Motivasi Belajar dalam Diri Anak (1)

Kamis, Agustus 27, 2009

Hanya sesaat setelah tulisan berjudul “Ranking atau Motivasi Belajar” saya terbitkan di blog ini sekitar dua minggu yang lalu, seorang teman lama meminta agar saya juga menulis tentang cara/teknik memotivasi anak agar mau belajar untuk dirinya sendiri. Untuk beberapa saat, saya pun termenung dan tercenung. Masalah motivasi belajar adalah yang paling sering ditanyakan kepada saya saat berbicara di hadapan orangtua. Dan, rendahnya kemauan belajar sebagian besar pelajar saat ini telah membuat banyak orangtua menjadi cemas dan khawatir.

Sebenarnya motivasi itu apa sih? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, MOTIVASI adalah dorongan yang menyebabkan seseorang mau melakukan sesuatu untuk mencapai sebuah tujuan. Dengan kata lain, motivasi belajar baru akan tertanam jika anak-anak mengerti bahwa mereka belajar untuk sebuah alasan atau tujuan. Masalahnya, alasan atau tujuan yang akan kita sampaikan juga harus benar. Karena jika salah arah, motivasi belajar tidak akan bertahan lama sehingga cepat pudar dan luntur.

Berdasarkan pengalaman dan hasil observasi di lapangan, banyak orangtua yang memaksa anaknya belajar agar mendapatkan nilai bagus saat menghadapi ulangan. Ada juga orangtua yang hanya ingin anaknya selalu mendapat nilai sempurna (10) sehingga ketika pulang membawa nilai 9 saja sudah dimarahi. Akibatnya, prestasi belajar anak tidak akan bertahan lama. Mengapa? Karena saat masih kecil, anak sangat membutuhkan rasa aman. Dan, hal ini hanya akan timbul jika anak mendapatkan cinta kasih yang tulus dan tanpa pamrih dari orangtuanya.

Bayangkan, apa yang akan terjadi jika anak dimarahi karena tidak bisa memenuhi standar yang ditetapkan oleh orangtuanya? Perlahan tapi pasti motivasi yang sudah ada akan mulai terkikis. Anak akan kehilangan rasa aman karena merasa tidak mungkin dapat menyenangkan hati orangtuanya jika tidak mendapat nilai bagus di sekolah. Saat rasa aman hilang, dorongan untuk berprestasi pun mulai mendapat tekanan berat. Akhirnya, saat tingkatan kelas semakin tinggi dan pelajaran menjadi lebih berat dan sulit, anak sudah kehilangan gairah belajar. Jadi, segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah bertahan lama.

Hal lain yang penting kita tanamkan dalam diri anak adalah mengenai proses belajar. Belajar adalah sebuah usaha untuk mendapatkan kepandaian atau ilmu. Karenanya, perlu dilakukan terus-menerus agar anak tumbuh menjadi pembelajar seumur hidup atau life-long learner. Jangan sampai anak berpikir bahwa aktivitas belajar hanya dilakukan saat masih duduk di bangku sekolah saja. Sehingga, ketika sekolah selesai, proses belajar juga usai.

Kini, bagaimana kita bisa menumbuhkan motivasi dalam diri anak agar mau belajar untuk dirinya sendiri? Ada tiga hal utama yang harus terpatri dulu dalam pikiran dan penalaran kita sebelum masuk pada cara atau teknik memotivasi anak.

1. Berani Menjadi Diri Sendiri

I do not try to dance better than anyone else. I only try to dance better than myself. ~ Mikhail Baryshnikov

Langkah pertama, kita harus meyakinkan setiap anak bahwa mereka itu unik. Artinya, tidak ada yang persis sama di dunia ini bahkan saudara kembar sekalipun. Jadi, anak harus mengenal dirinya sendiri dulu. Tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Cara belajar setiap anak juga berbeda. Sehingga, orangtua memegang peranan penting dalam menyampaikan pesan ini kepada anak.

Jika anak tahu bahwa mereka tidak dibandingkan dengan orang lain, maka tidak ada beban psikologis saat diminta untuk berprestasi. Konsekuensinya, anak akan lebih leluasa menggali dan mengembangkan semua potensi yang ada dalam diri. Selanjutnya, tanamkan dalam diri anak bahwa mereka mampu dan memiliki kesempatan untuk terus menjadi lebih baik lagi dari hari ini, asal saja mereka mau. Jika ada kemauan, pasti ada jalan. Artinya, perbaikan atau peningkatan yang berkesinambungan perlu dilakukan agar anak bisa mencapai prestasi maksimal sesuai dengan kemampuan yang ada.

2. Berani Bermimpi

Shoot for the moon. Even if you miss, you’ll land among the stars. ~ Brian Littrell

Saat anak masih kecil, pernahkan kita bertanya seandainya sudah besar nanti mau jadi apa. Semakin tinggi cita-cita, semakin kita punya senjata untuk mendorong mereka. Karena, untuk mencapai impian dibutuhkan usaha dan kerja keras. Sebagai contoh, jika cita-cita seorang anak adalah ingin menjadi pilot atau dokter, kita bisa mulai menanamkan hal positif dalam diri mereka. Tanyakan kepada mereka, “Jika hendak menjadi pilot atau dokter, perlu tidak mendapat nilai bagus dalam pelajaran Matematika/Biologi/Fisika? Untuk mendapat nilai bagus, perlu tidak belajar dengan giat dan rajin?” Kunci utamanya adalah tetapkan impian setinggi mungkin kemudian beri dorongan positif untuk meraih cita-cita tersebut. Di sini, orangtua harus pandai dan cermat dalam menggali dan mengarahkan anak dengan pertanyaan-pertanyaan yang membangun.

Bandingkan, jika orangtua beraksi negatif saat mendengar anaknya kelak ingin menjadi dokter. “Apa, mau jadi dokter? Nilai matematika kamu saja jeblok, mana mungkin bisa jadi dokter. Jangan pernah bermimpilah!” Bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi jika orangtua terus-menerus menghilangkan harga diri anaknya. Kepercayaan diri anak tidak akan tumbuh jika sering dicemooh, apalagi oleh orang yang paling dekat dengannya. Orangtua harus yakin dan percaya bahwa anaknya bisa. Sebab, biasanya kata-kata orangtua sangat berpengaruh dan bisa berperan sebagai racun atau obat yang mujarab. Jadi, berhati-hatilah dengan kata-kata yang akan kita ucapkan sehingga mulailah memupuk pikiran yang positif dalam diri kita.

Sebagai contoh, waktu putra saya, Eric masih duduk di kelas V SD, beberapa teman memperingatkan saya bahwa jika anak sudah duduk di bangku SMP, maka orangtua harus mencarikan guru les pelajaran untuk mereka. Alasannya, kita sudah tidak bisa lagi mengajarkan pelajaran SMP sehingga anak yang pintar sekalipun juga banyak yang les.

Saya hanya mengangguk walaupun dalam hati bertanya-tanya, “Apa iya?” Kemudian, saya mencoba untuk melihat ke belakang. Dulu orangtua saya tidak pernah repot mengurusi saya belajar dan semuanya oke saja, tuh! Jadi kalau dulu saya bisa belajar sendiri, maka anak-anak juga harus bisa. Saya lebih suka jika anak memiliki kemampuan belajar sendiri dan bisa mencari solusi jika menemui masalah. Jadi, bagi saya, les pelajaran adalah pilihan terakhir jika seorang anak memang tidak mampu mengikuti pelajaran yang diberikan di sekolah.

Sejak hari itu, saya bertekad dan mulai fokus mengarahkan anak-anak agar bisa mengembangkan self-learning ability atau kemampuan belajar sendiri. Benar! Kedua anak saya tidak pernah ikut les pelajaran. Bahkan, sejak mereka duduk di kelas 1 SMP, saya sudah tidak perlu lagi membimbing dan mengarahkan mereka belajar.

3. Berani Gagal

Success is not final, failure is not fatal. It is the courage to continue that counts. ~ Winston Churchill

Sering kali kita memaksa anak belajar karena takut mereka mendapat nilai jelek. Sehingga, secara tidak langsung, yang kita tanamkan dalam diri anak adalah “Awas! Jangan pernah gagal, ya!” Padahal, kegagalan itu sangat berguna dan memang dibutuhkan sebagai cambuk untuk maju. Percayalah, kegagalan akan membuat anak kita menjadi lebih kuat dan tahan banting. Tentu saja, saya tidak bermaksud agar anak-anak dibiarkan sampai tidak naik kelas. Orangtua harus punya perhitungan yang matang. Kalau terus mendapat nilai jelek juga tidak benar.

Sebagai contoh, ketika masih duduk di IV SD, putri saya, Lisa pernah mendapat nilai 2 untuk ulangan matematika. Walaupun gundah-gulana, saya tetap berusaha untuk tenang. Saat terpuruk, yang dibutuhkan anak adalah dukungan orangtuanya, bukan omelan yang terus-menerus. Kemudian, kami mengevaluasi apa yang menjadi akar masalah. Waktu itu, Lisa memang lemah di pelajaran Matematika. Jadi, saat nilai ulangan berikutnya naik menjadi 4, dengan senang hati saya langsung memuji usaha dan kemajuan yang telah dicapai. Ajaib! Setelahnya, Lisa tidak pernah lagi mendapatkan angka mati untuk ulangan Matematika. Paling rendah hanya 5 dan itupun hanya sesekali saja.

motivation

Akhir kata, menjadi orangtua zaman sekarang tidak bisa lagi dengan hanya memakai cara-cara lama yang kita dapatkan secara turun-temurun dari orangtua atau generasi diatas kita. Menjadi orangtua zaman sekarang jauh lebih sulit dan rumit. Kemajuan zaman dan kecanggihan teknologi di satu sisi memang telah membuat hidup kita menjadi lebih nyaman dan praktis. Tetapi, dampak negatifnya juga tidak tanggung-tanggung. Misalnya, anak-anak sekarang lebih suka bermain game di depan komputer daripada membaca atau bercengkerama bersama keluarga. Sehingga, orangtua sekarang harus lebih kreatif dan terus mengasah otak agar peka terhadap perkembangan zaman. Jika hal ini kita lakukan, maka tugas sebagai orangtua pasti akan menjadi lebih mudah dan ringan.

(bersambung)


Konser Ruang Schola Cantorum

Kamis, Agustus 20, 2009

Senin, 17 Agustus 2009

Hari yang istimewa. Bukan saja karena Indonesia sedang merayakan hari jadinya yang ke-64. Tetapi, untuk kedua kalinya saya ikut konser ruang yang diadakan oleh Schola Cantorum atau biasa disingkat dengan SCHORUM. Nama yang indah bukan? Sebagai informasi, Schorum tempat kami belajar menyanyi ini dipimpin dan dikelola oleh Charles Nasution, seorang guru vokal yang memiliki dedikasi tinggi terhadap bidang yang digelutinya.

Sebenarnya konser ruang mulai dirintis sejak tahun lalu dan diadakan setiap tiga bulan sekali. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada para murid agar bisa tampil di hadapan teman-temannya sendiri. Konser ini awalnya diadakan di Schorum. Akan tetapi, sejak Maret 2009 konser mulai diadakan bergilir di rumah beberapa anggota Schorum.

Awalnya saya merasa tidak enak untuk ikut karena bagi saya, belajar nyanyi hanyalah untuk hobi saja. Lagipula, semua anggota Schorum yang lain terdiri dari anak-anak muda. Beberapa diantaranya bahkan lebih muda dari putri saya, Lisa. Jadi, rasanya ngak enak aja, sih.

Akan tetapi, sejak coba-coba ikut pada awal tahun ini, saya mulai berpikir berbeda. Tidak ada salahnya, kog. Paling tidak saya bisa bertemu dengan banyak anak muda zaman sekarang. Jadi, ada ladang baru buat observasi, nih, sekaligus memberi contoh kepada mereka bahwa ibu-ibu seperti saya masih mau belajar, lho!

Kini, kembali ke hari Senin yang lalu. Pukul 10.30 pagi, ditemani Lisa, kami segera menuju lokasi. Ketika memasuki perumahan yang dituju, saya bertanya kepada Satpam di mana lokasi blok yang dicari. Saya tidak menyebutkan nama jalan karena berpikir blok saja sudah cukup. Akibatnya, saya pun kesasar sampai jauh ke belakang perumahan dan ternyata rumah yang dituju adalah sebidang tanah kosong.

Terpaksa jua saya kembali ke pintu masuk dan bertanya sekali lagi. Saya baru tahu bahwa perumahan tersebut terdiri dari kompleks lama dan baru. Jadi, nama jalan juga penting untuk disebutkan. Yah, selalu saja ada hal baru yang bisa dipelajari dari setiap kesalahan, bukan?

Saat konser dimulai, satu per satu ke depan menyanyi sesuai dengan urutan yang dipanggil. Saya mendapatkan kesempatan kedua dan lagu yang saya bawakan adalah ‘Annie’s Song’-nya John Denver. Saya juga merasa terhibur dengan lagu-lagu yang dibawakan oleh anggota yang lain. Senang juga bisa melihat anak-anak muda dengan serius belajar menyanyi dan siap untuk tampil.

Seperti biasa, puncak acara adalah mendengarkan suara emas-nya guru kami yang biasanya anak-anak panggil Abang atau Kakak. Bagi kami semua, Charles Nasution adalah sosok yang luar biasa. Saat menyanyi, suaranya pun benar-benar memukau. Dan, itu didapatkan dengan terus berlatih dan berlatih. Percaya atau tidak, sampai hari ini, Charles masih tetap belajar dengan gurunya yang sudah bersamanya selama delapan belas tahun. Unbelievalbe! Rasanya rugi deh kalau belum pernah mendengarkan suara emas beliau.

