Anak-anak Belajar dari Apa yang Mereka Alami dalam Kehidupan Ini

Jumat, April 30, 2010

Setelah bertahun-tahun berkutat dengan urusan pengasuhan anak, akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan, yaitu masalah yang terjadi pada anak-anak kita di kemudian hari, sangat berkaitan dengan cara mereka dididik dan dibesarkan dalam sebuah keluarga. Jika mau meluangkan waktu untuk menyimak dan menghayati hal-hal yang terjadi di seputar urusan membesarkan anak, maka kita akan mendapatkan satu benang merah, yaitu anak-anak belajar dari apa yang mereka alami dalam kehidupan ini.

Saat hendak beranjak tidur pada pukul sepuluh tadi malam, telepon di rumah berdering. Oh, ternyata dari seorang kerabat dekat keluarga suami. Saya langsung bisa menebak kalau orang tersebut pasti bermasalah lagi dengan anaknya. Ternyata benar! Mendengar ceritanya yang panjang lebar membuat saya sampai menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak percaya.

Bagaimana mungkin! Orang tersebut, yang sadar dan tahu kalau anaknya telah bersikap kurang ajar terhadapnya, masih tetap berusaha untuk melindungi karena tidak ingin anaknya tersakiti dan terluka. Pantesan, anak tersebut tidak pernah belajar untuk menghormati dan menghargainya. Yang ada, anaknya hanya bisa selalu menuntut dan menekan orangtua tersebut agar mau memenuhi segala keinginan dan kebutuhannya. Sungguh memprihatinkan!

Apa yang bisa saya lakukan untuk membantunya? Tentu saja tidak ada kalau dia sendiri tidak punya ketegasan dan ketegaran dalam menghadapi anaknya tersebut. Rasanya, apa yang terjadi dengan keluarga tersebut sudah seperti sebuah lingkarang setan – terus tersendat-sendat pada masalah yang sama sehingga tidak pernah setapak pun beranjak dari keadaan semula. Kalau saya boleh bilang, sepertinya mereka seakan terperosok ke sebuah lubang yang semakin dalam.

Kenapa demikian? Biasanya, ketika menghadapi masalah, orang cenderung untuk mencari jalan pintas  saat mencari jalan keluar. Maunya cepat dan tepat tanpa ingin melalui sebuah proses. Akibatnya, masalah sulit menjadi tuntas sampai ke akar-akarnya. Jadi, tak perlu heran kalau akhirnya masalah yang sama seringkali kambuh bagaikan penyakit yang sudah kronis atau menahun.

Sebenarnya, yang terbaik bagi para orangtua adalah melatih diri untuk mengantisipasi masalah sebelum masalah itu sendiri ada di depan mata. Atau saat masih tergolong ringan, berusahalah untuk mencari solusi agar masalah jadi terselesaikan sehingga tidak membesar atau tidak bertambah parah.

Sebagai bahan renungan dan syukur-syukur kalau bisa diterapkan saat berinteraksi dengan anak-anak yang sedang kita besarkan, berikut adalah puisi klasik indah yang ditulis oleh Dorothy Law Nolte yang judul aslinya adalah “Children Learn What They Live” – Anak-anak Belajar dari Apa yang Mereka Alami dalam Kehidupan Ini.

  • Kalau anak-anak banyak dikritik dalam kehidupannya, mereka akan belajar mengutuk.
  • Kalau anak-anak banyak mengalami permusuhan dalam kehidupannya, mereka akan belajar berseteru.
  • Kalau anak-anak banyak mengalami ketakutan dalam kehidupannya, mereka akan belajar prihatin.
  • Kalau anak-anak banyak dikasihani dalam kehidupannya, mereka akan belajar merasa kasihan pada diri sendiri.
  • Kalau anak-anak banyak dicemooh dalam kehidupannya, mereka akan belajar menjadi pemalu.
  • Kalau anak-anak banyak mengalami kecemburuan dalam kehidupannya, mereka akan belajar iri hati.
  • Kalau anak-anak banyak mengalami hal yang memalukan dalam kehidupannya, mereka akan belajar merasa bersalah.
  • Kalau anak-anak banyak diberikan dorongan dalam kehidupannya, mereka akan belajar percaya diri.
  • Kalau anak-anak merasakan toleransi dalam kehidupannya, mereka akan belajar sabar.
  • Kalaui anak-anak banyak dipuji dalam kehidupannya, mereka akan belajar menghargai.
  • Kalau anak-anak merasa diterima dalam kehidupannya, mereka akan belajar mengasihi.
  • Kalau anak-anak merasa didukung dalam kehidupannya, mereka akan belajar menyukai diri sendiri.
  • Kalau anak-anak merasa diakui dalam kehidupannya, mereka akan belajar bahwa mempunyai sasaran itu baik.
  • Kalau anak-anak dibiasakan berbagi dalam kehidupannya, mereka akan belajar bermurah hati.
  • Kalau anak-anak dibiasakan jujur dalam kehidupannya, mereka akan belajar mengatakan yang sebenarnya.
  • Kalau anak-anak merasakan keadilan dalam kehidupannya, mereka akan belajar bersikap adil.
  • Kalau anak-anak banyak diberikan kemurahan dan pertimbangan dalam kehidupannya, mereka akan belajar menghormati.
  • Kalau anak-anak merasa tenteram dalam kehidupannya, mereka akan percaya kapada diri sendiri maupun orang-orang di sekeliling mereka.
  • Kalau anak-anak merasakan persahabatan dalam kehidupannya, mereka akan belajar bahwa dunia ini tempat tinggal yang menyenangkan.

~ Doroty Law Nolte

Akhir kata, anak-anak sungguh belajar dari apa yang terjadi dalam kehidupan mereka. Kemudian mereka akan tumbuh dengan mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari dan yakini. Jadi, adalah tugas kita sebagai orangtua untuk memastikan bahwa proses pembelajaran anak-anak berada di jalur yang tepat.


Membesarkan Anak Laki-Laki

Rabu, Februari 24, 2010

Pagi ini saya ditelpon oleh seorang ibu yang tidak saya kenal sebelumnya. Namanya Liana (bukan nama sebenarnya). Liana mendapatkan nomor telepon dan materi seminar saya dari seorang teman yang pernah hadir di seminar parenting saya di salah satu sekolah di Tangerang. Setelah mendengar keluh-kesah Liana selama beberapa saat, saya pun mulai menebak-nebak kalau yang bermasalah itu adalah anak laki-lakinya. Ternyata dugaan saya benar. Saat menanyakan apa peran ayah dalam membesarkan anak tersebut dan dijawab dengan TIDAK ADA, maka dengan mudah saya dapat menjabarkan akar masalah.

Pada dasarnya, dalam sebuah keluarga, jika peran ibu begitu dominan, sedangkan ayah hampir tidak punya andil dalam pengasuhan anak-anaknya, maka bisa dipastikan bahwa dampak negatif akan sangat terasa dan terlihat nyata pada anak laki-laki saat mereka dewasa nantinya. Setelah mendengar ulasan dan kupasan dari saya, Liana langsung menghubungkannya dengan kenyataan yang ada dalam keluarga besarnya. Liana dan saudara perempuannya sangat mandiri dan dominan, sedangkan saudara laki-lakinya tidak ada yang berhasil. Hal yang sama juga terjadi dalam keluarga suaminya.

Pelajaran berharga yang selama ini saya dapatkan dari buku-buku parenting yang berhubungan dengan kasus-kasus parenting yang ‘datang’ pada saya adalah bahwa masa depan anak-anak kita sangat bergantung kepada cara kita membesarkan dan membimbing anak laki-laki agar kelak menjadi menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan punya sikap terhormat. Karena saya sendiri juga memiliki seorang anak laki-laki, maka ketertarikan akan hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana sepatutnya seorang anak laki-laki dibesarkan tentu saja menarik perhatian saya juga.

Apa yang dibutuhkan anak laki-laki?

1. Pembentukan Karakter

Agar pembentukan karakter anak laki-laki berjalan mulus dan lancar, maka dibutuhkan seorang pemimpin yang bisa menunjukkan arah dan jalan yang tepat serta mengajari anak ilmu kehidupan. Karakter yang kuat akan menumbuhkan jiwa kepimpinan dalam diri seorang anak laki-laki. Dan, ini sangatlah penting karena pemimpin sebuah keluarga seharusnya adalah sang suami. Itulah sebabnya, peran seorang ayah atau laki-laki yang lebih tua lainnya menjadi penting karena untuk tumbuh menjadi laki-laki sejati, anak laki-laki sangat membutuhkan teladan dari laki-laki dewasa.

Perbedaan struktur otak perempuan dan laki-laki juga menjadi salah satu penyebab yang membuat pembentukan karakter akan lebih kuat dan efektif dalam diri anak laki-laki jika dilakukan oleh ayah atau laki-laki dewasa lainnya. Kata-kata dari salah satu buku yang masih saya ingat sampai hari ini adalah: Jika anak laki-laki anda sudah setinggi ibunya, biarkanlah pengajaran ‘ilmu kehidupan’ untuk dirinya diambil alih oleh sang ayah.

Saat ini, yang menjadi masalah utama adalah orangtua menghabiskan terlalu sedikit waktu dengan anak laki-lakinya. Akibatnya, anak laki-laki yang pada dasarnya punya sifat ingin menang, suka berkompetisi dan ingin menjadi bintang ataupun superhero akan lebih condong pada kelompok teman sebaya atau pahlawan yang ditampilkan media. Tanpa adanya teladan dari laki-laki dewasa yang lebih tua untuk membantu anak laki-laki memahami proses pembentukan jati diri yang sedang berlangsung, maka kelak akan timbul banyak masalah dalam keluarga.

Beberapa waktu yang lalu, selesai memberikan seminar di salah satu sekolah di daerah Jakarta Selatan, kepala sekolah minta waktu untuk berbicara sebentar dengan saya. Dia menyampaikan keprihatinannya bahwa seiring meningkatnya persentase orang tua tunggal di sekolah, semakin banyak pula anak didiknya yang bermasalah. Ayah dari anak-anak ini banyak yang pergi begitu saja tanpa kesan dan pesan. Hati saya ikut terenyuh. Jelaslah ini akibat dari kegagalan dalam mendidik anak laki-laki kita. Sehingga ketika dewasa, mereka tidak mampu untuk berkomitmen, mudah lari dari masalah, sampai-sampai tidak mau peduli lagi pada keluarga sendiri.

2. Hubungan yang “tepat” antara ibu dan anak laki-laki

Sepanjang tahap awal kehidupan anak laki-laki, ibu harus mendapatkan dukungan fisik, materi, sosial dan emosional dari pasangan hidupnya, sahabat dan keluarga. Dukungan ini diperlukan untuk pembentukan hubungan yang positif dengan anak laki-lakinya. Dengan dukungan itu, seorang ibu akan mampu menjalin ikatan dan kedekatan dengan anak laki-lakinya sehingga anak tumbuh dengan perasaan layak dicintai. Jika tiba waktunya anak harus berpisah dari sang ibu untuk membangun jati dirinya, maka dia sudah memiliki landasan yang kokoh.

Tanpa adanya dukungan dari orang terdekatnya, ibu cenderung menjadikan anak laki-laki sebagai objek pelampiasan psikologis. Jiwa yang haus tentu tidak akan mampu menyirami hati yang sedang butuh kesejukkan, bukan? Dukungan keluarga yang dimiliki oleh ibu akan membuat anak laki-laki belajar menghargai perempuan.

Saat memasuki usia remaja, seorang anak laki-laki sudah siap berpisah secara psikologis dari ibunya. Ia akan berpindah dari ketergantungan kepada ibu pada tahun-tahun awalnya menju kemandirian emosional selama remaja dan kedewasaan awal untuk kemudian bergerak menuju fase saling tergantung dengan pasangan saat berkeluarga. Jika seorang anak laki-laki tidak berpisah secara psikologis dari ibunya, ia akan sulit menjadi mandiri sehingga akan bermasalah saat membina hubungan dengan pasangannya setelah menikah.

3. Figur Ayah

Seorang ayah yang baik:

  • Harus punya kesadaran untuk menjadi seorang ayah.
  • Harus memiliki jati diri karena bagaimana mungkin seorang ayah bisa membesarkan anak laki-lakinya jika ia adalah ayah yang tidak memiliki jati diri, tertutup dan tidak matang?
  • Harus belajar cara berkomunikasi dengan anak laki-laki yang ia besarkan.
  • Mau mempelajari keahlian-keahlian baru untuk mengikuti pertumbuhan dan perkembangan anak laki-lakinya.
  • Harus tahu kapan saatnya melepaskan anaknya seraya tetap menjadi teladan/panutan.

Kembali kepada kasus Liana pada awal tulisan ini. Anak laki-laki tertuanya saat ini duduk di kelas satu Sekolah Menengah Atas untuk kedua kalinya karena tidak naik kelas di tahun sebelumnya. Walaupun sudah mengulang, tetap saja nilainya tidak baik sehingga ada kemungkinan harus keluar dari sekolah tersebut. Ayah yang lemah dan tidak mampu berperan layaknya seorang ayah walaupun secara fisik hadir di tengah-tengah keluarga telah membuat tugas Liana sebagai seorang Ibu menjadi semakin sulit dan berat.

Terakhir, ada satu hal penting lagi yang saya tanyakan pada Liana. Apakah anaknya suka main game? Ketika jawabannya iya maka semakin lengkapkah keterpurukan yang mungkin terbayangkan dalam benak ini. Apa yang akan terjadi dengan masa depan anak yang tidak bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri? Ketika tidak ada kesadaran diri mungkinkah terbentuk kontrol diri? Saat kontrol diri tidak ada, apakah jika dewasa nanti akan mampu jadi kepala keluarga yang siap membimbing anak-anaknya?

Terus terang, anak laki-laki yang tidak dibesarkan dengan baik bukan hanya menciptakan beban tambahan bagi keluarganya tapi juga akan memperberat masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat. Kekerasan dalam rumah tangga akan semakin banyak terjadi dan tingkat kriminalitas pasti akan terus meningkat. Sehingga, jika kita ingin menghindari masalah yang lebih runyam untuk masa yang akan datang, mulai saat ini perhatikan dan berikanlah yang terbaik bagi anak laki-laki kita di rumah. Agar kelak mereka siap menjadi laki-laki dewasa sejati.


Prihatin

Minggu, Januari 24, 2010

Bagi anda yang sudah membaca posting ‘Anda Menuai Apa yang Anda Tanam’, inilah lanjutan kisahnya…

Kemarin, saya menghabiskan waktu lebih dari dua jam berbicara dengan Pak Alex, Bu Alex dan putrinya, Shirley. Pak Alex ada di Jakarta, sedangkan Bu Alex dan Shirley di Australia. Pokok bahasan tentang keinginan Shirley yang ingin kembali dan meneruskan kuliah fashion di Jakarta. Karena, prospek dunia fashion di Jakarta lebih menjanjikan daripada di kota tempat tinggalnya di Australia. Alasan lain yang tidak kalah penting, Shirley sudah tidak tahan lagi hidup satu atap bersama adiknnya, Jimmy. Tidak ada kecocokan diantara mereka berdua sehingga yang terjadi hanyalah cekcok yang tak berujung. Saat ini, untuk menghindari konflik, mereka sudah hampir tidak bertegur sapa dan tidak ingin berada di ruangan yang sama jika sedang di rumah. Apakah keadaan sudah sedemikian parah? Kalau iya, sungguh memprihatinkan, bukan?

Masih segar dalam ingatan, saat telepon rumah berdering tanggal 15 Januari siang… Melihat nomor telepon yang masuk, saya tahu itu dari Pak Alex yang ingin mengajak putrinya, Shirley ke rumah agar bisa diajak bicara dari hati ke hati. Setelah mengiyakan, saya sempat bertanya tentang putranya, Jimmy. Hati saya sedikit lega ketika Pak Alex mengatakan bahwa sejak pulang dari rumah saya malam itu, Jimmy yang biasanya hanya bisa merengut, kini sudah bisa tersenyum.

Walaupun demikian, saya sangat yakin bahwa masalah yang sudah kronis tidak akan mungkin terselesaikan hanya dengan sebuah senyuman. Masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk membuat keadaan sedikit membaik. Untuk itu, dibutuhkan komitmen, konsistensi dan fokus pada pokok masalah. Sebenarnya, saya sendiri ragu… Mengingat usia Pak Alex dan istrinya yang sudah tidak muda lagi, apakah mereka masih punya cukup tenaga untuk melakukan terobosan agar bisa keluar dari cara-cara lama yang telah membuat sendi-sendi parenting keluarga ini menjadi rapuh? Tapi, tentu saja saya tidak boleh memvonis begitu saja. Kita harus mencoba dan berusaha semaksimal mungkin sebelum menyerah. Setuju ‘kan?

Kembali kepada persoalan Shirley. Waktu yang kami sepakati malam tanggal 15 Januari itu adalah jam 10 karena Shirley masih ada acara makan malam dengan teman-temannya. Juga, malam itu adalah detik-detik terakhir sebelum keluarga Pak Alex kembali ke Australia karena liburan telah usai. Jam empat pagi keluarga Pak Alex sudah harus berangkat ke bandara untuk kembali ke Australia.

Saya bisa merasakan bahwa hanya Pak Alex saja yang paling antusias dan ngotot ingin keluar prahara yang sedang menaungi keluarganya sehingga ia yang selalu memaksa anak-anak dan istrinya untuk saya coach. Makanya, saya tidak sampai hati jika harus menolak permintaan Pak Alex.

Akhirnya, lewat pukul 11 malam barulah Pak Alex memberitahu bahwa Shirley baru saja tiba di rumah dan pasti sudah kemalaman jika harus ke rumah saya. Tapi, Pak Alex memohon dan meminta saya untuk berbicara dengan Shirley via telepon saja. Awalnya saya sudah menolak dengan halus karena pasti akan sulit memulai percakapan dengan orang yang selama ini belum pernah sekalipun bertatap muka dengan saya. Disamping itu, kekuatan mata saya sudah tinggal 5 watt saja. Dan, dalam keadaan ngantuk, apa mungkin masih bisa jadi pendengar yang baik dan berpikir jernih? Tapi, kog hati ini ngak tega juga ya jika harus menolak orang yang sedang dalam kesulitan dan menjerit minta tolong?

Apa mau dikata! Malam itu, saya mencoba menahan kantuk sekuat tenaga. Pembicaraan dengan Shirley berlangsung sampai dua jam. Shirley sempat menangis, tapi akhirnya dia merasa plong karena bisa mengeluarkan semua uneg-unegnya. Jika adiknya Jimmy ingin mati saja karena merasa hidup sudah tak ada artinya, maka keinginan terpendam Shirley adalah lari dari rumah agar bebas dan lepas dari lingkaran setan yang membelenggu.

Sementara itu, bagi saya, semakin lengkap cerita yang didapatkan dari keempat anggota keluarga Pak Alex, semakin jelas dan nyata bahwa kehancuran yang terjadi adalah akibat dari cara parenting yang salah. Antara lain:

  1. Anak-anak terlalu dilindungi dan dimanja sehingga tidak mandiri.
  2. Luka batin anak-anak adalah akibat dari kata-kata yang tidak pantas dari kedua orangtua yang sering tidak bisa mengontrol emosi saat sedang putus asa atau frustrasi menghadapi anak-anaknya.
  3. Kedua anak Pak Alex sangat materialistis dan selalu menuntut Papanya untuk membelikan barang-barang mahal. Padahal, usaha Pak Alex masih dalam perjuangan dan belum sepenuhnya berhasil. Masalah menjadi berat karena Pak Alex gampang mengiyakan jika anak-anaknya meminta barang-barang mahal yang lebih sering tidak  dapat dipenuhinya.
  4. Orangtua merasa punya hak untuk mengontrol hidup anak-anaknya. Akibatnya, anak-anak sering diancam jika tidak mau menuruti kehendak orangtua.

Akibatnya, keinginan Shirley untuk kembali tinggal di Jakarta mengakibatkan keluarga ini tidak siap secara mental dan finansial. Ini tidak akan menjadi masalah besar jika Shirley mau berpijak pada tanah. Tapi, belum apa-apa,  Shirley sudah meminta Papanya untuk membeli rumah mewah demi gengsi dan sebuah mobil agar tidak perlu naik kendaraan umum. Celakanya lagi, Pak Alex dengan enteng telah menyanggupi dan dalam waktu enam bulan pasti akan mampu mengabulkan permintaan putrinya. Pak Alex sangat yakin kalau dalam enam bulan asetnya pasti laku terjual.

Saya sungguh prihatin saat mendapatkan kenyataan bahwa Pak Alex ingin buru-buru membereskan masalah di keluarganya sehingga mengabaikan aspek rasional dari sebuah persoalan. Karena irasional, maka kemampuan untuk berpikir jernih jelas terabaikan. Sehingga, untuk membantu Pak Alex, saya pun mengajukan beberapa pertanyaan:

  1. Pak Alex yakin fixed asset tersebut bisa laku dalam enam bulan?
  2. Kemudian, setelah terjual, apakah langsung bisa mendapatkan rumah idaman? Selama ini, Pak Alex tinggal di rumah saudaranya. Rumah yang dulu mereka tinggali di Jakarta sudah dijual dan uangnya sudah dipakai untuk membeli apartemen di Australia.
  3. Apakah Pak Alex sudah memperhitungakan berapa biaya tambahan yang akan dikeluarkan jika Shirley tinggal di Jakarta?
  4. Saat ini Shirley sudah berusia 23 tahun. Kalau mau kuliah fashion lagi di Jakarta sekitar 3-4 tahun, apa sudah diperhitungkan kapan baru bisa memulai karir? Dan, berapa biaya yang harus disediakan untuk membiayai kuliah tersebut?
  5. Berdasarkan informasi dari Pak Alex bahwa jika usahanya maju maka Shirley juga bersedia meneruskan usaha yang sedang dirintisnya jika sudah jalan dan berhasil. Yang penting mana yang bisa menghasilkan uang lebih cepat. Usaha tersebut tentu saja sangat jauh dari urusan fashion. Karena itulah, saya tanya Pak Alex, apakah Shirley benar-benar dan sungguh-sungguh tertarik di bidang fashion? Sebab jika tidak, apa Pak Alex tidak menyesal buang banyak uang untuk membiayai kuliah Shirley di sebuah sekolah fashion ternama di Jakarta?

Kelima pertanyaan diatas paling tidak membuat Pak Alex seakan tersadar bahwa sebuah keputusan penting harus dipertimbangkan secara matang. Hal ini tentu saja agar tidak keluar dari mulut harimau untuk kemudian masuk ke dalam mulut buaya. Akan sulit jika hanya memikirkan sesuatu yang seolah-olah baik untuk Shirley, tapi harus mengorbankan keuangan keluarga secara keseluruhan. Shirley bukanlah seorang yang teguh, tangguh dan tahan banting. Jadi apakah mungkin ia memiliki kekuatan dan spirit yang dibutuhkan dalam berjuang untuk menggapai impiannya? Waktu jualah yang akan membuktikan.

Saya jelaskan kepada Pak Alex bahwa keputusan yang mendadak jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dan, terus terang, saat ini kondisi keuangan Pak Alex belum memungkinkan karena masih harus menunggu penjualan aset dan keberhasilan usaha yang sedang dirintis.

Jika saya dihadapkan dengan pertanyaan apakah keluarga Pak Alex bisa keluar dari prahara parenting yang sudah terlanjur salah kaprah ini? Jawabannya adalah: SULIT! Tapi, bukan berarti tidak bisa ‘kan? Kalau ingin berhasil, dibutuhkan kesadaran tinggi, tekad yang tidak pernah padam dan kerja keras. Tentu saja, akan jauh lebih mudah membentuk dan mendidik anak yang masih kecil daripada merubah seorang yang sudah masuk kategori usia dewasa. Di samping itu, meminta orangtua yang sudah berusia 50-an dan 60-an untuk berubah, tentu bukan sebuah perkara mudah bukan?

Saya sendiri sangat bersyukur telah diberi kepercayaan untuk ikut menyumbangkan pikiran dalam menangani kasus Pak Alex yang tergolong berat ini. Bagi saya, mau dan mampu berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan orang lain telah memberikan nilai tambah bagi diri saya sendiri. Banyak manfaat yang bisa dipetik ketika kita berbagi. Bukankah gaung yang dikumandangkan akan lebih nyaring terdengar di telinga kita sendiri?

Life Coaching


Anda Menuai Apa yang Anda Tanam

Selasa, Januari 5, 2010

Menjadi orangtua masa kini bukan lagi suatu perkara mudah. Masa depan anak-anak yang kita besarkan sangat tergantung pada bagaimana kita menjalankan peran kita sebagai orangtua. Jika hanya mengandalkan naluri dan terpaku pada cara-cara lama yang kita dapatkan dari orangtua zaman dulu, maka besar kemungkinan kita akan dihadapkan pada cukup banyak masalah di kemudian hari. Jadi, untuk dapat mengerti, memahami dan menghadapi anak-anak yang dibesarkan di era yang serba maju ini, kita harus berani berubah, banyak belajar dan terus bertumbuh.

Dua hari yang lalu, Minggu tanggal 3 Januari pukul 7 malam, saya menerima telepon dari seorang kenalan lama keluarga kami yang bernama Alex (bukan nama sebenarnya). Pak Alex tinggal dan bekerja di Jakarta, sedangkan istri dan kedua anaknya yang masih kuliah sudah lebih dari sepuluh tahun ini tinggal di Australia. Setahun belakangan, Pak Alex sudah cukup sering berkonsultasi tentang masalah anak-anaknya dengan saya melalui telepon. Beberapa bulan yang lalu, Pak Alex bahkan mengundang saya untuk datang ke Australia agar bisa membimbing keluarganya supaya bisa keluar dari masalah dan keterpurukan yang sedang mereka rasakan. Sayang, karena saya tidak suka bepergian, maka dengan berat hati saya tidak bisa menerima undangan tersebut.

Saat keluarga Pak Alex datang ke Jakarta beberapa hari yang lalu, Pak Alex pun berusaha agar istri dan anak-anaknya bisa bertemu dengan saya. Melalui telepon, Pak Alex meminta apakah saya bisa ke Pondok Indah karena istri dan anak-anaknya sudah kecapaian sehabis jalan-jalan di Mal seharian. Dengan tegas saya menolak karena saya hampir tidak pernah ke daerah Pondok Indah. Di samping itu, untuk dapat memberikan coaching dengan baik, saya juga harus merasa nyaman. Dan bagi saya, tempat yang paling tepat, ya,  di rumah sendiri.

Dengan putus asa, Pak Alex menjelaskan bahwa anak laki-lakinya kelihatannya sangat depresi dan ingin bunuh diri. Pak Alex pun bertanya apa harus dia lakukan. Saya menyarankan agar dibawa ke psikiater saja supaya bisa segera ditangani. Karena sudah berkali-kali bicara dengan Pak Alex, maka saya sangat paham bahwa pokok masalah yang dihadapinya adalah pola asuh yang salah selama bertahun-tahun. Jika tidak segera ditangani dengan benar, maka cepat atau lambat pasti akan meledak.

Sebenarnya saya merasa bersalah karena tetap meminta Pak Alex dan keluarga untuk datang ke rumah. Pak Alex sudah terdengar sangat putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa lagi dan dia sangat berharap untuk bisa segera bertemu dengan saya. Tapi bagaimana ya? Ternyata saya pun buta dengan daerah Pondok Indah. Akhirnya, setelah percakapan kami selesai, saya segera berdiskusi dengan suami. Menurut suami, jika orang itu butuh, apa pun rintangannya, dia pasti akan berusaha untuk datang. Bukannya kamu yang harus mengalah dan pergi mencari mereka. Jika mereka tidak berusaha, itu artinya mereka tidak sepenuhnya siap untuk di-coach. Kata-kata suami benar-benar bagai air yang menyejukkan. Selanjutnya, karena lapar, kami pun pergi mencari makan di daerah Puri Indah.

Dalam perjalan pulang, telepon genggam suami berdering dan itu dari Pak Alex. Karena suara telepon yang terputus-putus, saya tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang Pak Alex katakan. Tapi suami yang pertama mengangkat telepon menyampaikan bahwa Pak Alex akan ke rumah. Awalnya saya tidak yakin karena sudah pukul 8.30 malam. Namun, setelah Pak Alex menelpon kembali dan berbicara langsung kepada saya, jelaslah bahwa mereka sedang dalam perjalanan ke rumah…

Sebelumnya, saya pernah mengajukan satu syarat kepada Pak Alex agar coaching bisa efektif. Saya bertanya apakah Pak Alex dan istri siap dan bisa berlapang dada menerima kritikan dan uneg-uneg yang akan disampaikan oleh anaknya tentang mereka di depan saya. Karena, tanpa keterbukaan dan kesiapan untuk berubah dan melakukan langkah-langkah yang telah disepakati, maka coaching akan percuma atau tidak akan berhasil.

Saat bertemu, saya mengawali pembicaraan yang ringan-ringan dengan Jimmy, anak Pak Alex. Saya bertanya tentang kegiatan dia sehari-hari, apa saja yang dia paling dia sukai dan apa yang dia tidak suka. Butuh kesabaran untuk menggali isi hati Jimmy karena dia termasuk orang yang sensitif. Walaupun sudah berumur dua puluh satu tahun, Jimmy kurang mandiri, susah mengontrol emosi dan punya disiplin diri yang rendah. Persaingan dan pertentangan antar saudara juga jadi masalah. Jimmy sangat membutuhkan penghargaan dan pengakuan dari kedua orangtuanya bahwa dia anak yang baik. Dalam diri Jimmy juga ada luka batin yang belum sembuh sebagai akibat dari rasa sakit hati karena pernah dipukul dan dikurung di tempat yang gelap. Walaupun kejadiannya sudah cukup lama, namun karena tidak pernah dibicarakan dan ‘diobati’ secara tuntas, maka hal ini masih tetap menjadi ganjalan. Belum lagi kata-kata kasar yang diucapkan oleh kedua orangtua saat dalam keadaan lelah dan marah sehingga semuanya seakan terus berputar dalam sebuah lingkaran setan. Disamping itu, konflik suami istri juga jadi pemicu sehingga memperberat masalah yang ada.

Hati saya miris ketika Jimmy berkata bahwa dia ingin mati saja dan heran mengapa dia tidak mati-mati juga. “Hidup mana enak sih?” kata Jimmy. Selama ini, Jimmy memang kurang bersosialisasi. Waktunya banyak dihabiskan di depan komputer. Dan, inilah yang menjadi penyebab mengapa Jimmy bertambah stress setelah berada di Jakarta. Dia bingung dan tidak tahu mau berbuat apa selama di kota ini. Rasanya berat sekali berpisah dengan komputernya. Kepribadian Jimmy yang melankolis membuat segala sesuatu harus sempurna di matanya. Sehingga, jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan standar yang ada, dia langsung stres. Ketidaktahuan dan rasa frustrasi kedua orangtua dalam menghadapi Jimmy benar-benar memperburuk keadaan. Di hadapan saya, ketika ada kata-kata kedua orangtuanya yang tidak berkenan di hati, dia langsung gusar dan berjalan bolak-balik sambil mengepalkan tangan. Seluruh tubuhnya menjadi merah karena menahan amarah. Menurut saya, Jimmy tidak bisa bersikap dewasa sesuai dengan umurnya karena pola asuh yang salah. Jelas sekali, apa yang selama ini ditanam, itulah yang sedang dituai.

Yang saya lakukan sebenarnya sangat sederhana. Saya membantu mendeteksi sumber masalah dan menunjukkan jalan keluar yang harus ditempuh agar keadaan bisa menjadi lebih kondusif. Masalah utama adalah komunikasi yang tidak jalan. Tentu saja, tidak ada yang mudah dan sama sekali tidak ada jalan pintas. Yang penting adalah adanya kesadaran diri dan tekad untuk keluar dari masalah. Tentunya, agar bisa berhasil, setiap anggota keluarga harus fokus dan konsisten mempraktekkan langkah-langkah yang sudah disepakati bersama. Dan, komunikasi adalah kunci utama. Mereka harus mulai melatih diri untuk menerapkan komunikasi dua arah, bukan satu arah seperti yang selama ini dipraktekkan. Bapak, ibu dan anak-anak juga harus mulai belajar untuk saling menghargai dan saling menghormati.

Perbincangan kami berakhir setelah berlangsung selama hampir empat jam. Jam satu pagi saat mengantar keluarga Pak Alex menuju mobil mereka, saya sempat bertanya kepada Jimmy, “Sudah nonton film Avatar belum?”

“Belum. Katanya filmnya bagus ya?”

“Iya, tertarik ngak untuk nonton? Kamu pasti akan terkagum-kagum deh dengan tehnik pembuatan film tersebut. Luar biasa!” Jimmy pun tersenyum. Terus terang, selama hampir empat jam, inilah senyuman pertama yang saya lihat di wajahnya.

“Jadi, tunggu apa lagi, Jim? Mulai sekarang, mau ngak Jimmy mulai pikirkan hal-hal positif apa saja yang bisa dilakukan selama di Jakarta? Masih dua belas hari ‘kan?” Kemudian saya melanjutkan, “Jimmy, hidup akan terasa indah jika kita tahu bagaimana mengisinya dengan hal-hal yang berarti. Pertama tentu demi diri kita sendiri dulu, kemudian baru untuk orang-orang di sekitar kita, terutama orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita.”

Saya melihat Pak Alex dan istri serta Jimmy pulang dengan perasaan lega. Harapan saya semoga mereka mau bekerja keras untuk mengatasi masalah yang ada dan mau terus berlatih untuk menjadi lebih baik. Bagi saya, dimana ada keyakinan, disitu pasti ada jalan. Bola sudah ada di tangan. Tinggal kita sendiri yang menentukan mau dilempar ke arah mana. Semoga malam itu memberikan secercah harapan bagi keluarga Pak Alex agar setahap demi setahap bisa lepas dari masalah yang sudah kronis. Tahun ini, Pak Alex sudah berusia enam puluh tiga tahun dan istrinya lima puluh empat. Kedua anak mereka saat ini masih berumur dua puluh dua dan dua puluh satu tahun. Bagaimanapun, perubahan tidak memandang usia dan tidak ada kata terlambat untuk memulai dan membawa hidup ini ke rel yang benar agar bisa sampai ke tujuan.

Satu hal yang pasti, tidak ada diantara kita yang ingin gagal menjadi orangtua, bukan?

You Reap What You Sow


Motivasi Belajar dalam Diri Anak (2)

Senin, September 7, 2009

Ketika anak ‘berkuasa’ atas dirinya sendiri, sadar bahwa dia boleh memiliki cita-cita setinggi langit, dan tidak menyerah di saat kegagalan datang menyapa, maka tugas orangtua sebagai mesin pendorong bagi anak akan jauh lebih mudah.

Ada beberapa teknik yang cukup berhasil saya terapkan kepada Eric dan Lisa (anak-anak saya) ketika mereka masih kecil, antara lain:

1. Bercerita

Saya sengaja mengajak mereka tidur lebih awal supaya punya waktu untuk mendongeng atau bercerita sekitar 5-10 menit bagi mereka. Setiap cerita selalu saya akhiri dengan pesan moral yang dapat dipetik. Tentu saja, lama-kelamaan saya kehabisan cerita sehingga saya mulai mengarang cerita sendiri. Biasanya cerita saya kait dengan kejadian sehari-hari. Misalnya, anak-anak kecil paling malas kalau disuruh belajar, bukan? Jadi, saya mulai bercerita tentang seorang Putri Raja yang malas belajar sehingga tidak disukai banyak orang. Biasanya Lisa langsung protes, “Mama nyindir aku, ya?” Trus langsung saya jawab, “Kog Lisa yang tersinggung? Memang hari ini Lisa malas belajar, ya? Ya udah, mama ganti cerita yang lain saja.” Tentu saja Lisa tidak mau jika cerita tersebut saya ganti karena dia pasti ingin tahu apa yang terjadi dengan Putri Raja tersebut di akhir cerita. Secara tidak langsung, bercerita bisa menumbuhkan rasa penasaran / rasa ingin tahu dalam diri anak. Setuju?

Kemudian, cerita saya teruskan…  Karena malas, suatu hari Putri Raja tersebut kena batunya. Akhirnya, dia pun sadar dan mulai berubah menjadi rajin. “Jadi Lisa, dalam hidup ini, kita harus punya tujuan. Kalau malas, jelas tidak ada tujuannya karena tidak perlu berbuat apa-apa, hanya duduk atau tidur saja. Sedangkan, kalau mau rajin dan supaya sikap tersebut bisa bertahan lama, tanyalah kepada diri sendiri, rajin itu tujuannya apa sih? Dan, apa untungnya kalau saya rajin?”

Saat ini, karena anak-anak saya sudah besar tentu cerita di atas sudah lama saya tinggalkan dan saya ganti dengan cerita yang berasal buku-buku motivasi atau bacaan lain yang saya baca, dan dari hal-hal yang terjadi sehari-hari. Bagi saya, bercerita sangat membantu dalam menyampaikan sebuah pesan, apalagi pesan yang bisa meningkatkan motivasi anak. Anda akan takjub bagaimana anak-anak begitu mudah dan cepat mengerti serta menangkap pesan yang kita maksud. Dengan bercerita, anak-anak tidak akan merasa dikritik atau dikuliahi. Akibatnya, pesan yang disampaikan akan mudah meresap dan menetap dalam diri mereka.

2. Memuji

Saat Eric masih duduk di kelas TK-B, saya membaca sebuah buku karangan Martin E. P. Seligman, Ph.D. yang berjudul “The Optimistic Child”. Salah satu teknik yang sangat manjur yang sudah saya terapkan kepada anak-anak waktu itu adalah ‘Cara Memuji’. Sebelum itu, yang saya tahu adalah jika anak mendapat nilai bagus, maka pujian yang disampaikan adalah ‘Kamu Hebat, Nak’ atau ‘Kamu Pintar’. Juga, jika anak bersikap baik, maka pujian yang umum adalah ‘Kamu Anak yang Baik’. Ternyata, dari buku tersebut saya belajar bahwa pujian harus diberikan secara spesifik/khusus. Alasannya, jika anak kita dibilang pintar, padahal dia tahu kalau dia hanya pintar dalam beberapa pelajaran saja sedangkan dalam pelajaran lainnya nilainya hanya pas-pasan, maka dia akan menganggap orangtuanya tidak berkata jujur atau apa adanya.

Sebagai contoh, ketika anak mendapat nilai bagus untuk pelajaran matematika, maka katakanlah, “Kamu pintar dalam pelajaran Matematika, ya Nak.” Atau ketika anak bersikap sopan kepada tamu yang datang, maka katakan, “Mama senang sekali karena kamu tadi bersikap sopan kepada teman mama.” Ketika kita memuji kepandaian atau kebaikan anak secara spesifik, maka akan tumbuh rasa optimis dalam diri anak. Jika anak menjadi optimis, otomatis motivasi diri akan tertanam dengan mudah. Jadi, sebuah pujian yang spesifik akan menjadi obat mujarab untuk menumbuhkan motivasi belajar dalam diri anak.

3. Target

Satu hal yang selalu saya tanamkan kepada anak-anak adalah buatlah target (nilai) yang akan dicapai. Ketika anak-anak sadar akan target tersebut, maka orangtua pun akan mudah dalam membimbing atau mengarahkan  mereka dalam membuat rencana belajar agar target bisa tercapai. Saya masih ingat, waktu masih anak-anak masih duduk di Sekolah Dasar, target minimum untuk nilai rata-rata rapor yang menjadi target Eric adalah 7.5, sedangkan Lisa adalah 6.5.

Dengan target dan rencana yang ada di tangan, biasanya hasil yang diraih selalu melebihi target. Bukan itu saja, prestasi belajar juga akan stabil karena anak-anak sudah terbiasa disiplin dan bekerja untuk mencapai target yang telah ditentukan sendiri. Seandainya, jika target tidak tercapai, orangtua tidak perlu marah. Mari bersama-sama dengan mereka, kita lakukan evaluasi. Apa yang membuat target tidak tercapai dan langkah-langkah apa yang akan diambil agar target untuk semester berikutnya bisa tercapai.

motivation-getmotivated

Sebenarnya, dari pengalaman saya bersama para orangtua yang datang atau telepon untuk berkonsultasi, cara-cara diatas bukanlah sesuatu yang susah untuk diterapkan. Masalahnya, banyak orangtua tidak cukup konsisten dan sering buyar (tidak fokus) karena berharap semuanya bisa dengan cara cepat/instan. Jadi, jika anda ingin berhasil menumbuhkan motivasi belajar dalam diri anak, hanya ada dua hal yang harus diingat: FOKUS dan KONSISTESI.


Motivasi Belajar dalam Diri Anak (1)

Kamis, Agustus 27, 2009

Hanya sesaat setelah tulisan berjudul “Ranking atau Motivasi Belajar” saya terbitkan di blog ini sekitar dua minggu yang lalu, seorang teman lama meminta agar saya juga menulis tentang cara/teknik memotivasi anak agar mau belajar untuk dirinya sendiri. Untuk beberapa saat, saya pun termenung dan tercenung. Masalah motivasi belajar adalah yang paling sering ditanyakan kepada saya saat berbicara di hadapan orangtua. Dan, rendahnya kemauan belajar sebagian besar pelajar saat ini telah membuat banyak orangtua menjadi cemas dan khawatir.

Sebenarnya motivasi itu apa sih? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, MOTIVASI adalah dorongan yang menyebabkan seseorang mau melakukan sesuatu untuk mencapai sebuah tujuan. Dengan kata lain, motivasi belajar baru akan tertanam jika anak-anak mengerti bahwa mereka belajar untuk sebuah alasan atau tujuan. Masalahnya, alasan atau tujuan yang akan kita sampaikan juga harus benar. Karena jika salah arah, motivasi belajar tidak akan bertahan lama sehingga cepat pudar dan luntur.

Berdasarkan pengalaman dan hasil observasi di lapangan, banyak orangtua yang memaksa anaknya belajar agar mendapatkan nilai bagus saat menghadapi ulangan. Ada juga orangtua yang hanya ingin anaknya selalu mendapat nilai sempurna (10) sehingga ketika pulang membawa nilai 9 saja sudah dimarahi. Akibatnya, prestasi belajar anak tidak akan bertahan lama. Mengapa? Karena saat masih kecil, anak sangat membutuhkan rasa aman. Dan, hal ini hanya akan timbul jika anak mendapatkan cinta kasih yang tulus dan tanpa pamrih dari orangtuanya.

Bayangkan, apa yang akan terjadi jika anak dimarahi karena tidak bisa memenuhi standar yang ditetapkan oleh orangtuanya? Perlahan tapi pasti motivasi yang sudah ada akan mulai terkikis. Anak akan kehilangan rasa aman karena merasa tidak mungkin dapat menyenangkan hati orangtuanya jika tidak mendapat nilai bagus di sekolah. Saat rasa aman hilang, dorongan untuk berprestasi pun mulai mendapat tekanan berat. Akhirnya, saat tingkatan kelas semakin tinggi dan pelajaran menjadi lebih berat dan sulit, anak sudah kehilangan gairah belajar. Jadi, segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah bertahan lama.

Hal lain yang penting kita tanamkan dalam diri anak adalah mengenai proses belajar. Belajar adalah sebuah usaha untuk mendapatkan kepandaian atau ilmu. Karenanya, perlu dilakukan terus-menerus agar anak tumbuh menjadi pembelajar seumur hidup atau life-long learner. Jangan sampai anak berpikir bahwa aktivitas belajar hanya dilakukan saat masih duduk di bangku sekolah saja. Sehingga, ketika sekolah selesai, proses belajar juga usai.

Kini, bagaimana kita bisa menumbuhkan motivasi dalam diri anak agar mau belajar untuk dirinya sendiri? Ada tiga hal utama yang harus terpatri dulu dalam pikiran dan penalaran kita sebelum masuk pada cara atau teknik memotivasi anak.

1. Berani Menjadi Diri Sendiri

I do not try to dance better than anyone else. I only try to dance better than myself. ~ Mikhail Baryshnikov

Langkah pertama, kita harus meyakinkan setiap anak bahwa mereka itu unik. Artinya, tidak ada yang persis sama di dunia ini bahkan saudara kembar sekalipun. Jadi, anak harus mengenal dirinya sendiri dulu. Tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Cara belajar setiap anak juga berbeda. Sehingga, orangtua memegang peranan penting dalam menyampaikan pesan ini kepada anak.

Jika anak tahu bahwa mereka tidak dibandingkan dengan orang lain, maka tidak ada beban psikologis saat diminta untuk berprestasi. Konsekuensinya, anak akan lebih leluasa menggali dan mengembangkan semua potensi yang ada dalam diri. Selanjutnya, tanamkan dalam diri anak bahwa mereka mampu dan memiliki kesempatan untuk terus menjadi lebih baik lagi dari hari ini, asal saja mereka mau. Jika ada kemauan, pasti ada jalan. Artinya, perbaikan atau peningkatan yang berkesinambungan perlu dilakukan agar anak bisa mencapai prestasi maksimal sesuai dengan kemampuan yang ada.

2. Berani Bermimpi

Shoot for the moon. Even if you miss, you’ll land among the stars. ~ Brian Littrell

Saat anak masih kecil, pernahkan kita bertanya seandainya sudah besar nanti mau jadi apa. Semakin tinggi cita-cita, semakin kita punya senjata untuk mendorong mereka. Karena, untuk mencapai impian dibutuhkan usaha dan kerja keras. Sebagai contoh, jika cita-cita seorang anak adalah ingin menjadi pilot atau dokter, kita bisa mulai menanamkan hal positif dalam diri mereka. Tanyakan kepada mereka, “Jika hendak menjadi pilot atau dokter, perlu tidak mendapat nilai bagus dalam pelajaran Matematika/Biologi/Fisika? Untuk mendapat nilai bagus, perlu tidak belajar dengan giat dan rajin?” Kunci utamanya adalah tetapkan impian setinggi mungkin kemudian beri dorongan positif untuk meraih cita-cita tersebut. Di sini, orangtua harus pandai dan cermat dalam menggali dan mengarahkan anak dengan pertanyaan-pertanyaan yang membangun.

Bandingkan, jika orangtua beraksi negatif saat mendengar anaknya kelak ingin menjadi dokter. “Apa, mau jadi dokter? Nilai matematika kamu saja jeblok, mana mungkin bisa jadi dokter. Jangan pernah bermimpilah!” Bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi jika orangtua terus-menerus menghilangkan harga diri anaknya. Kepercayaan diri anak tidak akan tumbuh jika sering dicemooh, apalagi oleh orang yang paling dekat dengannya. Orangtua harus yakin dan percaya bahwa anaknya bisa. Sebab, biasanya kata-kata orangtua sangat berpengaruh dan bisa berperan sebagai racun atau obat yang mujarab. Jadi, berhati-hatilah dengan kata-kata yang akan kita ucapkan sehingga mulailah memupuk pikiran yang positif dalam diri kita.

Sebagai contoh, waktu putra saya, Eric masih duduk di kelas V SD, beberapa teman memperingatkan saya bahwa jika anak sudah duduk di bangku SMP, maka orangtua harus mencarikan guru les pelajaran untuk mereka. Alasannya, kita sudah tidak bisa lagi mengajarkan pelajaran SMP sehingga anak yang pintar sekalipun juga banyak yang les.

Saya hanya mengangguk walaupun dalam hati bertanya-tanya, “Apa iya?” Kemudian, saya mencoba untuk melihat ke belakang. Dulu orangtua saya tidak pernah repot mengurusi saya belajar dan semuanya oke saja, tuh! Jadi kalau dulu saya bisa belajar sendiri, maka anak-anak juga harus bisa. Saya lebih suka jika anak memiliki kemampuan belajar sendiri dan bisa mencari solusi jika menemui masalah. Jadi, bagi saya, les pelajaran adalah pilihan terakhir jika seorang anak memang tidak mampu mengikuti pelajaran yang diberikan di sekolah.

Sejak hari itu, saya bertekad dan mulai fokus mengarahkan anak-anak agar bisa mengembangkan self-learning ability atau kemampuan belajar sendiri. Benar! Kedua anak saya tidak pernah ikut les pelajaran. Bahkan, sejak mereka duduk di kelas 1 SMP, saya sudah tidak perlu lagi membimbing dan mengarahkan mereka belajar.

3. Berani Gagal

Success is not final, failure is not fatal. It is the courage to continue that counts. ~ Winston Churchill

Sering kali kita memaksa anak belajar karena takut mereka mendapat nilai jelek. Sehingga, secara tidak langsung, yang kita tanamkan dalam diri anak adalah “Awas! Jangan pernah gagal, ya!” Padahal, kegagalan itu sangat berguna dan memang dibutuhkan sebagai cambuk untuk maju. Percayalah, kegagalan akan membuat anak kita menjadi lebih kuat dan tahan banting. Tentu saja, saya tidak bermaksud agar anak-anak dibiarkan sampai tidak naik kelas. Orangtua harus punya perhitungan yang matang. Kalau terus mendapat nilai jelek juga tidak benar.

Sebagai contoh, ketika masih duduk di IV SD, putri saya, Lisa pernah mendapat nilai 2 untuk ulangan matematika. Walaupun gundah-gulana, saya tetap berusaha untuk tenang. Saat terpuruk, yang dibutuhkan anak adalah dukungan orangtuanya, bukan omelan yang terus-menerus. Kemudian, kami mengevaluasi apa yang menjadi akar masalah. Waktu itu, Lisa memang lemah di pelajaran Matematika. Jadi, saat nilai ulangan berikutnya naik menjadi 4, dengan senang hati saya langsung memuji usaha dan kemajuan yang telah dicapai. Ajaib! Setelahnya, Lisa tidak pernah lagi mendapatkan angka mati untuk ulangan Matematika. Paling rendah hanya 5 dan itupun hanya sesekali saja.

motivation

Akhir kata, menjadi orangtua zaman sekarang tidak bisa lagi dengan hanya memakai cara-cara lama yang kita dapatkan secara turun-temurun dari orangtua atau generasi diatas kita. Menjadi orangtua zaman sekarang jauh lebih sulit dan rumit. Kemajuan zaman dan kecanggihan teknologi di satu sisi memang telah membuat hidup kita menjadi lebih nyaman dan praktis. Tetapi, dampak negatifnya juga tidak tanggung-tanggung. Misalnya, anak-anak sekarang lebih suka bermain game di depan komputer daripada membaca atau bercengkerama bersama keluarga. Sehingga, orangtua sekarang harus lebih kreatif dan terus mengasah otak agar peka terhadap perkembangan zaman. Jika hal ini kita lakukan, maka tugas sebagai orangtua pasti akan menjadi lebih mudah dan ringan.

(bersambung)


Ranking atau Motivasi Belajar?

Rabu, Agustus 12, 2009

Pukul 7.30 pagi ini, saya sungguh tidak menduga akan menerima telepon dari seorang tetangga lama. Beberapa tahun yang lalu, dia tinggal hanya beberapa langkah dari rumah sehingga hampir setiap hari kami bertemu dan saling menyapa. Lebih dari lima tahun yang lalu yaitu sejak keluarga kami pindah beberapa blok dari sana, kami jadi jarang bertemu. Bisa dibayangkan, betapa gembiranya hati ini saat tahu bahwa seorang teman lama ingin menanyakan suatu hal.

Dengan ramah dan sopan, beliau bertanya apakah saya sedang sibuk atau tidak. Jika tidak apakah mau meluangkan waktu untuk dia. Tentu saja saya tidak mau membuat dia kecewa. Buku “Dictionary of Common Errors” karangan NB Turton dan JB Heaton yang sedang dalam genggaman langsung saya kesampingkan karena ingin memberikan perhatian penuh dan fokus.

Teman saya, anggap saja namanya Ani adalah seorang ibu dari dua anak. Yang besar, laki-laki, duduk di kelas satu SMP. Sedangkan yang kecil, perempuan, duduk di kelas lima SD. Ani selalu ingin agar anak-anaknya menjadi juara kelas. Namun, selama ini mereka selalu mendapatkan ranking dua saja dan hanya pernah sekali meraih ranking satu. Menurut Ani, masalahnya ada pada guru yang selalu bersikap subjektif terhadap anaknya. Karena putranya baru masuk SMP tahun ajaran baru ini, maka target yang hendak dicapai adalah mendapatkan ranking satu agar bisa mendapatkan rasa hormat dan perhatian dari guru-guru di sekolah. Selama ini, anaknya hanya spesialis ranking dua saja sehingga guru-guru kurang menghargai.

Ani:  “Beberapa tahun yang lalu, saat Eric (dalam hal ini putra saya) mulai duduk di kelas satu SMP, apakah pernah ikut les tambahan untuk pelajaran Matematika & Fisika?”

Vina: “Bagi saya les pelajaran adalah pilihan terakhir kalau seorang anak benar-benar butuh bantuan dalam belajar. Yang selalu saya tanamkan kepada anak-anak adalah ‘kemampuan belajar sendiri’. Dan, ini adalah modal utama untuk mempelajari banyak hal dengan lebih cepat dan mudah tanpa harus selalu bergantung pada orang lain untuk mengajarkan. Di samping itu, tanpa guru les, mereka akan memiliki nilai tambah, misalnya, waktu luang dan waktu santai yang lebih banyak sehingga bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif, misalnya, belajar musik, menggambar, les balet, dan sebagainya. Sesusah dan sebanyak apa pun bahan pelajaran, belajar haruslah tanpa paksaan dan dijalankan dengan disiplin. Menggali dan menanamkan motivasi belajar dalam diri anak adalah salah satu tugas terberat kita sebagai orangtua.”

Ani: “Tapi Vina, kalau anak saya tidak ikut les tambahan sementara teman-temannya banyak yang ikut, tentu anak saya akan ketinggalan dan tidak bisa dapat ranking satu, dong? Di sekolah, anak-anak yang pintar juga banyak yang les.”

Vina: “Oke, sebenarnya apa sih tujuan belajar itu? Mendapatkan ranking atau terus menggali dan memuaskan rasa ingin tahu seorang anak? Apakah belajar itu sebuah proses jangka pendek atau proses yang berkesinambungan seumur hidup? Berikutnya, seandainya anak kamu mendapatkan ranking tiga, empat, lima, dan seterusnya, apa kalian akan siap mental untuk menghadapinya? Disamping itu, bagaimana sikap kamu jika seandainya pada suatu hari prestasi mereka di sekolah menurun atau tidak sebaik saat ini? Kamu siap?”

Hening di seberang sana. Ani terdiam dan mulai berpikir. Sepertinya, nuraninya mulai goyah.

Vina: “Ani, apakah ranking dua itu sebuah prestasi yang buruk? Dulu ketika Eric masih SD, dia tidak pernah masuk lima besar di kelas. Putri saya, Lisa sering membuat saya dipanggil wali kelas karena nilai ulangan hariannya banyak yang terbakar alias merah. Tapi di sinilah letak tantangannya. Saya selalu mencari akal dan menemukan cara untuk membuat mereka termotivasi agar mampu mencapai prestasi yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Hasilnya? Apa yang mereka capai sampai hari adalah melebihi harapan saya sebagai seorang ibu. Saya tidak suka yang muluk-muluk atau membebani anak dengan target yang tidak masuk akal. Mimpi boleh tinggi tapi target tetap harus bertahap dan realistis. Mereka harus sadar bahwa belajar dan prestasi yang mereka capai adalah untuk mereka sendiri, bukan untuk menyenangkan atau membuat saya bangga. Berdasarkan pengalaman, seorang anak yang mampu belajar sendiri cenderung memiliki prestasi yang lebih baik di sekolah.”

Ani adalah seorang ibu yang cerdas dan cepat menangkap maksud dan penjelasan saya. Apalagi ketika saya berbicara mengenai fondasi yang harus dimiliki oleh seorang anak untuk menjadi seorang pembelajar sejati. Ani pun sadar bahwa seringkali kata-katanya hanya menjadi racun bagi anak-anaknya. Secara tidak langsung dia menuntut anaknya agar bisa selalu menjadi ranking satu di kelas. Tetapi kenyataannya, mereka hanya pernah satu kali saja mendapatkan ranking satu. Selebihnya selalu ranking dua sehingga Ani terlanjur mencap anak-anaknya sebagai ‘spesialis’ ranking dua.

Akhirnya, Ani saya arahkan agar mau berpikir lebih jauh ke depan, bukan hanya untuk jangka pendek saja dan menjadi juara kelas bukanlah segala-galanya. Anak-anak harus dipuji atas prestasi yang telah dicapai selama ini karena ranking dua itu saja sebenarnya sudah termasuk luar biasa. Tidak semua anak mampu mencapainya. Berikan mereka dukungan yang positif dan tidak usah mengeluh jika tidak menjadi yang terbaik di kelas. Yang lebih penting untuk diperhatikan adalah selalu bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Pembicaraan kami berlangsung selama hampir satu jam. Ani mengerti bahwa tidak mudah untuk merubah paradigma yang telah tertanam selama ini. Tapi dia bertekad ingin menjadi ibu yang lebih positif bagi anak-anaknya agar kelak mereka mempunyai harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi. Artinya, prestasi yang dicapai anak-anaknya bukanlah demi kebanggaan dia sendiri tetapi demi masa depan anak-anak itu sendiri. Lebih penting membangun mental yang kuat dan gigih daripada hanya berfokus pada ranking satu saja.

Akhir kata, mana yang lebih penting: mengejar ranking atau memupuk motivasi belajar? Seorang anak yang menjadi juara kelas tidak selalu berarti bahwa dia mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Bisa saja anak terpaksa belajar demi mendapatkan pengakuan dari orangtuanya. Sebaliknya, seorang anak yang memiliki motivasi belajar yang tinggi, kemungkinan besar memiliki prestasi belajar yang memuaskan atau sangat memuaskan, bertahan lama dan konsisten.

Wings

Good parents give their children Roots and Wings. ~ Jonas Salk


Menghitung Hari

Jumat, Juli 31, 2009

playing guitarAkhir-akhir ini, setiap kali mendengarkan putra saya, Eric memetik dawai-dawai gitar sambil bernyanyi, saya pun membatin, “Masih berapa hari lagi saya bisa menikmati hal ini?” Saya pun mulai menghitung… satu, dua, tiga, … hingga delapan. Iya, masih ada delapan hari karena setelah itu Eric akan kuliah dan tinggal di Bandung. Terbayang sudah suasana rumah yang akan menjadi lebih sepi lagi tanpa kehadiran Eric.

Beberapa teman pernah bertanya apakah saya siap melepas anak pergi ke Bandung. Tentu saja saya harus siap. Karena, sejak beberapa tahun yang lalu saya sudah mulai mempersiapkan diri. Sebagai orangtua, kita harus sadar bahwa kelak anak-anak akan tumbuh menjadi orang dewasa. Akan tiba saatnya di mana mereka harus mampu mengepakkan sendiri sayapnya dan terbang jauh. Jadi, sebagai orangtua kita harus memberi dukungan dan kebebasan agar kelak anak mampu menjadi dewasa dalam menjalani hidup.

Detik ini, sambil terus mengetik di komputer, saya merasa terharu dan terhibur dengan suara Eric yang bernyanyi mengikuti irama sebuah lagu rohani yang diputar dari komputernya. Setiap waktu terasa begitu berharga. Dan, hidup akan terasa lebih indah jika kita mampu hidup di saat sekarang. Apapun yang Tuhan berikan kepada kita, susah ataupun senang, nikmatilah!

Saat-saat menghitung hari, saya sering merenung dan mengenang ibu yang telah tiada. Dua puluh lima tahun yang lalu, ibu pasti mengalami dan merasakan hal yang sama ketika membiarkan saya meninggalkan kota Padang untuk merantau ke Jakarta. Keadaan ibu pasti lebih berat lagi karena jarak Padang – Jakarta tidaklah sedekat Jakarta – Bandung.

Saya sangat bersyukur karena telah dibesarkan oleh seorang ibu yang tegar dan pantang menyerah walaupun pada saat badai datang menerjang. Ibu telah meninggalkan warisan positif yang tak ternilai. Saya juga merasa beruntung karena telah dibekali dengan pelajaran-pelajaran tentang kehidupan yang akhirnya menjadi berguna dan berarti. Sehingga, ketika Tuhan memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi seorang ibu, saya pun merasa terberkati.

Terima kasih, Ibu.
Engkau adalah teladan bagiku.

Hidup memang tidak selamanya sama.
Kadang di atas dan kadang di bawah.
Jadi, nikmati saja apa yang ada hari ini.
Karena dengan begitulah hidup akan berarti.

la la la la la la…
la la la la la la…
bersukalah, berbahagialah…
oh oh oh …


Raja dan Pembantu yang Setia

Kamis, Mei 7, 2009

Apa yang terjadi jika anak-anak tidak mau mendengarkan nasihat anda? Apakah anda marah dan terus mengkritik mereka? Jika demikian, barangkali cepat atau lambat komunikasi antara orangtua dan anak akan terhambat. Memang, menjadi orangtua zaman sekarang tidaklah gampang. Kita harus menguasai teknik komunikasi agar anak-anak mau membuka mata dan hati mereka sehingga mau menerima nasehat dan kritik yang membangun.

Sebuah pepatah yang ditulis dalam bahasa Mandarin berbunyi:  “liang (2) yao(4) ku(3) kou(3)” yang artinya: “obat mujarab rasanya pahit” (sebagai catatan, angka yang di dalam tanda kurung  adalah kode fonetik dalam bahasa Mandarin). Pepatah ini ditujukan bagi orang-orang yang tidak suka dikritik. Agar lebih memahami makna yang tersirat dalam ungkapan yang indah ini, mari kita simak cerita berikut ini:

Dahulu kala di negeri Tiongkok, hiduplan seorang raja yang tidak mau dikritik. Rakyat dan semua yang tinggal di istana harus patuh kepadanya. Akibatnya, Raja dikelilingi oleh orang-orang yang pandai menjilat untuk menyenangkan hatinya. Para petinggi istana tidak memiliki kemampuan untuk membantu Raja menjalankan roda pemerintahan. Akibatnya, kerajaan menjadi sangat lemah. Ketika musuh datang menyerang, rakyat dan semua pejabat melarikan diri sehingga tidak ada lagi yang tinggal untuk membela dan mempertahankan kerajaan. Ditemani oleh seorang pembantu yang setia, Raja terpaksa meninggalkan tahtanya untuk hidup di pengasingan. Dalam perjalanan, di saat raja lapar dan haus, pembantu pun mengeluarkan bekal yang telah dipersiapkan sebelumnya.

“Bagaimana makanan selezat ini bisa ada di sini?” Tanya raja.

“Saya yang menyiapkannya, Baginda. Saya sudah menduga bahwa suatu hari nanti kita harus meninggalkan kerajaan. Demi menjaga keselamatan Yang Mulia, maka saya menyiapkan perbekalan yang cukup banyak.”

“Bagaimana kamu tahu kalau kita harus meninggalkan kerajaan ini?”

“Saya sudah lama meramalkannya, Yang Mulia.”

“Apa? Tapi kenapa tidak ada yang menyampaikannya kepadaku?”

“Yang Mulia tidak pernah mau menerima saran dan kritik dari kami. Seandainya saya buka mulut sebelum ini, pasti kepala saya yang menjadi taruhannya. Kalau saya mati dipancung, tentu tidak ada yang akan menemani Yang Mulia di pengasingan nanti.”

Mendengar kata-kata pembantunya, muka raja pun merah padam karena menahan amarah. Raja terus mencela dan menyalahkan pembantunya atas apa yang telah terjadi sehingga pembantu tersebut menjadi sedih dan kecewa. Dia mengambil kesimpulan bahwa Raja tidak akan mungkin berubah. Bayangkan, dalam keadaan yang sulit saja, Raja masih bersikap lalim dan kejam. Untuk menjaga keselamatannya, pembantu segera meralat ucapannya, “Yang Mulia, saya sangat menyesal dengan apa yang telah saya katakan. Saya mohon Yang Mulia bersedia memaafkan kesalahan saya.”

Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat. Kemudian Raja melanjutkan, “Katakan, kenapa saya harus meninggalkan kerajaan ini?”

“Karena Yang Mulia adalah seorang raja yang baik.”

“Jika saya baik, mengapa tidak bisa hidup tenang di istana dan harus melarikan diri untuk hidup di pengasingan?

“Masalahnya, Yang Mulia dikelilingi oleh orang-orang jahat. Mereka semua iri karena Baginda adalah Raja yang bijaksana. Jadi, secara tidak langsung, merekalah penyebab Baginda meninggalkan negeri ini.”

Akhirnya karena kecapaian, Raja tertidur di atas pangkungan pembantunya. Inilah saat yang tepat untuk melarikan diri, pikir sang pembantu. Akhirnya setelah memindahkan kepala Raja dari pangkuannya dengan hati-hati, pembantu segera melarikan diri. Raja pun mati karena tidak mampu mengurus dirinya sendiri.

Apa pesan moral dari cerita diatas? Seringkali kritik sangat kita butuhkan untuk melangkah maju dalam hidup ini. Kritik itu bagaikan obat yang walaupun terasa pahit tapi mujarab karena memiliki kemampuan untuk mengobati bagian tubuh yang sedang sakit.

Akhir kata, tidak perlu frustrasi atau marah jika anak-anak menolak nasihat anda. Cobalah memakai cerita di atas agar mereka lebih mudah menerima nasihat atau kritik demi kebaikan mereka sendiri.

NB: Cerita diambil dari buku Mandarin yang berjudul: ‘Ren(2) Sheng(1)’ - Menentukan Pilihan Hidup.


Membangun Karakter

Selasa, April 28, 2009

Puisi di bawah ini berasal dari sebuah buku yang pernah kubaca beberapa waktu yang lalu:

Jangan berjalan di belakangku,
aku bukan seorang pemimpin;
Jangan berjalan di depanku,
aku bukan seorang pengikut;
Tetapi berjalanlah di sampingku,
dan jadilah temanku.

Dengan jelas dan singkat, kata-kata di atas mengungkapkan harapan setiap orangtua jika kelak anaknya dewasa dan siap untuk hidup mandiri. Namun, marilah bertanya pada diri kita masing-masing. Apa yang telah kita lakukan untuk mempersiapkan anak-anak agar suatu hari nanti mampu berdiri di atas kaki sendiri? Umumnya, kita membesarkan anak berdasarkan naluri. Dengan kata lain, kita mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh generasi sebelum kita. Dan, seiring dengan perubahan yang terjadi lebih dari empat puluh tahun terakhir ini, maka tehnik membesarkan anak juga harus disesuaikan. Zaman sudah berubah sehingga kita tidak mungkin hanya bergantung kepada cara-cara lama yang dipakai oleh generasi terdahulu. Kita harus berubah dan meningkatkan pengetahuan tentang mendidik dan membesarkan anak. Apa yang kita lakukan saat ini, hasilnya akan kita petik nanti. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, kita butuh terobosan baru dalam menghadapi masalah anak sekarang.

Mari kita lihat, hal terpenting apakah yang harus anak-anak miliki? Jawabannya adalah KARAKTER. Nasib atau masa depan seseorang sangat ditentukan oleh karakter yang dimiliki. Karakter yang positif melahirkan kekuatan mental dan integritas. Pencerminan karakter dimulai sejak usia dini dan terbentuk ketika terciptanya ikatan yang kuat dan hubungan yang akrab antar anggota keluarga, sanak saudara dan lingkungan sekitarnya.

Untuk membangun karakter positif dalam diri anak kita, mari kita mulai dengan tiga hal di bawah ini:

1. TANGGUNG JAWAB

Anak-anak harus sadar bahwa kelak mereka akan bertanggung jawab dan menjalani hidup mereka sendiri. Jika ada masalah, maka merekalah yang harus menyelesaikannya tanpa mencari kambing hitam. Sebagai orangtua, kita harus mengajarkan mereka untuk mulai bertanggung jawab pada diri sendiri sejak usia dini. Tentu dengan beban yang disesuaikan dengan umur mereka. Dengan kata lain, apa yang tadinya menjadi beban orangtua, kelak akan merupakan beban mereka. Sebagai contoh, sejak anak-anak duduk di kelas 1, aku telah mempersiapkan mereka agar memiliki tanggung jawab dalam belajar dan sedikit demi sedikit menumbuhkan kemampuan belajar sendiri. Awalnya memang tidak mudah. Tapi jika orangtua fokus dan konsisten, maka hasilnya bisa kita lihat beberapa tahun kemudian.

2. RASA HORMAT

Pernahkah anda berhubungan dengan seseorang yang tidak menghormati dan menghargai orang lain? Kita pasti akan merasa lelah dan putus asa ketika berhadapan dengan orang-orang semacam ini, bukan? Jadi, kalau tidak ingin memiliki anak-anak yang tidak sopan, maka tumbuhkanlah rasa hormat dalam diri mereka agar kelak menjadi orang yang disukai dan dihargai. Anak-anak adalah cermin orangtuanya. Mereka meniru kebiasaan, tingkat laku, sikap dan cara kita memandang hidup ini. Sehingga, sebelum mendidik mereka, didiklah diri kita sendiri terlebih dahulu.

Bagaimana menumbuhkan rasa hormat?

  • Jangan menyakiti perasaan orang lain
  • Pahami bahwa setiap orang itu unik dan berbeda satu dengan yang lainnya
  • Tunjukkan rasa hormat kepada orang-orang yang ada di sekeliling kita, terutama pasangan kita
  • Terima dengan lapang dada jika kita tidak bisa atau belum mendapatkan apa yang kita impikan

Hal terpenting yang harus dimengerti anak-anak adalah dunia bukan milik mereka sendiri. Mereka harus mau berbagi agar tidak menjadi manusia yang egois.

3. MOTIVASI

Di sesi tanya jawab seminar parenting di sekolah-sekolah yang aku datangi, orangtua sering mengeluh kurangnya motivasi belajar dalam diri anak-anaknya. Kenapa ini bisa terjadi dan apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi masalah ini?

  • Anak akan kehilangan motivasi jika sering dihukum dan merasa diri tidak berharga akibat amarah orangtua yang berlebihan. Jadi, hindari rasa marah yang membuat anak merasa terpojok. Jangan membuat mereka menjadi takut dan merasa malu.
  • Anak tidak memahami tujuan belajar. Ketika orangtua hanya mementingkan nilai rapor dan kurang menghargai proses belajar maka motivasi diri anak tidak akan berkembang. Jadi, hargailah usaha mereka daripada hanya mementingkan nilai rapor saja.
  • Tumbuhkan rasa aman dalam diri anak dengan cinta tak bersyarat. Jangan sampai anak punya perasaan bahwa orangtuanya hanya sayang jika mereka berprestasi atau berperilaku baik saja. Anak-anak lebih membutuhkan dukungan dan dorongan positif dari orangtuanya justru ketika mereka sedang putus asa.

Jelaslah bahwa orangtua memainkan peran penting dalam membesarkan anak. Apalagi hidup di zaman modern telah membuat tugas kita menjadi lebih sulit. Jadi, tingkatkan terus kemampuan dan pengetahuan anda agar dapat menjadi orangtua yang sesuai zaman demi masa depan mereka. Akhir kata, renungkanlah kata-kata Jacqueline Kennedy Onasis berikut ini: “Jika anda gagal dalam membesarkan anak anda, saya rasa hal lain apapun yang anda lakukan dengan baik, tidak akan berarti banyak.”


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.