Antrian yang Membawa Berkah

Minggu, Mei 31, 2009

Kemarin siang, aku mengajak putriku, Lisa ke Mal Grand Indonesia karena ingin memanfaatkan diskon 30% yang ditawarkan Toko Buku Gramedia. “Lumayan untuk menghemat pengeluaran,” kataku dalam hati. Sehari sebelumnya, setelah bertemu dokter THT di Rumah Sakit Siloam – Kebon Jeruk untuk kontrol telinga Lisa, kami mampir ke Toko Buku Gramedia, Mal Taman Anggrek. Di sana, Lisa minta dibelikan dua buah novel impor. Aku sendiri tertarik dengan sebuah kamus padanan kata terbitan ‘Oxford’. Kebetulan sekali Gramedia Grand Indonesia sedang menawarkan potongan harga sebesar 30%. Jadi, kalau mau capek sedikit datang ke Grand Indonesia, aku bisa membeli buku-buku dengan harga yang lebih murah.

Akhirnya, Sabtu 30 Mei siang, kami pun tiba di Grand Indonesia. Inilah untuk pertama kalinya aku melihat mal yang begitu besar dan mewah. Aku pun terpana melihat TB Gramedia yang sangat luas dan lengkap. Setelah puas melihat dan mendapatkan buku-buku incaran, kami masuk ke dalam barisan yang panjang saat hendak membayar.

Tiba-tiba, mataku tertuju kepada seorang perempuan muda yang sedang memeluk sebuah buku berbahasa Inggris karangan John C. Maxwell. Untuk mengisi waktu, aku mencoba untuk memecah keheningan, “Suka baca buku John C. Maxwell ya, Mbak?” Dia mengangguk. Tidak lama kemudian, seorang ibu yang berdiri di sampingnya meneruskan, “Anak saya ini adalah seorang guru. Dia itu Psikolog tamatan UI.” Kata ibunya dengan bangga. Aku juga ikut bangga karena bertemu dengan seorang guru yang gemar membaca.

Tidak perlu waktu lama, aku dan ibunya langsung akrab dan saling berbagi cerita. Kami berdua memiliki banyak kesamaan dalam minat dan pandangan hidup. Ketika aku menyinggung soal Toastmasters, ibu tersebut juga sangat tertarik karena pernah hadir pada salah satu pertemuannya. Beliau ingin menjadi anggota dan bermaksud hadir di pertemuan Klub Toastmasters tempat aku bernaung. Tanpa terasa, antrian yang merayap seperti siput membutuhkan waktu dua jam untuk tiba di depan kasir. Namun, kami malah bersyukur karena punya banyak waktu untuk mengobrol sampai puas. Setelah bertukar nomor telepon, kami berpamitan dan berharap agar tali pertemanan akan terus dipelihara dan dipupuk.

Hidup terasa begitu menyenangkan jika kita terbiasa melatih otak untuk  berpikir positif. Sore itu, aku bukan saja mendapatkan buku-buku dengan harga yang lebih murah. Lebih dari itu, Tuhan telah mengirimkan seorang teman baru untukku. Luar biasa!


Kelancangan Seorang Apoteker

Jumat, Mei 29, 2009

drugBolehkah apotek memberikan obat yang tidak sesuai dengan resep dokter tanpa berkonsultasi dahulu dengan dokter?

Putriku, Lisa mulai mengeluhkan telinganya yang sakit Senin pagi sebelum berangkat ke sekolah. Aku menduga mungkin hanya panas dalam karena kurang minum air putih saat kami berakhir pekan di Bandung. Nanti juga akan sembuh sendiri, kataku dalam hati. Keesokan harinya, karena rasa sakit yang tidak berkurang, Lisa memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Aku yang mulai khawatir segera menelpon rumah sakit untuk membuat janji dengan seorang dokter THT di Rumah Sakit Siloam, Kebon Jeruk. Setelah memeriksa telinga, hidung dan tenggorokan Lisa dengan teliti dan hati-hati serta dari hasil wawancara, maka diagnosanya adalah telinga menjadi sakit karena dampak dari perbedaan tekanan udara antara kota Bandung dan Jakarta.

Setelah menuliskan resep, aku bertanya kepada dokter apakah obat yang diberikan adalah antibiotik? Dokter menjawab bukan. Obat yang diberikan adalah untuk menghilangkan rasa sakit. Ketika keluar dari ruangan praktek dokter, aku bermaksud menebus resep di rumah sakit. Tetapi, karena obat ‘Mefinal’ dengan dosis 250 gr tidak tersedia, aku menolak untuk diberikan Mefinal 500 mg walaupun bisa dikonsumsi separuhnya saja setiap kali minum. Lebih baik aku beli di apotek dekat rumah saja, kataku dalam hati.

Di apotek, ketika ditanya apakah resep yang akan ditebus adalah untuk bayi, aku pun menjawab, “Bukan, tetapi untuk anak yang berusia lima belas tahun.” Setelah mendapatkan obat, aku pun pulang ke rumah. Namun, aku sangat terkejut ketika hendak menyerahkan obat tersebut untuk segera diminum Lisa. Ternyata yang ada di tangan adalah ‘Mefinal’ 500 mg, bukan 250 gr seperti yang tertulis pada resep. Jadi, tanpa pikir panjang, aku langsung menelpon apotek.

“Bu, saya baru dari apotek beli obat. Begini, bukankah pada resep obat yang barusan saya tebus di sana tertulis ‘Mefinal’ 250 gr. Kenapa yang saya terima adalah 500 mg, Bu?”
“Karena usia anak ibu yang lima belas tahun.”
“Kenapa dinaikkan, bu? Saya ingin yang sesuai dengan resep dokter.”
“Memangnya berapa berat badan anak ibu?”
“Sekitar 45-46 kg. Boleh ya obatnya saya tukar?”
“Terserah. Ya, boleh saja.”
“OK, saya akan segera mengirimkan ‘mbak’ saya ke sana untuk menukarkan obatnya.”

Sungguh, aku sama sekali tidak menyangka jika ada apotek yang berani dan lancang mengganti dosis obat tanpa meminta pendapat konsumen atau berkonsultasi dengan dokter yang bersangkutan. Aku tidak pernah menduga bahwa apotek yang selalu kupercaya bisa berbuat sekehendak hati. Bukankah dokter yang memeriksa dan berhubungan langsung dengan pasien yang lebih tahu? Akhirnya, aku berpikir positif saja. Pasti ada pelajaran hidup yang bisa kupetik. Aku merasa beruntung, karena tidak jadi membeli obat ketika masih berada di  rumah sakit, maka aku tahu dosis obat yang tertulis di resep. Biasanya aku jarang sekali memeriksa secara detail obat yang akan dibeli karena sudah terlanjur percaya dan yakin kalau apotek yang lebih tahu. Di samping itu, untuk apa repot-repot membaca tulisan dokter yang sering kali susah untuk dimengerti?

Pengalaman telah mengajarkan aku untuk lebih teliti dan waspada. Lain kali, aku akan memeriksa dan memastikan dulu obat apa yang tertulis di resep. Sehingga kejadian yang tidak menggenakkan ini tidak akan terulang lagi pada masa yang akan datang. Di samping itu, aku sangat yakin kalau apotek tidak berhak mengganti dosis obat tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan dokter dan pasien.


Akhir Pekan yang Bermanfaat

Senin, Mei 25, 2009

Rumah adalah tempat yang paling menyenangkan di dunia ini. Itulah sebabnya aku tidak suka dan jarang sekali bepergian karena tidak bisa mendapatkan kenyamanan dan kebebasan seperti di rumah.

Sabtu, 23 Mei 2009

Aku belum rela membuka mata ketika dibangunkan suami pukul 5.30 pagi. “Biarkan aku tidur 30 menit lagi,” kataku dalam hati. Bukankah kalau bangun jam enam, aku masih punya waktu tiga puluh menit lagi untuk bersiap-siap sebelum berangkat ke Bandung pukul 6.30? Terus terang, sebenarnya aku masih enggan pergi pagi itu, apalagi jika harus bermalam. Namun, apa boleh buat, aku sudah rindu dan ingin sekali bertemu dengan putraku, Eric sehingga aku terpaksa melawan diri sendiri. Siapa tahu ada hikmah yang dapat dipetik. Selanjutnya, aku mulai menghitung kapan saat terakhir aku datang ke Bandung. Dan jawabannya adalah dua belas tahun yang lalu. Aku mengguman dalam hati, “Dua belas tahun? Sudah lama sekali aku tidak ke kota Kembang ini. Pasti wajahnya telah banyak berubah. Semakin dewasa atau semakin tuakah kota ini sekarang? Ah, semua itu tidaklah penting. Tujuanku ke Bandung hanya untuk bertemu Eric. Akhirnya, bersama suami dan putriku, Lisa, kami pun meninggalkan Jakarta menuju Bandung, kota tempat Eric sudah indekos selama 9 hari karena ikut bimbingan belajar demi persiapan tes saringan masuk ITB yang akan diadakan pada akhir bulan, tanggal 30 dan 31 Mei 2009.

Sejak gagal pada tes pertama ITB di BSD (Bumi Serpong Damai) pada pertengahan Maret lalu, Eric telah membulatkan tekad untuk ikut kesempatan kedua dan terakhir ini. Diterima di UI jurusan IT tidak membuat tekad Eric luntur untuk mencoba sekali lagi di ITB. Prinsipnya, jangan menyerah selagi masih ada kesempatan. Kalau nanti gagal lagi, barulah UI menjadi pilihannya. Belajar dari kegagalan yang lalu, kali ini Eric benar-benar serius mempersiapkan dirinya, apalagi soal-soal yang diberikan tidak jauh berbeda dengan tes pertama di BSD. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, Eric memutuskan ikut bimbingan belajar langsung ke kota Bandung dan indekos di sini. Sebenarnya, Eric tidak sepenuhnya gagal pada tes yang pertama. Dia hanya tidak berhasil melewati tes skolastik sehingga tidak diterima di jurusan yang dipilih yaitu IT (Information Technology). Dari hasil pemberitahuan yang kami terima, jika saat itu Eric memilih jurusan MIPA, pasti dia sudah menjadi calon mahasiswa ITB sekarang. Saat mengisi formulir masuk ITB kali ini, Eric tetap menjadikan IT sebagai pilihan utama; Teknik Industri dan Teknik Kimia menjadi pilihan kedua dan MIPA adalah pilihan terakhir.

Kami tiba di tempat kos Eric di Jalan Belitung sekitar pukul sepuluh pagi. Setelah itu, kami berangkat menuju Rektorat ITB untuk mengambil kartu pengenal ujian Eric. Kami harus menunggu cukup lama karena antrian yang panjang. Aku meminta izin suami untuk menunggu saja di dalam mobil agar bisa membaca buku yang kubawa dari Jakarta. Setelah mendapatkan kartu ujian, kami melaju ke ITB untuk memastikan lokasi ruangan ujian. Setelah makan siang, kami menurunkan Eric di tempat les sekitar pukul 12.30. Sambil menunggu Eric selesai les, kami bertiga beristirahat di kamarnya. Memang, sebelum ke Bandung, kami telah memutuskan untuk menginap di kamar Eric dan telah mendapatkan izin dari yang empunya rumah. Kebetulan, kamar tersebut cukup luas untuk menampung kami berempat.

Pukul enam sore, suamiku menjemput Eric dari tempat les. Setelah mandi, kami segera menuju Mal Paris van Java untuk makan malam. Rencananya, setelah makan, aku dan Eric akan menonton film Angels & Demons yang main pukul sembilan. Terus terang, sebenarnya aku lebih suka jika suamiku atau Lisa yang menemani Eric. Namun karena suamiku tidak suka nonton bioskop dan Lisa sudah menonton film tersebut di Jakarta, maka akhirnya aku dan Eric yang masuk ke dalam bioskop. Sedangkan, suamiku dan Lisa menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di mal. Dalam perjalanan meninggalkan mal dan berkeliling kota Bandung malam itu, dengan penuh semangat, Lisa bercerita panjang lebar tentang demo ‘juicer’ yang dilihatnya. Katanya, alat tersebut sangat bermanfaat jika ingin hidup sehat. Sepertinya Lisa dan papanya sangat menikmati waktu mereka di mal sembari menunggu aku dan Eric selesai nonton. Setelah puas melihat kota Bandung pada malam hari, kami pun tiba di kamar ‘penginapan’ sekitar pukul 00.30 pagi.