Sebelum Abang menyanyi, beliau memberitahukan sebuah kabar duka. Salah seorang anggota Keluarga Besar SCHOLA CANTORUM yang bernama Olive meninggal dunia dalam usia 24 tahun. Setamat dari Fakultas Kedokteran UI, Olive minta ditempatkan di PTT Ambon dan baru tiga bulan berada di sana. Tak diduga Olive terkena peluru nyasar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab di sana.

Kami semua merasa sedih… sedih dan pedih sekali. Olive bukan hanya menjadi dokter saja, tapi dia juga mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak kecil di daerah terpencil sana. Bayangkan, Olive mau hidup dan berbakti jauh dari keramaian dan kenyamanan kota besar. Di sana, untuk mandi saja harus mengambil air sejauh dua kilometer. Dan, Olive meninggal hanya karena keteledoran seseorang. Semoga Olive diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan amal dan ibadahnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan juga diberi ketabahan dalam menghadapi dan menjalani cobaan ini.

Akhirnya, lagu yang dibawakan Abang berjudul ‘BUKAN CINTA BIASA’ – Afghan menjadi penutup konser sore itu. Bahkan setelah lagu selesai dipersembahkan, ada yang sampai menangis karena terharu. Hanya ada dua kata yang bisa menjelaskan performance Charles pada sore itu… LUAR BIASA! Kami bangga punya guru seperti Abang.

IMG_9495IMG_9498


Merantau

Rabu, Agustus 19, 2009

Beberapa hari yang lalu, seorang teman meyakinkan saya agar mau menonton film ‘Merantau’. “Kamu ‘kan sedang menulis buku, jadi perlu nonton film ini.” Akan tetapi saya berkelit dan menganggap film tersebut tidak ada hubungannya dengan buku yang sedang saya kerjakan. Saya memang dibesarkan di kota Padang yang terletak di Propinsi Sumatera Barat. Dan, dari sinopsis yang sudah saya baca, ‘Merantau’ memang bercerita tentang salah satu tradisi yang berasal dari Ranah Minang. Lagipula, ini film silat, Bung! Rasanya dengan waktu yang terbatas, saya merasa tidak perlu untuk menontonnya.

“Paling tidak kamu bisa melihat acting Christine Hakim yang menurut saya bagus sekali!” begitu dia melanjutkan setelah argumentasi dari saya. Akhirnya, kata-kata pamungkas inilah yang berhasil membuat saya penasaran. Akhirnya saya mulai mencari-cari waktu yang tepat untuk melangkahkan kaki menuju bioskop. Tapi, enaknya kapan ya? Hari biasa, saya mungkin bisa, tapi Lisa sekolah. Ngak enak kalau ngak sama Lisa. Akhirnya, pada hari Minggu yang baru lalu, saat men-drop Lisa untuk mengajar di bawah kolong jembatan, saya bertanya apakah dia mau ikut nonton setelah selesai mengajar nanti? Untuk menghemat waktu agar tidak bolak-balik ke bioskop, saya juga memberikan pilihan apakah mau nonton dua film sekaligus: ‘Ups’ dan ‘Merantau’? Atau kalau cuma mau satu saja, pilih yang mana?

“Salah satu saja, Ma. ‘Merantau’ saja?” Begitulah jawaban dari Lisa. Saya yakin Lisa memiilih ‘Merantau’ karena ingin menyenangkan hati saya. Tapi, ngak apa-apalah. Anak juga harus mengalah demi orangtuannya, bukan? Jangan hanya orangtua saja yang selalu berkorban untuk anaknya. Akhirnya, malam itu, kami menuju Plaza Senayan…

Bagaimana dengan filmnya? Tentu saya tidak akan menceritakan isi film tersebut. Tidak adil bagi yang belum sempat nonton. Bisa-bisa saya diprotes karena telah menghilangkan rasa penasaran mereka. Sesuai dengan sinopsis, adegan silatnya memang mantap. Menurut saya, tidak kalah juga dengan film-film silat Mandarin yang pernah saya gilai di era tahun 70-an dan awal 80-an dengan bintang-bintang yang bersinar saat itu: Lo Lieh, Ti Lung dan Chen Lung.

Akhirnya, pesan yang terdapat di penghujung cerita telah meninggalkan kesan yang mendalam. Saya suka dengan kata-katanya. “Katakan kepada Emak bahwa saya sudah melakukan yang terbaik.” Memang betul, selagi kita masih bernafas, lakukanlah hal-hal berguna yang kita anggap terbaik agar tidak menyesal di kemudian hari.

Memang di sana-sini terdapat satu dua kekurangan. Misalnya, dialog Bahasa Minang yang terdengar kaku di telinga serta alur cerita yang agak lambat dan sedikit membosankan. Walaupun demikian, saya cukup bangga dengan film produksi negeri sendiri dan merasa beruntung telah mengikuti nasihat teman saya tadi. So, thank you, friend!

Bagaimana dengan acting Christine Hakim? Setuju, BAGUS SEKALI!

merantau


Mengajar Anak Jalanan

Rabu, Agustus 19, 2009

A picture speaks a thousand words. ~ An early Emperor of the Xia Dynasty in China about 4,000 years ago.

Sudah dua kali ini, setiap hari Minggu siang, putri saya, Lisa ikut mengajar anak-anak jalanan di bawah sebuah jembatan layang di daerah Jakarta Barat. Program pelayanan masyarakat ini termasuk kurikulum sekolah untuk dua puluh tujuh jam dan diadakan di luar jam sekolah. Sebagai orangtua, tentu saja saya merasa senang dan berharap hal ini akan membantu meningkatan kesadaran peduli sosial dalam diri seorang anak.

Lisa bercerita bahwa anak-anak tersebut sangat pintar berhitung. Maklum, setiap hari mereka menghitung uang yang didapat dari mengamen atau meminta di persimpangan lampu merah. Akan tetapi, tantangan terasa lebih berat jika harus mengajar mereka membaca.

Yang tidak pernah saya duga adalah saat saya menemukan foto-foto di bawah ini dalam kamera Lisa. Waktu itu saya hanya ingin melihat foto-foto yang baru di-shoot Lisa saat menyanyi di acara ‘Konser Ruang’ yang diadakan pada hari Senin yang lalu. Rasanya, foto-foto saya menjadi tidak penting lagi setelah saya ‘menemukan’ foto-foto Lisa bersama murid-murid barunya. Selanjutnya, saya pun meminta izin Lisa agar boleh memakai beberapa dari fotonya untuk dimuat dalam tulisan ini. Terima kasih, Lisa!

Saat saya bertanya, “Siapa yang menjepret saat Lisa ikut berfoto bersama mereka?” Jawabannya adalah, “ANAK-ANAK itu, Ma! Mereka ingin mencobanya.” Wow! Dalam hati, saya hanya bisa menggumam, “Tidak percuma mama membelikan tustel tersebut untukmu, Nak. Bukan keindahan fotonya yang mama suka, tetapi saat-saat penting yang terekam kamera itulah yang kelak akan mengisi lembaran kenangan hidupmu, Nak.”

IMG_9246IMG_9248IMG_9453IMG_9252IMG_9255

IMG_9456IMG_9471IMG_9476


Terima Kasih

Senin, Agustus 17, 2009

thank-youKetika saya masih kecil, ayah pernah berpesan bahwa kita harus selalu mengucapkan ‘terima kasih’ kepada siapa pun yang telah membantu kita, walaupun itu saudara kandung sendiri. Kini, hampir tiga puluh tahun sudah ayah pergi meninggalkan kami menghadap Yang Kuasa. Akan tetapi, nasihat tersebut masih tetap lekat dan tidak akan lekang dari hati.

Saat menulis ‘Cat Rambut Orang Yahudi’, saya hanya ingin menuangkan ide yang ada menjadi tulisan. Ide tersebut datang tiba-tiba saat saya selesai membaca bagian pengantar editor dan pengantar penulis dari CROY. Sayang, saat itu saya tidak bisa langsung menuliskannya di blog karena masih ada urusan yang harus diselesaikan di luar rumah. Selanjutnya, setelah menunggu selama tiga puluh enam jam barulah saya bisa duduk di depan komputer. Segera tulisan tersebut saya tuntaskan karena sudah membuncah-buncah di pikiran.

Setelah selesai, tulisan tersebut langsung saya posting ke wall Facebook Mas Pepih dan Pak Edi. Tidak lupa saya persembahkan juga untuk Pak Chappy melalui kolom komentar di Kompasiana.com sebagai tanda terima kasih. Akan tetapi, yang sama sekali tidak pernah saya duga adalah berkat tulisan ini, statistik kunjungan ke blog Sang Kuda Api melejit  bak meteor pada hari CROY di-posting.

Karenanya, melalui tulisan ini, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah mendukung dan memberikan inspirasi kepada saya untuk mulai menulis dan untuk terus menulis.

1. Mas Pepih Nugraha

Terima kasih banyak, Mas Pepih. Komentar anda di blog bagaikan tonikum yang menambah semangat. Kapan-kapan saya pasti akan ikut Blogshop Kompasianan. Oh ya, bagi yang belum sempat membaca, inilah komentar Mas Pepih:  “Wah, saya terharu membacanya… jarang ada orang yang melaporkan kegiatan saya dalam tulisan, tetapi lebih sering saya melaporkan kegiatan orang hehehe…. maklum saya jurnalis/penulis. Terus menulis ya, Vin, kapan-kapan ikuti deh Blogshop Kompasiana, kita bisa share di sana. Bravo!”

2. Pak Chappy Hakim

Terima kasih banyak telah membaca tulisan CROY di blog saya. Terus terang saya banyak mencuri ilmu menulis dari Bapak. Menurut saya, bahasa yang Bapak gunakan termasuk ringan dan mudah dimengerti. Tadi malam, buku CROY telah selesai saya baca semuanya. Kesan saya adalah banyak artikel yang menarik, berguna dan pantas untuk direnungkan. Masalahnya, saya termasuk orang yang tidak suka traveling, Pak. Setelah baca ulasan Bapak tentang standar lapangan terbang yang kurang memenuhi syarat, bisa-bisa saya jadi tidak mau terbang lagi. Ha… ha… ha… Apa mungkin?

3. Pak Edi Taslim

Terima kasih telah mengizinkan saya memakai fotonya. Foto tersebut telah memberikan nilai tambah bagi tulisan saya.

4. Pak Prayitno Ramelan

Terima kasih sudah add saya di Facebook. Komentar Bapak di bawah ini benar-benar membuat saya tersanjung.

“Vina Tan, saya membaca tulisan ini… bagus dan enak saja… Saya termasuk teman baik dari Pak CH dan Mas Pepih juga di Kompasiana… saya nanti Add ya di FB. Saya juga nulis sih dikit2, nanti di app ya.  Salam>Pray”

5. Kusumah Wijaya

“Bagus sekali tulisannya mbak, sangat mengalir dan diam-diam saya mencuri ilmu dari cara Mbak Vina menulis. Sangat lancar dan mengalir bagai air. Saya pun termasuk pembaca setia tulisan pak CH, dan saya kagum dengan beliau. Semoga saja banyak jenderal kita yang seperti beliau.”

Terima kasih Kusumah atas komentarnya. Itulah gunanya kita membaca, siapa tahu ada ilmu yang bisa kita curi. Mencuri di sini tidak haram, kog. Saya juga banyak mencuri ilmu dari orang-orang yang bukunya saya baca.

Kepada semua yang sudah mengunjungi blog Sang Kuda Api dan membaca tulisan-tulisan saya, terima kasih banyak atas dukungan anda semua. Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah terima kasih dari saya untuk para mentor yang ada di Writer Schoolen. Saya merasa beruntung telah menjadi salah satu peserta workshop menulis yang diselenggarakan Writer Schoolen pada Februari 2008. Kalau tidak salah saat itu namanya masih SPP (Sekolah Penulis Pembelajar).

Pak Edy Zaqeus: Dukungan anda melalui komentar-komentar atas posting di wall sangat memotivasi saya untuk merampungkan buku yang sedang saya tulis.

Pak Andrias Harefa: Tulisan-tulisan anda yang di-posting di Facebook sungguh berguna dan bermanfaat.

Pak Her Suharyanto: Saya masih ingat saat kita bertemu di Plaza Senayan bulan Juni 2008, Bapak meminta dan meyakinkan saya agar membaca cerita ‘Laskar Pelangi’. Saat itu, saya sudah punya bukunya, hanya belum terpikir untuk membacanya. Terus terang, saya sangat jarang membaca novel. Namun, sejak selesai membaca Laskar Pelangi, saya mulai mencintai cerita novel. Akhirnya saya pun mengerti kenapa Bapak ingin saya membaca ‘Laskar Pelangi’.

Kepada ayah dan ibu tercinta yang saat ini telah tiada. Untuk ayah, hal-hal positif yang pernah engkau lakukan begitu membekas di hati dan telah membuat saya menjadi orang yang ingin terus belajar. Mungkin dulu ayah melakukannya tanpa memikirkan dampak positif bagi saya. Namun, ayah adalah teladan bagi kami dalam mendidik dan membesarkan anak-anak.

Ibu, saat-saat kita semua bersama dalam senang dan sedih selalu membekas di hati. Walaupun ibu sudah pergi meninggalkan kami tujuh tahun yang lalu, namun kenangan yang kita miliki tidak akan lekang ditelan waktu. Untuk itulah, melalui proses dan pemikiran yang mendalam selama berbulan-bulan, saya akhirnya memutuskan untuk menulis cerita kita ke dalam sebuah memoar. Tujuan utama adalah saya ingin anak-anak belajar bahwa hidup penuh perjuangan itu lebih berarti. Ketegaran dan ketabahan Ibu dalam menghadapi hidup begitu menginspirasi saya sehingga sayang jika akan hilang begitu saja.

Bagi saya, yang terpenting adalah kedua anak saya sudah setuju untu membaca memoar ini. Soal apakah nanti diterima atau ditolak penerbit, tidak masalah. Anak-anak adalah dorongan utama saya untuk menuntaskan buku tersebut. Karena saya yakin, inilah warisan positif yang bisa saya tinggalkan untuk mereka.

Saya sangat bersyukur memiliki keluarga yang dengan setia menjadi supporter utama. Bertahun-tahun saya banyak memberikan pikiran, waktu dan tenaga untuk suami dan anak-anak tercinta. Ketika anak-anak mulai beranjak dewasa, saya bahagia karena ternyata usaha saya tidak sia-sia. Mereka cukup mandiri dan bertanggung jawab sehingga saya punya banyak waktu untuk diri sendiri dan melakukan hal-hal yang berguna bagi kehidupan saya selanjutnya.

Akhirnya, saya berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kehidupan yang telah diberikan kepada saya. Segala kejadian yang penuh suka cita dan duka telah memperkaya hidup yang saya miliki dan jalani selama ini. Hidup menjadi lebih berarti jika kita mampu mencari makna dan hikmah di balik semua kejadian yang kita alami.

Sekali lagi, TERIMA KASIH!

Many people realize their hearts’ desires late in life. Continue learning, never stop striving and keep your curiosity sharp, and you will never become too old to appreciate life. ~ Unknown Author


Cat Rambut Orang Yahudi

Jumat, Agustus 14, 2009

Membaca itu adalah kemauan, sedangkan menulis itu ketrampilan – jadi bisa dilatihkan. ~ Chappy Hakim

Saya setuju sekali dengan kata-kata diatas. Sesungguhnya, membaca telah memperluas wawasan saya ke tingkat yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Adapun menulis telah membuat pikiran saya menjadi lebih fokus, perasaan semakin terasah dan perhatian meluas.

Mungkin pembaca akan heran, darimana asal judul untuk tulisan ini? Sebelum menjelaskannya, saya ingin bertanya lagi, apakah pembaca pernah mendengar nama Chappy Hakim? Pak Chappy atau Pak CH, demikian dia biasa dipanggil, adalah seorang Marsekal TNI Purnawiran yang pernah menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Udara tahun 2002 – 2005.

Dan, Cat Rambut Orang Yahudi. adalah buku terbitan Kompas yang baru saja diluncurkan tanggal 1 Agustus lalu di Hotel Sultan Jakarta. Buku tersebut adalah hasil ngeblog Pak Chappy di Kompasiana, blog yang dibangun Kompas.com. Hebatnya lagi, buku CROY (singkatan dari Cat Rambut Orang Yahudi) ini berhasil masuk rekor MURI asuhan bos jamu Jaya Suprana. Pak Chappy dicatat sebagai Marsekal/Jendral Bintang empat pertama yang tulisan-tulisannya di blog Kompasiana diterbitkan menjadi buku.

Bagaimana saya bisa tahu tentang buku tersebut? Ceritanya sebagai berikut: Sekitar lima bulan yang lalu, seorang teman Toastmasters menyarankan agar saya mengirimkan tulisan untuk dimuat di community Kompas. Saran tersebut saya ikuti, dan artikel ‘Jalan Menuju Universitas’ akhirnya dimuat di sana pada bulan Maret 2009. Iseng-iseng saat browsing, saya menemukan blog Kompasiana dan merasa tertarik dengan tulisan Mas Pepih Nugraha dan Pak Chappy Hakim. Berhubung di blog Mas Pepih ada logo Facebook, maka saya segera men-add dengan harapan kalau dibalas add maka saya tidak akan ketinggalan membaca tulisan terbaru yang diposting Mas Pepih.

Syukurlah, dugaan saya tidak meleset. Gayung pun bersambut. Setelah menjadi teman Mas Pepih di Facebook, saya jadi tahu bahwa artikel di blog bisa langsung di-share ke Facebook sehingga pembaca bisa mengikuti posting tulisan terbaru kita. Rasanya senang sekali bisa terus menemukan dan belajar hal-hal baru. Terima kasih Mas Pepih! Saya sungguh menyukai tulisan anda yang cerdas dan lugas. Terus terang, saya banyak belajar dari cara anda menulis. Saat ini, dalam rangka merampungkan buku pertama, saya memang harus banyak belajar, terutama dari penulis-penulis senior.

Akhir bulan Juli, dari posting di wall FB Mas Pepih, saya menemukan bahwa buku CROY akan segera diluncurkan. Sehingga, sehari sesudahnya, yaitu pada tanggal 2 Agustus 2009, saya sengaja mampir ke Toko Buku Gramedia untuk menemukan CROY. Sayang seribu sayang, bukunya belum ada sehingga saya masih harus memendam rasa penasaran lebih lama lagi. Ya, saya sangat penasaran dengan judul buku tersebut. Kog bisa ya judulnya Cat Rambut Orang Yahudi?

Ketika membaca cerita tentang launching buku tersebut dan melihat-lihat foto peluncuran buku yang di tag ke Mas Pepih, saya menemukan foto di bawah ini. Kenapa foto ini yang saya masukkan ke sini? Karena ada Effendy Ghazali yang menjadi moderator acara. Effendy menjadi spesial karena dia adalah salah seorang teman SMA waktu masih di Padang dulu. Saya juga sudah mendapatkan ‘izin’ Pak Edi Taslim yang fotonya saya muat di sini. Terima kasih, Pak Edi.

Cat Rambut Orang Yahudi

Akhirnya, saat mampir ke Gramedia seminggu kemudian, saya mendapatkan apa yang saya mau. CROY sudah ada di rak toko buku tersebut. Tanpa pikir panjang, saya langsung membelinya namum belum sempat untuk langsung dibaca. Baru Rabu kemarin saya punya waktu luang untuk mulai membaca. Saat masuk ke bagian pengantar, saya langsung terkesima. Tulisan Mas Pepih di bagian Pengantar Editor begitu lancar dan mengalir sehingga enak dibaca. Tidak salah deh jika Mas Pepih yang menjadi editor tulisan Pak Chappy sebelum dibukukan.

Selanjutnya, saya mulai masuk ke bagian Pengantar Penulis. Di bagian ini rasa penasaran saya terjawab sudah karena alasan kenapa memilih CROY menjadi judul buku menjadi terkuak. Dari tulisan-tulisan yang dimuat, saya pun mulai mengenal Pak Chappy lebih jauh dan pribadinya yang bersahaja. Saya menjadi terharu sekaligus bangga bahwa Indonesia pernah memiliki seorang KSAU seperti seorang Pak Chappy. Salut!!!

Kemarin sore, saat terjebak macet di daerah Tanah Abang dalam perjalanan menuju WTC, saya hanya bisa tersenyum dalam hati. Betul juga ulasan Pak Chappy di artikel ‘Lalu Lintas Kita’. Waktu tempuh selama 1 jam 45 menit adalah lebih lama dibandingkan dengan terbang dari Jakarta ke Singapore yang hanya 1 jam 20 menit. Untung saja saya meninggalkan rumah lebih awal sehingga tidak terlambat tiba di tujuan. Oh ya, saya ke WTC dalam rangka menjadi judge untuk speech contest British Toastmasters Club.

Ulasan dan analisa Pak Chappy termasuk tajam, tepat dan mengena. Tidak salah telah memilih CROY untuk dibaca. Setiap buku yang dibaca selalu memberikan wawasan dan menambah hal baru yang dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi saya, membaca bukanlah untuk menjadi pandai atau sok pintar. Saya membaca karena ingin memuaskan rasa ingin tahu yang ada. Jadi, kalau ingin punya kemauan untuk membaca dan terus membaca, pertama-tama ciptakan dulu rasa ingin tahu sebanyak mungkin dalam diri anda sehingga membaca menjadi sebuah kegiatan yang asyik untuk mengisi waktu luang.

Develop a passion for learning. If you do, you will never cease to grow. ~ Anthony J. D’Angelo


Ranking atau Motivasi Belajar?

Rabu, Agustus 12, 2009

Pukul 7.30 pagi ini, saya sungguh tidak menduga akan menerima telepon dari seorang tetangga lama. Beberapa tahun yang lalu, dia tinggal hanya beberapa langkah dari rumah sehingga hampir setiap hari kami bertemu dan saling menyapa. Lebih dari lima tahun yang lalu yaitu sejak keluarga kami pindah beberapa blok dari sana, kami jadi jarang bertemu. Bisa dibayangkan, betapa gembiranya hati ini saat tahu bahwa seorang teman lama ingin menanyakan suatu hal.

Dengan ramah dan sopan, beliau bertanya apakah saya sedang sibuk atau tidak. Jika tidak apakah mau meluangkan waktu untuk dia. Tentu saja saya tidak mau membuat dia kecewa. Buku “Dictionary of Common Errors” karangan NB Turton dan JB Heaton yang sedang dalam genggaman langsung saya kesampingkan karena ingin memberikan perhatian penuh dan fokus.

Teman saya, anggap saja namanya Ani adalah seorang ibu dari dua anak. Yang besar, laki-laki, duduk di kelas satu SMP. Sedangkan yang kecil, perempuan, duduk di kelas lima SD. Ani selalu ingin agar anak-anaknya menjadi juara kelas. Namun, selama ini mereka selalu mendapatkan ranking dua saja dan hanya pernah sekali meraih ranking satu. Menurut Ani, masalahnya ada pada guru yang selalu bersikap subjektif terhadap anaknya. Karena putranya baru masuk SMP tahun ajaran baru ini, maka target yang hendak dicapai adalah mendapatkan ranking satu agar bisa mendapatkan rasa hormat dan perhatian dari guru-guru di sekolah. Selama ini, anaknya hanya spesialis ranking dua saja sehingga guru-guru kurang menghargai.

Ani:  “Beberapa tahun yang lalu, saat Eric (dalam hal ini putra saya) mulai duduk di kelas satu SMP, apakah pernah ikut les tambahan untuk pelajaran Matematika & Fisika?”

Vina: “Bagi saya les pelajaran adalah pilihan terakhir kalau seorang anak benar-benar butuh bantuan dalam belajar. Yang selalu saya tanamkan kepada anak-anak adalah ‘kemampuan belajar sendiri’. Dan, ini adalah modal utama untuk mempelajari banyak hal dengan lebih cepat dan mudah tanpa harus selalu bergantung pada orang lain untuk mengajarkan. Di samping itu, tanpa guru les, mereka akan memiliki nilai tambah, misalnya, waktu luang dan waktu santai yang lebih banyak sehingga bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif, misalnya, belajar musik, menggambar, les balet, dan sebagainya. Sesusah dan sebanyak apa pun bahan pelajaran, belajar haruslah tanpa paksaan dan dijalankan dengan disiplin. Menggali dan menanamkan motivasi belajar dalam diri anak adalah salah satu tugas terberat kita sebagai orangtua.”

Ani: “Tapi Vina, kalau anak saya tidak ikut les tambahan sementara teman-temannya banyak yang ikut, tentu anak saya akan ketinggalan dan tidak bisa dapat ranking satu, dong? Di sekolah, anak-anak yang pintar juga banyak yang les.”

Vina: “Oke, sebenarnya apa sih tujuan belajar itu? Mendapatkan ranking atau terus menggali dan memuaskan rasa ingin tahu seorang anak? Apakah belajar itu sebuah proses jangka pendek atau proses yang berkesinambungan seumur hidup? Berikutnya, seandainya anak kamu mendapatkan ranking tiga, empat, lima, dan seterusnya, apa kalian akan siap mental untuk menghadapinya? Disamping itu, bagaimana sikap kamu jika seandainya pada suatu hari prestasi mereka di sekolah menurun atau tidak sebaik saat ini? Kamu siap?”

Hening di seberang sana. Ani terdiam dan mulai berpikir. Sepertinya, nuraninya mulai goyah.

Vina: “Ani, apakah ranking dua itu sebuah prestasi yang buruk? Dulu ketika Eric masih SD, dia tidak pernah masuk lima besar di kelas. Putri saya, Lisa sering membuat saya dipanggil wali kelas karena nilai ulangan hariannya banyak yang terbakar alias merah. Tapi di sinilah letak tantangannya. Saya selalu mencari akal dan menemukan cara untuk membuat mereka termotivasi agar mampu mencapai prestasi yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Hasilnya? Apa yang mereka capai sampai hari adalah melebihi harapan saya sebagai seorang ibu. Saya tidak suka yang muluk-muluk atau membebani anak dengan target yang tidak masuk akal. Mimpi boleh tinggi tapi target tetap harus bertahap dan realistis. Mereka harus sadar bahwa belajar dan prestasi yang mereka capai adalah untuk mereka sendiri, bukan untuk menyenangkan atau membuat saya bangga. Berdasarkan pengalaman, seorang anak yang mampu belajar sendiri cenderung memiliki prestasi yang lebih baik di sekolah.”

Ani adalah seorang ibu yang cerdas dan cepat menangkap maksud dan penjelasan saya. Apalagi ketika saya berbicara mengenai fondasi yang harus dimiliki oleh seorang anak untuk menjadi seorang pembelajar sejati. Ani pun sadar bahwa seringkali kata-katanya hanya menjadi racun bagi anak-anaknya. Secara tidak langsung dia menuntut anaknya agar bisa selalu menjadi ranking satu di kelas. Tetapi kenyataannya, mereka hanya pernah satu kali saja mendapatkan ranking satu. Selebihnya selalu ranking dua sehingga Ani terlanjur mencap anak-anaknya sebagai ‘spesialis’ ranking dua.

Akhirnya, Ani saya arahkan agar mau berpikir lebih jauh ke depan, bukan hanya untuk jangka pendek saja dan menjadi juara kelas bukanlah segala-galanya. Anak-anak harus dipuji atas prestasi yang telah dicapai selama ini karena ranking dua itu saja sebenarnya sudah termasuk luar biasa. Tidak semua anak mampu mencapainya. Berikan mereka dukungan yang positif dan tidak usah mengeluh jika tidak menjadi yang terbaik di kelas. Yang lebih penting untuk diperhatikan adalah selalu bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Pembicaraan kami berlangsung selama hampir satu jam. Ani mengerti bahwa tidak mudah untuk merubah paradigma yang telah tertanam selama ini. Tapi dia bertekad ingin menjadi ibu yang lebih positif bagi anak-anaknya agar kelak mereka mempunyai harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi. Artinya, prestasi yang dicapai anak-anaknya bukanlah demi kebanggaan dia sendiri tetapi demi masa depan anak-anak itu sendiri. Lebih penting membangun mental yang kuat dan gigih daripada hanya berfokus pada ranking satu saja.

Akhir kata, mana yang lebih penting: mengejar ranking atau memupuk motivasi belajar? Seorang anak yang menjadi juara kelas tidak selalu berarti bahwa dia mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Bisa saja anak terpaksa belajar demi mendapatkan pengakuan dari orangtuanya. Sebaliknya, seorang anak yang memiliki motivasi belajar yang tinggi, kemungkinan besar memiliki prestasi belajar yang memuaskan atau sangat memuaskan, bertahan lama dan konsisten.

Wings

Good parents give their children Roots and Wings. ~ Jonas Salk


Yang Paling Romantis

Jumat, Agustus 7, 2009

Apa manfaat sebuah lagu bagi anda? Ketika masih kecil, ayah suka membelikan kaset lagu Inggris dan Mandarin serta musik instrumentalia. Terdorong oleh rasa ingin tahu, saya pun mulai tertarik belajar bahasa Inggris agar dapat mengerti dan menghayati lagu-lagu yang saya suka. Sedangkan untuk lagu Mandarin, jika ada kata-kata yang tidak dimengerti, yang biasanya cukup banyak, ibu adalah tempat saya bertanya.

Rasa penasaran adalah awal dari ketertarikan kita untuk mencari tahu dan menggali lebih dalam. Sejak saat itu, saya tidak pernah berhenti belajar bahasa Inggris, bahkan sampai hari ini. Sedangkan untuk bahasa Mandarin, selepas kerusuhan Mei’98, saya sempat berguru kepada tetangga yang asli Taiwan selama beberapa bulan. Jadi, kemampuan yang saya miliki saat itu cukup lumayan. Ditambah dengan sebuah kamus di tangan, cukuplah untuk menemukan arti dari kata yang masih asing bagi saya.

Memang benar, jauh lebih susah belajar Mandarin daripada Inggris. Jika belajar bahasa Mandarin dibagi atas 3 tingkatan: Pemula, Menengah dan Lanjutan, maka tingkat kemampuan saya masih tergolong Pemula. Namun demikian, hal ini tidak mengurangi rasa ingin tahu karena lagu telah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan saya.

Jika dulu ayah yang sering membelikan kaset lagu untuk saya, maka saat ini beberapa CD audiophile yang saya miliki di rumah adalah hasil hunting suami. Sebagian besar adalah lagu-lagu Mandarin. Suami termasuk orang yang betah menghabiskan waktu berjam-jam nongkrong di sebuah toko musik langganan di Mal Mangga Dua. “Barang yang mau dibeli, harus dites dulu supaya tidak menyesal nantinya,” begitulah alasan suami jika sekali-kali nongkrong lama di sana.

Berbeda dengan saya, karena lebih suka di rumah dan menghabiskan waktu luang untuk membaca, mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus percaya pada selera suami. Kebetulan selera kami tidak jauh beda. Jadi, enak juga sih. Suami yang membeli, saya yang menikmati.

Tentunya, saya tidak hanya menikmati. Secara tidak langsung, saya dapat meningkatkan perbendarahaan kata karena setiap CD selalu dilengkapi dengan sebuah buku lagu yang ditulis dalam bahasa Mandarin. Hal ini tentu saja mempermudah saya mencari tahu arti tulisan yang belum dikenal.

Bagi saya, saat yang paling tepat untuk menikmati lagu adalah ketika berada di mobil dalam perjalanan pulang pergi ke suatu tempat. Dari beberapa album yang saya miliki, ada sebuah lagu yang liriknya begitu romantis dan menyentuh perasaan. Judulnya adalah Zhui Lang Man De She (Hal yang Paling Romantis).

Lagu ini dibawakan secara duet dan bercerita tentang harapan sepasang kekasih yang ingin menghabiskan waktu bersama-sama sampai tua. Setiap kata terasa begitu berarti sampai-sampai saya tidak pernah bosan setiap kali lagu tersebut berkumandang. Kesan romantis langsung terasa saat petikan gitar dan suara perkusi yang samar-samar mengisi intro lagu. Suara suling di bagian interlude ikut menambah kesyahduan lagu.

Sampai hari ini, walaupun sudah mendengarnya lebih dari seratus kali, saya tetap dan masih menikmatinya. Lagu ini selalu membuat saya teringat akan suami. Dalam hati, saya sungguh berterima kasih kepadanya karena telah memilihkan CD tersebut.

Sayang sekali, saya tidak bisa memasukkan lagu tersebut ke dalam blog. Oleh sebab itu, jika anda ingin mendengarkannya, tolong tinggalkan alamat e-mail pada kolom ‘komentar’ yang ada di bawah judul tulisan ini. Dengan senang hati saya akan mengirimkannya kepada anda.

Sementara itu, dari pencarian di ‘youtube’, saya menemukan video lagu yang sama dengan penyanyi yang berbeda. Terus terang, kualitas suara rekaman CD jauh lebih baik daripada video tersebut. Namun demikian jika anda ingin kenal dulu dengan lagu tersebut, silakan copy paste alamat berikut ini:

http://www.youtube.com/watch?v=B5NlHAvwHng

Akhir kata, saya sertakan juga lirik lagu dalam bahasa Mandarin dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Selamat Menikmati, semoga anda juga menyukainya.

