Salah Jalan

Minggu, November 8, 2009

Setiap kali mendapatkan jadwal bicara untuk ‘Parenting Seminar’, saya selalu merasa dag dig dug saat melihat lokasi sekolah. Kalau daerahnya masih di sekitar Jakarta Barat, bolehlah lapang rasa dada ini. Akan tetapi, jika tempatnya ada di Bekasi, Bogor atau daerah lainnya yang cukup jauh, saya pasti mulai sibuk dan panik bertanya sana sini untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang titik-titik yang harus dilalui agar bisa sampai ke tujuan. Maklum, membaca peta dan membayangkan arah adalah kelemahan terbesar yang ada dalam diri saya. Apalagi, jika tempat-tempat tersebut masih asing atau sama sekali belum pernah saya kunjungi.

Apa boleh buat, kebahagiaan yang saya rasakan saat berbagi cerita dan pengalaman dengan para orangtua murid ternyata mengalahkan rasa bimbang dan gamang saat menuju lokasi yang tidak biasa. Selama ini, sudah berpuluh-puluh sekolah yang saya datangi. Walaupun tempatnya ada yang jauh dan asing, namun saya selalu berhasil tiba di tempat tujuan tanpa halangan yang berarti. Tentu saja, catatan hasil tanya sana-sini itu sangat membantu. Kenyataannya, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh jua. Demikianlah yang terjadi pada saya hari Sabtu kemarin, 7 Nopember 2009, saat dalam perjalanan menuju Kota Harapan Indah, Bekasi.

Sesuai catatan, saat tiba di depan pintu tol menuju Cikampek, harusnya ambil tiket tol dulu. Entah kenapa saat melihat ke kiri dan ada tulisan Cikunir yang letaknya persis bersebelahan dengan pintu tol Cikampek, saya jadi bimbang. Padahal, jelas-jelas pada catatan saya tertulis : ambil tiket tol, tetap di jalur kiri, terus keluar gerbang tol Cikunir 4. Tapi, entah kenapa saya berpikir lain, “Mungkin saya harus keluar Cikunir. Kalau terus dan salah tentu saya tidak tahu bagaimana bisa kembali lagi. Mungkin seharusnya memang Cikunir dan angka empat itu tidak ada.” Saat tiba di depan loket, saya mulai sedikit heran karena hanya perlu membayar Rp 1.000 dan tidak diberi tiket. Sebenarnya insting saya meminta saya untuk mundur, tapi tidak saya lakukan. Malahan, saya bertanya kepada penjaga pintu tol, “Pak, apakah benar kalau mau ke Kota Harapan Indah lewat jalan ini?”

“Iya, benar. Ibu lewat saja.” Saat melihat polisi di jalan, saya pun bertanya dan mendapatkan jawaban yang sama. Akan tetapi, perasaan saya mulai galau dan rasa khawatir mulai menyelemuti diri karena daerah yang saya lewati tidak klop dengan catatan yang ada. “Tidak bisa. Saya pasti sudah salah jalan,” Demikianlah hati ini berbisik. Saat sadar kalau sudah salah jalan, saya pun menelpon Pak Handy, orang yang menjelaskan arah dan jalan menuju ke lokasi. Ternyata saya memang sudah salah jalan. Akan tetapi, saat saya tanya bagaimana kembali ke jalur yang benar, Pak Handy juga tidak bisa membantu. Saya pun menelpon suami saya dan hasilnya sama saja. Tidak ada yang bisa membantu saya keluar dari daerah asing ini. Sepanjang jalan saya hanya melihat tulisan Kali Malang dan Jatiwaringin. Sebegitu luaskah Bekasi sehingga daerah yang satu tidak terkoneksi dengan lainnya walaupun masih sama-sama bernama Bekasi? Apa boleh buat, yang penting jangan panik supaya pikiran tetap jernih.” Saya mulai menghitung dampak terburuk dari kesalahan ini. Mungkin  saya akan terlambat sampai di sekolah atau sama sekali batal berbicara pada seminar yang akan dimulai pada pukul 10.30 pagi. Saat melirik jam, saya tahu bahwa waktu yang tersisa hanya satu jam saja.

Saat mencari jalan keluar, saya mulai berpikir, “Sepertinya harus mengarah ke tol Cikampek deh. Tapi kenapa ya sepanjang jalan lebih banyak tulisan ke Cawang, Pondok Gede, dan Bogor? Kalau ambil Cawang artinya kembali ke Jakarta dong? Ngak bisa. Harus tetap menuju tol Cikampek.” Agar tidak salah, setiap kali bertemu Polisi, saya langsung menanyakan arah tol Cikampek. Dua kali Polisi meminta saya untuk terus saja. Terus terang, rasanya jalan yang saya tempuh sudah sedemikian panjang dan lama, tapi tetap belum ada juga tanda-tanda yang menuju ke Cikampek. Akhirnya, setelah Polisi ketiga memberitahukan agar setelah lampu merah kedua ambil kiri, barulah saya bisa sedikit lega.

