Jalan Menuju Universitas

Jika anak anda duduk di kelas dua belas atau kelas tiga Sekolah Menengah Atas (SMA), apa yang paling membuat hati anda dag dig dug saat ini? Anak-anak akan kuliah di mana, mengambil jurusan apa, dan berapa biaya yang harus kita siapkan untuk melancarkan jalan mereka ke universitas pilihan. Setuju? Putraku Eric termasuk salah satu yang masih akan berjuang untuk meraih impiannya kuliah di sebuah universitas terkenal di tanah air. Jurusan yang dipilih adalah Tehnologi Informasi (IT). Alasannya: Dia sangat menyukai Matematika dan Komputer.

Sebenarnya, di bulan Nopember 2008 Eric sudah diterima sebagai mahasiswa jurusan IT di Universitas Bina Nusantara (BINUS) melalui program SPMB yang ditawarkan kepadanya. Gratis uang pangkal dan hanya membayar uang kuliah saja. Batas waktu pembayaran pertama sebesar Rp 2.000.000 adalah di bulan Januari 2009. Sebelum membayarkan uang tersebut ke BINUS, aku sempat bertanya apakah dia mau mencoba test masuk UI atau ITB. Karena Eric tidak yakin, maka dia pun meminta kami membayar Rp 2.000.000 tersebut.

Menjelang batas akhir pembayaran uang kuliah di BINUS, Eric berubah pikiran. Dengan berani, dia melepaskan kesempatan kuliah yang sudah ada di depan mata itu karena ingin mencoba masuk UI atau ITB. Mungkin karena dia tidak mau kalah dari teman-temannya yang sama-sama hendak mencoba peruntungan untuk masuk ke universitas yang paling bergengsi di tanah air tersebut. Dengan penuh keyakinan, Eric pun mengurus segala keperluan untuk mendaftarkan diri ikut seleksi SIMAK UI dan PMBP ITB. Disamping itu, dia juga dipanggil ikut saringan program bea siswa untuk belajar di universitas terkenal di Singapore yaitu NTS dan NUS.

Jadwal tes dimulai dari minggu ketiga bulan Februari sampai dengan pertengahan bulan Maret. Di samping itu, di bulan Maret ada ujian blok di sekolah. Jadi, bulan-bulan yang cukup melelahkan bagi Eric. Seperti biasa, Eric tetap penuh semangat dan antusias menghadapi tes-tes tersebut. Sehari sebelum tes penyaringan ITB di Bumi Serpong Damai (BSD), Eric terserang panas tinggi karena kecapaian. Walaupun demikian, dia tetap ikut ujian di BSB selama dua hari berturut-turut. Khusus untuk ITB, pada waktu pendaftaran, kami sudah tahu bahwa jika tidak lulus ujian saringan pertama, masih ada kesempatan kedua di Bandung pada akhir Mei. Setelah tes, Eric mengaku kalau dia mengalami kesulitan untuk menyelesaikan seluruh soal ujian. Jadi, harapan untuk lulus pada gelombang pertama adalah kecil. Sebenarnya hatiku sempat menciut karena mana ada seorang ibu yang ingin melihat anaknya gagal. Walaupun sering kali kegagalan itu adalah guru yang terbaik. Namun, dengan tenang Eric meyakinkanku: “Tidak apa-apa, Ma. Masih ada kesempatan kedua di Bandung.”

Sebelum hasil tes diumumkan, Eric memberitahukan kepada kami bahwa dia lebih ingin kuliah di Bandung. Lagipula, untuk jurusan IT, ITB-lah yang terbaik. Sekarang saatnya mendengar pengumuman. Awal April ini, Eric diberitahu bahwa dia tidak lulus tes saringan untuk kuliah di Singapore. Tanggal 6 April, dengan gembira Eric memberitahukan kepada kami bahwa dia lolos dan diterima di UI, jurusan IT. Kami sangat bangga karena dari sekian puluh ribu dari calon mahasiswa yang mendaftar, Eric termasuk salah satu yang lulus. Kemudian, pada tanggal 8 April, keluarlah pengumuman dari ITB. Dan benar, Eric TIDAK LULUS. Namun, karena tekad baja dan mental pantang menyerah yang dia miliki, dia tetap tidak goyah dan ingin menggunakan kesempatan kedua dan terakhirnya di Bandung. Belajar dari kegagalan pertama, Eric ingin lebih siap lagi menghadapi ujian saringan kedua nanti di Bandung.

Tanggal 11 Mei adalah batas pembayaran cicilan pertama UI. Dan tentu saja, Eric pasti tidak mau melepaskan kesempatan emas ini seandainya tes masuk ITB gagal lagi di Bandung nantinya. Jadi, kami pun harus membayar uang sebesar Rp 13.700.000 agar status mahasiswa Eric di UI tidak dicoret. Uang tersebut pasti akan hangus jika seandainya Eric diterima di ITB karena pilihan pertamanya adalah kuliah di ITB jurusan IT. Kami sudah membuang Rp 2.000.000 ketika menolak BINUS. Sekarang kami kembali mempertaruhkan Rp 13.700.000 demi tidak kehilangan tempat di UI. Apa boleh buat, kami pun harus merelakan uang tersebut. Karena, siapa yang tidak ingin anaknya kuliah di perguruan tinggi terkenal di tanah air? Apalagi dengan lulus saringan dari sekian puluh ribu calon mahasiswa di 37 kota di tanah air.

Tadi pagi ketika kami duduk bersama di meja makan, Eric meminta bantuan saya agar mau membimbing dia belajar bahasa Inggris.

“Ma, setelah Eric selesai UAN (Ujian Akhir Sekolah) akhir April ini, mama tolong ajari aku Bahasa Inggris, ya? Kalau tidak salah mama punya buku grammar yang lengkap ‘kan?”

“Iya, mama pasti akan membantu Eric. Apa Eric yakin bisa lulus tes ITB di Bandung nanti?” Eric terdiam. Aku pun mengganti pertanyaanku: “Eric yakin mau mencoba sekali lagi.”

“Iya, Ma. Eric akan mencoba lagi. Eric akan berusaha semaksimal mungkin dan Eric sudah siap juga kalau harus kuliah di UI saja. Eric hanya mau menggunakan kesempatan yang ada supaya tidak menyesal nanti. Kalau Eric sudah coba dan ternyata tidak berhasil, ya sudah. Tidak apa-apa.”

“OK. Selamat berjuang, Nak. Mama akan selalu mendukungmu.”

Aku sungguh bangga dengan keteguhan dan sikap pantang menyerah putraku ini. Dia sering diutus sekolah untuk ikut perlombaaan Matematika. Keinginan untuk kuliah di Bandung timbul karena Eric pernah dua kali mewakili sekolah ikut lomba Matematika di Universitas Parahyangan Bandung. Walaupun selama ini, Eric mungkin hanya pernah menang satu atau dua kali saja, tetapi dia tidak pernah putus asa. Dalam kamus hidupnya, tidak ada kata menyerah selagi masih ada harapan dan kesempatan. Bagi kami, bisa lulus Ujian Saringan UI saja sudah membuat kami bangga. Namun jika ITB adalah pilihan utamanya, kami pun akan mendukung. Pengalaman menjalani bermacam-macam tes sebelum menuju universitas pasti akan sangat berguna untuk mengasah mentalnya. Lakukan apa yang kamu yakini, Nak. Karena masa depan terletak di tanganmu. Dan, kamu sendirilah yang akan menjalaninya. Semoga berhasil.

9 Balasan ke Jalan Menuju Universitas

  1. suzimajid mengatakan:

    mba vina,anak saya sekarang kelas 2 sma. tentu saya ingin juga anak saya lulus di ui. apa sih kiat2nya supaya anak bisa lulus di ui. dorongan apa yang perlu kita lakukan sebagai orang tua… tks ya mba..

    • Vina Tan mengatakan:

      Mbak Suzi,
      Sebagai orangtua, hal terpenting yang harus kita lakukan adalah menumbuhkan dorongan positif dalam diri anak itu sendiri. Sebenarnya, saya tidak pernah memaksa anak harus kuliah di universitas tertentu. Namun, kami sebagai orangtua selalu berdiskusi dan memberikan masukan apa nilai tambah jika kuliah di Universitas Negeri terbaik di negeri ini.

      Apa yang harus dipersiapkan jika mau ikut tes masuk. Yang terpenting anak sudah tahu JURUSAN apa YANG akan DIPILIH sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki. Kemudian PERSIAPKAN DIRI dengan sebaik-baiknya dan FOKUS. Ikut bimbel jika dibutuhkan

      Tips tambahan: sebagai orangtua, kita harus memiliki kemampuan untuk menggali potensi anak, mengarahkannya dan memberikan motivasi. Semua ini butuh proses, dan apa yang ada dalam diri anak hari ini adalah hasil kerja yang berkesinambungan selama bertahun-tahun.

      KETEGUHAN itu juga perlu. Dari hasil tes ITB pertama yg gagal, anak saya disarankan untuk memilih jurusan MIPA jika mau kuliah di ITB (saya yakin ini karena hasil psiko tes & tes bakat yg kurang memuaskan). Tapi anak saya teguh untuk tetap memilih IT saja untuk kesempatan kedua nanti di Bandung (akhir Mei ini). Masalahnya bukan demi untuk kuliah di ITB, tapi jurusan apa yang diminati. Dan dia sudah punya rencana apa yang akan dipersiapkan untuk menghadapi tes kedua nanti. Berhasil atau gagal, yang penting sudah mencoba dan berusaha sebaik mungkin.

      Terakhir, paling baik jika anak ibu mau berbicara langsung dengan anak saya. Pasti banyak informasi dan tips yang bisa didapatkan langsung karena anak saya sudah mengalami beragam proses seleksi. Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Jadi mengambil hikmah dari pengalaman orang lain pasti akan sangat berguna.

      Semoga bermanfaat.
      Salam,
      Vina

      • suzimajid mengatakan:

        mba vina, terima kasih atas sarannya…klo mba vina ga keberatan boleh juga minta no telpon eric. anak saya dinda paling kecil diantara 3 orang anak. dinda sudah merencanakan tahun depan dia akan disibukkan dengan persiapan uan, ujian masuk universitas. disamping itu tentu perlu tip2 apa saja untuk mengikuti tes dengan berhasil. doakan ya mba…mudah2an dinda bisa mengikuti jejak eric bisa juga lulus di ui. sebenarnya saya juga ingin benar bisa nyanyi..tapi mengatur nafasnya masih belum bisa, kadang2 baru nyanyi sedikit sudah sesak nafasnya. suaranya masuk kedalam ga lepas gitu…

  2. Vina Tan mengatakan:

    Mbak Suzi, no. tel Eric sudah saya kirim via e-mail.
    Saya akan ikut mendoakan supaya tahun depan Dinda berhasil masuk UI juga. Persiapan adalah yang terpenting.
    Untuk nyanyi, saya banyak belajar dari guru saya. Tadinya juga suara saya ngak lepas. Sekarang sudah agak mendingan. Sudah agak lepas dan lebih bertenaga.

    Salam,
    Vina

    • suzimajid mengatakan:

      tks mba…sukses ya… setelah 29 tahun bekerja di bank bni, bulan depan saya akan pensiun semua orang bertanya kepada saya apa yang akan saya lakukan setelah ini… saya sempat berfikir apakah pensiun itu menakutkan semua orang? saya bertanya kepada teman2 yang sudah menghadapi pensiun, toh mereka enjoy saja…kata mereka yang penting kita menerima apa yang akan terjadi pada diri kita. memang saya mengambil lebih cepat 2 tahun yang semestinya, toh hari ini atau lusa saya akan pensiun juga.
      sejauh ini belum ada rencana apa2, karena yang pertama akan saya lakukan merawat ibu yang lagi sakit, kedua menemani dinda belajar di rumah, mengantar dia les. yang ketiga menata rumah karena anak saya mizan, mengatakan seharusnya saya menata rumah supaya bersih dan tertata rapi, yang mizan lihat bahwa situasi rumah saya berantakan, pusing mam melihat rumah. selama ini waktu saya habis untuk bekerja, sabtu dan minggu ada saja hal-hal yang mesti dilakukan. ga waktu luang untuk merapikan rumah..dan tentu hal utama yang akan saya lakukan menata hati saya untuk dapat menerima dengan ikhlas.. dan saya tetap optimis bahwa pasti ada jalan terbaik untuk saya dan anak2. maaf curhat sedikit…karena pertanyaan2 yang datang kepada saya mengusik hati dan perasaan saya juga….walaupun ada rasa gamang menghadapi semua ini…

  3. Vina Tan mengatakan:

    Mbak Suzi,
    Dari curhat Mbak, saya bisa rasakan kalau Mbak orang yang kuat. Salut buat Mbak. Ikuti kata hati adalah yang terbaik. Dalam mengarungi hidup, jika masih ada rasa gamang adalah hal yang biasa. Senang bisa jadi teman Mbak walaupun hanya melalui tulisan. Semoga suatu hari nanti kita bisa bertatap muka ya Mbak.
    Salam, Vina

    • suzimajid mengatakan:

      mba vina..

      tks mba. tulisan mengenai vina sangat menyentuh hati. dinda belum mau menghubungi erik, karena merasa ga enak…..selamat ya buat erik yang lagi menjalani uan…sukses…

      salam hangat, suzi

  4. Multibrand mengatakan:

    Halo Vina,
    Versi Indonesianya ga kalah bagus dari bahasa Inggrisnya.
    Selamat ya.
    Harry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: