Motivasi Belajar dalam Diri Anak (1)

Hanya sesaat setelah tulisan berjudul “Ranking atau Motivasi Belajar” saya terbitkan di blog ini sekitar dua minggu yang lalu, seorang teman lama meminta agar saya juga menulis tentang cara/teknik memotivasi anak agar mau belajar untuk dirinya sendiri. Untuk beberapa saat, saya pun termenung dan tercenung. Masalah motivasi belajar adalah yang paling sering ditanyakan kepada saya saat berbicara di hadapan orangtua. Dan, rendahnya kemauan belajar sebagian besar pelajar saat ini telah membuat banyak orangtua menjadi cemas dan khawatir.

Sebenarnya motivasi itu apa sih? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, MOTIVASI adalah dorongan yang menyebabkan seseorang mau melakukan sesuatu untuk mencapai sebuah tujuan. Dengan kata lain, motivasi belajar baru akan tertanam jika anak-anak mengerti bahwa mereka belajar untuk sebuah alasan atau tujuan. Masalahnya, alasan atau tujuan yang akan kita sampaikan juga harus benar. Karena jika salah arah, motivasi belajar tidak akan bertahan lama sehingga cepat pudar dan luntur.

Berdasarkan pengalaman dan hasil observasi di lapangan, banyak orangtua yang memaksa anaknya belajar agar mendapatkan nilai bagus saat menghadapi ulangan. Ada juga orangtua yang hanya ingin anaknya selalu mendapat nilai sempurna (10) sehingga ketika pulang membawa nilai 9 saja sudah dimarahi. Akibatnya, prestasi belajar anak tidak akan bertahan lama. Mengapa? Karena saat masih kecil, anak sangat membutuhkan rasa aman. Dan, hal ini hanya akan timbul jika anak mendapatkan cinta kasih yang tulus dan tanpa pamrih dari orangtuanya.

Bayangkan, apa yang akan terjadi jika anak dimarahi karena tidak bisa memenuhi standar yang ditetapkan oleh orangtuanya? Perlahan tapi pasti motivasi yang sudah ada akan mulai terkikis. Anak akan kehilangan rasa aman karena merasa tidak mungkin dapat menyenangkan hati orangtuanya jika tidak mendapat nilai bagus di sekolah. Saat rasa aman hilang, dorongan untuk berprestasi pun mulai mendapat tekanan berat. Akhirnya, saat tingkatan kelas semakin tinggi dan pelajaran menjadi lebih berat dan sulit, anak sudah kehilangan gairah belajar. Jadi, segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah bertahan lama.

Hal lain yang penting kita tanamkan dalam diri anak adalah mengenai proses belajar. Belajar adalah sebuah usaha untuk mendapatkan kepandaian atau ilmu. Karenanya, perlu dilakukan terus-menerus agar anak tumbuh menjadi pembelajar seumur hidup atau life-long learner. Jangan sampai anak berpikir bahwa aktivitas belajar hanya dilakukan saat masih duduk di bangku sekolah saja. Sehingga, ketika sekolah selesai, proses belajar juga usai.

Kini, bagaimana kita bisa menumbuhkan motivasi dalam diri anak agar mau belajar untuk dirinya sendiri? Ada tiga hal utama yang harus terpatri dulu dalam pikiran dan penalaran kita sebelum masuk pada cara atau teknik memotivasi anak.

1. Berani Menjadi Diri Sendiri

I do not try to dance better than anyone else. I only try to dance better than myself. ~ Mikhail Baryshnikov

Langkah pertama, kita harus meyakinkan setiap anak bahwa mereka itu unik. Artinya, tidak ada yang persis sama di dunia ini bahkan saudara kembar sekalipun. Jadi, anak harus mengenal dirinya sendiri dulu. Tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Cara belajar setiap anak juga berbeda. Sehingga, orangtua memegang peranan penting dalam menyampaikan pesan ini kepada anak.