Benar, ketika melihat pelang bertuliskan Cikampek, saya pun tersenyum sambil mentertawakan kebodohan dan ketololan sendiri. Salah keluar pintu tol telah membuat semua catatan yang ada di tangan jadi tidak berlaku. Parahnya, saya jadi tersesat begini lagi. Tidak ada waktu untuk berkecil hati atau menyesali apa yang telah terjadi. Bukankah pasti ada hikmah dibalik semua ini? Mungkin setelah meminta maaf karena terlambat, saya bisa memulai seminar dengan cerita salah jalan ini…

“Sama seperti kejadian salah jalan yang saya alami saat menuju ke sini. Sebagai orangtua, kita juga bisa salah dan ketika sadar, tentu harus ada yang dilakukan, bukan? Misalnya, kita bisa bertanya kepada yang lebih tahu, mencoba mencari solusi melalu media. Misalnya via internet, buku atau pun seminar. Dan, yang paling penting adalah tetap tenang dan jangan panik. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya asalkan kita mau berusaha….” Selanjutnya, saat membahas topik seminar tentang “Boundaries with Kids” atau Batasan-Batasan dengan Anak, hadirin terlihat mendengarkan dengan seksama. Dalam sesi tanya jawab, orangtua seakan tidak mau ketinggalan dan terlihat antusias ketika menanyakan masalah anak-anak mereka. Bahkan setelah seminar berakhir, saya masih harus tinggal sekitar satu jam lagi untuk mendengarkan masalah mereka agar bisa memberikan masukan.

Saya memang terlambat dua puluh menit dari jadwal 10.30 yang yang telah ditentukan. Akan tetapi, melihat respon positif dari yang hadir, semua rasa capek dan penat yang saya rasakan sebelum tiba di lokasi seakan hilang tak berbekas. Baru pada pukul 13.45, saya bisa meninggalkan sekolah untuk kembali ke Jakarta. Walaupun terjebak macet saat masuk tol dalam kota, saya tetap berusaha untuk positif dan menikmati kemacetan. Sebenarnya, yang paling susah dilawan saat itu adalah rasa lapar yang telah membuat sekujur badan jadi gemetar. Ditambah lagi, sore itu sebenarnya saya ada janji dengan Pak Ikhsan. Beliau ingin mengajak istri dan putrinya ke rumah untuk konsultasi.

Saat hendak menelpon untuk memundurkan waktu pertemuan, tiba-tiba saya terima SMS dari Pak Ikhsan. Beliau menanyakan apakah jadwal pertemuan bisa diundur hingga jam enam sore. Wah, kebetulan sekali. Memang itu yang sedang saya pikirkan. Kog bisa pas sekali, ya? Karena, saya tidak mungkin dapat memberikan konsultasi dalam keadaan lapar dan gemetar. Paling tidak saya butuh istirahat satu jam untuk memulihkan stamina. Mungkin inilah yang dinamakan kekuatan pikiran. Ketika kita berpikir positif, maka hal-hal baik akan datang pada kita.

Malam itu, pertemuan dengan keluarga Pak Ikhsan membuat hari saya terasa sangat menyenangkan. Hidup selalu terasa lebih indah bila kita mendapatkan kesempatan untuk berbagi dengan orang lain. Terlebih-lebih jika yang dibagi itu adalah pengetahuan dan pengalaman yang mungkin bisa berguna bagi orang lain. Bukankah semakin banyak masalah yang datang pada saya, maka semakin bertambah pula kesempatan untuk meningkatkan kemampuan konsultasi atau coaching yang sudah ada? Semoga!

The good life, as I conceive it, is a happy life. I do not mean that if you are good you will be happy; I mean that if you are happy you will be good. ~ Bertrand Russel

13959_189588473831_675948831_3853357_4615052_n


Laporan yang Menyejukkan Hati

Selasa, September 15, 2009

Pagi ini adalah jadwal saya bertemu dengan guru kelas Lisa untuk mengambil rapor mid semester. Ketika tiba di depan kelas, saya sempat menunggu beberapa menit karena Mr Connor (guru Lisa) masih berbincang-bincang dengan orangtua murid yang lain. Lisa tidak bisa ikut dengan saya karena masih merasa tidak nyaman setelah tadi malam satu gigi geraham belakang kiri bawah dicabut.

Saat saya memperkenalkan diri sebagai mamanya Lisa, Mr Connor yang berasal dari Irlandia langsung menyambut dengan gembira, “Saya senang punya murid seperti Lisa. Walaupun pendiam, tapi dia sangat percaya diri. Dia juga mampu mengikuti pelajaran dengan baik.” Memang, baik Lisa maupun Eric tidak ada yang suka ngomong seperti saya. Sehingga di rumah tidak ada saingan. Enak ‘kan? Sebenarnya ngak juga, sih. Itulah sebabnya agar tidak merasa kesepian maka saya lebih suka menghabiskan waktu luang dengan membaca dan sekarang ditambah lagi dengan menulis.

Mr Connor menjelaskan bahwa sebelum ini dia tidak begitu mengenal Lisa karena hanya pernah mengajar saat Lisa masih di kelas 8 (sekarang Lisa duduk di kelas 11). Saat pertama kali mengarahkan Lisa untuk program sosial ‘mengajar anak jalanan’ beberapa minggu yang lalu, Mr Connor khawatir apakah Lisa akan mampu menyesuaikan diri atau tidak. Beliau takut Lisa tidak terbiasa dengan keadaan yang serba kumuh dan kotor itu. “Lisa, if you don’t feel comfortable, I want you to think that these kids are less comfortable than you are but they still can smile.” Lisa, jika kamu merasa tidak nyaman, cobalah berpikir bahwa keadaan anak-anak ini lebih tidak nyaman lagi, namun mereka masih bisa tersenyum.”

Ternyata apa yang dikhawatirkan Mr Connor tidak menjadi kenyataan. Dalam waktu singkat Lisa sudah duduk bersila dengan anak-anak itu dan mulai mengajar mereka. Setiap Senin jika saya bertanya kepada Lisa bagaimana kegiatan mengajarnya pada hari Minggu, Lisa pasti menjawab, “Great, Mr Connor.” Luar Biasa. Mungkin pada kebanyakan orang, jika diminta untuk mengajar, mereka akan melakukan tugasnya dengan begitu saja. Sedangkan Lisa, dia mampu melihat dan mengajar sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Dengan kata lain, Lisa mampu mengajar dengan hati.

Terus terang, dalam hati saya merasa senang dan bangga tetapi tidak mau terlena. Saya pun menanyakan apa hal-hal yang harus menjadi perhatian bagi Lisa. Jawaban Mr Connor adalah Bahasa Inggris, terutama yang bersifat kesusastraan, tata bahasa dan pemakaian/pemilihan kata-kata yang tepat. Secara keseluruhan nilai Lisa cukup baik. Sebenarnya, saya pun tidak pernah mau khawatir dengan hasil belajar anak-anak. Bagi saya yang lebih penting adalah bagaimana proses belajar itu berjalan. Anak-anak harus mencintai kegiatan belajar itu sendiri. Mereka harus belajar dengan perasaan senang dan gembira bukan karena terpaksa. Karena, belajar adalah kegiatan seumur hidup.

Setelah mendengarkan pendapat dari saya, Mr Connor pun bercerita tentang seorang anak yang dipaksa oleh orangtuanya untuk mengambil program IB (International Baccalaureate) padahal anak tersebut tidak mau. Akhirnya, anak tersebut menjadi depresi sampai-sampai sekolah menyarankan untuk berkonsultasi dengan psikiater. Bayangkan, soal mudah yang harusnya bisa dikerjakan oleh siapa saja, tidak bisa dikerjakannya. Sepertinya, anak itu menyimpan rasa marah yang sangat mendalam tetapi orangtuanya tidak bisa mengerti.

Memang, inilah yang sering saya khawatirkan saat membahas masalah anak dengan para orangtua. Banyak yang hanya memikirkan perkembangan kemampuan intelektual saja, tapi mengabaikan perkembangan spiritual dan emosional anak. Apakah membesarkan seorang anak hanya untuk memperlihatkan dan membanggakan kepada dunia bahwa anak kita adalah pintar dan hebat? Coba tanyakan kepada diri kita masing-masing, apa sih hal terpenting dalam hidup? Apakah kebahagiaan? Bukankah orang yang bahagia itu biasanya tahu bagaimana menyeimbangkan hidup?

Mr Connor sendiri mengakui bahwa apa yang dipelajari anak-anak Sekolah Menengah zaman kini jauh lebih berat dari masa beliau sekolah dulu. Padahal Mr Connor itu masih termasuk muda, lho. Usianya kemungkin besar masih awal 30-an. Sambil menunjuk nilai Lisa untuk pelajaran “Theory of Knowledge”, Mr Connor menjelaskan bahwa pelajaran ini setaraf dengan Ilmu Filsafat untuk mahasiswa. Dalam hati, saya merasa beruntung karena dulu mau mau ‘repot-repot’ belajar demi sebuah kesadaran agar menjadi tahu dan mau menggali serta tidak berhenti mencari cara terbaik agar anak-anak tidak terbebani dengan kurikulum yang berlaku. Tetapi, bagaimana membuat motivasi belajar mereka bisa tetap bertahan. Sebenarnya, cara yang paling tepat dan mudah adalah dengan menjadi contoh hidup bagi anak-anak kita sendiri.

Terus terang, awalnya saya berpikir hanya akan mengambil rapor saja kemudian langung pulang. Tak disangka perbincangan kami berlangsung sampai tiga puluh lima menit. Akhirnya, saya melangkah keluar kelas dan meninggalkan sekolah dengan suasana hati yang sejuk. Semester lalu, saya juga berkesempatan berbincang dengan guru kelas Lisa sebelumnya, Mr Rey yang berasal dari Filipina. Dari beliau saya banyak mendapatkan informasi tentang sistem pendidikan di sana. Di samping itu, Mr Rey juga menjelaskan tentang tingkatan dalam belajar. Sangat menarik.

Akhir kata, hidup akan terasa menyenangkan jika kita mampu menemukan jawaban dan solusi yang dibutuhkan. Sering kali hal ini malah akan memperluas wawasan kita. Sehingga, kita akan termotivasi untuk terus bertumbuh dan berkembang.

satisfied


Konser Ruang Schola Cantorum

Kamis, Agustus 20, 2009

Senin, 17 Agustus 2009

Hari yang istimewa. Bukan saja karena Indonesia sedang merayakan hari jadinya yang ke-64. Tetapi, untuk kedua kalinya saya ikut konser ruang yang diadakan oleh Schola Cantorum atau biasa disingkat dengan SCHORUM. Nama yang indah bukan? Sebagai informasi, Schorum tempat kami belajar menyanyi ini dipimpin dan dikelola oleh Charles Nasution, seorang guru vokal yang memiliki dedikasi tinggi terhadap bidang yang digelutinya.

Sebenarnya konser ruang mulai dirintis sejak tahun lalu dan diadakan setiap tiga bulan sekali. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada para murid agar bisa tampil di hadapan teman-temannya sendiri. Konser ini awalnya diadakan di Schorum. Akan tetapi, sejak Maret 2009 konser mulai diadakan bergilir di rumah beberapa anggota Schorum.

Awalnya saya merasa tidak enak untuk ikut karena bagi saya, belajar nyanyi hanyalah untuk hobi saja. Lagipula, semua anggota Schorum yang lain terdiri dari anak-anak muda. Beberapa diantaranya bahkan lebih muda dari putri saya, Lisa. Jadi, rasanya ngak enak aja, sih.

Akan tetapi, sejak coba-coba ikut pada awal tahun ini, saya mulai berpikir berbeda. Tidak ada salahnya, kog. Paling tidak saya bisa bertemu dengan banyak anak muda zaman sekarang. Jadi, ada ladang baru buat observasi, nih, sekaligus memberi contoh kepada mereka bahwa ibu-ibu seperti saya masih mau belajar, lho!

Kini, kembali ke hari Senin yang lalu. Pukul 10.30 pagi, ditemani Lisa, kami segera menuju lokasi. Ketika memasuki perumahan yang dituju, saya bertanya kepada Satpam di mana lokasi blok yang dicari. Saya tidak menyebutkan nama jalan karena berpikir blok saja sudah cukup. Akibatnya, saya pun kesasar sampai jauh ke belakang perumahan dan ternyata rumah yang dituju adalah sebidang tanah kosong.

Terpaksa jua saya kembali ke pintu masuk dan bertanya sekali lagi. Saya baru tahu bahwa perumahan tersebut terdiri dari kompleks lama dan baru. Jadi, nama jalan juga penting untuk disebutkan. Yah, selalu saja ada hal baru yang bisa dipelajari dari setiap kesalahan, bukan?

Saat konser dimulai, satu per satu ke depan menyanyi sesuai dengan urutan yang dipanggil. Saya mendapatkan kesempatan kedua dan lagu yang saya bawakan adalah ‘Annie’s Song’-nya John Denver. Saya juga merasa terhibur dengan lagu-lagu yang dibawakan oleh anggota yang lain. Senang juga bisa melihat anak-anak muda dengan serius belajar menyanyi dan siap untuk tampil.

Seperti biasa, puncak acara adalah mendengarkan suara emas-nya guru kami yang biasanya anak-anak panggil Abang atau Kakak. Bagi kami semua, Charles Nasution adalah sosok yang luar biasa. Saat menyanyi, suaranya pun benar-benar memukau. Dan, itu didapatkan dengan terus berlatih dan berlatih. Percaya atau tidak, sampai hari ini, Charles masih tetap belajar dengan gurunya yang sudah bersamanya selama delapan belas tahun. Unbelievalbe! Rasanya rugi deh kalau belum pernah mendengarkan suara emas beliau.

Sebelum Abang menyanyi, beliau memberitahukan sebuah kabar duka. Salah seorang anggota Keluarga Besar SCHOLA CANTORUM yang bernama Olive meninggal dunia dalam usia 24 tahun. Setamat dari Fakultas Kedokteran UI, Olive minta ditempatkan di PTT Ambon dan baru tiga bulan berada di sana. Tak diduga Olive terkena peluru nyasar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab di sana.

Kami semua merasa sedih… sedih dan pedih sekali. Olive bukan hanya menjadi dokter saja, tapi dia juga mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak kecil di daerah terpencil sana. Bayangkan, Olive mau hidup dan berbakti jauh dari keramaian dan kenyamanan kota besar. Di sana, untuk mandi saja harus mengambil air sejauh dua kilometer. Dan, Olive meninggal hanya karena keteledoran seseorang. Semoga Olive diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan amal dan ibadahnya. Semoga keluarga yang ditinggalkan juga diberi ketabahan dalam menghadapi dan menjalani cobaan ini.

Akhirnya, lagu yang dibawakan Abang berjudul ‘BUKAN CINTA BIASA’ – Afghan menjadi penutup konser sore itu. Bahkan setelah lagu selesai dipersembahkan, ada yang sampai menangis karena terharu. Hanya ada dua kata yang bisa menjelaskan performance Charles pada sore itu… LUAR BIASA! Kami bangga punya guru seperti Abang.

IMG_9495IMG_9498


Mengajar Anak Jalanan

Rabu, Agustus 19, 2009

A picture speaks a thousand words. ~ An early Emperor of the Xia Dynasty in China about 4,000 years ago.

Sudah dua kali ini, setiap hari Minggu siang, putri saya, Lisa ikut mengajar anak-anak jalanan di bawah sebuah jembatan layang di daerah Jakarta Barat. Program pelayanan masyarakat ini termasuk kurikulum sekolah untuk dua puluh tujuh jam dan diadakan di luar jam sekolah. Sebagai orangtua, tentu saja saya merasa senang dan berharap hal ini akan membantu meningkatan kesadaran peduli sosial dalam diri seorang anak.

Lisa bercerita bahwa anak-anak tersebut sangat pintar berhitung. Maklum, setiap hari mereka menghitung uang yang didapat dari mengamen atau meminta di persimpangan lampu merah. Akan tetapi, tantangan terasa lebih berat jika harus mengajar mereka membaca.

Yang tidak pernah saya duga adalah saat saya menemukan foto-foto di bawah ini dalam kamera Lisa. Waktu itu saya hanya ingin melihat foto-foto yang baru di-shoot Lisa saat menyanyi di acara ‘Konser Ruang’ yang diadakan pada hari Senin yang lalu. Rasanya, foto-foto saya menjadi tidak penting lagi setelah saya ‘menemukan’ foto-foto Lisa bersama murid-murid barunya. Selanjutnya, saya pun meminta izin Lisa agar boleh memakai beberapa dari fotonya untuk dimuat dalam tulisan ini. Terima kasih, Lisa!

Saat saya bertanya, “Siapa yang menjepret saat Lisa ikut berfoto bersama mereka?” Jawabannya adalah, “ANAK-ANAK itu, Ma! Mereka ingin mencobanya.” Wow! Dalam hati, saya hanya bisa menggumam, “Tidak percuma mama membelikan tustel tersebut untukmu, Nak. Bukan keindahan fotonya yang mama suka, tetapi saat-saat penting yang terekam kamera itulah yang kelak akan mengisi lembaran kenangan hidupmu, Nak.”

IMG_9246IMG_9248IMG_9453IMG_9252IMG_9255

IMG_9456IMG_9471IMG_9476


Akhirnya, ITB!

Jumat, Juni 19, 2009

IMG_5737Setelah menjalani tes saringan masuk ITB (Institut Tehnologi Bandung) di Bumi Serpong Damai sekitar tiga bulan yang lalu, Eric sangat yakin kalau dia tidak akan lulus. Mengetahui hal itu, dengan enteng dan optimis, suami saya berkata, “Tidak apa-apa, Ric. Masih ada kesempatan berikutnya di Bandung.” Singkat cerita, selesai menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN), Eric pun mulai fokus untuk ITB. Salah satu usahanya adalah ikut bimbingan belajar selama 17 hari di Bandung. Dan, belajar dari kegagalan yang lalu, kali ini Eric mempersiapkan diri dengan lebih matang agar bisa lolos tes yang dilaksanakan pada tanggal 30 & 31 Mei yang lalu di Bandung.

Selesai tes, Eric lebih yakin dan optimis bisa diterima karena hampir semua soal dapat diselesaikan dengan baik. Walaupun begitu, kami tidak berani berharap banyak. Lulus atau tidak lulus bukanlah hal yang utama. Tetapi, usaha dan kerja keras untuk mencapai target itulah yang lebih penting. Karena Eric ingin sekali kuliah di ITB, maka kali ini dia memasukkan pilihan kedua dan ketiga saat mengisi formulir pendaftaran. Pilihan utama tetap Fakultas Elektro & TI (Tehnologi Informasi). Berikutnya, Fakultas Tehnik Industri sebagai pilihan kedua dan Fakultas MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) sebagai pilihan ketiga.

Sambil menunggu pengumuman, Eric memiliki waktu yang cukup panjang untuk mempertimbangkan apakah tetap akan mengambil MIPA di ITB jika lulus untuk pilihan ketiga atau kuliah di UI (Universitas Indonesia) jurusan TI. Untuk informasi, walaupun Eric sudah lulus dan diterima di UI pada pertengahan Maret lalu,  tekadnya untuk kuliah di ITB tetap tidak surut. Dan, sebagai orangtua, kami tidak akan mempengaruhi keputusan Eric. Sebaliknya, kami akan menghargai dan menghormati apa pun yang akan Eric pilih.

Akhirnya, tanggal dan waktu yang ditunggu-tunggu itu datang juga. Hasil tes akan diumumkan tanggal 12 Juni 2009, jam 7 malam WIB (Waktu Indonesia Barat). Kebetulan, saat itu kami sekeluarga sedang liburan di Singapore (10 – 15 Juni 2009). Jadi, pada tanggal 12 pagi, Eric sudah wanti-wanti kalau jam 8 malam waktu Singapore, kami sudah harus tiba di rumah saudara sepupu suami di Queenstown agar dapat mengakses internet. Dan, tidak boleh terlambat! Daripada hanya menunggu, setelah makan siang, kami mengunjungi National University of Singapore (NUS) dan mampir cukup lama di museumnya. Dari sana, sekitar pukul 5.30 sore waktu Singapore, kami segera meninggalkan NUS dan menuju City Hall Interchange. Di sini kami berpisah dengan Lisa yang akan meneruskan perjalanan ke Orchad Road untuk bertemu seorang temannya yang sedang kuliah di Singapore.

Setelah makan malam di Raffles Mall, kami pun menuju apartemen saudara di Mei Ling Street daerah Queenstown. Tepat jam delapan, kami tiba di sana dan segera dipinjamkan laptop agar dapat mengakses internet. Terus terang, walaupun sudah siap dengan kemungkinan yang terburuk, tetap saja saya merasa khawatir dan tidak tega jika Eric harus menerima kabar buruk. Ibu mana, sih, yang tega melihat anaknya kecewa? Namun, saya berupaya untuk tetap tegar dan siap-siap memilih kata-kata yang tepat untuk menghibur Eric jika dia tidak lulus masuk ITB. Sebenarnya, Eric sendiri cukup optimis dapat diterima di ITB, hanya tidak yakin jurusannya. Syarat untuk masuk ke Fakultas pilihan utamanya yaitu Elektro & TI adalah yang terberat. Jadi untuk dapat diterima, hasil tes akademis dan psikotes harus benar-benar bagus.

Akhirnya, setelah membaca hasil pengumuman, dengan tenang Eric berkata, “Aku diterima di Fakultas Elektro & TI, lho.” Saya hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar saat itu dan meminta Eric untuk membaca sekali lagi dengan lebih teliti. Akhirnya, kami pun yakin, lega dan sangat bersyukur kepada Tuhan. Buah yang manis adalah hasil dari keuletan dan kerja keras. Persiapan yang lebih baik pasti memberikan hasil yang lebih baik. Tidak lama kemudian, Lisa menelpon Eric karena ingin tahu apakah kokonya lulus atau tidak. Lisa juga ikut senang ketika tahu Eric lolos ke ITB.

Tentu saja, tantangan belum akan berakhir sampai di sini. Eric tetap harus berusaha sebaik-baiknya agar saat pembagian jurusan di awal tahun kedua, dia bisa diterima di jurusan yang diinginkan yaitu TI. Syarat untuk masuk TI lebih berat dari Elektro. Jadi, hanya mahasiswa-mahasiswa yang nilainya memenuhi syarat saja yang akan diterima masuk TI.

Tanggal 16 Juni, sehari setelah kami kembali ke Jakarta, seluruh murid kelas 12 tempat Eric bersekolah dinyatakan lulus UAN (Ujian Akhir Nasional) 100%. Nilai-nilai Eric pun sangat baik yaitu:

  • Bahasa Indonesia =80
  • Bahasa Inggris = 86
  • Matematika = 100
  • Fisika = 95
  • Kimia = 92,5
  • Biologi = 75
  • Rata-rata =  528,5 :  6 = 88
  • Nilai-nilai Eric memang membuat kami bangga. Tetapi, yang lebih membanggakan adalah beberapa hari ini, Eric mau memanfaatkan waktu luangnya untuk membimbing dua orang temannya yang sedang mempersiapkan diri untuk tes masuk Unpar (Universitas Pajajaran) Bandung yang akan berlangsung akhir minggu ini.

    Selamat, Eric! Papa dan mama bangga dengan kerja keras kamu selama ini. Buah yang manis adalah hasil dari usaha yang konsisten selama bertahun-tahun. Semoga Eric tetap rendah hati dan teruslah berbagi ilmu dengan mengajar. Semoga sukses mencapai cita-citanya, Nak!


    Jalan Menuju Universitas

    Minggu, April 12, 2009

    Jika anak anda duduk di kelas dua belas atau kelas tiga Sekolah Menengah Atas (SMA), apa yang paling membuat hati anda dag dig dug saat ini? Anak-anak akan kuliah di mana, mengambil jurusan apa, dan berapa biaya yang harus kita siapkan untuk melancarkan jalan mereka ke universitas pilihan. Setuju? Putraku Eric termasuk salah satu yang masih akan berjuang untuk meraih impiannya kuliah di sebuah universitas terkenal di tanah air. Jurusan yang dipilih adalah Tehnologi Informasi (IT). Alasannya: Dia sangat menyukai Matematika dan Komputer.

    Sebenarnya, di bulan Nopember 2008 Eric sudah diterima sebagai mahasiswa jurusan IT di Universitas Bina Nusantara (BINUS) melalui program SPMB yang ditawarkan kepadanya. Gratis uang pangkal dan hanya membayar uang kuliah saja. Batas waktu pembayaran pertama sebesar Rp 2.000.000 adalah di bulan Januari 2009. Sebelum membayarkan uang tersebut ke BINUS, aku sempat bertanya apakah dia mau mencoba test masuk UI atau ITB. Karena Eric tidak yakin, maka dia pun meminta kami membayar Rp 2.000.000 tersebut.

    Menjelang batas akhir pembayaran uang kuliah di BINUS, Eric berubah pikiran. Dengan berani, dia melepaskan kesempatan kuliah yang sudah ada di depan mata itu karena ingin mencoba masuk UI atau ITB. Mungkin karena dia tidak mau kalah dari teman-temannya yang sama-sama hendak mencoba peruntungan untuk masuk ke universitas yang paling bergengsi di tanah air tersebut. Dengan penuh keyakinan, Eric pun mengurus segala keperluan untuk mendaftarkan diri ikut seleksi SIMAK UI dan PMBP ITB. Disamping itu, dia juga dipanggil ikut saringan program bea siswa untuk belajar di universitas terkenal di Singapore yaitu NTS dan NUS.

    Jadwal tes dimulai dari minggu ketiga bulan Februari sampai dengan pertengahan bulan Maret. Di samping itu, di bulan Maret ada ujian blok di sekolah. Jadi, bulan-bulan yang cukup melelahkan bagi Eric. Seperti biasa, Eric tetap penuh semangat dan antusias menghadapi tes-tes tersebut. Sehari sebelum tes penyaringan ITB di Bumi Serpong Damai (BSD), Eric terserang panas tinggi karena kecapaian. Walaupun demikian, dia tetap ikut ujian di BSB selama dua hari berturut-turut. Khusus untuk ITB, pada waktu pendaftaran, kami sudah tahu bahwa jika tidak lulus ujian saringan pertama, masih ada kesempatan kedua di Bandung pada akhir Mei. Setelah tes, Eric mengaku kalau dia mengalami kesulitan untuk menyelesaikan seluruh soal ujian. Jadi, harapan untuk lulus pada gelombang pertama adalah kecil. Sebenarnya hatiku sempat menciut karena mana ada seorang ibu yang ingin melihat anaknya gagal. Walaupun sering kali kegagalan itu adalah guru yang terbaik. Namun, dengan tenang Eric meyakinkanku: “Tidak apa-apa, Ma. Masih ada kesempatan kedua di Bandung.”

    Sebelum hasil tes diumumkan, Eric memberitahukan kepada kami bahwa dia lebih ingin kuliah di Bandung. Lagipula, untuk jurusan IT, ITB-lah yang terbaik. Sekarang saatnya mendengar pengumuman. Awal April ini, Eric diberitahu bahwa dia tidak lulus tes saringan untuk kuliah di Singapore. Tanggal 6 April, dengan gembira Eric memberitahukan kepada kami bahwa dia lolos dan diterima di UI, jurusan IT. Kami sangat bangga karena dari sekian puluh ribu dari calon mahasiswa yang mendaftar, Eric termasuk salah satu yang lulus. Kemudian, pada tanggal 8 April, keluarlah pengumuman dari ITB. Dan benar, Eric TIDAK LULUS. Namun, karena tekad baja dan mental pantang menyerah yang dia miliki, dia tetap tidak goyah dan ingin menggunakan kesempatan kedua dan terakhirnya di Bandung. Belajar dari kegagalan pertama, Eric ingin lebih siap lagi menghadapi ujian saringan kedua nanti di Bandung.

    Tanggal 11 Mei adalah batas pembayaran cicilan pertama UI. Dan tentu saja, Eric pasti tidak mau melepaskan kesempatan emas ini seandainya tes masuk ITB gagal lagi di Bandung nantinya. Jadi, kami pun harus membayar uang sebesar Rp 13.700.000 agar status mahasiswa Eric di UI tidak dicoret. Uang tersebut pasti akan hangus jika seandainya Eric diterima di ITB karena pilihan pertamanya adalah kuliah di ITB jurusan IT. Kami sudah membuang Rp 2.000.000 ketika menolak BINUS. Sekarang kami kembali mempertaruhkan Rp 13.700.000 demi tidak kehilangan tempat di UI. Apa boleh buat, kami pun harus merelakan uang tersebut. Karena, siapa yang tidak ingin anaknya kuliah di perguruan tinggi terkenal di tanah air? Apalagi dengan lulus saringan dari sekian puluh ribu calon mahasiswa di 37 kota di tanah air.

    Tadi pagi ketika kami duduk bersama di meja makan, Eric meminta bantuan saya agar mau membimbing dia belajar bahasa Inggris.

    “Ma, setelah Eric selesai UAN (Ujian Akhir Sekolah) akhir April ini, mama tolong ajari aku Bahasa Inggris, ya? Kalau tidak salah mama punya buku grammar yang lengkap ‘kan?”

    “Iya, mama pasti akan membantu Eric. Apa Eric yakin bisa lulus tes ITB di Bandung nanti?” Eric terdiam. Aku pun mengganti pertanyaanku: “Eric yakin mau mencoba sekali lagi.”

    “Iya, Ma. Eric akan mencoba lagi. Eric akan berusaha semaksimal mungkin dan Eric sudah siap juga kalau harus kuliah di UI saja. Eric hanya mau menggunakan kesempatan yang ada supaya tidak menyesal nanti. Kalau Eric sudah coba dan ternyata tidak berhasil, ya sudah. Tidak apa-apa.”

    “OK. Selamat berjuang, Nak. Mama akan selalu mendukungmu.”

    Aku sungguh bangga dengan keteguhan dan sikap pantang menyerah putraku ini. Dia sering diutus sekolah untuk ikut perlombaaan Matematika. Keinginan untuk kuliah di Bandung timbul karena Eric pernah dua kali mewakili sekolah ikut lomba Matematika di Universitas Parahyangan Bandung. Walaupun selama ini, Eric mungkin hanya pernah menang satu atau dua kali saja, tetapi dia tidak pernah putus asa. Dalam kamus hidupnya, tidak ada kata menyerah selagi masih ada harapan dan kesempatan. Bagi kami, bisa lulus Ujian Saringan UI saja sudah membuat kami bangga. Namun jika ITB adalah pilihan utamanya, kami pun akan mendukung. Pengalaman menjalani bermacam-macam tes sebelum menuju universitas pasti akan sangat berguna untuk mengasah mentalnya. Lakukan apa yang kamu yakini, Nak. Karena masa depan terletak di tanganmu. Dan, kamu sendirilah yang akan menjalaninya. Semoga berhasil.


    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.