Lega

Jumat, Januari 29, 2010

Beberapa waktu yang lalu, saat mulai membantu Pak Alex sekeluarga mengatasi masalah mereka, saya tidak mau berharap banyak. Juga tidak yakin kalau coaching akan berhasil. Hanya semangat Pak Alex-lah yang membuat saya tidak pernah mundur. Karena, dia begitu antusias dan sangat serius hendak membawa keluarganya keluar dari krisis parenting ini. Kalau Pak Alex tidak sungguh-sungguh, mungkin saya tidak akan buang-buang waktu untuk berbicara dengan mereka.

Kemarin malam, Pak Alex kembali menelpon. Dia bertanya, “Vina, tadi malam kamu ngomong apa sama Jimmy. Kog sikapnya jadi lembut dan positif saat berbicara dengan saya hari ini?” Saya sempat terdiam dan berpikir keras. Rasa-rasanya tadi malam saya lebih banyak mendengar curhat dari Jimmy. Ya, ada sih saya ngajak Jimmy untuk fokus pada cita-cita dan masa depannya sendiri, dan sedikit dorongan positif untuknya.

Terus terang, akhir-akhir ini, waktu saya cukup banyak tersita untuk mendengarkan curhat masing-masing anggota keluarga Pak Alex sehingga hati saya pun lelah. Emosi dan energi positif saya seolah-olah terhisap oleh keluarga ini. Kini saya benar-benar butuh waktu untuk memulihkan diri.

Melalui telepon, Pak Alex memberitahu saya bahwa sekarang istrinya sudah mendukung keinginan Shirley untuk kembali ke Jakarta. Mereka memutuskan agar Shirley mencari kursus saja agar bisa segera bekerja. Jadi, pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan kepada Pak Alex beberapa waktu yang lalu, ternyata berhasil juga menggiring mereka pada pemecahan masalah yang lebih rasional dan menguntungkan semua pihak. Luar biasa!

Dari awal, saya sudah tegaskan kepada Pak Alex bahwa mereka sendirilah yang harus mengambil keputusan. Peran saya hanya sebagai katalisator yang dapat mempercepat terjadinya perubahan dan perbaikan yang mereka harapkan. Sedangkan, hasil dan usaha, merekalah yang menentukan.

Kini, nada putus asa dari Pak Alex telah digantikan oleh rasa optimis. Harapan seolah-olah membentang luas saat Pak Alex merasakan perkembangan positif yang terjadi pada keluarganya. Pak Alex pun sudah bisa tertawa saat memuji saya di telepon. Di akhir pembicaraan, berulang kali Pak Alex mengucapkan terima kasih atas bantuan moril yang telah saya berikan pada keluarganya.

Menurut saya, faktor utama keberhasilan Pak Alex adalah di saat tidak tahu harus bagaimana Pak Alex bertanya kepada saya apa hal utama yang harus dia lakukan pada kedua anaknya karena telah melukai perasaan mereka selama ini. Pak Alex telah kehilangan kepercayaan dan kasih sayang dari Jimmy dan Shirley. Komunikasi mereka tidak jalan dan yang ada adalah saling menyakiti satu sama lain. Saya hanya meminta Pak Alex untuk meminta maaf kepada kedua anaknya atas kesalahan yang secara tidak sengaja telah dia lakukan. Dan, Pak Alex pun mengikuti saran saya dengan dada lapang.

Pagi ini, Pak Alex menelpon kembali karena ada hal yang ingin ditanyakan. Teringat akan satu masalah penting yang masih mengganjal keluarga ini, saya pun memberi masukan bagaimana mengubah rasa permusuhan antar kedua anaknya menjadi rasa persaudaraan. Karena, tidak ada orangtua yang ingin melihat anak-anaknya bermusuhan satu sama lain, bukan? Dan, hal-hal baik mungkin sekali bisa terjadi karena di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan.

Hati saya akhirnya plong dan lega saat pembicaraan dengan Pak Alex usai. Agar tidak terlena oleh pujian yang baru didapat, cepat-cepat saya buka sebuah buku bijak untuk mendapatkan kata-kata penting di bawah ini:

If you are humble, nothing will touch you, neither praise nor disgrace, because you know what you are. ~ Mother Teresa


Selamat Tahun Baru!

Kamis, Desember 31, 2009

Tahun 2009 akan segera berlalu…

Marilah kita sambut tahun baru dengan penuh cinta dan semangat yang tinggi.


Maju Kena, Mundur pun Kena

Kamis, Desember 10, 2009

Di suatu pagi yang cerah…

Hm… Tiada yang hebat dan mempesona
Ketika kau lewat di hadapanku, biasa saja
Masa perkenalan lewatlah sudah
ada yang menarik bayang-bayangmu, tak mau pergi…

Menyanyi banyak mendatangkan manfaat. Apakah itu sebagai ekspresi perasaan atau untuk menghidupkan suasana.

Entah mengapa, pagi itu aku memilih lagu ‘Nuansa Bening’ dan menyenandungkannya dengan gayaku sendiri di rumah. Saat suami selesai sarapan, aku pun bertanya, “Suka ngak dengan nyanyian gua barusan? Baguuuus ngaaaak?” Biasa… ini adalah salah caraku untuk mengawali percakapan pagi dengan sang kekasih hati.

“Bagus. Tapi sayang ‘kan kalau cuma gua yang dengerin.”

“Maksudnya?”

“Coba kalau banyak yang dengar kamu nyanyi….”

“Kenapa harus didengarin orang lain? Gua ‘kan nyanyinya memang spesial buat lu aja.”

“Pandai nyanyi dan suara bagus gitu, sukanya dinikmati sendiri saja. Rugi tahu! Minggu depan anak sepupu gua nikah di Bandung. Nah, itulah saatnya kamu nyanyi di hadapan orang banyak.”

“Apaaaaaaaaaa? Kenapa sih setiap ada kerabat kamu yang nikah, gua harus nyanyi?”

“Iya dong, supaya semua orang tahu kalau kamu itu bisa nyanyi. Disamping itu, gua ‘kan bisa nebeng jadi terkenal juga. Pasti orang-orang akan bilang… Itu lho istrinya A Huat pandai nyanyi. Ha… ha… ha….”

“Dasar curang. Sukanya mendompleng aja. He… he… he…. Ngomong-ngomong, bisa nyanyi bukan berarti bagus lho. Ngak usah ge er. Kualitas suara gua hanya biasa-biasa saja kog.”

“Siapa bilang. ‘Kan orang lain yang memberikan penilaian. Mulai sekarang, kamu lebih baik siapkan sebuah lagu dan terus berlatih untuk dinyanyikan di Bandung nanti.”

“Aduh, ngak usah macam-macamlah. Gua malas kalau harus ke Bandung, nih. Gua ngak usah ikut ya?”

“Terserah….”

Akhirnya, sehari sebelum hari H, terpaksa aku memutuskan untuk pergi juga karena Lisa ingin ikut. Namun, Lisa berubah pikiran dan membatalkan rencananya menjelang keberangkatan. Tanpa Lisa, aku pun tidak termotivasi lagi untuk pergi.  Tapi, suami yang sudah terlanjur senang dan berharap-harap aku tetap ikut terus saja membujuk dan merayu. Aku tidak mungkin bisa mengelak karena di rumah juga sudah ada dua pasang kerabat suami yang akan ikut dengan kami.

Kami baru meninggalkan Jakarta menuju Bandung menjelang siang hari. Dalam perjalanan, aku berusaha keras untuk menyelaraskan pikiran dan hati agar tetap positif sehingga bisa menikmati suasana selama perjalanan. Anggap saja aku ikut agar bisa bertemu dengan anakku, Eric yang sekarang tinggal di Bandung. Bukankah aku juga sudah mengenal sebagian besar kerabat suami sejak dulu, jauh sebelum aku bertemu suamiku lebih dari dua puluh tahun yang lalu? Karena, mereka adalah kenalan almarhum kedua orangtuaku saat Ayah masih bekerja di Rengat pada tahun 1970-an. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan ‘kan?

Ada. Ada yang perlu kukhawatirkan. Bagaimana kalau aku benar-benar diminta menyanyi di depan orang banyak? Ada sekitar 600 orang di sana karena pestanya dalam format ‘Makan Meja’. Sudahlah, daripada pusing-pusing. EGP ajalah.

Singkat cerita. Malamnya, baru saja kami tiba di tempat resepsi dan masih belum sempat mencari tempat duduk, aku langsung ditodong agar mau menyumbangkan lagu saat pesta berlangsung nanti.

“Apa ngak ada yang lain, Ci?” Aku berusaha menolak dengan halus.

“Dari pihak pengantin perempuan baru dua orang. Kita butuh lebih. Masa’ kalah sama pihak pengantin laki-laki. Ayolah. Kalau dalam bentuk karaoke sih banyak yang mau. Tapi karena pakai band, banyak yang tidak berani.”

“Oke deh. Tapi saya akan bicara dengan personil band pengiring dulu ya.”

Aku sadar, kalau menolak terus dan suami tahu, pasti akan dimarahi habis-habisan. Jadi, harus kuatkan hati. Beruntung, aku sudah terbiasa nyanyi dengan iringan band sejak SMA dulu. Malah sebenarnya aku jarang sekali berkaraoke. Karena masih ada waktu dan pesta belum dimulai, aku menuju panggung dan berbicara dengan personil band. Adalah penting memilih lagu dari daftar yang biasa dimainkan oleh band pengiring dan mencocokkan nada dasar. Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar kerabat dari pihak pengantin perempuan datang dari Riau, maka aku pun mencari tahu beberapa lagu Mandarin yang bisa dan biasa dimainkan band pengiring.

Satu setengah jam kemudian, namaku dipanggil untuk tampil. Walaupun hati ini berdegup sedikit lebih kencang, aku berusaha untuk tenang. Saat menyanyi, aku sempat dag dig dug juga karena semua mata tertuju padaku. Orang-orang yang kukenal itu terlihat sangat serius memperhatikan diriku. Yang membuatku lebih kaget lagi adalah ketika beberapa orang, satu per satu mulai naik ke panggung menyerahkan angpao. Gaya apa pula ini? Ya ampun… mereka tidak tahu kalau hal ini malah mengganggu konsentrasiku dalam bernyanyi ya? Untung lagunya benar-benar aku kuasai. Jadi, hal yang tak terduga ini bisa segera kuatasi.

Saat turun panggung, banyak yang memberi pujian. Ibu pengantin perempuan yang juga adalah saudara sepupu suamiku berkomentar, “Setahu aku, kamu dulu ngak menguasai bahasa Mandarin ‘kan?” Aku sempat terdiam beberapa saat sebelum memberikan respon. “Iya, memang dulu aku tidak bisa. Sekarang pun juga tidak mahir. Tapi dibandingkan dulu memang sudah jauh lebih baik.” Aku sempat heran darimana dia bisa menebak kemampuan Bahasa Mandarinku? Apa mungkin karena penghayatan lagu saat menyanyikan ‘Ai Qing De Gu She’ – ‘Cerita Tentang Cinta’ tadi? Ah, tidak usah ambil pusing…

Malam itu, sebenarnya aku tidak terlalu puas dengan penampilanku. Dan, orang yang bisa aku ajak berdiskusi adalah siapa lagi kalau bukan SUAMIKU.

“Gimana? Penampilan gua tadi kurang bagus ya.”

“Sudah cukup bagus. Tapi memang lebih bagus saat kamu nyanyi di rumah sih.”

“Harusnya tadi gua ngak usah nyanyi, ya. Malu-maluin.”

“Semua orang memuji kamu, kog. Hanya aku saja tahu kalau kamu bisa lebih baik dari itu karena sehari-hari aku terbiasa mendengan kamu menyanyi. Makanya, kalau disuruh latihan, ya lakukan saja. Tidak usah banyak cincong. Penyanyi itu ‘kan harus punya 4S: Siap Selalu Setiap Saat. Ketika diminta nyanyi, sudah tahu lagu apa yang akan didendangkan.”

“Gua ‘kan bukan penyanyi profesional. Pun, tidak punya niat untuk jadi penyanyi profesional, kog. Nyanyi ‘kan buat gua cuma sekedar hobi saja.” Protesku.

“Iyalah, gua tahu. Kalau begitu, jadilah penyanyi amatir yang kualitasnya profesional.”

Bisa nyanyi ternyata serba salah juga. Sudah maju untuk unjuk kemampuan pun masih dihadiahi kritikan yang pedas. Tapi, kalau tidak maju, pasti lebih parah lagi. Bisa-bisa marahnya diulang-ulang terus sampai telinga ini jadi panas mendidih. Apalagi sekarang aku sudah punya guru vokal. Standar yang diharapkan pasti lebih tinggi lagi. Dalam hal menyanyi, suamiku ini memang selalu alot.

Walaupun demikian, aku sadar bahwa sebenarnya maksudnya adalah baik. Karena tidak bisa menyanyi, suami jadi banyak berharap padaku. Bayangkan, meskipun sudah mati-matian latihan untuk menyanyikan sebuah lagu, tetap saja banyak nada yang sumbang saat dia ingin mencoba kemampuannya. Sampai-sampai aku suka tidak bisa tahan ketawa. Namun, ada satu pelajaran yang aku petik dari sikapnya yang optimis itu. Suamiku adalah orang yang piawai mentertawakan dirinya sendiri. Gayanya yang lucu itu selalu membuat kami terhibur.

Kalau ingat kata-katanya, aku jadi suka senyum-senyum sendiri. “Orang-orang bisa lari kalau dengar gua nyanyi. Jadi, gua itu kalau nyanyi bukan untuk menghibur, tapi untuk buat orang ketawa. Hebat ‘kan? Kamu aja selalu tertawa terbahak-bahak kalau dengar gua nyanyi, kan? Jadi, ingat! Suaramu yang bagus itu jangan disimpan sendiri ya… Katakan IYA pada setiap kesempatan yang datang. Siapa takut?”

Mulai detik itu juga, jika aku dihadapkan pada pilihan: nyanyi tapi dikritik, atau tidak nyanyi tapi dimarahi habis-habisan. Lebih baik aku maju saja dan nyanyi. Karena, pasti lebih banyak untung daripada ruginya.

Akhir kata, seringkali memang dibutuhkan orang lain untuk melihat potensi diri yang kita miliki.


Selamat Jalan Paman!

Kamis, November 26, 2009

Siang ini, saat HP-ku berdering dan kulihat nama saudara sepupuku tertera di layar, perasaanku langsung tidak enak. Jangan-jangan yang akan kudengar adalah kabar buruk. Setelah mengungsi ke Jakarta pasca gempa besar yang terjadi kota Padang, paman yang sudah dalam kondisi sakit berat beserta bibi telah balik lagi ke Padang tanggal 15 Nopember yang lalu.

Ternyata, dugaanku tidak meleset. Sepupuku mengabarkan bahwa Paman baru saja meninggal dengan tenang siang ini. Walaupun tahu bahwa cepat atau lambat saatnya pasti akan tiba, tetap saja aku tak kuasa menahan tangis saat berita duka ini kudengar langsung dari sepupuku. Aku mencoba untuk tidak berlama-lama larut dalam kesedihan dan mulai berpikir apa yang sepatut dan seharusnya kulakukan. Aku mulai mencari tiket agar bisa pulang ke Padang secepatnya dan segera menyebar kabar duka tersebut kepada sanak saudara lainnya.

Kenangan-kenangan indah dan manis saat masih tinggal bersama keluarga Paman di Padang satu per satu muncul dari ingatan. Masa dari masih kelas satu Sekolah Dasar sampai tamat Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun, ada satu hal yang tidak mungkin terlupakan. Aku masih duduk di kelas dua SMA. Waktu itu sekolah mengadakan perlombaan nyanyi lagu Minang dan aku adalah salah satu pesertanya.

Saat Paman tahu bahwa aku akan membawakan lagu Minang, Paman langsung menawarkan untuk memanggil temannya ke rumah agar bisa melatih aku. Menurut Paman, menyanyikan lagu Minang itu tidak mudah. Lafal dan cengkoknya harus tepat.

Tentu saja tawaran Paman tidak aku sia-siakan. Selanjutnya Paman langsung menghubungi Om Coco, menjemput dan membawanya ke rumah agar bisa melatih aku. Paman tidak salah karena Om Coco memang hebat. Dia mengajariku bagaimana menyanyi dengan cengkok Minang. Memang tidak gampang sih, tapi masukan dari Om Coco sungguh sangat berguna. Bukan itu saja, setelah selesai latihan, Om Coco juga memberikan bonus buat kami. Beliau menyanyikan lagu “O Sole Mio” yang sangat terkenal itu dan suaranya begitu indah dan merdu. Aku sampai terpana dibuatnya.

Akhirnya, ketika perlombaan usai dan hasil diumumkan, aku sama sekali tidak menduga bisa mendapat juara dua karena peserta lainnya juga bagus-bagus. Aku sangat berterima kasih pada Paman karena telah memanggil Om Coco untukku. Bahkan sampai saat inipun aku masih ingat syairnya…

KOK UPIAK

Kok upiak pai ka ladang
Baok rotan ka tali timbo
Kok upiak nantilah gadang
Adaik sopan nan kadijago

Cubadak masak dibatang
Tumbuah luruih dakek parigi
Nak rancak diliek urang
Budi elok pamikek ati

Upiak rambahlah paku, tarang jalan ka parak
Upiak rubahlah laku, sayang rang bakeh awak

SELAMAT JALAN PAMAN TERCINTA
Beristirahatlah dengan tenang
Kenangan ini akan terus kusimpan di hati
Sejak ayah meninggal saat aku masih kelas tiga SMP
Paman sudah kuanggap sebagai pengganti ayahku
Terima kasih karena sudah ikut menjaga keluarga kami selama bertahun-tahun
Budi dan kebaikan Paman tidak mungkin akan terbalas sampai kapanpun


Tegar

Minggu, Oktober 4, 2009

P1010422Saat membuka mata pagi hari ini, aku terus menangis. Menangis dan menangis sampai mataku sembap dan hidungku bengkak. Aku tak kuasa menahan rasa sedih karena teringat akan pertemuan tadi malam dengan Paman dan Bibi yang baru datang dari Padang untuk mengungsi ke Jakarta. Karena, kota Padang telah porak poranda.

Masih jelas dalam ingatan saat Rabu sore tanggal 30 September 2009 yang baru beberapa hari berlalu. Melalui Facebook, seorang teman meminta agar yang punya sanak saudara di Padang segera mencek keluarganya. Gempa dahsyat dengan kekuatan 7.6 SR baru saja terjadi. Tanpa pikir panjang, aku langsung menghubungi saudara sepupuku yang di sana tapi tidak berhasil. Akhirnya, setelah menelpon saudara lainnya yang ada di Jakarta, aku mendapat kabar bahwa Paman dan Bibi dalam keadaan baik dan selamat. Rumah mereka hanya retak-retak kecil di beberapa tempat. Sedangkan rumah tetangga di seberang jalan roboh. Terus terang, aku sangat khawatir karena kesehatan Paman yang terus memburuk akibat penyakit yang sudah bertahun-tahun bersarang dalam tubuh.

