisiknya yang sudah begitu lemah, hatiku serasa diiris-iris. Paman masih mengenaliku dan sorot matanya telah mewakili kata-kata yang tidak terucapkan. Bibi yang telah mendampingi paman selama empat puluh dua tahun terlihat begitu tabah dan teguh dalam merawat dan menjaga Paman. Malahan Bibi masih bisa bercanda bahwa sekarang dia sudah berganti profesi menjadi perawat. Melihat semua ini, aku jadi tidak tahan dan meneteskan air mata. Dengan sekuat tenaga aku berusaha menahannya agar tidak tumpah ruah.

Saat makan malam bersama Bibi dan keempat saudara sepupuku, kami pun mengenang masa-masa indah ketika masih bersama-sama dulu di Padang. Aku juga sempat memberikan penjelasan kepada putriku, Lisa yang ikut duduk di sana bahwa beginilah keadaan kami dulu, selalu ada yang dibicarakan saat duduk bersama baik di meja makan ataupun di ruang keluarga. Aku pun menjelaskan kepada Lisa bahwa keluarga Paman sudah kuanggap seperti keluarga sendiri. Dua belas tahun tumbuh bersama telah membuat tali persaudaraan kami lekat dan taut. Tiga orang saudara sepupuku kini sama-sama tinggal di Jakarta dan kami memang tidak bisa selalu bertemu karena kesibukan masing-masing. Walaupun demikian, jika ada hal penting, kami pasti segera berkumpul. Aku juga senang karena Lisa menyaksikan sendiri bagaimana Paman dirawat dan dijaga dengan baik oleh keluarganya.

Ketika membahas masalah gempa di Padang, aku tidak mendeteksi adanya pikiran negatif dari Bibi dan sepupuku (anak tertua Bibi yang tinggal bersama mereka di Padang). Mereka juga menceritakan kejadian-kejadian positif dibalik cerita-cerita sedih setelah gempa. Misalnya, ada seorang tetangga yang telah tertimbun reruntuhan selama 34 jam tapi masih hidup dan hanya mengalami luka ringan saja. Bibi juga mengatakan bahwa selama ini kita hanya menonton bencana langsung dari TV. Saat mengalami sendiri baru rasanya ngeri. Yang membuat aku terperangah adalah saat Bibi membandingkan gempa di Padang dengan yang terjadi di China tahun lalu. “Gempa di Se Chuan jauh lebih payah dan parah. Saat gempa terjadi cuaca begitu buruk. Ditambah lagi dengan tanah longsor sehingga akses ke sana terputus sama sekali. Tentara yang akan membantu evakuasi harus diturunkan dari udara. Bagaimanapun apa yang terjadi di Padang masih jauh lebih baik karena bantuan bisa segera datang.” Aku hanya bisa terpaku dan tubuhku seakan membeku. Bibi tetap tidak berubah. Tabah, pasrah dan tegar.

Kenangan indah, kondisi Paman yang cukup memprihatinkan, serta ketabahan dan ketegaran Bibi sungguh membuat aku terharu. Itulah sebabnya tadi pagi aku terus menangis saat pikiran-pikiran tersebut tidak mau pergi. Tiba-tiba, aku teringat akan sebuah buku yang berjudul ‘Masa-masa Sulit, Anak-anak yang Tegar’ yang diterjemahkan dari ‘Tough Times, Strong Children’, ditulis oleh Dan Kindlon, Ph. D. Buku ini aku baca sekitar empat setengan tahun yang lalu. Isinya memberikan ilham kepada kita untuk bertindak secara berani bagi anak-anak kita ketika mereka merasa takut. Dan, hal terpenting yang aku dapatkan adalah bagaimana orangtua dapat bersikap proaktif untuk memberdayakan dan memberi kekuatan kepada anak-anak dalam menghadapi ketidakpastian masa depan. Masa-masa sulit memang membutuhkan orangtua yang tegar.

Akhir kata, dalam renungan aku merasa begitu beruntung telah dibesarkan di tengah-tengah orang dewasa yang terbukti tegar, tabah dan kuat saat menghadapi kemalangan. Mereka adalah kedua orangtuaku yang telah tiada serta Paman dan Bibi. You’ll be in my heart, always!

