Anak-anak Belajar dari Apa yang Mereka Alami dalam Kehidupan Ini

Jumat, April 30, 2010

Setelah bertahun-tahun berkutat dengan urusan pengasuhan anak, akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan, yaitu masalah yang terjadi pada anak-anak kita di kemudian hari, sangat berkaitan dengan cara mereka dididik dan dibesarkan dalam sebuah keluarga. Jika mau meluangkan waktu untuk menyimak dan menghayati hal-hal yang terjadi di seputar urusan membesarkan anak, maka kita akan mendapatkan satu benang merah, yaitu anak-anak belajar dari apa yang mereka alami dalam kehidupan ini.

Saat hendak beranjak tidur pada pukul sepuluh tadi malam, telepon di rumah berdering. Oh, ternyata dari seorang kerabat dekat keluarga suami. Saya langsung bisa menebak kalau orang tersebut pasti bermasalah lagi dengan anaknya. Ternyata benar! Mendengar ceritanya yang panjang lebar membuat saya sampai menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak percaya.

Bagaimana mungkin! Orang tersebut, yang sadar dan tahu kalau anaknya telah bersikap kurang ajar terhadapnya, masih tetap berusaha untuk melindungi karena tidak ingin anaknya tersakiti dan terluka. Pantesan, anak tersebut tidak pernah belajar untuk menghormati dan menghargainya. Yang ada, anaknya hanya bisa selalu menuntut dan menekan orangtua tersebut agar mau memenuhi segala keinginan dan kebutuhannya. Sungguh memprihatinkan!

Apa yang bisa saya lakukan untuk membantunya? Tentu saja tidak ada kalau dia sendiri tidak punya ketegasan dan ketegaran dalam menghadapi anaknya tersebut. Rasanya, apa yang terjadi dengan keluarga tersebut sudah seperti sebuah lingkarang setan – terus tersendat-sendat pada masalah yang sama sehingga tidak pernah setapak pun beranjak dari keadaan semula. Kalau saya boleh bilang, sepertinya mereka seakan terperosok ke sebuah lubang yang semakin dalam.

Kenapa demikian? Biasanya, ketika menghadapi masalah, orang cenderung untuk mencari jalan pintas  saat mencari jalan keluar. Maunya cepat dan tepat tanpa ingin melalui sebuah proses. Akibatnya, masalah sulit menjadi tuntas sampai ke akar-akarnya. Jadi, tak perlu heran kalau akhirnya masalah yang sama seringkali kambuh bagaikan penyakit yang sudah kronis atau menahun.

Sebenarnya, yang terbaik bagi para orangtua adalah melatih diri untuk mengantisipasi masalah sebelum masalah itu sendiri ada di depan mata. Atau saat masih tergolong ringan, berusahalah untuk mencari solusi agar masalah jadi terselesaikan sehingga tidak membesar atau tidak bertambah parah.

Sebagai bahan renungan dan syukur-syukur kalau bisa diterapkan saat berinteraksi dengan anak-anak yang sedang kita besarkan, berikut adalah puisi klasik indah yang ditulis oleh Dorothy Law Nolte yang judul aslinya adalah “Children Learn What They Live” – Anak-anak Belajar dari Apa yang Mereka Alami dalam Kehidupan Ini.

  • Kalau anak-anak banyak dikritik dalam kehidupannya, mereka akan belajar mengutuk.
  • Kalau anak-anak banyak mengalami permusuhan dalam kehidupannya, mereka akan belajar berseteru.
  • Kalau anak-anak banyak mengalami ketakutan dalam kehidupannya, mereka akan belajar prihatin.
  • Kalau anak-anak banyak dikasihani dalam kehidupannya, mereka akan belajar merasa kasihan pada diri sendiri.
  • Kalau anak-anak banyak dicemooh dalam kehidupannya, mereka akan belajar menjadi pemalu.
  • Kalau anak-anak banyak mengalami kecemburuan dalam kehidupannya, mereka akan belajar iri hati.
  • Kalau anak-anak banyak mengalami hal yang memalukan dalam kehidupannya, mereka akan belajar merasa bersalah.
  • Kalau anak-anak banyak diberikan dorongan dalam kehidupannya, mereka akan belajar percaya diri.
  • Kalau anak-anak merasakan toleransi dalam kehidupannya, mereka akan belajar sabar.
  • Kalaui anak-anak banyak dipuji dalam kehidupannya, mereka akan belajar menghargai.
  • Kalau anak-anak merasa diterima dalam kehidupannya, mereka akan belajar mengasihi.
  • Kalau anak-anak merasa didukung dalam kehidupannya, mereka akan belajar menyukai diri sendiri.
  • Kalau anak-anak merasa diakui dalam kehidupannya, mereka akan belajar bahwa mempunyai sasaran itu baik.
  • Kalau anak-anak dibiasakan berbagi dalam kehidupannya, mereka akan belajar bermurah hati.
  • Kalau anak-anak dibiasakan jujur dalam kehidupannya, mereka akan belajar mengatakan yang sebenarnya.
  • Kalau anak-anak merasakan keadilan dalam kehidupannya, mereka akan belajar bersikap adil.
  • Kalau anak-anak banyak diberikan kemurahan dan pertimbangan dalam kehidupannya, mereka akan belajar menghormati.
  • Kalau anak-anak merasa tenteram dalam kehidupannya, mereka akan percaya kapada diri sendiri maupun orang-orang di sekeliling mereka.
  • Kalau anak-anak merasakan persahabatan dalam kehidupannya, mereka akan belajar bahwa dunia ini tempat tinggal yang menyenangkan.

~ Doroty Law Nolte

Akhir kata, anak-anak sungguh belajar dari apa yang terjadi dalam kehidupan mereka. Kemudian mereka akan tumbuh dengan mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari dan yakini. Jadi, adalah tugas kita sebagai orangtua untuk memastikan bahwa proses pembelajaran anak-anak berada di jalur yang tepat.


Menulis Buku Harian

Rabu, April 28, 2010

Empat bulan terakhir ini aku aktif mengisi blog buku harian milikku. Yeah, sebenarnya menulis sebuah buku harian tidak pernah terlintas di pikiran sampai suatu hari aku selesai membaca ‘The New Diary’ karya Tristine Rainer. Seperti biasa, langkah pertama tidak selalu berjalan dengan mulus. Ide tersebut bahkan sempat mengendap sekitar empat bulan hingga akhirnya aku memutuskan untuk mulai dengan menulis kata pengantar blog tersebut:

Akhir Agustus 2009 yang lalu, ketika selesai membaca buku ‘The New Diary’ karangan Tristine Rainer, aku pun tertarik untuk mempraktekkan apa yang baru saja dibaca. Alasannya? Sebagai penulis pemula, aku butuh ruang lebih untuk terus dan tetap menulis. Dan, latihan terbaik untuk mengasah kemampuan seorang penulis adalah dengan MENULIS, MENULIS, dan MENULIS.

Memang sih, aku sudah punya blog Sang Kuda Api tempat aku mengisi tulisan. Hanya saja karena blog ini terbuka untuk umum, maka tidak bisa semua cerita bisa aku tuangkan di sana. Hal ini tentu saja untuk menghindari komentar-komentar negatif dari pembaca. Namun, setelah ide tentang buku harian tersebut mengendap selama lebih kurang empat bulan, akhirnya kuputuskan untuk membuat blog Buku Harian Sang Kuda Api agar bebas menuangkan cerita-cerita pribadi yang selama ini banyak menguap begitu saja. Blog ini tentu saja bisa diakses oleh siapa saja, tapi aku tidak akan mempromisikannya secara luas. Karena, tidak setiap orang suka membaca cerita pribadi orang lain.

Sampai saat ini, penulisan buku pertamaku masih tersendat-sendat. Hanya bab pertama saja yang baru rampung seratus persen. Enam bab berikutnya masih harus ditulis ulang. Sedangkan selebihnya masih berupa konsep. Walaupun demikian, semangat dan tekad untuk menuntaskan buku tersebut tidak pernah luntur ataupun pudar. Aku mungkin butuh sedikit waktu lagi agar tulisanku terasa lebih mengalir. Yang penting, tetap fokus dan lebih konsisten lagi dalam menulis. Semoga saja Buku Harian ini akan bermanfaat.

Terima kasih dan SELAMAT MEMBACA!

Jakarta, 7 Januari 2010

Yang pasti, sejak aktif mengisi blog buku harian tersebut, aku jadi jarang menulis di sini. Mungkin karena terlalu asyik menulis bebas sesuai dengan kata hati tanpa ingin terbebani oleh perasaan apakah tulisanku akan diterima atau disukai oleh pembaca. Memang, empat bulan bukanlah waktu yang singkat, tapi juga belum lama-lama amat untuk menilai sebuah konsistensi.

Di samping itu, tujuanku menulis buku harian seakan tercapai. Aku punya lebih banyak kesempatan untuk berlatih menulis dan semakin memperhatikan kejadian sehari-hari yang akan kumasukkan ke dalam blog tersebut. Dengan kata lain, kepekaanku terus terasah. Menarik dan sangat menarik tentunya! Tak dinyana, hari-hari yang kulalui menjadi lebih berarti dan bermakna sehingga hidup pun terasa lebih bersemangat lagi.

Oh ya, bagi yang ingin melihat-lihat blog buku harianku, silakan Anda klik tautan di bawah ini:

BUKU HARIAN SANG KUDA API


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.