Awalnya, Paman, Bibi dan seorang sepupuku masih ingin bertahan di Padang karena akan repot membawa Paman yang tidak sehat ke Jakarta. Lagipula, bukankah kita selalu merasa aman dan nyaman jika berada di rumah sendiri? Akhirnya, setelah dipertimbangakan lagi, mereka setuju untuk mengungsi ke Jakarta sambil menunggu kondisi kota Padang membaik.

Dalam ingatanku, Padang adalah sebuah kota yang indah dan bersih. Kota ini selalu ada dalam kenangan karena di sinilah aku dibesarkan. Kami sekeluarga tinggal tinggal bersama keluarga paman selama belasan tahun yaitu sejak aku masih berusia lima sampai delapan belas tahun. Jadi, saat tahu bahwa Padang telah luluh lantak karena gempa, hatiku pun ikut menangis. Tanpa terasa, sudah dua puluh lima tahun aku meninggalkan kota ini. Dan, jika dihitung-hitung, selama ini aku hanya pernah kembali sebanyak enam kali saja. Yang terakhir adalah tujuh tahun yang lalu dan secara fisik kota ini sudah sangat berubah. Kini, walaupun sebagian besar kota telah rusak, kenangan yang tersimpan akan tetap berkibar.

Saat mendengar dan melihat kehancuran kota dari foto-foto maupun video yang di-posting teman-teman via Facebook, aku merasa getir. Akan tetapi, air mata masih bisa kutahan dan hanya sempat mengambang sebentar di pelupuk mata. Tadi malam, saat bertemu Paman dan menyaksikan sendiri kondisi fisiknya yang sudah begitu lemah, hatiku serasa diiris-iris. Paman masih mengenaliku dan sorot matanya telah mewakili kata-kata yang tidak terucapkan. Bibi yang telah mendampingi paman selama empat puluh dua tahun terlihat begitu tabah dan teguh dalam merawat dan menjaga Paman. Malahan Bibi masih bisa bercanda bahwa sekarang dia sudah berganti profesi menjadi perawat. Melihat semua ini, aku jadi tidak tahan dan meneteskan air mata. Dengan sekuat tenaga aku berusaha menahannya agar tidak tumpah ruah.

Saat makan malam bersama Bibi dan keempat saudara sepupuku, kami pun mengenang masa-masa indah ketika masih bersama-sama dulu di Padang. Aku juga sempat memberikan penjelasan kepada putriku, Lisa yang ikut duduk di sana bahwa beginilah keadaan kami dulu, selalu ada yang dibicarakan saat duduk bersama baik di meja makan ataupun di ruang keluarga. Aku pun menjelaskan kepada Lisa bahwa keluarga Paman sudah kuanggap seperti keluarga sendiri. Dua belas tahun tumbuh bersama telah membuat tali persaudaraan kami lekat dan taut. Tiga orang saudara sepupuku kini sama-sama tinggal di Jakarta dan kami memang tidak bisa selalu bertemu karena kesibukan masing-masing. Walaupun demikian, jika ada hal penting, kami pasti segera berkumpul. Aku juga senang karena Lisa menyaksikan sendiri bagaimana Paman dirawat dan dijaga dengan baik oleh keluarganya.

Ketika membahas masalah gempa di Padang, aku tidak mendeteksi adanya pikiran negatif dari Bibi dan sepupuku (anak tertua Bibi yang tinggal bersama mereka di Padang). Mereka juga menceritakan kejadian-kejadian positif dibalik cerita-cerita sedih setelah gempa. Misalnya, ada seorang tetangga yang telah tertimbun reruntuhan selama 34 jam tapi masih hidup dan hanya mengalami luka ringan saja. Bibi juga mengatakan bahwa selama ini kita hanya menonton bencana langsung dari TV. Saat mengalami sendiri baru rasanya ngeri. Yang membuat aku terperangah adalah saat Bibi membandingkan gempa di Padang dengan yang terjadi di China tahun lalu. “Gempa di Se Chuan jauh lebih payah dan parah. Saat gempa terjadi cuaca begitu buruk. Ditambah lagi dengan tanah longsor sehingga akses ke sana terputus sama sekali. Tentara yang akan membantu evakuasi harus diturunkan dari udara. Bagaimanapun apa yang terjadi di Padang masih jauh lebih baik karena bantuan bisa segera datang.” Aku hanya bisa terpaku dan tubuhku seakan membeku. Bibi tetap tidak berubah. Tabah, pasrah dan tegar.

Kenangan indah, kondisi Paman yang cukup memprihatinkan, serta ketabahan dan ketegaran Bibi sungguh membuat aku terharu. Itulah sebabnya tadi pagi aku terus menangis saat pikiran-pikiran tersebut tidak mau pergi. Tiba-tiba, aku teringat akan sebuah buku yang berjudul ‘Masa-masa Sulit, Anak-anak yang Tegar’ yang diterjemahkan dari ‘Tough Times, Strong Children’, ditulis oleh Dan Kindlon, Ph. D. Buku ini aku baca sekitar empat setengan tahun yang lalu. Isinya memberikan ilham kepada kita untuk bertindak secara berani bagi anak-anak kita ketika mereka merasa takut. Dan, hal terpenting yang aku dapatkan adalah bagaimana orangtua dapat bersikap proaktif untuk memberdayakan dan memberi kekuatan kepada anak-anak dalam menghadapi ketidakpastian masa depan. Masa-masa sulit memang membutuhkan orangtua yang tegar.

Akhir kata, dalam renungan aku merasa begitu beruntung telah dibesarkan di tengah-tengah orang dewasa yang terbukti tegar, tabah dan kuat saat menghadapi kemalangan. Mereka adalah kedua orangtuaku yang telah tiada serta Paman dan Bibi. You’ll be in my heart, always!


Terbebas dari Rasa Sakit

Kamis, September 24, 2009

painPagi ini, saat akan mulai melakukan yoga, telepon rumah berdering. Ternyata teman baikku, Riana (bukan nama sebenarnya) yang menelpon. “Pasti ada yang hendak dibicarakan atau didiskusikan. Jadi, tidak apalah kalau yoga harus ditunda dulu,” kataku dalam hati. Ria memang sudah sangat biasa bertukar pikiran denganku mengenai masalah anak, keluarga ataupun pendidikan. Tapi akhir-akhir ini, karena bermasalah dengan lutut kanannya, kami pun lebih sering membahas masalah kesehatan.

“Vin, kamu ngak pergi.”

“Enggak. Aku ‘kan lebih senang mengeram di rumah. Tadi malam sih sudah jalan-jalan sebentar bersama keluarga ke GI. Hari ini rencananya sih mau di rumah saja. Kalau pun keluar paling hanya untuk cari makan saja.”

“Oh ya, Vin. Dulu kamu pernah sakit lutut ‘kan? Sampai ke dokter dan melakukan MRI segala. Terus akhirnya kog bisa sembuh?”

“Mungkin karena yoga dan jalan pagi, Ria.”

“Aku ini sudah bolak-balik ke dokter dan minum beberapa jenis obat. Tapi ngak sembuh-sembuh, tuh. Karena peradangan, aku sampai ngak berani memakai kakiku secara berlebihan. Aku khawatir dan takut akan terjadi hal-hal yang buruk padaku. Sekarang saja tangan kanan juga mulai sakit. Kita ini ‘kan seumur, Vin. Dulu saat lututmu sakit berarti kamu belum umur 40 ya?

“Iyalah. Masa lebih tua dulu dari sekarang, ha.. ha.. ha… Sebenarnya, kalau mau cepat sembuh, kita harus mau merawat pikiran juga. Kalau terus khawatir dan sering berpikir yang tidak-tidak, penyembuhan pasti akan terhambat. Bertahun-tahun lalu, saat lutut kiriku mulai terasa nyeri dan ngilu, aku berusaha untuk tetap tenang dan mulai mereka-reka apa penyebabnya. Mungkin karena aku pernah jatuh, bisa juga terlalu banyak injak kopling atau suka duduk terlalu lama ketika sedang asyik membaca buku. Maklum Ria, kalau ada buku di tangan, badan seakan berubah menjadi patung. He.. he.. he…”

“Tapi kog sakitmu itu bisa hilang, Vin?”

“Setelah membayar cukup mahal untuk biaya MRI dan hasilnya adalah nihil, dokter hanya memberikan ‘Osteor’ saja (kalau ngak salah ingat ya). Rasa sakit itu sebenarnya petanda bahwa ada yang salah pada tubuh kita. Jadi, jangan anggap enteng. Saat itu, sudah beberapa tahun, dua kali seminggu, aku ikut senam body conditioning. Jadi, walau ngilu atau nyeri datang menyerang, aku tetap ikut senam namun menghindari gerakan-gerakan yang mungkin bisa memperparah rasa sakit. Artinya, aku tetap konsisten melakukan aktivitas yang biasa dilakukan. Empat tahun yang lalu, aku mulai beralih ke yoga. Dan, sejak dua tahun lalu, selain yoga dua sampai tiga kali seminggu, aku selingi dengan dengan jalan pagi dua kali seminggu. Konsekuensinya, sudah cukup lama lututku tidak pernah nyeri dan ngilu lagi.”

“Tapi, rasanya susah ya, Vin, untuk menjadi disiplin seperti kamu!”

“Ria, manusia itu pada dasarnya malas, termasuk diriku. Namun, kalau kita mempunyai TUJUAN saat melakukan sesuatu, pasti motivasi diri akan datang dengan sendirinya. Aku mau sehat. Menurutku, cara yang termudah dan termurah adalah dengan yoga sendiri di rumah serta jalan pagi. Praktis ‘kan?”

“Heran, setelah berbicara dengan kamu, aku jadi penuh semangat ya. Tapi, untuk tetap disiplin berolah raga dan tetap berpikir positif itu ‘kan tidak mudah, ya?”

“Ya, pastilah! Tidak ada yang gampang di dunia ini. Semua harus dilatih dan dibiasakan. Masalahnya, kita mau atau tidak membuat diri kita menjadi lebih peka, bersedia tidak mengurangi rasa malas, dan tetap fokus serta konsisten saat memupuk sebuah kebiasaan yang positif?”

“Iya ya. Itulah biang keroknya. Sering kali kita hanya mau sehat tapi malas berolahraga. Ingin pintar tapi tidak suka belajar. Aku harus lebih sering bicara denganmu, Vin agar bisa ikut ‘mencuri’ semangatmu.”

“Semangat bisa menular, hanya saja untuk mempertahankannya itu yang tidak mudah. Sering kali semangat akan cepat luntur jika tidak diiringi dengan tekad yang kuat.  Orang lain hanya bisa memberikan motivasi. Dan, hanya diri kita sendirilah yang bisa membuatnya tetap tinggal. Dengan senang hati, kamu boleh kog nelpon aku kapan saja.”

Tidak lama setelah itu, pembicaraan kami pun berakhir. Sejam kemudian, Ria menelpon lagi dan bermaksud mengajak aku bertemu di Puri Mal. Terus terang aku jelaskan bahwa aku hanya ingin tinggal di rumah saja hari ini untuk menulis. Akhirnya, pembicaraan kami pun melenceng ke topik yang bagi banyak orang masih tabu. Saking serunya, kami berdua sampai tertawa terbahak-bahak. Ingin tahu topik yang dibahas? Nantikan tulisan saya selanjutnya.


Batal

Minggu, Agustus 2, 2009

Pada bulan April 2009 yang lalu, saya memutuskan untuk ikut reuni teman-teman SMA Don Bosco angkatan ’84 yang akan berlangsung beberapa hari lagi di Padang. Karena ingin mendapatkan tiket murah, segera laman Air Asia saya buka. Lumayan, harga tiket rute Jakarta – Padang – Jakarta adalah Rp 779.800 termasuk biaya asuransi sebesar Rp 30.000 dan biaya pemesanan tempat duduk sejumlah Rp 30.000 pulang pergi. Saya merasa puas dan senang karena tidak lama lagi dapat bertemu dan bernostalgia dengan teman-teman lama.

Pada bulan Juni 2009, saat putra saya, Eric mendapatkan kepastian akan kuliah di Bandung, ada perasaan lega karena perjalanan ke Padang selama beberapa hari pada awal Agustus nanti tentu tidak akan terbebani lagi oleh tanggung jawab akan Eric. Saya pun percaya bahwa putri saya, Lisa akan mampu mengatur dan mengurus dirinya sendiri selama saya bepergian.

Tidak lama kemudian, saya merasa sedikit tidak nyaman ketika Air Asia mengganti jadwal penerbangan yang telah disepakati. Jakarta – Padang tanggal 6 Agustus yang semula berangkat pukul 11.15 diubah menjadi 15.40. Sedangkan, jadwal berangkat dari Padang kembali ke Jakarta tanggal 10 Agustus yang semula adalah pukul 13.15 telah berubah menjadi 17.45. Saya sedikit kecewa karena itu artinya Senin malam tanggal 10 tersebut tidak bisa hadir pada pertemuan Toastmasters di JTC yang berlokasi di Menara Imperium. Tidak apa-apa, reuni kali ini lebih penting karena memperingati 25 tahun angkatan ’84 SMA Don Bosco Padang. Demikian yang terlintas di pikiran saya saat itu.

Kemudian, masalah timbul saat saya mengetahui bahwa tanggal 10 Agustus adalah hari pertama Eric masuk kuliah. Kog bisa? Selama ini, suami saya yang sangat antusias mempersiapkan, membantu dan mengurus kepindahan Eric ke Bandung. Menurutnya, dia tidak ingin kehilangan mementum untuk mengajarkan banyak hal penting kepada Eric dan ini hanya mungkin jika dia memiliki lebih banyak waktu lagi bersama Eric. Sepertinya, suami tidak ingin kehilangan kesempatan emas dan ingin memanfaatkannya sebelum akhirnya benar-benar melepas Eric sendirian di Bandung. Walaupun artinya dia harus bolak-balik ke Bandung dengan Eric.

Terus terang, sikap suami tersebut sangat membantu saya dalam mendidik dan membesarkan Eric. Karena, cara membesarkan seorang anak laki-laki tidaklah sama dengan anak perempuan. Jadi, jikalau anda memiliki anak laki-laki, anda butuh pengetahuan tambahan tentang pentingnya peran seorang ayah dalam membesarkan anak laki-lakinya. Dan, salah satu buku laris yang saya sarankan untuk dibaca adalah “The Wonder of  Boys” karangan Michael Guran.

Selanjutnya, keinginan saya pergi ke Padang menghadiri reuni dengan teman-teman benar-benar goyah ketika suami memastikan bahwa dia akan ada di Bandung pada akhir minggu menjelang hari pertama Eric masuk kuliah. Sebenarnya saya cukup yakin bahwa tanpa banyak bantuan dari ayahnya, Eric akan siap untuk mandiri. Akan tetapi, saya tetap harus menghargai dan mendukung apa yang telah suami lakukan untuk keluarga. Selama ini, dia telah membuktikan komitmennya dengan memberikan segenap waktu dan tenaga demi kepentingan kami bersama. Saya pun merasa beruntung karena telah diberikan Tuhan seorang suami yang berpikiran terbuka dan bijaksana.

Sebenarnya, suami tetap meminta saya untuk pulang ke Padang karena yakin Lisa pasti bisa ditinggal sendirian bersama pembantu. Namun saat ini, setiap Sabtu pagi Lisa harus ke sekolah untuk latihan drama yang pementasannya akan berlangsung pada awal September nanti di Gedung Kesenian Jakarta. Jika Sabtu ini saya berada di Padang dan suami ada di Bandung bersama Eric, siapa yang akan mengantar Lisa ke sekolah? Saya tidak mungkin meminta pembantu mengantar Lisa karena jarak sekolah yang cukup jauh dari rumah.

Akhirnya, dengan berat hati, saya pun memutuskan untuk membatalkan niat saya pulang ke Padang untuk reuni. Saya tidak ingin pergi dengan beban. Selama bertahun-tahun, saya lebih memprioritaskan kepentingan anak-anak daripada kepentingan saya sendiri. Jadi, kalau tidak jadi pulang untuk reuni, ya, tidak apa-apa. Tidak akan ada penyesalan. Lagipula saya yakin bahwa melalui Facebook, cerita dan foto-foto reuni masih bisa dinikmati.

Mengenai tiket, saya juga sudah mengiklaskan. Jadi, ketika staf Air Asia menelpon menanyakan konfirmasi, saya pun bertanya apakah ada kemungkinan ‘refund’ jika saya tidak jadi berangkat? Dengan senang hati staf tersebut membantu dan memeriksa data yang ada. Akhirnya, saya pun mendapat kepastian bahwa uang tiket akan dikembalikan ke rekening kartu kredit sejumlah Rp 740.800 karena biaya asuransi tidak bisa ditarik kembali.

Dalam hidup ini, banyak hal yang tidak terduga bisa terjadi. Orang bisa berubah dan rencana juga bisa batal. Akan tetapi, yang terpenting adalah nilai-nilai positif yang kita anut jangan sampai berubah ke arah negatif. Kita pun harus mampu menetapkan prioritas hidup yang kita jalani saat ini dan pastinya setiap orang akan mempunyai prioritas yang berbeda-beda.

FamilyStudies

Getting in touch with your true self must be your first priority. ~ Tom Hopkins


Tumpah

Kamis, Juli 30, 2009

booksPagi ini, untuk beberapa saat saya duduk termenung di depan lemari buku favorit. Ratusan buku yang terpampang didalamnya membuat lemari tersebut penuh sesak sehingga tidak ada lagi tempat yang kosong. Apa yang harus saya lakukan?

Pembaca yang terhormat, jika anda adalah pelahap buku seperti saya, kecil kemungkinannya anda akan berhenti membeli buku baru. Setuju? Akibatnya, sebesar apa pun tempat yang tersedia, suatu hari nanti pasti tidak akan mampu lagi menampung buku-buku yang terus mengalir masuk. Dan, anda pun akan menghadapi dilema yang sama.

Sebenarnya, untuk mengantisipasi hal ini, sudah beberapa kali saya memindahkan sebagian dari ‘harta karun’ tersebut ke sebuah lemari besi yang ada di kantor suami. Letaknya sih tidak jauh dari rumah, cukup lima menit saja jika bersepeda. Dan, lemari tersebut memang khusus disediakan oleh suami untuk menampung buku-buku saya. Awalnya saya tidak setuju karena lemari di rumah sudah cukup besar. Namun, saya pun ‘terpaksa’ menyerah karena terus didesak. “Tidak usah menolak. Percayalah, suatu hari nanti buku-bukumu yang ada di rumah pasti akan tumpah juga.” Kata-kata yang diucapkan suami saat itu akhirnya menjadi kenyataan.

Bertahun-tahun, membaca telah menjadi suatu kebiasaan positif yang terus saya pupuk. ‘Tiada hari tanpa membaca’ adalah moto yang saya yakini telah membawa dampak positif bagi pengembangan diri. Hidup juga menjadi lebih berarti. Karena bagi saya buku adalah salah satu aset yang berharga, maka semuanya tersimpan dan terawat dengan cukup baik. Akan tetapi, hari demi hari, bulan demi bulan, serta tahun demi tahun berlalu dengan cepat. Tanpa terasa, buku pun terus bertambah. Saya pun tersadar bahwa tidak mungkin lagi untuk terus menyimpan sendiri semua buku yang ada. Akhirnya, setelah melalui perang batin dan pertimbangan yang cukup panjang dan matang, saya memutuskan untuk memberikan sebagian buku yang ada kepada orang lain. Syaratnya, orang tersebut haruslah penikmat dan pencinta buku seperti saya.

Bulan lalu, setelah menemukan orang yang tepat, saya pun mengirimkan dua puluh buku untuknya. Saya merasa sangat bahagia dan lega karena buku-buku tersebut diterima dengan tangan terbuka. Tentu saja, pada masa-masa yang akan datang, akan ada lagi buku-buku yang harus keluar sehingga tersedia ruang kosong yang memadai untuk menampung buku-buku baru.

Akhir kata, beban di pundak kini terasa jauh lebih ringan karena saya berhasil menemukan jalan keluar atau solusi bagi buku-buku ‘tumpah’ tersebut. Saya kini merasa lebih senang karena terlepas dari ‘himpitan’ buku. Hidup memang akan lebih menyenangkan ketika kita mampu memberi. Semoga buku-buku tersebut akan bermanfaat bagi yang menerimanya.


Kabar Buruk di Pagi yang Cerah

Jumat, Juli 17, 2009

Pagi ini cuaca begitu indah dan cerah. Kekecewaan yang saya rasakan setelah menyaksikan film ‘Harry Potter’ tadi malam telah sirna ditelan matahari pagi. Terus terang, saya sama sekali tidak tertarik dengan cerita film tersebut dan sempat tertidur sebentar di dalam gedung bioskop. Apalagi, jadwal film yang kami tonton adalah yang jam 08.45 – 11.15 malam. Apa boleh buat! Demi menyenangkan hati putri tercinta, maka sedikit pengorbanan pasti tidak ada artinya bagi setiap ibu yang mencintai anak-anaknya. Setuju? Di samping itu, saya sungguh tidak tega mengecewakan putri saya, Lisa karena tiket sudah dipesan sejak pagi via M-Tix (pesan tiket nonton melalui sms atau telepon). Saya juga telah berjanji ingin lebih sering berada di dekatnya sebelum Lisa beranjak dewasa satu sampai dua tahun lagi. Seperti yang kita ketahui, saat anak-anak mulai dewasa dan benar-benar menjadi orang dewasa nantinya, bisa-bisa kesempatan emas ini akan menjadi hal yang langka. Jadi, sebelum terlambat dan supaya tidak menyesal nantinya, lebih baik mengalah sedikit demi mempererat hubungan ibu dan anak.

Setelah nonton, kami langsung pulang ke rumah. Malam yang semakin larut tidak menghalangi saya untuk mempersiapkan diri guna menghadapi seminar ‘parenting’ yang akan saya berikan di sebuah sekolah swasta Tangerang keesokan paginya. Seminar tersebut merupakan rangkaian ‘roadshow – session 3′ bersama ‘Mulia Brothers’ dengan tema ‘Proactive Kids’ ke sekolah-sekolah yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Untuk session ini, saya telah mempersiapkan tiga buah topik yaitu: 1. Batasan-Batasan dengan Anak (Boundaries with Kids); 2. Dorongan Positif untuk Anak (Positive Push); 3. Jangan Pernah Gagal Menjadi Orang Tua (No Excuse Parenting). Untuk itu, sekolah tempat saya berbicara dipersilakan memilih salah satu dari ketiga topik tersebut.

Sekolah pertama yang saya datangi pagi ini memilih topik kedua, yaitu ‘Dorongan Positif untuk Anak’. Perjalanan menuju sekolah memakan waktu kira-kira empat puluh lima menit. Selama perjalanan, saya berusaha untuk mengingat-ingat poin penting yang akan disampaikan pada seminar nantinya.  Tetapi, ketika saya baru saja melihat bangunan sekolah yang hanya beberapa meter saja di depan mata, handphone pun berdering dan ternyata adik saya, Jef yang menelpon.

Cie, kamu ada di mana?” Saya sedikit heran karena tidak biasanya Jef menanyakan keberadaan saya. Oh iya, cie adalah panggilan kepada kakak perempuan yang lebih tua.

“Di Tangerang karena ada jadwal seminar di sekolah.” Jawab saya.

“MU (Manchester United) bisa batal ke Jakarta, lho.”

“Batal? Kenapa bisa batal?” Saya bertanya sambil terheran-heran. Lagipula, apa untung ruginya buat saya kalau MU batal ke Jakarta?

“Ada bom meledak di Ritz Carlton?”

“Oh iya? Di Markas MU ya?” Tanpa ambil pusing, saya langsung membayangkan kalau markas MU yang dibom.

“Bukan, JW Marriot dan Ritz Carlton di Kuningan, Jakarta yang dibom. Tadi pagi waktu mengantar istri ke kantor di daerah Kuningan, jalanan macet. Katanya ada bom yang meledak di kedua hotel tersebut.”

“Apa? Ngak salah, tuh? Kog bisa ya? Apa ada korban jiwa? Kalau ada, banyak ngak? Aduh, kog bisa terjadi lagi, ya?” Saya terus membombardir Jef dengan rangkaian pertanyaan. Kenyataannya, Jef tidak bisa menjawab karena dia sendiri tidak begitu tahu karena bom baru saja meledak. Setelah percakapan itu, waktu menunjukkan pukul pukul 8.40 pagi. Akhirnya, dengan hati yang gundah gulana dan pikiran yang melayang-layang kembali ke peristiwa bom JW Marriot beberapa tahun yang lalu, saya segera mencari tempat parkir di halaman sekolah.

Ketika bertemu teman-teman dari Mulia Brothers yang merupakan Event Organizer penyelenggaran seminar saya di sekolah-sekolah, saya segera menanyakan kebenaran berita bom yang baru saya dengar beberapa menit yang lalu. Namun, tidak seorang pun yang tahu persis apa yang telah terjadi. Semua hanya yakin jika telah terjadi pemboman di kedua hotel tersebut, Ritz Carlton dan JW Marriot. Karena saya harus memberikan seminar pukul 9.30, maka saya tidak boleh terbawa emosi yang sedang saya rasakan agar tidak mengecewakan para orangtua yang telah hadir.

Seminar yang berakhir pukul 10.45 langsung disambung dengan sesi tanya jawab selama 15 menit. Setelah itu, saya masih melayani orangtua yang ingin bicara secara pribadi dengan saya. Jadi, kira-kira pukul 12 siang, saya meninggalkan sekolah untuk kembali ke rumah. Dalam perjalanan, saya membaca sms yang dikirim oleh suami. Beliau berpesan agar saya jangan ke mana-mana setelah seminar, apalagi mengunjungi mall karena Jakarta baru dibom pagi ini. Sepanjang jalan, hati saya sangat tidak tenang membayangkan apa yang terjadi dengan korban bom. Sesampai di rumah, putra saya, Eric sedang duduk di depan televisi mengikuti berita pembomban yang disiarkan di hampir setiap stasiun televisi. Akhirnya, saya mendapatkan gambaran yang jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Jakarta benar-benar diguncang bom.

Sungguh menggenaskan melihat korban-korban yang tidak berdosa berlumuran darah, apalagi ada yang sampai meninggal. Saya benar-benar tidak percaya kalau hal yang biadab ini kembali terjadi di negeri kita yang tercinta ini, negeri Indonesia. Tetapi, apa mau dikata! Nasi sudah jadi bubur. Penyesalan selalu datang belakangan. Kita hanya bisa bertanya, “Mengapa hal ini bisa terjadi lagi?” Atau berkomentar, “Kita kecolongan karena terlalu fokus mengamankan Pilpres yang berlangsung bulan ini.” Akhirnya, saya menarik kesimpulan, “Apapun yang telah terjadi, kita semua harus tetap optimis dan bangga menjadi bangsa Indonesia.” Marilah bersama-sama kita isi diri masing-masing dengan hal-hal yang baik dan positif agar tetap menjadi manusia Indonesia yang adil dan beradab sesuai dengan Pancasila. Semoga hari esok akan lebih baik. Tomorrow will be better… Míng tiān huì gèng hǎo.
jakarta_bomb_gallery__550x395


Sebelum Terlambat

Senin, Juli 13, 2009

Pada tanggal 25 Juni yang lalu, dunia dikejutkan oleh kematian Michael Jackson yang begitu mendadak. Dua belas hari kemudian atau tepatnya tanggal 7 Juli 2009, berpuluh-puluh juta pasang mata ikut menyaksikan acara penghormatan terakhir untuk Michael Jackson yang digelar di Stadion Staples Center Los Angeles. Hati kita tersentuh saat lagu-lagu Michael dilantunkan oleh para penyanyi sekaliber Mariah Carey sampai Usher. Perasaan kita pun terenyuh ketika Queen Latifah, Brooke Shield dan Pendeta Al Sharpton menyampaikan kata-kata perpisahan mereka untuk Michael. Namun demikian, yang paling menyayat hati adalah ketika Paris Jackson, putri mendiang Michael Jackson berbicara kepada dunia dari atas podium, “Saya hanya ingin bilang… Sejak saya lahir, Daddy telah menjadi ayah terbaik yang tidak pernah bisa kalian bayangkan. Dan saya cuma mau bilang bahwa saya amat sangat mencintainya.”

Hebatnya lagi, acara peringatan Michael Jackson tersebut tidak cukup disiarkan hanya sekali. Sampai tanggal 11 Juli yang lalu, kita masih bisa menyaksikan siaran ulangan yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi swasta terkenal di Indonesia. Dan, kata-kata Paris Jackson yang sudah saya dengar berkali-kali baik dari siaran langsung maupun dari internet, tetap saja mampu membuat saya terharu sampai menitikkan air mata saat tayangan ulang tersebut.

Akan tetapi, di balik semua itu, masih ada satu hal yang tetap mengganjal di hati. Pikiran saya kembali pada saat hampir dua puluh sembilan tahun yang lalu. Saat itu, kami semua dalam masa berkabung karena ayah baru saja meninggal secara mendadak. Ibu yang sangat sedih dan terpukul dengan kematian ayah memberikan nasihatnya yang sangat berharga, “Ketika seseorang sudah meninggal dunia, dia tidak akan pernah tahu lagi hal-hal baik atau pun kata-kata indah yang kita sampaikan untuknya. Jadi, saat seseorang masih hidup, perlakukanlah mereka dengan baik dan penuh kasih sayang. Sehingga, tidak akan ada penyesalan ketika mereka harus pergi meninggalkan dunia ini.”

Kata-kata ibu tersebut yang membuat saya terus melakukan self talk selama acara penghormatan untuk Michael berlangsung. Apakah Michael pernah tahu kalau orang-orang akan sangat kehilangan dirinya ketika dia pergi untuk selamanya? Kalau iya, mungkinkah dia akan kesepian menjelang akhir hidupnya? Mengapa tidak ada seorang anggota keluarga atau sahabat yang berhasil membujuknya untuk menjauhi obat-obat narkotik penghilang rasa sakit yang telah dikonsumsinya selama bertahun-tahun? Kalau Michael adalah seorang penghibur yang hebat dan jenius, mengapa tidak ada yang membuat acara persembahan untuk merayakan prestasinya di dunia musik saat sang ‘King of Pop’ tersebut masih hidup? Sehingga, Michael akan tahu betapa dunia begitu mencintainya dan menghargai musik serta lagunya?

Memang, seringkali kita baru tersadar ketika seseorang telah pergi dan tidak pernah akan kembali lagi. Kita akan terhenyak dan terus memikirkan hal-hal baik yang pernah dilakukan orang tersebut ketika masih hidup. Saya sendiri merasa sangat beruntung pernah memiliki seorang ibu yang bijaksana. Selama masih hidup, beliau telah mengajarkan banyak hal penting tentang kehidupan kepada kami, anak-anaknya. Sehingga, saya pun terinpirasi untuk dapat mengikuti jejak beliau menjadi ibu teladan bagi anak-anaknya ketika mereka dewasa kelak.

Hal terpenting yang harus diingat adalah bahwa kita hidup di dunia yang fana. Dengan kata lain, tidak ada yang abadi di dunia ini. Bisa jadi, hanya kenangan yang bisa kita bawa mati. Jadi, selagi kita masih hidup dan bernafas, berbuat baiklah terhadap orang-orang yang kita kasihi. Katakanlah kalau kita menghargai apa yang telah meraka lakukan untuk kita. Jangan pelit untuk memberikan pujian yang tulus dan lakukan hal-hal positif yang bisa membuat mereka merasa dirinya berarti. Sehingga, suatu saat ketika kita atau orang-orang yang kita kasihi pergi meninggalkan dunia ini, tidak akan ada lagi penyesalan yang tertinggal.

Kita hanya hidup sekali, tetapi sekali saja sudah cukup jika kita menjalaninya dengan benar.

- Gary Ryan Blair

Paris Jackson


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.