最浪漫的事

背靠着背坐在地毯上;听听音乐聊聊愿望
你希望我越来越温柔;我希望你放我在心上
你说想送我个浪漫的梦想;谢谢我帶你找到天堂
哪怕用一辈子才能完成;只要我讲你就记住不忘
我能想到最浪漫的事;就是和你一起慢慢变老
一路上收藏点点滴滴的欢笑;留到以后坐着摇椅慢慢聊
我能想到最浪漫的事;就是和你一起慢慢变老
直到我们老得哪儿也去不了;你还依然把我当成手心里的宝。

Hal yang Paling Romantis

Duduk di atas karpet punggung hadap punggung; mendengarkan musik sambil berbincang tentang impian.
Kamu ingin aku semakin hangat dan lembut; aku pun berharap selalu menjadi pujaan hatimu.
Kamu berpikir untuk mengirimkan sebuah mimpi romantis kepadaku dan berterima kasih karena telah membawamu menuju nirwarna.
Walaupun butuh waktu seumur hidup untuk mencapainya; ingatlah selalu kata-kataku ini.
Hal paling romantis yang dapat kubayangkan adalah perlahan-lahan menjadi tua bersamamu.
Sepanjang jalan penuh dengan gelak tawa hingga suatu hari nanti duduk di kursi goyang sambil bernostalgia.
Hal paling romantis yang dapat kubayangkan adalah perlahan-lahan menjadi tua bersamamu.
Saat tua nanti dan kita tidak mampu lagi melalang buana; kamu masih menganggapku sebagai pujaan hatimu.

romance[1]

A true man does not need to romance a different girl every night; a true man romances the same girl for the rest of her life. ~ Ana Alas


Batal

Minggu, Agustus 2, 2009

Pada bulan April 2009 yang lalu, saya memutuskan untuk ikut reuni teman-teman SMA Don Bosco angkatan ’84 yang akan berlangsung beberapa hari lagi di Padang. Karena ingin mendapatkan tiket murah, segera laman Air Asia saya buka. Lumayan, harga tiket rute Jakarta – Padang – Jakarta adalah Rp 779.800 termasuk biaya asuransi sebesar Rp 30.000 dan biaya pemesanan tempat duduk sejumlah Rp 30.000 pulang pergi. Saya merasa puas dan senang karena tidak lama lagi dapat bertemu dan bernostalgia dengan teman-teman lama.

Pada bulan Juni 2009, saat putra saya, Eric mendapatkan kepastian akan kuliah di Bandung, ada perasaan lega karena perjalanan ke Padang selama beberapa hari pada awal Agustus nanti tentu tidak akan terbebani lagi oleh tanggung jawab akan Eric. Saya pun percaya bahwa putri saya, Lisa akan mampu mengatur dan mengurus dirinya sendiri selama saya bepergian.

Tidak lama kemudian, saya merasa sedikit tidak nyaman ketika Air Asia mengganti jadwal penerbangan yang telah disepakati. Jakarta – Padang tanggal 6 Agustus yang semula berangkat pukul 11.15 diubah menjadi 15.40. Sedangkan, jadwal berangkat dari Padang kembali ke Jakarta tanggal 10 Agustus yang semula adalah pukul 13.15 telah berubah menjadi 17.45. Saya sedikit kecewa karena itu artinya Senin malam tanggal 10 tersebut tidak bisa hadir pada pertemuan Toastmasters di JTC yang berlokasi di Menara Imperium. Tidak apa-apa, reuni kali ini lebih penting karena memperingati 25 tahun angkatan ’84 SMA Don Bosco Padang. Demikian yang terlintas di pikiran saya saat itu.

Kemudian, masalah timbul saat saya mengetahui bahwa tanggal 10 Agustus adalah hari pertama Eric masuk kuliah. Kog bisa? Selama ini, suami saya yang sangat antusias mempersiapkan, membantu dan mengurus kepindahan Eric ke Bandung. Menurutnya, dia tidak ingin kehilangan mementum untuk mengajarkan banyak hal penting kepada Eric dan ini hanya mungkin jika dia memiliki lebih banyak waktu lagi bersama Eric. Sepertinya, suami tidak ingin kehilangan kesempatan emas dan ingin memanfaatkannya sebelum akhirnya benar-benar melepas Eric sendirian di Bandung. Walaupun artinya dia harus bolak-balik ke Bandung dengan Eric.

Terus terang, sikap suami tersebut sangat membantu saya dalam mendidik dan membesarkan Eric. Karena, cara membesarkan seorang anak laki-laki tidaklah sama dengan anak perempuan. Jadi, jikalau anda memiliki anak laki-laki, anda butuh pengetahuan tambahan tentang pentingnya peran seorang ayah dalam membesarkan anak laki-lakinya. Dan, salah satu buku laris yang saya sarankan untuk dibaca adalah “The Wonder of  Boys” karangan Michael Guran.

Selanjutnya, keinginan saya pergi ke Padang menghadiri reuni dengan teman-teman benar-benar goyah ketika suami memastikan bahwa dia akan ada di Bandung pada akhir minggu menjelang hari pertama Eric masuk kuliah. Sebenarnya saya cukup yakin bahwa tanpa banyak bantuan dari ayahnya, Eric akan siap untuk mandiri. Akan tetapi, saya tetap harus menghargai dan mendukung apa yang telah suami lakukan untuk keluarga. Selama ini, dia telah membuktikan komitmennya dengan memberikan segenap waktu dan tenaga demi kepentingan kami bersama. Saya pun merasa beruntung karena telah diberikan Tuhan seorang suami yang berpikiran terbuka dan bijaksana.

Sebenarnya, suami tetap meminta saya untuk pulang ke Padang karena yakin Lisa pasti bisa ditinggal sendirian bersama pembantu. Namun saat ini, setiap Sabtu pagi Lisa harus ke sekolah untuk latihan drama yang pementasannya akan berlangsung pada awal September nanti di Gedung Kesenian Jakarta. Jika Sabtu ini saya berada di Padang dan suami ada di Bandung bersama Eric, siapa yang akan mengantar Lisa ke sekolah? Saya tidak mungkin meminta pembantu mengantar Lisa karena jarak sekolah yang cukup jauh dari rumah.

Akhirnya, dengan berat hati, saya pun memutuskan untuk membatalkan niat saya pulang ke Padang untuk reuni. Saya tidak ingin pergi dengan beban. Selama bertahun-tahun, saya lebih memprioritaskan kepentingan anak-anak daripada kepentingan saya sendiri. Jadi, kalau tidak jadi pulang untuk reuni, ya, tidak apa-apa. Tidak akan ada penyesalan. Lagipula saya yakin bahwa melalui Facebook, cerita dan foto-foto reuni masih bisa dinikmati.

Mengenai tiket, saya juga sudah mengiklaskan. Jadi, ketika staf Air Asia menelpon menanyakan konfirmasi, saya pun bertanya apakah ada kemungkinan ‘refund’ jika saya tidak jadi berangkat? Dengan senang hati staf tersebut membantu dan memeriksa data yang ada. Akhirnya, saya pun mendapat kepastian bahwa uang tiket akan dikembalikan ke rekening kartu kredit sejumlah Rp 740.800 karena biaya asuransi tidak bisa ditarik kembali.

Dalam hidup ini, banyak hal yang tidak terduga bisa terjadi. Orang bisa berubah dan rencana juga bisa batal. Akan tetapi, yang terpenting adalah nilai-nilai positif yang kita anut jangan sampai berubah ke arah negatif. Kita pun harus mampu menetapkan prioritas hidup yang kita jalani saat ini dan pastinya setiap orang akan mempunyai prioritas yang berbeda-beda.

FamilyStudies

Getting in touch with your true self must be your first priority. ~ Tom Hopkins


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.