26
Sep
09

“Dingin”

Aku dan suamiku, Anton baru saja selesai bercengkerama dan bermaksud untuk tidur. Tetapi, baru beberapa detik aku merebahkan diri pada kasur yang empuk, tiba-tiba terdengar sebuah lagu yang sudah tidak asing lagi ditelinga…

“Tolong, tv-nya jangan dimatikan dulu, sayang! Itu Emilia Contessa bukan?” Kataku sambil melompat dari tempat tidur, lalu pindah ke depan tv. Hatiku pun jadi berbunga saat Anton juga ikut duduk di sebelahku. Ternyata aku salah besar. Bukan Emilia Contessa yang sedang menyanyi di Metro TV, melainkan Hetty Koes Endang, idolaku saat masih di SMP & SMA dulu. Aku senang sekali bisa mendengar suara Hetty lagi yang masih merdu dan indah seperti dulu. Lagu yang dibawakan adalah “Damai Tapi Gersang” karya Ajie Bandi.

Terus terang, selama ini tv di kamar lebih sering menyala saat suami sedang ada di rumah. Jika melihat aku sedang berada di depan komputer atau duduk membaca, dia langsung memakai earphone agar suara tv tidak mengusikku. Bolehlah ge er sedikit saat tahu bahwa suami lebih senang berada di dekatku daripada harus duduk sendirian di depan tv ruang keluarga.

Kemudian, saat Hetty membawakan lagu kesukaanku yang berjudul “Dingin”, aku benar-benar tidak tahan lagi dan mulai ikut beryanyi…

Malam yang dingin, aku sendiri
Dingin dingin hati ini tambah dingin, entah mengapa
Kalau cinta memang aku sudah tak punya
Air mataku pun kini keringlah sudah, dingin…

Tiba-tiba aku sedikit menyesal karena tidak bisa menahan diri untuk tidak menyanyi. Bukankah lebih baik jika suamiku menikmati suara Hetty yang indah dan terlatih itu daripada suaraku yang hanya biasa-biasa ini? Saat kulirik, Anton hanya tersenyum-senyum saja. Setelah acara selesai, tv-pun dimatikan karena sudah waktunya untuk tidur. Namun, aku masih ingin ‘bermain-main’ sebentar dengan lagu Hetty. Jadi kuulangi lagi bagian refrain-nya saja:

Kaujanjikan berbulan madu, ke ujung dunia (Gua ngak pernah minta bulan madu, kan?)
Kaujanjikan sepatuku dari kulit rusa (Gua ngak butuh sepatu, hanya minta buku saja, ha.. ha..)
Tapi janji tinggal janji, bulan madu hanya mimpi
Tapi janji tinggal janji di bibirmu (Thanks ya, rasanya sampai hari ini kamu belum pernah ingkar janji deh)

Itulah enaknya jika menyanyi tanpa harus tergantung iringan musik. Bisa ditambah dengan kata-kata sendiri. Ha… ha… ha…. Suamiku memang sudah terbiasa dengan istrinya yang tidak bisa diam ini. Menyerah pada nasib dan pasrah saja. Setelah selesai, aku belum juga bisa diam, “Gua bisa nyanyi ‘kan?” Anton hanya mengangguk. “Terima kasih ya sudah mendorong aku untuk les nyanyi. Saat ini gua sih paling pede kalau nyanyi di depan kamu saja. Yah, kalau dibanding Hetty, suara gua sih ngak ada apa-apanya. Tapi kamu suka ngak saat gua nyanyi tadi?” Anton kembali mengangguk dan kemudian tersenyum penuh arti. “Terima kasih sudah membiarkan aku menjadi diriku sendiri. Oke, selamat tidur ya.” Saat kulihat jam, ternyata sudah pukul 2 pagi dan aku baru saja mau tidur. What a wonderful moment.

winter

24
Sep
09

Terbebas dari Rasa Sakit

painPagi ini, saat akan mulai melakukan yoga, telepon rumah berdering. Ternyata teman baikku, Riana (bukan nama sebenarnya) yang menelpon. “Pasti ada yang hendak dibicarakan atau didiskusikan. Jadi, tidak apalah kalau yoga harus ditunda dulu,” kataku dalam hati. Ria memang sudah sangat biasa bertukar pikiran denganku mengenai masalah anak, keluarga ataupun pendidikan. Tapi akhir-akhir ini, karena bermasalah dengan lutut kanannya, kami pun lebih sering membahas masalah kesehatan.

“Vin, kamu ngak pergi.”

“Enggak. Aku ‘kan lebih senang mengeram di rumah. Tadi malam sih sudah jalan-jalan sebentar bersama keluarga ke GI. Hari ini rencananya sih mau di rumah saja. Kalau pun keluar paling hanya untuk cari makan saja.”

“Oh ya, Vin. Dulu kamu pernah sakit lutut ‘kan? Sampai ke dokter dan melakukan MRI segala. Terus akhirnya kog bisa sembuh?”

“Mungkin karena yoga dan jalan pagi, Ria.”

“Aku ini sudah bolak-balik ke dokter dan minum beberapa jenis obat. Tapi ngak sembuh-sembuh, tuh. Karena peradangan, aku sampai ngak berani memakai kakiku secara berlebihan. Aku khawatir dan takut akan terjadi hal-hal yang buruk padaku. Sekarang saja tangan kanan juga mulai sakit. Kita ini ‘kan seumur, Vin. Dulu saat lututmu sakit berarti kamu belum umur 40 ya?

“Iyalah. Masa lebih tua dulu dari sekarang, ha.. ha.. ha… Sebenarnya, kalau mau cepat sembuh, kita harus mau merawat pikiran juga. Kalau terus khawatir dan sering berpikir yang tidak-tidak, penyembuhan pasti akan terhambat. Bertahun-tahun lalu, saat lutut kiriku mulai terasa nyeri dan ngilu, aku berusaha untuk tetap tenang dan mulai mereka-reka apa penyebabnya. Mungkin karena aku pernah jatuh, bisa juga terlalu banyak injak kopling atau suka duduk terlalu lama ketika sedang asyik membaca buku. Maklum Ria, kalau ada buku di tangan, badan seakan berubah menjadi patung. He.. he.. he…”

“Tapi kog sakitmu itu bisa hilang, Vin?”

“Setelah membayar cukup mahal untuk biaya MRI dan hasilnya adalah nihil, dokter hanya memberikan ‘Osteor’ saja (kalau ngak salah ingat ya). Rasa sakit itu sebenarnya petanda bahwa ada yang salah pada tubuh kita. Jadi, jangan anggap enteng. Saat itu, sudah beberapa tahun, dua kali seminggu, aku ikut senam body conditioning. Jadi, walau ngilu atau nyeri datang menyerang, aku tetap ikut senam namun menghindari gerakan-gerakan yang mungkin bisa memperparah rasa sakit. Artinya, aku tetap konsisten melakukan aktivitas yang biasa dilakukan. Empat tahun yang lalu, aku mulai beralih ke yoga. Dan, sejak dua tahun lalu, selain yoga dua sampai tiga kali seminggu, aku selingi dengan dengan jalan pagi dua kali seminggu. Konsekuensinya, sudah cukup lama lututku tidak pernah nyeri dan ngilu lagi.”

“Tapi, rasanya susah ya, Vin, untuk menjadi disiplin seperti kamu!”

“Ria, manusia itu pada dasarnya malas, termasuk diriku. Namun, kalau kita mempunyai TUJUAN saat melakukan sesuatu, pasti motivasi diri akan datang dengan sendirinya. Aku mau sehat. Menurutku, cara yang termudah dan termurah adalah dengan yoga sendiri di rumah serta jalan pagi. Praktis ‘kan?”

“Heran, setelah berbicara dengan kamu, aku jadi penuh semangat ya. Tapi, untuk tetap disiplin berolah raga dan tetap berpikir positif itu ‘kan tidak mudah, ya?”

“Ya, pastilah! Tidak ada yang gampang di dunia ini. Semua harus dilatih dan dibiasakan. Masalahnya, kita mau atau tidak membuat diri kita menjadi lebih peka, bersedia tidak mengurangi rasa malas, dan tetap fokus serta konsisten saat memupuk sebuah kebiasaan yang positif?”

“Iya ya. Itulah biang keroknya. Sering kali kita hanya mau sehat tapi malas berolahraga. Ingin pintar tapi tidak suka belajar. Aku harus lebih sering bicara denganmu, Vin agar bisa ikut ‘mencuri’ semangatmu.”

“Semangat bisa menular, hanya saja untuk mempertahankannya itu yang tidak mudah. Sering kali semangat akan cepat luntur jika tidak diiringi dengan tekad yang kuat.  Orang lain hanya bisa memberikan motivasi. Dan, hanya diri kita sendirilah yang bisa membuatnya tetap tinggal. Dengan senang hati, kamu boleh kog nelpon aku kapan saja.”

Tidak lama setelah itu, pembicaraan kami pun berakhir. Sejam kemudian, Ria menelpon lagi dan bermaksud mengajak aku bertemu di Puri Mal. Terus terang aku jelaskan bahwa aku hanya ingin tinggal di rumah saja hari ini untuk menulis. Akhirnya, pembicaraan kami pun melenceng ke topik yang bagi banyak orang masih tabu. Saking serunya, kami berdua sampai tertawa terbahak-bahak. Ingin tahu topik yang dibahas? Nantikan tulisan saya selanjutnya.

15
Sep
09

Laporan yang Menyejukkan Hati

Pagi ini adalah jadwal saya bertemu dengan guru kelas Lisa untuk mengambil rapor mid semester. Ketika tiba di depan kelas, saya sempat menunggu beberapa menit karena Mr Connor (guru Lisa) masih berbincang-bincang dengan orangtua murid yang lain. Lisa tidak bisa ikut dengan saya karena masih merasa tidak nyaman setelah tadi malam satu gigi geraham belakang kiri bawah dicabut.

Saat saya memperkenalkan diri sebagai mamanya Lisa, Mr Connor yang berasal dari Irlandia langsung menyambut dengan gembira, “Saya senang punya murid seperti Lisa. Walaupun pendiam, tapi dia sangat percaya diri. Dia juga mampu mengikuti pelajaran dengan baik.” Memang, baik Lisa maupun Eric tidak ada yang suka ngomong seperti saya. Sehingga di rumah tidak ada saingan. Enak ‘kan? Sebenarnya ngak juga, sih. Itulah sebabnya agar tidak merasa kesepian maka saya lebih suka menghabiskan waktu luang dengan membaca dan sekarang ditambah lagi dengan menulis.

Mr Connor menjelaskan bahwa sebelum ini dia tidak begitu mengenal Lisa karena hanya pernah mengajar saat Lisa masih di kelas 8 (sekarang Lisa duduk di kelas 11). Saat pertama kali mengarahkan Lisa untuk program sosial ‘mengajar anak jalanan’ beberapa minggu yang lalu, Mr Connor khawatir apakah Lisa akan mampu menyesuaikan diri atau tidak. Beliau takut Lisa tidak terbiasa dengan keadaan yang serba kumuh dan kotor itu. “Lisa, if you don’t feel comfortable, I want you to think that these kids are less comfortable than you are but they still can smile.” Lisa, jika kamu merasa tidak nyaman, cobalah berpikir bahwa keadaan anak-anak ini lebih tidak nyaman lagi, namun mereka masih bisa tersenyum.”

Ternyata apa yang dikhawatirkan Mr Connor tidak menjadi kenyataan. Dalam waktu singkat Lisa sudah duduk bersila dengan anak-anak itu dan mulai mengajar mereka. Setiap Senin jika saya bertanya kepada Lisa bagaimana kegiatan mengajarnya pada hari Minggu, Lisa pasti menjawab, “Great, Mr Connor.” Luar Biasa. Mungkin pada kebanyakan orang, jika diminta untuk mengajar, mereka akan melakukan tugasnya dengan begitu saja. Sedangkan Lisa, dia mampu melihat dan mengajar sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Dengan kata lain, Lisa mampu mengajar dengan hati.

