‘The Other Side of Me’

Minggu, Februari 13, 2011

The Other Side of Me – Sisi Lain Diriku – karya Sidney Sheldon adalah judul buku yang berada dalam urutan teratas dari daftar buku yang ingin sekali kubaca. Dan, kalau bisa, sih, edisi terjemahan Indonesianya saja. Namun setelah mencari-cari ke Gramedia MTA (Mal Taman Anggrek) dan Gramedia CP (Central Park), aku pun tak berhasil mendapatkannya. Sempat sih terbersit dalam pikiran ini untuk memesannya saja dari Amazon. com. Tapi, niat tersebut aku tunda dulu dan mencoba untuk bersabar sedikit lagi…

Sore ini, saat suamiku hendak ke Gramedia CL (Citra Land) untuk keperluan ‘buat cap/stempel’, maka aku pun minta ikut. Tujuannya untuk menemani saja sekaligus membuat senang hati suami. Jadi, sesampainya di sana, iseng-iseng aku pun melihat-lihat di rak novel terjemahan sambil mencari-cari buku-buku karya Sidney Sheldon. Siapa tahu ada.

Tak dinyana, aku menemukannya! Dalam hati aku bersorak riang sehingga cepat-cepat kulangkahkan kaki menuju kasir untuk menuntaskan pembayaran.

Puas! Puas banget deh rasanya…


Mingmei Yip

Kamis, Januari 13, 2011

Hati selalu mengikuti takdirnya merupakan tag line novel yang saat ini sedang kubaca. Judulnya ‘Petals from the Sky’.

Bercerita tentang Meng Ning yang memutuskan untuk menjadi biksuni tapi ditentang keras oleh ibunya. Di mata ibunya, kehidupan membiara tidak akan memberikan kebebasan. Tapi, bagi Meng Ning, menjadi biksuni adalah kesempatan berharga untuk memegang kendali penuh atas takdir hidupnya, dan menikmati belajar musik, seni dan puisi tanpa batas – sesuatu yang tidak ditawarkan oleh ikatan perkawinan.

Meng Ning menghabiskan sepuluh tahun belajar di luar negeri, membiasakan diri hidup selibat, dan mempersiapkan diri untuk hidup membiara. Namun, sebuah insiden kebakaran membelokkan takdirnya ke situasi yang benar-benar berbeda.

Meng Ning jatuh cinta….

Kemarin, saat baru mulai membaca, aku langsung ‘jatuh cinta’ pada sang penulis cerita, Mingmei Yip. Jangan-jangan cerita novel ini berdasarkan sebagian pengalaman pribadi penulisnya. Itulah yang terlintas dalam pikiranku. Agar tak penasaran, aku pun mulai mengetik ‘Mingmei Yip’ dan mencarinya di mesin google. Ternyata dugaanku tidak meleset.

Bagiku, membaca adalah sebuah seni. Seni mengasah kepekaan diri. Membaca bukan hanya sekedar menambah wawasan, tapi secara tidak langsung kita pun diajak untuk mengenal penulisnya lebih jauh dan dalam. Karena ‘Petals from the Sky’, Mingmei Yip berhasil memperpanjang daftar penulis favoritku. Berikutnya, aku pasti akan mencari novel yang ditulis oleh Mingmei Yip sebelumnya (2008) yaitu ‘Peach Blossom Pavilion’.


Mengapa Harus Banyak Baca?

Kamis, Januari 13, 2011

Bertahun-tahun, membaca bukan hanya suatu kebiasaan yang terus kupupuk. Tapi, ia benar-benar telah mendarah daging. Bayangkan, dalam satu tahun paling tidak ada 50-100 buku yang berhasil kubaca.

Rasa ketertarikanku pada buku berawal ketika jalan-jalan ke Mal dan mampir di toko buku saat kedua anakku masih kecil. Lalu, perlahan tapi pasti aku pun jadi terbiasa mengisi waktu luang berkawan dengan buku. Nyatanya, semakin banyak buku yang berhasil kubaca, semakin besar pula rasa ingin tahu yang timbul.

Adapun jenis buku yang menarik perhatianku selama ini adalah: parenting, relationship, self help, psikologi, motivasi, dan memoar. Namun akhir-akhir ini, karena ingin meningkatkan kemampuan menulisku, aku pun jadi getol membaca novel.

Bagaimanapun, membaca telah memberikan banyak keuntungan dalam diri dan hidupku. Misalnya:

  1. wawasan yang bertambah luas
  2. pengembangan diri
  3. hidup menjadi lebih seimbang dan bahagia
  4. kreativitas meningkat
  5. berani mulai untuk menulis

Untuk tahun 2011 ini, aku telah memasang target untuk membaca antara 50-60 buku dan menulis 2 buku. Mungkinkah? Biarlah waktu yang akan membuktikannya.

“Shoot for the moon. Even if you miss, you’ll land among the stars.” ~Brian Littrel


Musikal Laskar Pelangi

Minggu, Januari 9, 2011

Akhirnya, hari ini terkabul juga keinginanku untuk menonton ‘Musikal Laskar Pelangi’ di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Sebuah tontonan yang sungguh membuat kita geleng-geleng kepala dan berdecak kagum. Luar biasa! Penonton tak henti-hentinya bertepuk tangan ketika setiap adegan berakhir. Wah, rasanya ingin nonton lagi nih bulan Juli tahun ini.

Sebenarnya siang ini aku berangkat menuju TIM tanpa tiket di tangan. Keputusan untuk menonton baru kulakukan beberapa hari yang lalu. Jadi, tidak mungkin bisa dapat tiket kalau langsung ke ‘tiket box’. Syukurlah kalau aku termasuk orang yang peka dan punya insting yang cukup tajam. Hihihi… ngak bermaksud sombong nih…

Saat melihat ‘posting’ teman-teman FB yang memberikan pujian selangit untuk ‘Musikal Laskar Pelangi’, aku langsung tahu siapa yang bisa aku tanyai tentang tiket. Ternyata, yang kudapatkan lebih dari yang pernah dibayangkan. Temanku ini langsung menawarkan bantuan untuk membelikan tiket.

Siang ini, kami bertemu di depan pintu masuk Teater Jakarta. Aku beruntung karena hari ini suami mau mengantar aku dan Lisa ke TIM. Saat pertunjukan usai, ternyata suamiku belum juga meninggalkan rumah untuk menjemput. Jadi, kami pun punya kesempatan untuk berfoto bersama para pendukung pertunjukkan tersebut.

Hari ini, aku bukan hanya merasa puas dan terhibur dengan pertunjukkan yang kutonton, tapi lebih dari itu, di hadapan putriku, aku bertanya kepada Riri Reza, “Mas Riri, apa sih syarat utama untuk menjadi seorang sutradara yang baik?” Tentu saja jawaban tersebut penting untuk didengar oleh Lisa, putriku.


Akhirnya Basah Juga

Kamis, Desember 30, 2010

Pagi ini aku sudah bersiap-siap untuk jalan pagi. Baru saja ingin menyorongkan sepatu, eh, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Terpaksa niat untuk jalan pagi kubatalkan. Lebih baik bolak-balik koran saja berharap-harap kalau hujan akan berhenti. Tentu saja dengan batas waktu setengah jam. Artinya lewat jam 7.30 pagi jika hujan belum juga reda, maka aku akan berlatih yoga saja.

Ternyata, hujan benar-benar berhenti saat jarum pendek jam diantara angka tujuh dan delapan, dan jaram panjang di angka 6. Harapan jadi kenyataan. Jadi, kuputuskan untuk jalan pagi saja, tentu saja dengan sepatu baruku. Yeah, untung sejak kemarin pagi aku sudah siap mental sehingga pagi ini, walaupun jalanan masih basah, aku tetap melangkah tanpa takut sepatu baru jadi kotor.

Hasilnya, satu jam kemudian, usai jalan pagi, sepatuku tetap bersih. Yang basah hanya bagian bawahnya saja.


Sepatu Baru

Selasa, Desember 28, 2010

Saat terbangun pagi ini, kudengar rintik hujan jatuh membasahi bumi. Wah, bisa batal nih acara jalan pagi hari ini, kataku dalam hati. Tiba-tiba, HP-ku pun memanggil. Ternyata dari temanku. Dia menanyakan apakah jadi jalan pagi walaupun gerimis. Segera kuberlari ke bawah untuk melihat ke jalanan dan ternyata hanya satu dua titik air saja yang jatuh. Hehehe… jangankan gerimis kecil, yang agak besar pun pernah kuterobos dengan bantuan payung terkembang.

Namun, pagi ini ada yang beda…

Saat temanku enggan karena harus berpayung menuju rumahku, entah kenapa aku langsung setuju dengannya. Jalannya ganti besok aja. Itulah kalimat penutup untuknya.

Sebenarnya tepat jam 7 pagi hujan sudah berhenti dan langit pun berangsur cerah. Biasanya sih aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas untuk jalan. Hanya saja pagi ini aku bergeming karena jalanan tidak otomatis kering saat hujan berhenti. Sebenarnya apa yang salah dengan jalanan yang basah? Tidak ada sih kalau aku tidak harus memakai sepatu baru. Sempat sih kuberharap mudah-mudahan saja suami belum sempat ‘menyumbangkan’ sepatu lamaku sehingga masih bisa kupakai untuk melintasi pagi yang basah. Sungguh, aku masih tak rela jika sepatu yang baru saja dibeli dua hari yang lalu harus kotor terpercik air hujan.

Apa boleh buat, sepatu lamaku sudah tiada. Sebenarnya, walaupun sudah lebih dari tiga tahun, kondisi sepatu tersebut masih cukup nyaman untuk digunakan. Memang sol kiri pernah lepas sih, tapi sudah direkatkan lagi kog. Jadi, tujuanku membeli yang baru hanya untuk jaga-jaga saja sekiranya sepatu yang lama jebol. Akan tetapi, suamiku tidak sependapat, “kalau sudah ada yang baru, yang lama kasih orang aja, mumpung kondisinya masih cukup baik.”

Akhirnya, tak ingin sepatu baruku jadi kotor, aku pun memutuskan untuk berlatih yoga saja. Mudah-mudahan saja besok pagi jalanan kering sehingga aku bisa membiasakan diri dengan sepatu yang baru. Tapi gimana ya kalau besok pagi jalanan masih basah juga? Yeah, paling tidak aku akan lebih siap mental jika harus membiarkan sepatu baru jadi kotor. Bukankah cepat atau lambat, ia juga akan berteman dengan jalan yang basah?


Mendadak Nonton Bola

Senin, Desember 27, 2010

Sore ini putriku, Lisa, mengejutkanku saat dia memperlihatkan sebuah kaos merah dengan lambang ‘Garuda’ di sebelah kiri atas.

“Mami, dua hari lagi aku mau nonton bareng teman-teman di PX-Puri. Ini kaosnya aku pesan dari teman. Harganya Rp 40.000.”

“Oh ya?” Dalam hati aku sungguh tak bisa percaya karena selama ini Lisa sama sekali tidak pernah tertarik untuk nonton bola di televisi. “Sejak kapan Lisa jadi suka bola? Selama ini ‘kan Lisa ngak pernah suka bola,” ujarku.

“Ini ‘kan rame-rame ama teman, Mi.”

“Oh! Jadi ikut-ikutan teman aja, ya?” Aku berkomentar.

“Selama ini ‘kan ngak tahu harus dukung siapa. Kalau yang ini jelas, Mi. Dukung INDONESIA,” jawab Lisa.

Aku hanya bisa tersenyum. Dalam hati aku senang sekali. Secara tidak langsung tim nasional yang akan bertarung melawan Malaysia tanggal 29 Desember 2010 (dua hari lagi) di final piala AFF – leg kedua – telah membangkitkan rasa nasionalisme dalam diri banyak orang.

Semoga saja Timnas bisa mengejar defisit 3 gol dan menjadi juara piala AFF untuk yang pertama kalinya. HIDUP INDONESIA!!!


Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.