Wawancara

Hidup akan terasa indah dan menyenangkan jika kita mengisinya dengan melakukan apa yang disukai dan dicintai. Dengan demikian, kita baru memiliki kesempatan untuk mengasah potensi diri.

Di hari Selasa, 31 Maret yang lalu, seorang Editor Senior dari sebuah majalah grup Femina mengirimkan pesan pendek kepadaku. Dia ingin bertemu untuk wawancara tentang kegiatan ektrakulikular yang aku tekuni, yaitu les vokal. Awalnya aku tidak percaya karena di Desember yang lalu aku baru saja menjadi nara sumber untuk topik ‘Rangkul saja Remaja Anda’. Apa waktunya tidak terlalu cepat jika aku kembali diwawancarai? Begitu aku berkata dalam hati. Namun, karena aku suka bertemu dan berbagi cerita dengan orang lain, maka kesempatan ini tidak akan aku lewatkan begitu saja.

Keesokan harinya, kami pun bertemu.

“Vina, ketika kita bertemu terakhir kali, anda sempat menyinggung soal les vokal. Hari ini aku ingin tahu lebih banyak lagi. Pertanyaannya, apa yang membuat anda tertarik untuk belajar vokal?”

“Belajar adalah berusaha memperoleh suatu ilmu pengetahuan atau ketrampilan. Bisa dari pengalaman atau pengajaran. Aku sendiri ingin menambahkan bahwa belajar juga diperlukan untuk mempertahankan dan meningkatkan pengetahuan atau ketrampilan yang sudah kita miliki. Bagi sebagian orang yang kenal aku, mereka pasti heran kenapa aku masih mau belajar vokal dengan seorang guru. Aku lebih suka menyebutnya pelatih daripada guru. Karena, seorang pelatih bisa menjadi guru, konsultan, sekaligus mentor anda. Sejak kecil aku sudah memiliki bakat dalam beryanyi. Dan, aku sering menyanyi untuk acara sekolah saat di SD sampai SMA. Tidak setiap orang memiliki bakat menyanyi. Ketika masih di SMP, aku pernah meminta ibu untuk mencarikan guru vokal agar ada tempat untuk berlatih. Namun, kami tidak pernah menemukannya. Kini, ketika kedua anakku sudah beranjak dewasa dan cukup mandiri, aku memiliki banyak waktu luang untuk menggali potensi diri yang tidak sempat terasah selama ini. Aku bebas melakukan apa yang menjadi minatku. Misalnya: membaca, menyanyi dan menjadi pembicara. Itulah sebabnya aku aktif di kegiatan Toastmasters untuk terus mengasah kemampuan berbicara di depan umum. Di samping itu, sekali seminggu, aku juga berlatih vokal.”

“Cukup menarik!”

“Hidup akan menjadi berarti jika anda dapat melakukan hal-hal yang menjadi minat kita. Untuk menyanyi dengan baik, kita harus mampu berolah vokal dengan benar. Di sini pelatih memegang peranan penting. Bakat serta kepekaan mereka sudah terasah untuk menilai kapan kita memiliki penempatan suara yang tepat dan kapan tidak. Mereka dibutuhkan dan tentu saja dibayar karena ketajaman telinganya.”

“Bagaimana Vina menemukan pelatih vokal tersebut?”

“Berkat suamiku! Dia tidak bisa menyanyi sehingga merasa kagum apabila ada orang yang dapat menyanyi dengan baik. Setiap kali jika kami hadir di pesta perkawinan, aku selalu diminta untuk menyumbangkan lagu. Tentu saja aku tidak suka dan sering merasa kesal. Suamiku tidak habis pikir, kenapa ada orang yang memiliki bakat nyanyi seperti aku ini tidak mau memperlihatkannya di depan umu.  Bulan Februari 2006, ketika salah seorang adik suamiku menikah, aku pun terpaksa menyanyi di resepsi pernikahannya untuk menyenangkan hati suami. Saat itu aku menyanyikan dua buah lagu Mandarin. Ketika aku kembali ke tempat duduk, istri dari sepupu suami memberikan pujian. Katanya, jika aku menjadi penyanyi profesional, dia yang akan menjadi menejerku. Suami pun merasa bangga.  Sedangkan aku sendiri heran, kenapa melihat istrinya menyanyi menjadi berarti sekali bagi dia? Mungkin dia merasa nikmat jika menjadi pusat perhatian.”

“Kemudian, ketika JTC (Jakarta Toastmasters Club) beracara pesiar ke Pulau Seribu tanggal 29 Juli 2007, aku berkesempatan menunjukkan kemampuan berkaraoke. Seorang teman sempat memuji dengan tulus. Katanya, aku menyanyi dengan hati. Tentu saja aku merasa sangat tersanjung. Namun di dalam hati, aku sadar bahwa kemampuan menyanyiku tidaklah sebaik yang diperkirakan banyak orang.”

“Akhirnya, di bulan Agustus 2007, aku diundang adikku untuk datang ke rumahnya. Ketika itu ada misa 100 hari untuk memperingati kematian mertuanya. Di sana aku bertemu Ivan yang menyanyikan puji-pujian dengan baik dan merdu sekali. Di saat makan malam, aku pun mendekatinya seraya memuji kemampuannya. Kemudian aku bertanya apakah dia belajar vokal? Dan jawabannya adalah iya. Aku meminta alamat dan nomor telepon gurunya. Sesampai di rumah, aku pun menceritakannya kepada suami dan minta izin apakah boleh les vokal mulai Januari 2008. Suami adalah orang yang selalu mendukung aku untuk mengembangkan diri. Katanya, kenapa harus menunggu empat bulan lagi jika bisa memulainya saat ini juga.”

“Begitu ya.”

“Iya, sejak itu pula, aku mulai belajar vokal. Dan selama delapan belas bulan aku tidak pernah absen kecuali benar-benar sakit. Aku selalu berusaha meraih setiap kesempatan yang datang padaku. Kadang-kadang bukan hanya meraih tetapi menciptakan kesempatan itu sendiri.”

“Apa hasil positif yang didapat selama belajar?”

“Menurut Walter Gagehot, kepuasan terbesar dalam hidup adalah melakukan apa yang menurut orang lain tidak dapat kita lakukan. Bagiku, kepuasan terbesar dalam hidup adalah melakukan sesuatu yang orang lain tidak menduga kita dapat melakukannya.”

“Aku suka dengan kata-kata tersebut.”

“Pada hari Valentine 14 Februari 2009, aku ditunjuk menjadi Pembawa Acara untuk pelatihan kepemimpinan di Toastmasters. Di saat akan memulai acara, aku pun melantunkan beberapa kata dari lagu “Valentine-nya Martina McBride. You’re all I need, my love, my Valentine. Setelah itu, aku pun menyapa hadirin, “Hi teman-teman! Selamat merayakan Hari Valentine.” Pasti tidak ada yang menduga kalau aku bisa membuat perbedaan kecil di hari yang spesial tersebut. Jika aku tidak mempunyai seorang pelatih vokal, aku yakin aku tidak akan berani memamerkan kemampuan menyanyi tersebut di hadapan seratus orang pada saat itu. Jadi, keuntungan yang utama adalah belajar vokal telah membuat aku menjadi lebih percaya diri lagi.”

“Berikutnya, sebagai seorang pembicara dan konsultan, kadang-kadang aku harus berbicara selama berjam-jam. Jadi, suara adalah faktor penting. Untuk memelihara dan menjaga kualitas suara, kita harus tahu bagaimana cara bernafas yang benar dengan menggunakan diafragma. Cara kita bernafas benar-benar menentukan berapa banyak oksigen yang bisa dimasukkan ke dalam organ-organ tubuh kita. Semakin banyak oksigen yang masuk, semakin kita akan terlihat lebih awet muda dari usia yang sebenarnya. Jadi, menyanyi dan melakukan yoga sangat membantu untuk menjaga kualitas suara.”

“Masuk akal juga.”

“Aku sangat bangga memiliki pelatih vokal seperti Charles Nasution. Dia sangat menghormati, mengagumi dan memuja gurunya, Ibu Chatharina W. Leimena. Ibu, demikian Charles biasa memanggilnya adalah seorang guru vokal yang terkenal di negeri ini. Menurut Charles, dia sudah belajar dengan Ibu selama delapan belas tahun. Dan, sampai hari ini, setiap kali datang kepada Ibu, pasti ada hal baru yang dipelajari. Aku merasa beruntung berlatih vokal dengan seorang yang tidak pernah melupakan jasa-jasa gurunya. Aku dapat merasakan semangatnya yang tidak pernah luntur. Keinginan belajar yang tidak pernah lekang oleh waktu. Sebuah sikap yang patut diteladani.”

“Sekarang, keuntungan lain dari belajar vokal. Dengan bertambahnya pengetahuan, maka kemampuan untuk menilai penampilan seorang penyanyi menjadi lebih baik. Dan, menonton program pencari bakat seperti ‘American Idol’ ikut mengasah pengetahuan yang dimiliki serta menambah wawasan.”

“Apakah Vina tidak memiliki tujuan khusus ketika memutuskan belajar vokal?”

“Maksudnya, menjadi seorang penyanyi profesional? Sama sekali tidak. Bagiku, menyanyi sudah merupakan darah daging. Sejak kecil aku suka sekali menyanyi. Memang, ketika muda dulu, aku pernah bercita-cita untuk menjadi seorang penyanyi. Tetapi sekarang keadaannya berbeda. Aku sangat bahagia dengan semua kegiatanku sebagai seorang ibu rumah tangga, konsultan dan pembicara.  Menyanyi telah membuat hidupku menjadi lebih berarti lagi.”

“Aku selalu merasakan tantangan setiap kali melakukan vokalisasi. Hari demi hari, jarak nada yang aku capai semakin lebar. Tentu saja hal ini semakin dekat dengan nada maksimum dan minimum yang menjadi ‘range’ suaraku. Peningkatan ini terjadi sedikit demi sedikit. Hal ini membuat aku yakin bahwa aku bisa mencapai apa yang diinginkan asalkan mau melakukannya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Saat ini, aku telah menentukan target baru dalam hidupku. Dua tahun dari sekarang, aku ingin bernyanyi di hadapan seribu orang.”

“Aku yakin itu akan menjadi kenyataan, Vina.”

“Terima kasih banyak! Aku setuju dengan nasihat dari pelatih saya, Michel Gagne bahwa kamu perlu membuat dirimu dikenal. Jika kita mengerjakan sesuatu yang menjadi minat kita, pasti akan dilakukan dengan penuh semangat. Sehingga, pasti akan mudah untuk menjadi pusat perhatian dan dikenal. Namun, dibalik semua itu, kita harus mempersiapkan diri dan tanpa henti terus meningkatkan kemampuan kita. Ungkapan Elmer Letterman – keberuntungan akan tiba, jika kita siap di saat kesempatan datang – sangat cocok dengan apa yang sedang aku lakukan saat ini.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: