Menulis Buku Harian

Rabu, April 28, 2010

Empat bulan terakhir ini aku aktif mengisi blog buku harian milikku. Yeah, sebenarnya menulis sebuah buku harian tidak pernah terlintas di pikiran sampai suatu hari aku selesai membaca ‘The New Diary’ karya Tristine Rainer. Seperti biasa, langkah pertama tidak selalu berjalan dengan mulus. Ide tersebut bahkan sempat mengendap sekitar empat bulan hingga akhirnya aku memutuskan untuk mulai dengan menulis kata pengantar blog tersebut:

Akhir Agustus 2009 yang lalu, ketika selesai membaca buku ‘The New Diary’ karangan Tristine Rainer, aku pun tertarik untuk mempraktekkan apa yang baru saja dibaca. Alasannya? Sebagai penulis pemula, aku butuh ruang lebih untuk terus dan tetap menulis. Dan, latihan terbaik untuk mengasah kemampuan seorang penulis adalah dengan MENULIS, MENULIS, dan MENULIS.

Memang sih, aku sudah punya blog Sang Kuda Api tempat aku mengisi tulisan. Hanya saja karena blog ini terbuka untuk umum, maka tidak bisa semua cerita bisa aku tuangkan di sana. Hal ini tentu saja untuk menghindari komentar-komentar negatif dari pembaca. Namun, setelah ide tentang buku harian tersebut mengendap selama lebih kurang empat bulan, akhirnya kuputuskan untuk membuat blog Buku Harian Sang Kuda Api agar bebas menuangkan cerita-cerita pribadi yang selama ini banyak menguap begitu saja. Blog ini tentu saja bisa diakses oleh siapa saja, tapi aku tidak akan mempromisikannya secara luas. Karena, tidak setiap orang suka membaca cerita pribadi orang lain.

Sampai saat ini, penulisan buku pertamaku masih tersendat-sendat. Hanya bab pertama saja yang baru rampung seratus persen. Enam bab berikutnya masih harus ditulis ulang. Sedangkan selebihnya masih berupa konsep. Walaupun demikian, semangat dan tekad untuk menuntaskan buku tersebut tidak pernah luntur ataupun pudar. Aku mungkin butuh sedikit waktu lagi agar tulisanku terasa lebih mengalir. Yang penting, tetap fokus dan lebih konsisten lagi dalam menulis. Semoga saja Buku Harian ini akan bermanfaat.

Terima kasih dan SELAMAT MEMBACA!

Jakarta, 7 Januari 2010

Yang pasti, sejak aktif mengisi blog buku harian tersebut, aku jadi jarang menulis di sini. Mungkin karena terlalu asyik menulis bebas sesuai dengan kata hati tanpa ingin terbebani oleh perasaan apakah tulisanku akan diterima atau disukai oleh pembaca. Memang, empat bulan bukanlah waktu yang singkat, tapi juga belum lama-lama amat untuk menilai sebuah konsistensi.

Di samping itu, tujuanku menulis buku harian seakan tercapai. Aku punya lebih banyak kesempatan untuk berlatih menulis dan semakin memperhatikan kejadian sehari-hari yang akan kumasukkan ke dalam blog tersebut. Dengan kata lain, kepekaanku terus terasah. Menarik dan sangat menarik tentunya! Tak dinyana, hari-hari yang kulalui menjadi lebih berarti dan bermakna sehingga hidup pun terasa lebih bersemangat lagi.

Oh ya, bagi yang ingin melihat-lihat blog buku harianku, silakan Anda klik tautan di bawah ini:

BUKU HARIAN SANG KUDA API


Terima Kasih

Senin, Agustus 17, 2009

thank-youKetika saya masih kecil, ayah pernah berpesan bahwa kita harus selalu mengucapkan ‘terima kasih’ kepada siapa pun yang telah membantu kita, walaupun itu saudara kandung sendiri. Kini, hampir tiga puluh tahun sudah ayah pergi meninggalkan kami menghadap Yang Kuasa. Akan tetapi, nasihat tersebut masih tetap lekat dan tidak akan lekang dari hati.

Saat menulis ‘Cat Rambut Orang Yahudi’, saya hanya ingin menuangkan ide yang ada menjadi tulisan. Ide tersebut datang tiba-tiba saat saya selesai membaca bagian pengantar editor dan pengantar penulis dari CROY. Sayang, saat itu saya tidak bisa langsung menuliskannya di blog karena masih ada urusan yang harus diselesaikan di luar rumah. Selanjutnya, setelah menunggu selama tiga puluh enam jam barulah saya bisa duduk di depan komputer. Segera tulisan tersebut saya tuntaskan karena sudah membuncah-buncah di pikiran.

Setelah selesai, tulisan tersebut langsung saya posting ke wall Facebook Mas Pepih dan Pak Edi. Tidak lupa saya persembahkan juga untuk Pak Chappy melalui kolom komentar di Kompasiana.com sebagai tanda terima kasih. Akan tetapi, yang sama sekali tidak pernah saya duga adalah berkat tulisan ini, statistik kunjungan ke blog Sang Kuda Api melejit  bak meteor pada hari CROY di-posting.

Karenanya, melalui tulisan ini, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah mendukung dan memberikan inspirasi kepada saya untuk mulai menulis dan untuk terus menulis.

1. Mas Pepih Nugraha

Terima kasih banyak, Mas Pepih. Komentar anda di blog bagaikan tonikum yang menambah semangat. Kapan-kapan saya pasti akan ikut Blogshop Kompasianan. Oh ya, bagi yang belum sempat membaca, inilah komentar Mas Pepih:  “Wah, saya terharu membacanya… jarang ada orang yang melaporkan kegiatan saya dalam tulisan, tetapi lebih sering saya melaporkan kegiatan orang hehehe…. maklum saya jurnalis/penulis. Terus menulis ya, Vin, kapan-kapan ikuti deh Blogshop Kompasiana, kita bisa share di sana. Bravo!”

2. Pak Chappy Hakim

Terima kasih banyak telah membaca tulisan CROY di blog saya. Terus terang saya banyak mencuri ilmu menulis dari Bapak. Menurut saya, bahasa yang Bapak gunakan termasuk ringan dan mudah dimengerti. Tadi malam, buku CROY telah selesai saya baca semuanya. Kesan saya adalah banyak artikel yang menarik, berguna dan pantas untuk direnungkan. Masalahnya, saya termasuk orang yang tidak suka traveling, Pak. Setelah baca ulasan Bapak tentang standar lapangan terbang yang kurang memenuhi syarat, bisa-bisa saya jadi tidak mau terbang lagi. Ha… ha… ha… Apa mungkin?

3. Pak Edi Taslim

Terima kasih telah mengizinkan saya memakai fotonya. Foto tersebut telah memberikan nilai tambah bagi tulisan saya.

4. Pak Prayitno Ramelan

Terima kasih sudah add saya di Facebook. Komentar Bapak di bawah ini benar-benar membuat saya tersanjung.

“Vina Tan, saya membaca tulisan ini… bagus dan enak saja… Saya termasuk teman baik dari Pak CH dan Mas Pepih juga di Kompasiana… saya nanti Add ya di FB. Saya juga nulis sih dikit2, nanti di app ya.  Salam>Pray”

5. Kusumah Wijaya

“Bagus sekali tulisannya mbak, sangat mengalir dan diam-diam saya mencuri ilmu dari cara Mbak Vina menulis. Sangat lancar dan mengalir bagai air. Saya pun termasuk pembaca setia tulisan pak CH, dan saya kagum dengan beliau. Semoga saja banyak jenderal kita yang seperti beliau.”

Terima kasih Kusumah atas komentarnya. Itulah gunanya kita membaca, siapa tahu ada ilmu yang bisa kita curi. Mencuri di sini tidak haram, kog. Saya juga banyak mencuri ilmu dari orang-orang yang bukunya saya baca.

Kepada semua yang sudah mengunjungi blog Sang Kuda Api dan membaca tulisan-tulisan saya, terima kasih banyak atas dukungan anda semua. Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah terima kasih dari saya untuk para mentor yang ada di Writer Schoolen. Saya merasa beruntung telah menjadi salah satu peserta workshop menulis yang diselenggarakan Writer Schoolen pada Februari 2008. Kalau tidak salah saat itu namanya masih SPP (Sekolah Penulis Pembelajar).

Pak Edy Zaqeus: Dukungan anda melalui komentar-komentar atas posting di wall sangat memotivasi saya untuk merampungkan buku yang sedang saya tulis.

Pak Andrias Harefa: Tulisan-tulisan anda yang di-posting di Facebook sungguh berguna dan bermanfaat.

Pak Her Suharyanto: Saya masih ingat saat kita bertemu di Plaza Senayan bulan Juni 2008, Bapak meminta dan meyakinkan saya agar membaca cerita ‘Laskar Pelangi’. Saat itu, saya sudah punya bukunya, hanya belum terpikir untuk membacanya. Terus terang, saya sangat jarang membaca novel. Namun, sejak selesai membaca Laskar Pelangi, saya mulai mencintai cerita novel. Akhirnya saya pun mengerti kenapa Bapak ingin saya membaca ‘Laskar Pelangi’.

Kepada ayah dan ibu tercinta yang saat ini telah tiada. Untuk ayah, hal-hal positif yang pernah engkau lakukan begitu membekas di hati dan telah membuat saya menjadi orang yang ingin terus belajar. Mungkin dulu ayah melakukannya tanpa memikirkan dampak positif bagi saya. Namun, ayah adalah teladan bagi kami dalam mendidik dan membesarkan anak-anak.

Ibu, saat-saat kita semua bersama dalam senang dan sedih selalu membekas di hati. Walaupun ibu sudah pergi meninggalkan kami tujuh tahun yang lalu, namun kenangan yang kita miliki tidak akan lekang ditelan waktu. Untuk itulah, melalui proses dan pemikiran yang mendalam selama berbulan-bulan, saya akhirnya memutuskan untuk menulis cerita kita ke dalam sebuah memoar. Tujuan utama adalah saya ingin anak-anak belajar bahwa hidup penuh perjuangan itu lebih berarti. Ketegaran dan ketabahan Ibu dalam menghadapi hidup begitu menginspirasi saya sehingga sayang jika akan hilang begitu saja.

Bagi saya, yang terpenting adalah kedua anak saya sudah setuju untu membaca memoar ini. Soal apakah nanti diterima atau ditolak penerbit, tidak masalah. Anak-anak adalah dorongan utama saya untuk menuntaskan buku tersebut. Karena saya yakin, inilah warisan positif yang bisa saya tinggalkan untuk mereka.

Saya sangat bersyukur memiliki keluarga yang dengan setia menjadi supporter utama. Bertahun-tahun saya banyak memberikan pikiran, waktu dan tenaga untuk suami dan anak-anak tercinta. Ketika anak-anak mulai beranjak dewasa, saya bahagia karena ternyata usaha saya tidak sia-sia. Mereka cukup mandiri dan bertanggung jawab sehingga saya punya banyak waktu untuk diri sendiri dan melakukan hal-hal yang berguna bagi kehidupan saya selanjutnya.

Akhirnya, saya berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kehidupan yang telah diberikan kepada saya. Segala kejadian yang penuh suka cita dan duka telah memperkaya hidup yang saya miliki dan jalani selama ini. Hidup menjadi lebih berarti jika kita mampu mencari makna dan hikmah di balik semua kejadian yang kita alami.

Sekali lagi, TERIMA KASIH!

Many people realize their hearts’ desires late in life. Continue learning, never stop striving and keep your curiosity sharp, and you will never become too old to appreciate life. ~ Unknown Author


Cat Rambut Orang Yahudi

Jumat, Agustus 14, 2009

Membaca itu adalah kemauan, sedangkan menulis itu ketrampilan – jadi bisa dilatihkan. ~ Chappy Hakim

Saya setuju sekali dengan kata-kata diatas. Sesungguhnya, membaca telah memperluas wawasan saya ke tingkat yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Adapun menulis telah membuat pikiran saya menjadi lebih fokus, perasaan semakin terasah dan perhatian meluas.

Mungkin pembaca akan heran, darimana asal judul untuk tulisan ini? Sebelum menjelaskannya, saya ingin bertanya lagi, apakah pembaca pernah mendengar nama Chappy Hakim? Pak Chappy atau Pak CH, demikian dia biasa dipanggil, adalah seorang Marsekal TNI Purnawiran yang pernah menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Udara tahun 2002 – 2005.

Dan, Cat Rambut Orang Yahudi. adalah buku terbitan Kompas yang baru saja diluncurkan tanggal 1 Agustus lalu di Hotel Sultan Jakarta. Buku tersebut adalah hasil ngeblog Pak Chappy di Kompasiana, blog yang dibangun Kompas.com. Hebatnya lagi, buku CROY (singkatan dari Cat Rambut Orang Yahudi) ini berhasil masuk rekor MURI asuhan bos jamu Jaya Suprana. Pak Chappy dicatat sebagai Marsekal/Jendral Bintang empat pertama yang tulisan-tulisannya di blog Kompasiana diterbitkan menjadi buku.

Bagaimana saya bisa tahu tentang buku tersebut? Ceritanya sebagai berikut: Sekitar lima bulan yang lalu, seorang teman Toastmasters menyarankan agar saya mengirimkan tulisan untuk dimuat di community Kompas. Saran tersebut saya ikuti, dan artikel ‘Jalan Menuju Universitas’ akhirnya dimuat di sana pada bulan Maret 2009. Iseng-iseng saat browsing, saya menemukan blog Kompasiana dan merasa tertarik dengan tulisan Mas Pepih Nugraha dan Pak Chappy Hakim. Berhubung di blog Mas Pepih ada logo Facebook, maka saya segera men-add dengan harapan kalau dibalas add maka saya tidak akan ketinggalan membaca tulisan terbaru yang diposting Mas Pepih.

Syukurlah, dugaan saya tidak meleset. Gayung pun bersambut. Setelah menjadi teman Mas Pepih di Facebook, saya jadi tahu bahwa artikel di blog bisa langsung di-share ke Facebook sehingga pembaca bisa mengikuti posting tulisan terbaru kita. Rasanya senang sekali bisa terus menemukan dan belajar hal-hal baru. Terima kasih Mas Pepih! Saya sungguh menyukai tulisan anda yang cerdas dan lugas. Terus terang, saya banyak belajar dari cara anda menulis. Saat ini, dalam rangka merampungkan buku pertama, saya memang harus banyak belajar, terutama dari penulis-penulis senior.

Akhir bulan Juli, dari posting di wall FB Mas Pepih, saya menemukan bahwa buku CROY akan segera diluncurkan. Sehingga, sehari sesudahnya, yaitu pada tanggal 2 Agustus 2009, saya sengaja mampir ke Toko Buku Gramedia untuk menemukan CROY. Sayang seribu sayang, bukunya belum ada sehingga saya masih harus memendam rasa penasaran lebih lama lagi. Ya, saya sangat penasaran dengan judul buku tersebut. Kog bisa ya judulnya Cat Rambut Orang Yahudi?

Ketika membaca cerita tentang launching buku tersebut dan melihat-lihat foto peluncuran buku yang di tag ke Mas Pepih, saya menemukan foto di bawah ini. Kenapa foto ini yang saya masukkan ke sini? Karena ada Effendy Ghazali yang menjadi moderator acara. Effendy menjadi spesial karena dia adalah salah seorang teman SMA waktu masih di Padang dulu. Saya juga sudah mendapatkan ‘izin’ Pak Edi Taslim yang fotonya saya muat di sini. Terima kasih, Pak Edi.

Cat Rambut Orang Yahudi

Akhirnya, saat mampir ke Gramedia seminggu kemudian, saya mendapatkan apa yang saya mau. CROY sudah ada di rak toko buku tersebut. Tanpa pikir panjang, saya langsung membelinya namum belum sempat untuk langsung dibaca. Baru Rabu kemarin saya punya waktu luang untuk mulai membaca. Saat masuk ke bagian pengantar, saya langsung terkesima. Tulisan Mas Pepih di bagian Pengantar Editor begitu lancar dan mengalir sehingga enak dibaca. Tidak salah deh jika Mas Pepih yang menjadi editor tulisan Pak Chappy sebelum dibukukan.

Selanjutnya, saya mulai masuk ke bagian Pengantar Penulis. Di bagian ini rasa penasaran saya terjawab sudah karena alasan kenapa memilih CROY menjadi judul buku menjadi terkuak. Dari tulisan-tulisan yang dimuat, saya pun mulai mengenal Pak Chappy lebih jauh dan pribadinya yang bersahaja. Saya menjadi terharu sekaligus bangga bahwa Indonesia pernah memiliki seorang KSAU seperti seorang Pak Chappy. Salut!!!

Kemarin sore, saat terjebak macet di daerah Tanah Abang dalam perjalanan menuju WTC, saya hanya bisa tersenyum dalam hati. Betul juga ulasan Pak Chappy di artikel ‘Lalu Lintas Kita’. Waktu tempuh selama 1 jam 45 menit adalah lebih lama dibandingkan dengan terbang dari Jakarta ke Singapore yang hanya 1 jam 20 menit. Untung saja saya meninggalkan rumah lebih awal sehingga tidak terlambat tiba di tujuan. Oh ya, saya ke WTC dalam rangka menjadi judge untuk speech contest British Toastmasters Club.

Ulasan dan analisa Pak Chappy termasuk tajam, tepat dan mengena. Tidak salah telah memilih CROY untuk dibaca. Setiap buku yang dibaca selalu memberikan wawasan dan menambah hal baru yang dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi saya, membaca bukanlah untuk menjadi pandai atau sok pintar. Saya membaca karena ingin memuaskan rasa ingin tahu yang ada. Jadi, kalau ingin punya kemauan untuk membaca dan terus membaca, pertama-tama ciptakan dulu rasa ingin tahu sebanyak mungkin dalam diri anda sehingga membaca menjadi sebuah kegiatan yang asyik untuk mengisi waktu luang.

Develop a passion for learning. If you do, you will never cease to grow. ~ Anthony J. D’Angelo


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.