Minggu, 24 Mei 2009

Ketika bangun pagi, kami mulai menanyakan persiapan Eric dalam menghadapi tes ITB yang tinggal beberapa hari lagi. Kami mencoba membantu Eric untuk mencari jawaban atas beberapa soal yang dianggap sulit. Aku menilai Eric sungguh-sungguh mempersiapkan dirinya. Akhirnya, kami mampir ke toko buku Gramedia dan membeli tiga buah buku tes skolatis tambahan sebagai referensi. Setelah makan siang, kami mampir ke Universitas Parahiangan untuk melihat gedung tersebut dari dekat. Dalam perjalanan kembali ke tempat kos di Jalan Belitung, kami membicarakan soal-soal tes masuk perguruan tinggi yang dari tahun ke tahun terus ditambah bobotnya. Sepertinya, calon mahasiswa di masa yang akan datang, tidak cukup hanya mengandalkan hasil tes akademis saja. Mereka juga harus membekali diri dengan tes kepribadian, tes bakat dan tes kecerdasan. Paling tidak, ada keuntungan tambahan yang diperoleh dari tes-tes tersebut.  Salah satunya, mereka dapat lebih mengenal bakat dan kemampuannya sendiri.

Selesai makan siang, kami kembali ke ‘penginapan’ karena suamiku dan Eric hendak berdiskusi dan membahas beberapa hal. Melihat suami yang begitu antusias mendukung anak laki-lakinya, aku pun merasa lega. Memang sudah seharusnya seorang ayah terlibat dalam perkembangan anak-anaknya terutama jika untuk kebaikan anak laki-lakinya.

Father-and-Son

Setelah membelikan makan malam dan makan pagi (untuk keesokan harinya) bagi Eric, pukul lima sore, kami pun bersiap-siap meninggalkan Bandung dan kembali ke Jakarta. Langkahku terasa berat ketika harus membiarkan Eric sendirian lagi di sana. Namun, aku masih dapat menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata agar tidak mengalir keluar. Aku harus tegar dan kuat serta memberikan kesempatan kepada Eric yang begitu bersemangat sedang berjuang untuk menentukan jalan yang akan dilalui. Eric ingin memiliki sayap yang kuat dan kokoh agar kelak dapat terbang seperti elang dalam meraih impiannya.

Kami sekeluarga sangat berbahagia karena dapat berkumpul bersama di Bandung dan menghabiskan akhir pekan yang penuh arti dan bermanfaat. Tidak penting apakah Eric akan berhasil atau gagal lagi kali ini. Paling tidak, Eric telah menunjukkan sikap pantang menyerah yang merupakan salah satu syarat untuk sukses dalam meraih cita-cita.

Selamat berjuang, Nak! Semoga berhasil!


Raja dan Pembantu yang Setia

Kamis, Mei 7, 2009

Apa yang terjadi jika anak-anak tidak mau mendengarkan nasihat anda? Apakah anda marah dan terus mengkritik mereka? Jika demikian, barangkali cepat atau lambat komunikasi antara orangtua dan anak akan terhambat. Memang, menjadi orangtua zaman sekarang tidaklah gampang. Kita harus menguasai teknik komunikasi agar anak-anak mau membuka mata dan hati mereka sehingga mau menerima nasehat dan kritik yang membangun.

Sebuah pepatah yang ditulis dalam bahasa Mandarin berbunyi:  “liang (2) yao(4) ku(3) kou(3)” yang artinya: “obat mujarab rasanya pahit” (sebagai catatan, angka yang di dalam tanda kurung  adalah kode fonetik dalam bahasa Mandarin). Pepatah ini ditujukan bagi orang-orang yang tidak suka dikritik. Agar lebih memahami makna yang tersirat dalam ungkapan yang indah ini, mari kita simak cerita berikut ini:

Dahulu kala di negeri Tiongkok, hiduplan seorang raja yang tidak mau dikritik. Rakyat dan semua yang tinggal di istana harus patuh kepadanya. Akibatnya, Raja dikelilingi oleh orang-orang yang pandai menjilat untuk menyenangkan hatinya. Para petinggi istana tidak memiliki kemampuan untuk membantu Raja menjalankan roda pemerintahan. Akibatnya, kerajaan menjadi sangat lemah. Ketika musuh datang menyerang, rakyat dan semua pejabat melarikan diri sehingga tidak ada lagi yang tinggal untuk membela dan mempertahankan kerajaan. Ditemani oleh seorang pembantu yang setia, Raja terpaksa meninggalkan tahtanya untuk hidup di pengasingan. Dalam perjalanan, di saat raja lapar dan haus, pembantu pun mengeluarkan bekal yang telah dipersiapkan sebelumnya.

“Bagaimana makanan selezat ini bisa ada di sini?” Tanya raja.

“Saya yang menyiapkannya, Baginda. Saya sudah menduga bahwa suatu hari nanti kita harus meninggalkan kerajaan. Demi menjaga keselamatan Yang Mulia, maka saya menyiapkan perbekalan yang cukup banyak.”

“Bagaimana kamu tahu kalau kita harus meninggalkan kerajaan ini?”

“Saya sudah lama meramalkannya, Yang Mulia.”

“Apa? Tapi kenapa tidak ada yang menyampaikannya kepadaku?”

“Yang Mulia tidak pernah mau menerima saran dan kritik dari kami. Seandainya saya buka mulut sebelum ini, pasti kepala saya yang menjadi taruhannya. Kalau saya mati dipancung, tentu tidak ada yang akan menemani Yang Mulia di pengasingan nanti.”

Mendengar kata-kata pembantunya, muka raja pun merah padam karena menahan amarah. Raja terus mencela dan menyalahkan pembantunya atas apa yang telah terjadi sehingga pembantu tersebut menjadi sedih dan kecewa. Dia mengambil kesimpulan bahwa Raja tidak akan mungkin berubah. Bayangkan, dalam keadaan yang sulit saja, Raja masih bersikap lalim dan kejam. Untuk menjaga keselamatannya, pembantu segera meralat ucapannya, “Yang Mulia, saya sangat menyesal dengan apa yang telah saya katakan. Saya mohon Yang Mulia bersedia memaafkan kesalahan saya.”

Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat. Kemudian Raja melanjutkan, “Katakan, kenapa saya harus meninggalkan kerajaan ini?”

“Karena Yang Mulia adalah seorang raja yang baik.”

“Jika saya baik, mengapa tidak bisa hidup tenang di istana dan harus melarikan diri untuk hidup di pengasingan?

“Masalahnya, Yang Mulia dikelilingi oleh orang-orang jahat. Mereka semua iri karena Baginda adalah Raja yang bijaksana. Jadi, secara tidak langsung, merekalah penyebab Baginda meninggalkan negeri ini.”

Akhirnya karena kecapaian, Raja tertidur di atas pangkungan pembantunya. Inilah saat yang tepat untuk melarikan diri, pikir sang pembantu. Akhirnya setelah memindahkan kepala Raja dari pangkuannya dengan hati-hati, pembantu segera melarikan diri. Raja pun mati karena tidak mampu mengurus dirinya sendiri.

Apa pesan moral dari cerita diatas? Seringkali kritik sangat kita butuhkan untuk melangkah maju dalam hidup ini. Kritik itu bagaikan obat yang walaupun terasa pahit tapi mujarab karena memiliki kemampuan untuk mengobati bagian tubuh yang sedang sakit.

Akhir kata, tidak perlu frustrasi atau marah jika anak-anak menolak nasihat anda. Cobalah memakai cerita di atas agar mereka lebih mudah menerima nasihat atau kritik demi kebaikan mereka sendiri.

NB: Cerita diambil dari buku Mandarin yang berjudul: ‘Ren(2) Sheng(1)’ - Menentukan Pilihan Hidup.


Teknik Mudah Fotografi

Minggu, Mei 3, 2009

“Untuk memberikan penilaian, kita harus mengetahui standar yang ada terlebih dahulu.” - Peribahasa Sanskerta

Senin, 27 April 2009

Aku merasa lega ketika hujan berhenti pada pukul lima sore karena harus menghadiri pertemuan Toastmasters di JTC (Jakarta Toastmasters Club) malam ini. Semoga aku tidak terjebak macet dalam perjalanan ke sana nantinya, kataku dalam hati. Ternyata harapanku terkabul. Aku meninggalkan rumah pada pukul 5.45 dan tiba di tempat pertemuan pada 6.40 petang. Senin lalu, DTM (Distinguish Toastmasters) Harlina Indra yang akan menjadi pembawa acara malam ini telah memintaku untuk menilai presentasi Matthew Price. Sebenarnya aku belum begitu yakin dengan kemampuanku untuk menilai presentasi seseorang. Aku lebih suka jika mendapat tugas yang lain. Namun demikian, tugas tersebut aku terima dengan baik karena Toastmasters adalah tempat terbaik untuk belajar dan mempraktekkan apa yang telah dipelajari.

Ketika bertemu Matthew di JTC malam itu, dia segera memberikan buku petunjuknya sambil berbisik, “Vina, saya rasa kamu bukanlah orang yang tepat untuk menilai presentasiku. Kamu tidak suka bepergian dan itulah topik saya malam ini.” Melihat Matthew menyeringai setelah menyelesaikan kata-katanya, aku pun tahu kalau dia hanya bercanda. Pertama kali aku bertemu Matthew saat dia datang ke JTC tahun lalu. Dia berasal dari Australia dan seorang yang bersahabat, rendah hati serta kreatif dalam setiap presentasinya. Tentu saja aku merasa beruntung menjadi penilainya pada malam itu.

Proyek yang dibawakan Matthew adalah tugas pertama dari buku petunjuk lanjutan yang bertemakan: Memberikan Informasi. Dan, tujuan proyek tersebut adalah:

  • Memberikan informasi yang baru dan berguna bagi peserta
  • Presentasi harus terorganisir dengan jelas sehingga mudah dimengerti
  • Presentasi harus memotivasi hadirin untuk belajar
  • Waktu presentasi adalah 5-7 menit

Judul presentasi adalah: TEKNIK MUDAH FOTOGRAFI

Berikutnya, inilah hasil evaluasi presentasi Matthew:

  1. Tidak semua orang memahami tehnik fotografi, jadi topik tersebut berguna bagi yang hadir.
  2. Matthew mempersiapkan dirinya dengan baik dan menguasai materi yang dibawakannya.
  3. Foto-foto hasil jepretannya dimasukkan ke dalam ‘Power Point’ dan digunakan untuk memperjelas pesan yang disampaikan.
  4. Matthew memiliki kepercayaan diri, menguasai panggung, gerakan tubuhnya luwes dan pandangan matanya merata ke segala arah.
  5. Presentasinya terorganisir dengan jelas.

Mengenai poin 5 diatas, adalah penting jika setiap presentasi yang baik diawali dengan sesuatu yang menarik perhatian, poin-poin pendukung yang jelas dan penutup yang memberikan kesan mendalam bagi hadirin.

Ketika membuka presentasinya, Matthew langsung menarik perhatian kami. Dia mengeluarkan kamera sakunya dan mulai bergaya seolah-olah sedang mengambil potret. Kemudian, poin-poin yang disampaikan juga jelas. Diawali dengan memperlihatkan foto-foto melalui slide presentasi yang telah disiapkan, Matthew menjelaskan tiga aspek penting dalam fotograpi yaitu: orang, pemandangan dan kreatifitas.

1. Orang
Jika objek utamanya adalah orang, maka mereka harus terlihat jelas dan cukup besar untuk menjadi pusat perhatian.


2. Pemandangan
Jangan meletakkan garis batas persis di tengah gambar, tetapi taruhlah diatas atau dibawah gambar yang akan diambil.

3. Kreativitas
Tunjukkan kreativitas dari foto yang diambil.

Matthew mengakhiri presentasinya dengan sebuah foto yang indah dan kreatif. Di foto tersebut, Matthew bergaya dengan melompat ke udara. Sebenarnya, akhir presentasi akan lebih sempurna jika Matthew pun ikut melompat mengikuti gayanya di foto tersebut.

Bagaimanapun, pesan yang disampaikan adalah efektif dan menambah wawasan. Apa yang telah disampaikan pasti akan melekat lama dalam ingatan. Aku merasa bersyukur karena Matthew telah berbagi pengetahuannya kepada kami. Selain itu, aku pun diizinkan untuk menampilkan ketiga fotonya dalam tulisan ini.

Sebelum pulang, Matthew memberikan sebuah kalender dari Kedutaan Australia untukku. Dari tiga belas gambar yang ada dalam kalender tersebut, tiga diantaranya adalah foto-foto yang diambil Matthew. Malam itu aku pun pulang dengan rasa syukur yang mendalam dan kalender tersebut pasti akan kusimpan dengan baik sebagai kenang-kenangan.

Akhirnya, untuk menutup tulisan ini, izinkan aku meminjam kata-kata indah dari Goldsmith: “Kita tidak akan berkembang jika tidak mempunyai contoh lain untuk ditiru selain diri sendiri.”


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.