Terus terang, dalam hati saya merasa senang dan bangga tetapi tidak mau terlena. Saya pun menanyakan apa hal-hal yang harus menjadi perhatian bagi Lisa. Jawaban Mr Connor adalah Bahasa Inggris, terutama yang bersifat kesusastraan, tata bahasa dan pemakaian/pemilihan kata-kata yang tepat. Secara keseluruhan nilai Lisa cukup baik. Sebenarnya, saya pun tidak pernah mau khawatir dengan hasil belajar anak-anak. Bagi saya yang lebih penting adalah bagaimana proses belajar itu berjalan. Anak-anak harus mencintai kegiatan belajar itu sendiri. Mereka harus belajar dengan perasaan senang dan gembira bukan karena terpaksa. Karena, belajar adalah kegiatan seumur hidup.

Setelah mendengarkan pendapat dari saya, Mr Connor pun bercerita tentang seorang anak yang dipaksa oleh orangtuanya untuk mengambil program IB (International Baccalaureate) padahal anak tersebut tidak mau. Akhirnya, anak tersebut menjadi depresi sampai-sampai sekolah menyarankan untuk berkonsultasi dengan psikiater. Bayangkan, soal mudah yang harusnya bisa dikerjakan oleh siapa saja, tidak bisa dikerjakannya. Sepertinya, anak itu menyimpan rasa marah yang sangat mendalam tetapi orangtuanya tidak bisa mengerti.

Memang, inilah yang sering saya khawatirkan saat membahas masalah anak dengan para orangtua. Banyak yang hanya memikirkan perkembangan kemampuan intelektual saja, tapi mengabaikan perkembangan spiritual dan emosional anak. Apakah membesarkan seorang anak hanya untuk memperlihatkan dan membanggakan kepada dunia bahwa anak kita adalah pintar dan hebat? Coba tanyakan kepada diri kita masing-masing, apa sih hal terpenting dalam hidup? Apakah kebahagiaan? Bukankah orang yang bahagia itu biasanya tahu bagaimana menyeimbangkan hidup?

Mr Connor sendiri mengakui bahwa apa yang dipelajari anak-anak Sekolah Menengah zaman kini jauh lebih berat dari masa beliau sekolah dulu. Padahal Mr Connor itu masih termasuk muda, lho. Usianya kemungkin besar masih awal 30-an. Sambil menunjuk nilai Lisa untuk pelajaran “Theory of Knowledge”, Mr Connor menjelaskan bahwa pelajaran ini setaraf dengan Ilmu Filsafat untuk mahasiswa. Dalam hati, saya merasa beruntung karena dulu mau mau ‘repot-repot’ belajar demi sebuah kesadaran agar menjadi tahu dan mau menggali serta tidak berhenti mencari cara terbaik agar anak-anak tidak terbebani dengan kurikulum yang berlaku. Tetapi, bagaimana membuat motivasi belajar mereka bisa tetap bertahan. Sebenarnya, cara yang paling tepat dan mudah adalah dengan menjadi contoh hidup bagi anak-anak kita sendiri.

Terus terang, awalnya saya berpikir hanya akan mengambil rapor saja kemudian langung pulang. Tak disangka perbincangan kami berlangsung sampai tiga puluh lima menit. Akhirnya, saya melangkah keluar kelas dan meninggalkan sekolah dengan suasana hati yang sejuk. Semester lalu, saya juga berkesempatan berbincang dengan guru kelas Lisa sebelumnya, Mr Rey yang berasal dari Filipina. Dari beliau saya banyak mendapatkan informasi tentang sistem pendidikan di sana. Di samping itu, Mr Rey juga menjelaskan tentang tingkatan dalam belajar. Sangat menarik.

Akhir kata, hidup akan terasa menyenangkan jika kita mampu menemukan jawaban dan solusi yang dibutuhkan. Sering kali hal ini malah akan memperluas wawasan kita. Sehingga, kita akan termotivasi untuk terus bertumbuh dan berkembang.

satisfied