Jika anak tahu bahwa mereka tidak dibandingkan dengan orang lain, maka tidak ada beban psikologis saat diminta untuk berprestasi. Konsekuensinya, anak akan lebih leluasa menggali dan mengembangkan semua potensi yang ada dalam diri. Selanjutnya, tanamkan dalam diri anak bahwa mereka mampu dan memiliki kesempatan untuk terus menjadi lebih baik lagi dari hari ini, asal saja mereka mau. Jika ada kemauan, pasti ada jalan. Artinya, perbaikan atau peningkatan yang berkesinambungan perlu dilakukan agar anak bisa mencapai prestasi maksimal sesuai dengan kemampuan yang ada.

2. Berani Bermimpi

Shoot for the moon. Even if you miss, you’ll land among the stars. ~ Brian Littrell

Saat anak masih kecil, pernahkan kita bertanya seandainya sudah besar nanti mau jadi apa. Semakin tinggi cita-cita, semakin kita punya senjata untuk mendorong mereka. Karena, untuk mencapai impian dibutuhkan usaha dan kerja keras. Sebagai contoh, jika cita-cita seorang anak adalah ingin menjadi pilot atau dokter, kita bisa mulai menanamkan hal positif dalam diri mereka. Tanyakan kepada mereka, “Jika hendak menjadi pilot atau dokter, perlu tidak mendapat nilai bagus dalam pelajaran Matematika/Biologi/Fisika? Untuk mendapat nilai bagus, perlu tidak belajar dengan giat dan rajin?” Kunci utamanya adalah tetapkan impian setinggi mungkin kemudian beri dorongan positif untuk meraih cita-cita tersebut. Di sini, orangtua harus pandai dan cermat dalam menggali dan mengarahkan anak dengan pertanyaan-pertanyaan yang membangun.

Bandingkan, jika orangtua beraksi negatif saat mendengar anaknya kelak ingin menjadi dokter. “Apa, mau jadi dokter? Nilai matematika kamu saja jeblok, mana mungkin bisa jadi dokter. Jangan pernah bermimpilah!” Bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi jika orangtua terus-menerus menghilangkan harga diri anaknya. Kepercayaan diri anak tidak akan tumbuh jika sering dicemooh, apalagi oleh orang yang paling dekat dengannya. Orangtua harus yakin dan percaya bahwa anaknya bisa. Sebab, biasanya kata-kata orangtua sangat berpengaruh dan bisa berperan sebagai racun atau obat yang mujarab. Jadi, berhati-hatilah dengan kata-kata yang akan kita ucapkan sehingga mulailah memupuk pikiran yang positif dalam diri kita.

Sebagai contoh, waktu putra saya, Eric masih duduk di kelas V SD, beberapa teman memperingatkan saya bahwa jika anak sudah duduk di bangku SMP, maka orangtua harus mencarikan guru les pelajaran untuk mereka. Alasannya, kita sudah tidak bisa lagi mengajarkan pelajaran SMP sehingga anak yang pintar sekalipun juga banyak yang les.

Saya hanya mengangguk walaupun dalam hati bertanya-tanya, “Apa iya?” Kemudian, saya mencoba untuk melihat ke belakang. Dulu orangtua saya tidak pernah repot mengurusi saya belajar dan semuanya oke saja, tuh! Jadi kalau dulu saya bisa belajar sendiri, maka anak-anak juga harus bisa. Saya lebih suka jika anak memiliki kemampuan belajar sendiri dan bisa mencari solusi jika menemui masalah. Jadi, bagi saya, les pelajaran adalah pilihan terakhir jika seorang anak memang tidak mampu mengikuti pelajaran yang diberikan di sekolah.

Sejak hari itu, saya bertekad dan mulai fokus mengarahkan anak-anak agar bisa mengembangkan self-learning ability atau kemampuan belajar sendiri. Benar! Kedua anak saya tidak pernah ikut les pelajaran. Bahkan, sejak mereka duduk di kelas 1 SMP, saya sudah tidak perlu lagi membimbing dan mengarahkan mereka belajar.

3. Berani Gagal

Success is not final, failure is not fatal. It is the courage to continue that counts. ~ Winston Churchill

Sering kali kita memaksa anak belajar karena takut mereka mendapat nilai jelek. Sehingga, secara tidak langsung, yang kita tanamkan dalam diri anak adalah “Awas! Jangan pernah gagal, ya!” Padahal, kegagalan itu sangat berguna dan memang dibutuhkan sebagai cambuk untuk maju. Percayalah, kegagalan akan membuat anak kita menjadi lebih kuat dan tahan banting. Tentu saja, saya tidak bermaksud agar anak-anak dibiarkan sampai tidak naik kelas. Orangtua harus punya perhitungan yang matang. Kalau terus mendapat nilai jelek juga tidak benar.

Sebagai contoh, ketika masih duduk di IV SD, putri saya, Lisa pernah mendapat nilai 2 untuk ulangan matematika. Walaupun gundah-gulana, saya tetap berusaha untuk tenang. Saat terpuruk, yang dibutuhkan anak adalah dukungan orangtuanya, bukan omelan yang terus-menerus. Kemudian, kami mengevaluasi apa yang menjadi akar masalah. Waktu itu, Lisa memang lemah di pelajaran Matematika. Jadi, saat nilai ulangan berikutnya naik menjadi 4, dengan senang hati saya langsung memuji usaha dan kemajuan yang telah dicapai. Ajaib! Setelahnya, Lisa tidak pernah lagi mendapatkan angka mati untuk ulangan Matematika. Paling rendah hanya 5 dan itupun hanya sesekali saja.

motivation

Akhir kata, menjadi orangtua zaman sekarang tidak bisa lagi dengan hanya memakai cara-cara lama yang kita dapatkan secara turun-temurun dari orangtua atau generasi diatas kita. Menjadi orangtua zaman sekarang jauh lebih sulit dan rumit. Kemajuan zaman dan kecanggihan teknologi di satu sisi memang telah membuat hidup kita menjadi lebih nyaman dan praktis. Tetapi, dampak negatifnya juga tidak tanggung-tanggung. Misalnya, anak-anak sekarang lebih suka bermain game di depan komputer daripada membaca atau bercengkerama bersama keluarga. Sehingga, orangtua sekarang harus lebih kreatif dan terus mengasah otak agar peka terhadap perkembangan zaman. Jika hal ini kita lakukan, maka tugas sebagai orangtua pasti akan menjadi lebih mudah dan ringan.

(bersambung)

8 Balasan ke Motivasi Belajar dalam Diri Anak (1)

  1. Benny Berthonius Situmeang mengatakan:

    My Sister Lian Lie, sebenarnya sdh beberapa tulisannya saya baca. Sangat bermutu dan impressive. Memotivasi belajar anak adalah suatu agenda yg sangat-sangat penting di dalam perkembangan anak kita yg lahir pada zaman post modern. Semua semakin canggih tetapi pembelajaran makin tidak jelas.

    Saya tetap pada pendirian saya yang konservatif bahwa belajar adalah kebutuhan manusia sama halnya dgn makan, minum, tidur dll, suatu proses dan harus dilakukan terus menerus sampai kita mati (ini yang saya sampaikan kepada anak-anak saya). Kebetulan sejak SMP sampai saat ini saya paling gemar membaca buku, krn memang benar buku adalah jendela kita untuk melihat dunia.

    Anak-anak yg dianugerahkan Tuhan kepada kita, memulai proses belajarnya dari orang tuanya. Karena saya suka membeli dan membaca buku, anak-anak saya jadi ikut dan terbiasa juga seperti saya.

    Dulu waktu mereka baru masuk SD, saya selalu mengajak mereka ke toko buku untuk beli buku2 cerita. Saya membiarkan mereka memilih krn target saya untuk melatih kemampuan baca dan nalar mereka. Dari beberapa buku yg mereka beli, saya sample dgn mengambil 1 buku dan diam2 saya baca. Pada waktu santai, saya minta mereka menceritakan apa isi buku tsb (mereka tdk tahu buku itu sdh saya baca). Saya hanya melakukan ini untuk fungsi control dan evaluasi kemampuan baca dan nalar.

    Mengenai les, saya paling alergy dan hal ini berlawanan dgn istri saya. Saya bisa mengerti krn istri saya tidak mau mereka ketinggalan dr teman2nya. Bayangkan, setelah jam sekolah anak saya lansung les di sekolah. Setelah pulang sekolah jam 4 sore les lagi. Saya kasihan sebenarnya kpd mereka tapi saya juga harus menghargai pendapat istri saya. Tapi setelah anak saya jatuh sakit 1 minggu, baru istri saya sadar bahwa yang dia lakukan keliru. Dgn mendampingi dan mendorong anak belajar dr pelajaran sekolah itu sudah cukup untuk mendorong maju.

    Sampai disini dulu, lain kali kita sharing dan sukses selalu.

    • Vina Tan mengatakan:

      Halo Benny,
      Terima kasih sudah mau membaca tulisan saya dan mau berbagi pengalaman yang indah dan menarik. Saya percaya Benny dan istri adalah contoh dari orangtua yang baik dan perhatian akan kebutuhan anak-anaknya.
      Salam sukses menjadi orangtua!
      Lian Lie

  2. Irina M. Chairani Harahap mengatakan:

    Dear Lian Lie…saya tidak ikut mengomentari tulisan anda, tapi jelas banyak manfaat yang dapat saya petik.

    Ada kisah nyata yang menjadi pemikiran saya, adalah tentang seorang anak yang dari keluarga kurang mampu, memiliki otak yang cerdas malahan cendrung jenius dan kemampuan interaksi sosialnya cukup bagus. Padahal kita tahu kondisi sosial ekonomi keluarganya tidaklah mungkin memberi motivasi belajar seperti Lian Lie jabarkan pada tulisan.

    Sebagai contoh, di Padang ada seorang anak tukang parkir yang tiap hari harus ke sekolah jalan kaki sejauh 3km. Jadi dalam 1 hari harus menempuh 6 km untuk kembali pulang ke rumahnya. Sampai di rumah harus pula membantu orang tua dan adik-adiknya. Tidaklah mungkin orang tuanya memberikan les untuk tambahan pelajaran, apalagi kursus bahasa Inggris.
    Tapi apa yang terjadi dengan nilai-nilai ujiannya? Ternyata dia memperoleh nilai NEM tertinggi nyaris sempurna di Sumatera Barat tingkat SMU.Sekarang dia dapat beasiswa di Fakultas Kedokteran UNAND.

    Ada lagi kisah seorang anak, yang memang benar-benar cerdas cendrung jenius. Karena orang tuanya berkemampuan secara ekonomi, segala fasilitas disediakan. Dia diterima di ITB (jurusannya lupa, krn kisah lama). Tapi apa kejadian….dia tidak bisa menyelesaikan kuliahnya, katanya bosan.

    Nah, Lian Lie sahabatku yang baik, bagaimana menyikapi kisah nyata ini. Apakah teori memotivasi belajar anak dalam tulisan di atas relefan dengan kenyataan? Mungkin LianLie punya alasan tersendiri. Kutunggu tanggapannya ya. Terima kasih.

    • Vina Tan mengatakan:

      Hi Irina, terima kasih banyak atas komentar, cerita dan pertanyaannya.

      Membesarkan seorang anak bukanlah sebuah perkara yang mudah. Apalagi di zaman yang serba modern ini. Juga, tidak ada teori atau cara pasti yang persis sama yang bisa kita terapkan karena setiap anak / manusia itu unik. Disamping itu, setiap anak juga memiliki bakat dan talenta yang berbeda-beda.
      Mengenai kedua kasus bertolak belakang yang Irina jabarkan, yang terpenting adalah kita harus lihat bagaimana interaksi antara orangtua dan anak dalam kesehariannya. Pasti ada benang merah yang bisa kita tarik. Kalau Irina pernah baca buku LASKAR PELANGI, maka ceritanya lebih dahsyat lagi dan ini diangkat dari pengalaman penulisnya sendiri. Intinya, tidak peduli miskin atau kaya, peran orangtua, guru serta lingkungan tempat seorang anak dibesarkan memberikan andil yang sangat besar.

      Kalau ada seorang anak dari keluarga miskin tapi memiliki otak yang jenius dan motivasi belajar yang tinggi, saya percaya pasti ada yang menjadi pendorongnya. Dulu, setelah ayah saya meninggal, ibu harus bekerja keras dengan membanting tulang demi menghidupi kami. Kata-kata ibu begitu penting bagi kami. Misalnya, Kamu harus belajar dengan baik, Nak. Jangan sia-siakan usaha ibu selama ini. Rajin-rajinlah belajar karena jika kelak kamu sukses, kehidupanmu akan lebih baik.” Ibu selalu berpesan agar kehidupan kami kelak harus lebih baik dari beliau.

      Tapi tentu saja, kata-kata saja tidaklah cukup. Waktu saya ditawari untuk menjadi penyiar radio agar bisa membayar uang sekolah sendiri, dengan senang hati saya melakukannya selama duduk di bangku SMA. Karena ibu tidak punya cukup uang untuk mengirim saya ke perguruan tinggi, maka saya lebih banyak baca buku dan belajar sendiri. Jadi, berdasarkan pengalaman sendiri, maka saya tidak mau anak2 les pelajaran. Saya ingin mereka mengembangkan kemampuan belajar sendiri.

      Seperti anak tukang parkir diatas, dia sudah terbiasa berjuang. Dengan berjalan kaki sejauh 6 km setiap hari agar bisa hadir di sekolah, tidak heran jika dia memiliki ketahanan mental yang mungkin tidak dimiliki oleh anak-anak dari keluarga yang serba kecukupan. Kita tahu, menyelesaikan kuliah juga butuh ketekunan dan perjuangan. Anak-anak harus punya mental baja, tahan banting dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi situasi yang sulit. Juga, rasa optimis harus dipupuk sejak kecil.

      Saya punya beberapa teman dari keluarga kaya yang pernah ‘coaching’ soal parenting sama saya. Masalah yang mereka hadapi adalah anak-anak mereka mau yang enak-enak saja, mudah menyerah dan tidak ulet. Kemapanan orangtua, jika tidak bisa disikapi dengan tepat maka akan menjadi bumerang bagi anak-anak kita kelak. Anak2 menjadi malas dan mudah menyerah. Padahal, untuk sukses menjadi ‘orang’, nilai2 saja tidak menjamin. Anak2 harus dilatih agar punya sikap pantang menyerah. Kalau keadaan tidak memungkinkan karena hidup sudah terlalu enak, maka orangtua harus kreatif menciptakan keadaan2 tersebut. Yang selalu saya tekankan pada orangtua adalah kembangkanlah ‘LIFE SKILLS’ anak2 kita. Dan, ini membutuh proses yang terus-menerus karena tidak mungkin terbentuk hanya dalam satu atau dua hari saja.

      Waktu saya menulis artikel diatas, sebenarnya saya sudah tahu bahwa ini tidak akan mudah. Pasti ada banyak hal lain yang harus saya jelaskan dan paparkan. Karena, motivasi itu sebenarnya adalah hasil akhir dari banyak hal lain yang telah tertanam dulu dalam diri seorang anak. Misalnya, disiplin diri, rasa optimis, batasan-batasan yang kita terapkan kepada anak, bagaimana diri kita sendiri menjadi orangtua bagi anak-anak kita, dan masih banyak lagi. Saya percaya, kalau kita bisa menggali dari keluarga tukang parkir tersebut, pasti ada nilai-nilai positif yang telah mereka tanamkan sehingga anaknya memiliki motivasi besar untuk sukses dalam ‘study’nya dan kehidupannya kelak.

      Mungkin penjelasan saya diatas belum bisa 100% menjawab pertanyaan Irina. Tapi, ngak apap-apa. Kalau ada yang masih akan ditanyakan atau diperdebatkan, silakan, Irina. Dengan interaktif begini, kita bisa saling bertukar pengalaman, setuju ‘kan? Oh iya, kalau secara tulisan begini masih kurang, kapan2 kalau saya ke Padang, kita juga bisa tukar pikiran lebih lanjut.

      Salam,
      Lian Lie

  3. Kumala Dewi mengatakan:

    Hi Vina,

    Tulisan Vina ini menginspirasi sekali buat saya, karena dibuat berdasarkan “pengalaman hidup” menemukan “nilai-nilai kehidupan”, yang diwariskan/legacy kepada Eric dan Lisa dengan cara-cara yang kreatif, sejalan dengan perkembangan jaman. Sayangnya tak semua orang tua beruntung memperoleh “pengalaman hidup” seperti ini di masa kecil mereka karena berbagai faktor yang kompleks, misal terbiasa dengan pola asuh yang serba instan, dan sebagainya.

    Ketiadaan “pengalaman hidup” ini dalam diri orang tua menyebabkan walaupun mereka rajin belajar, rajin bertanya, rajin membaca artikel tentang cara membangun motivasi anak dalam belajar, makin orang tua merasa sulit memotivasi anak dalam belajar, sehingga ketika masalah yang sama timbul, orang tua kembali berada di titik nol.

    Kalau boleh saya simpulkan, semua pemahaman dan pengetahuan tentang pentingnya membangun motivasi anak hanya menjadi sebuah teori belaka bila tidak diterapkan dengan konsisten. Yaah.. sekedar “hit and run”, diterapkan hanya bila ada masalah. Untuk itu sangat dibutuhkan conviction/keyakinan/feel yang kuat, yang hanya akan diperoleh bila orangtua berhasil melecut diri sendiri untuk memotivasi anaknya. Pengalaman orang tua berhasil “memotivasi diri sendiri” akan menjadi energi yang besar untuk memotivasi anaknya. Intinya, sebelum orang tua berharap anak bisa menerapkan, orang tua perlu menerapkan ke dalam diri sendiri terlebih dulu dengan konsisten.

    Menurut saya tulisan Vina ini sangat inspiratif, clear dan applikatif, tidak sulit untuk dicoba asal disertai kemauan kuat dan konsisten untuk mengikuti proses “trial and error” sehingga orang tua tidak mudah panik dan mengambil keputusan yang salah, misalnya mengambil guru les privat yang mendampingi semua pelajaran. Tanpa disadari kita kembali lagi ke pola asuh instan yang diwariskan turun temurun dari orangtua atau generasi diatas kita.

    Thanks untuk artikel yang sangat membuka wacana ini, Vina. Tak sabar rasanya ingin segera membaca bagian keduanya.

    Salam hangat,
    Kumala Dewi.

    • Vina Tan mengatakan:

      Hi Kumala,
      Terima kasih banyak atas komentarnya yang sangat bagus. Semua yang Kumala katakan adalah benar adanya. Tidak adanya fokus dan konsistensi adalah masalah utama yang membuat orangtua akhirnya kembali ke titik nadir.
      Terima kasih juga mau sabar menunggu kelanjutannya.

      Salam hangat,
      Vina

  4. andi mengatakan:

    minta izin copy

  5. ratna mengatakan:

    sama dengan pak andi. minta ijin untuk meng-copy.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: