Akhirnya Basah Juga

Kamis, Desember 30, 2010

Pagi ini aku sudah bersiap-siap untuk jalan pagi. Baru saja ingin menyorongkan sepatu, eh, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Terpaksa niat untuk jalan pagi kubatalkan. Lebih baik bolak-balik koran saja berharap-harap kalau hujan akan berhenti. Tentu saja dengan batas waktu setengah jam. Artinya lewat jam 7.30 pagi jika hujan belum juga reda, maka aku akan berlatih yoga saja.

Ternyata, hujan benar-benar berhenti saat jarum pendek jam diantara angka tujuh dan delapan, dan jaram panjang di angka 6. Harapan jadi kenyataan. Jadi, kuputuskan untuk jalan pagi saja, tentu saja dengan sepatu baruku. Yeah, untung sejak kemarin pagi aku sudah siap mental sehingga pagi ini, walaupun jalanan masih basah, aku tetap melangkah tanpa takut sepatu baru jadi kotor.

Hasilnya, satu jam kemudian, usai jalan pagi, sepatuku tetap bersih. Yang basah hanya bagian bawahnya saja.


Sepatu Baru

Selasa, Desember 28, 2010

Saat terbangun pagi ini, kudengar rintik hujan jatuh membasahi bumi. Wah, bisa batal nih acara jalan pagi hari ini, kataku dalam hati. Tiba-tiba, HP-ku pun memanggil. Ternyata dari temanku. Dia menanyakan apakah jadi jalan pagi walaupun gerimis. Segera kuberlari ke bawah untuk melihat ke jalanan dan ternyata hanya satu dua titik air saja yang jatuh. Hehehe… jangankan gerimis kecil, yang agak besar pun pernah kuterobos dengan bantuan payung terkembang.

Namun, pagi ini ada yang beda…

Saat temanku enggan karena harus berpayung menuju rumahku, entah kenapa aku langsung setuju dengannya. Jalannya ganti besok aja. Itulah kalimat penutup untuknya.

Sebenarnya tepat jam 7 pagi hujan sudah berhenti dan langit pun berangsur cerah. Biasanya sih aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas untuk jalan. Hanya saja pagi ini aku bergeming karena jalanan tidak otomatis kering saat hujan berhenti. Sebenarnya apa yang salah dengan jalanan yang basah? Tidak ada sih kalau aku tidak harus memakai sepatu baru. Sempat sih kuberharap mudah-mudahan saja suami belum sempat ‘menyumbangkan’ sepatu lamaku sehingga masih bisa kupakai untuk melintasi pagi yang basah. Sungguh, aku masih tak rela jika sepatu yang baru saja dibeli dua hari yang lalu harus kotor terpercik air hujan.

Apa boleh buat, sepatu lamaku sudah tiada. Sebenarnya, walaupun sudah lebih dari tiga tahun, kondisi sepatu tersebut masih cukup nyaman untuk digunakan. Memang sol kiri pernah lepas sih, tapi sudah direkatkan lagi kog. Jadi, tujuanku membeli yang baru hanya untuk jaga-jaga saja sekiranya sepatu yang lama jebol. Akan tetapi, suamiku tidak sependapat, “kalau sudah ada yang baru, yang lama kasih orang aja, mumpung kondisinya masih cukup baik.”

Akhirnya, tak ingin sepatu baruku jadi kotor, aku pun memutuskan untuk berlatih yoga saja. Mudah-mudahan saja besok pagi jalanan kering sehingga aku bisa membiasakan diri dengan sepatu yang baru. Tapi gimana ya kalau besok pagi jalanan masih basah juga? Yeah, paling tidak aku akan lebih siap mental jika harus membiarkan sepatu baru jadi kotor. Bukankah cepat atau lambat, ia juga akan berteman dengan jalan yang basah?


Mendadak Nonton Bola

Senin, Desember 27, 2010

Sore ini putriku, Lisa, mengejutkanku saat dia memperlihatkan sebuah kaos merah dengan lambang ‘Garuda’ di sebelah kiri atas.

“Mami, dua hari lagi aku mau nonton bareng teman-teman di PX-Puri. Ini kaosnya aku pesan dari teman. Harganya Rp 40.000.”

“Oh ya?” Dalam hati aku sungguh tak bisa percaya karena selama ini Lisa sama sekali tidak pernah tertarik untuk nonton bola di televisi. “Sejak kapan Lisa jadi suka bola? Selama ini ‘kan Lisa ngak pernah suka bola,” ujarku.

“Ini ‘kan rame-rame ama teman, Mi.”

“Oh! Jadi ikut-ikutan teman aja, ya?” Aku berkomentar.

“Selama ini ‘kan ngak tahu harus dukung siapa. Kalau yang ini jelas, Mi. Dukung INDONESIA,” jawab Lisa.

Aku hanya bisa tersenyum. Dalam hati aku senang sekali. Secara tidak langsung tim nasional yang akan bertarung melawan Malaysia tanggal 29 Desember 2010 (dua hari lagi) di final piala AFF – leg kedua – telah membangkitkan rasa nasionalisme dalam diri banyak orang.

Semoga saja Timnas bisa mengejar defisit 3 gol dan menjadi juara piala AFF untuk yang pertama kalinya. HIDUP INDONESIA!!!


A Beautiful Mind

Minggu, Desember 26, 2010

Entah apa sebabnya, tadi malam Eric memutuskan untuk menonton film ‘A Beautiful Mind’ bersama papanya. Aku sendiri sudah pernah menonton film tersebut bertahun-tahun lalu. Dibintangi oleh Russell Crowe, film tersebut menceritakan kehidupan Prof John Nash yang mengidap skizofrenia dan berjuang cukup lama melawan penyakit tersebut. Hebatnya Prof Nash memenangkan hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 1994.

Tidak lama setelah Eric didiagnosa menderita Depresi Psikotik oleh dokter, aku meminta suami untuk membelikan DVD film tersebut agar bisa kutonton ulang. Setelah itu, didorong oleh rasa penasaran yang lebih mendalam, aku pun mencari di google berita-berita aktual tentang Prof John Nash. Inilah enaknya hidup di era informasi, apa pun bisa  kita dapatkan lewat dunia maya.

Tanpa pemahaman yang cukup tentang penyakit skizofrenia, film ‘A Beautiful Mind’ pasti takkan mudah dicerna otak. Itulah sebabnya, saat melihat suami dan Eric mulai mengernyitkan kening mereka, aku pun ‘masuk’ sebagai pemandu.

Dalam hati, aku senang sekali Eric mau menonton film tersebut karena pasti akan memperluas wawasannya tentang penyakit yang ia derita. Depresi Psikotik dan Skizofrenia adalah dua penyakit mental yang mirip tapi tak sama. Yang pasti penderita dari kedua penyakit tersebut pasti mengalami halusinasi dan delusi atau waham.

Pengalaman membuktikan bahwa dengan pengetahuan yang cukup, tugas kita sebagai orangtua akan terasa lebih mudah dan ringan, terlebih-lebih jika sedang menghadapi masa-masa sulit.

Knowledgeable parents will definitely have the power to influence their children.


Voice Recorder

Kamis, Desember 23, 2010

Beberapa hari ini aku sibuk memindahkan hasil rekaman percakapan-percakapan kami dengan Eric – ketika kondisi psikis Eric belum stabil – ke dalam ‘Microsoft Word‘. Wah, sebenarnya cukup capek juga sih ngetik terus… Tapi, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus melakukannya. Data tersebut pasti akan berguna jika kelak aku menuliskan kisah perjuangan kami untuk melihat Eric kembali normal.

Entah sudah berapa aku menunda-nunda apa yang harus kuketik karena tentu takkan pernah mudah harus mengorek-ngorek luka hati saat melawan masa-masa sulit. Untunglah aku memiliki sebuah alat perekam suara yang awalnya sempat kutolak. Alat ini ternyata sangat membantu untuk mengingatkan kembali kalimat-kalimat penting yang suatu hari nanti pasti akan kubutuhkan.

Begini ceritanya…

Sehari setelah Eric jatuh sakit, aku tidak begitu setuju dengan keinginan suami untuk membeli sebuah alat perekam suara. Spontan aku langsung menolak. “Untuk apa sih? Yang lama aja jarang gua pakai. Sayang ‘kan kalau buang-buang duit aja?” Tapi suami bergeming. Kegigihannya pun tak tergoyahkan sehingga aku lebih baik menyerah. “Yang lama itu ngak bagus karena hanya mampu mengisi satu jam percakapan saja. Sedangkan yang akan gua pesan ini, formatnya MP3, jadi mudah dipindahkan ke komputer. Dengan kapasitas kartu memori yang 4 giga bisa memuat 40 jam pembicaraan. Eric sedang sakit, jadi akan lebih baik jika kita punya voice recorder untuk memantau keadaannya. Percayalah, alat ini pasti akan ada gunanya,” ujar suamiku seakan ingin menepis keraguan dan rasa enggan yang jelas-jelas terpancar dari raut wajahku.

Daripada ribut, lebih baik aku menyerah saja. Mudah sekali bukan? Siapa tahu akan bermanfaat nantinya, kataku dalam hati. Hari itu juga, alat perekam tersebut langsung dipesan dan diantar ke rumah.

Kini, lima bulan telah berlalu. Tentu saja aku patut bersyukur dan berterima kasih pada suami tercinta. Terus terang, apa yang telah terekam dalam alat tersebut tidak pernah kami putar kembali hingga aku memutuskan untuk memindahkannya dalam bentuk tulisan. Harus kuakui, ingatan kita begitu mudah terkikis dan dengan cepat digantikan oleh kejadian-kejadian terbaru. Saat aku mendengar sambil mengetikkan isi percapakan yang tersimpan dalam alat tersebut, aku merasa sangat beruntung. Alat tersebut benar-benar mampu menghidupkan kembali kenangan yang mulai memudar. Maklumlah, masa-masa kritis sudah berlalu. Ibaratnya, musim semi telah datang menggantikan musim dingin. Bunga yang tadinya mati, kini telah kembali bersemi.


Dokter Istimewa

Sabtu, Desember 18, 2010

Sudah empat bulan lebih aku kenal dengan dr Yossy – psikiater yang mengobati sakit Eric. Selama itu pula aku telah banyak belajar untuk memahami penyakit-penyakit kejiwaan yang disebabkan oleh kelainan neurotransmitter pada otak. Sebenarnya, saat pertama kali membawa Eric ke rumah sakit untuk berobat, aku telah memilih psikiater yang lain. Namun, karena ruang praktek dokter tersebut ada di poli anak, aku jadi ragu dan meminta file Eric agar dipindahkan ke dokter spesialis jiwa yang lain. Saat itu, naluriku mengatakan bahwa lebih baik memilih seorang dokter perempuan karena berdiskusi tentang penyakit anak kami pasti membutuhkan waktu yang lebih panjang. Lagipula, bukankah biasanya perempuan akan lebih enak diajak berdiskusi panjang lebar dibandingkan dengan laki-laki?

Ternyata pilihan yang berdasarkan insting itu akhirnya membawa berkah. Aku bukan saja langsung menemukan seorang dokter yang pas dan cocok untuk mengobati Eric. Akan tetapi, dalam setiap pertemuan, dr Yossy selalu bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan senang hati. Dr Yossy bukan hanya sekedar menjawab saja, tapi setiap jawaban selalu disertai penjabaran. Yeah, tentu saja aku merasa puas, bahkan sangat puas sehingga aku pun merasa makin ‘pintar’ saja. Hehehe… Aku merasa sangat beruntung karena secara tidak langsung telah mendapatkan kuliah singkat yang sangat berguna. Berguna bukan saja untuk membantu anakku, tapi juga bermanfaat bagi keluarga pasien yang bertanya padaku. Di samping itu, atas inisiatif dr Yossy, pertemuan dengan sesama keluarga pasien yang diadakan dua bulan sekali sangat bermanfaat agar keluarga pasien bisa saling berbagi dan saling menguatkan.

Berhubung penyakit dengan kelainan cairan kimia di otak tersebut butuh pengobatan jangka panjang, maka kami pun jadi cukup sering bertemu dengan dengan dr Yossy. Alasannya, dua minggu sekali kami harus membawa Eric untuk disuntik obat anti-psikotik (mulai Februari 2011 akan jadi tiga minggu sekali).

Hari ini, saat bertemu dengan dokter di ruang prakteknya, aku punya sebuah cerita untuk dokter…

Sesudah menyimak ‘seminar’ dokter tentang ‘Bipolar Disorder’ tanggal 4 Desember yang baru lalu, aku jadi yakin kalau adik dari salah satu temanku yang sedang bermasalah dengan narkoba adalah seorang penderita Bipolar juga, malah kemungkinan besar penyakit tersebut sudah dideritanya sejak kecil. Aku pun mendesak temanku itu untuk membawa adiknya bertemu dengan seorang psikiater. Hasilnya? Ternyata dugaanku tidak meleset. Menurut temanku, untung aku sudah terlebih dahulu menjelaskan penyakit tersebut pada keluarganya sehingga ketika mendapat diagnosa dari dokter, mereka sudah tidak terlalu kaget lagi.

Usai mendengar ceritaku, dengan penuh semangat dan tanpa segan-segan, dokter langsung memberikan masukan dan penjelasan tambahan yang sangat berguna. Tidak hanya itu saja, sebelum pertemuan berakhir, aku masih sempat menanyakan satu hal untuk memuaskan rasa ingin tahuku…

“Dokter, sepertinya penderita Depresi Psikotik dan Skizofrenia itu banyak kemiripannya ya. Apa yang membuat kita bisa membedakan seseorang penderita ‘Depresi Psikotik’ dengan ‘Skizofrenia?”

Sungguh tak kuduga, jawaban dokter yang singkat dan tepat membuat aku langsung paham. Bagiku, dr Yossy bukan saja seorang dokter yang masih muda dan cantik, namun dia juga dokter yang istimewa – seorang dokter yang tidak pernah ragu untuk mengedukasi pasien dan keluarga pasien agar proses penyembuhan bisa dipermudah dan dipercepat.


Memberi dan Menerima

Selasa, Desember 14, 2010

Selesai pertemuan Toastmasters siang ini, aku dan dua orang temanku bergegas menuju Food Court Plaza Senayan untuk makan siang. Saat jam dua tepat, aku pun buru-buru pamit karena sudah ada janji lain dengan seorang teman baikku di Puri. Yeah, aku sudah mengiyakan ajakannya untuk nonton bersama jam 3 sore. Filmnya berjudul ‘The Next Three Days’ yang dibintangi oleh Russell Crowe.

Karena macet di Slipi dan sempat salah keluar gerbang tol, maka pukul 3.00 aku baru tiba di gedung bioskop. Untunglah filmnya belum dimulai. Usai nonton, kami pun duduk ngobrol sambil makan yogurt di J. Co, Puri.

“Vina, raut wajahmu tak tampak sedih ya… Padahal kamu ‘kan baru mengalami musibah karena Eric sakit.” Itulah kata-kata yang diucapkan temanku saat kami baru mulai ngobrol.

Aku hanya tersenyum dan menjelaskan bahwa walaupun baru mengalami masa-masa sulit, tapi aku tetap berusaha untuk optimis dan berpikir positif. Pasrah dan lakukan yang terbaik, itulah motto keluarga kami setiap kali berusaha keluar dari belenggu masalah. Kita tak mungkin melawan takdir, bukan? Dan, sikap kita saat menghadapi tantangan itulah yang akan membuat perbedaan.

Beberapa saat kemudian…

“Lihat, kulit mukamu juga lebih kencang dari mukaku,” tiba-tiba temanku nyeletuk.

“Oh ya?” Aku jadi bingung. Yeah, kami memang lahir pada tahun yang sama, hanya saja aku lebih tua bulan darinya. Kalau dilihat sekilas, kulit muka temanku ini juga cukup terawat kog.

Sebenarnya, aku cukup mengenal dan memahami teman baikku ini. Karena, sering kali jika ia sedang galau atau bermasalah, maka aku termasuk salah satu teman yang dimintai pendapat. Akibatnya, setiap kali diajak nonton atau makan, aku pasti tidak usah keluar uang. Sebenarnya, aku suka ngak enak juga sih. Tapi temanku ini beralasan bahwa dia sering mendapatkan nasihat yang berguna dariku sehingga aku pun tak perlu mempermasalahkan soal ‘makan atau nonton gratis’ saat dia mengajak pergi bersama.

Mungkin inilah salah satu aspek ‘memberi dan menerima’ dalam hidup bersosialisasi. Oh, betapa beruntungnya diriku!


Kembali

Rabu, Desember 1, 2010

Akhirnya, setelah absen empat bulan, siang ini aku kembali berlatih vokal dengan guru favoritku, Charles Nasution. Sebelumnya, sempat sih ada perasaan khawatir kalau-kalau akan banyak kemunduran saat vocalizing. Misalnya, tak mampu lagi menggapai not-not atas atau menyentuh not-not bawah dengan mulus. Karena, selama ini aku sama sekali tidak punya hati untuk berlatih di rumah. Kenyataanya, tak seperti yang ada dalam bayangan, aku cukup puas dengan latihan hari ini. Bisa berlatih vokal lagi secara rutin dengan bimbingan seorang guru akan memberikan kepuasaan tersendiri bagi jiwa.

Sejak anaku, Eric, didiagnosa menderita Depresi Psikotik – sebuah penyakit kejiwaan yang disebabkan oleh kelainan zat kimia dalam otak – akhir Juli lalu, aku tak punya pilihan lain selain hanya berfokus pada proses penyembuhannya. Beruntung, aku menemukan dokter yang tepat dan cocok saat pertama kali membawa Eric berobat ke Rumah Sakit. Kemudian, ketika Eric sudah cukup kuat untuk kembali ke kampus ITB, selama dua bulan penuh aku pun harus bolak-balik Bandung setiap minggunya dan tinggal di sana antara satu sampai empat hari.

Sungguh, menemani Eric melewati masa-masa sulit adalah sebuah perjuangan berat. Namun, hal ini justru memperkuat dan mempererat ikatan keluarga kami. Aku kagum dengan tekad baja dan usaha keras suami dalam membantu Eric mengatasi gejala-gejala negatif yang ada dalam dirinya. Aku pun harus angkat topi pada Eric yang sangat tegar dan bisa menerima keadaannya tanpa pernah mengeluh. Aku dan suami pun tiba-tiba harus menjadi ‘terapis dadakan’ yang akhirnya terbukti cukup andal dalam menolong Eric untuk bangkit. Tentu saja, pengalaman yang penuh dinamika ini akan sayang untuk dilewatkan begitu saja tanpa torehan catatan-catatan berharga pada saat-saat penting dan genting. Siapa tahu suatu hari nanti jurnal-jurnal tersebut bisa terangkai menjadi sebuah cerita yang utuh dan bermakna.

Kini, untuk mengisi waktu luang aku sedang getol-getolnya membaca buku-buku tentang masalah kejiwaan. Yeah, untuk memperluas wawasan sih. Bulan Oktober yang lalu, aku dan Eric juga diminta dokter untuk berbagi cerita pada acara kumpul keluarga pasien yang diadakan di rumah sakit. Saat itu, aku salut dengan keberanian Eric dalam menceritakan keanehan-keanehan yang dialaminya sebelum diobati dan bagaimana dia mengatasi trauma saat kembali ke kampus. Dokter benar, tak perlu malu jika menderita penyakit kejiwaan – apakah itu Depresi Psikotik, Skizofrenia ataupun Bipolar Disorder – karena penyakit-penyakit ini terbukti bisa diobati.

Terus terang, sampai saat ini masih ada rasa gamang ketika hendak kembali mengisi blog Sang Kuda Api. Tapi, tentu saja kekecutan ini harus kulawan agar bisa produktif lagi dalam menulis. Selain itu, masih ada sebuah memoar terbengkalai yang masih akan aku selesaikan. Tak penting apakah nantinya akan diterbitkan atau tidak, yang pasti tujuan aku menulis adalah untuk memuaskan ego dan batinku sendiri.

Pengalaman membuktikan bahwa dalam hidup ini, semakin banyak rintangan yang dihadapi, semakin kaya pula cerita yang bisa dituturkan. Selain itu, sikap kita dalam menghadapi tantangan turut menentukan seberapa banyak kebijaksaan hidup yang bisa kita resapi dan hayati. Akhir kata, jangan pernah berpaling dari masalah karena pasti ada hikmah di balik kesulitan yang menimpa.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.