Obrolan Pagi Hari

Hari ini adalah jadwalku jalan pagi mengelilingi taman depan rumah. Seperti biasa, aku memilih untuk berjalan sendiri sambil menikmati udara pagi yang masih segar. Sesekali aku tersenyum dan menyapa teman-teman yang kutemui di jalan. Setelah empat puluh menit, ada Bapak-Bapak setengah baya yang berjalan di belakangku. Karena jarak yang cukup dekat, aku pun mendengar apa yang mereka bicarakan. Bapak A berkata bahwa anaknya akan kumpul-kumpul di Cafe Ola La untuk mengerjakan tugas. Bapak B langsung berkomentar, “Apakah Cafe Ola La atau Oli Li, itu sih hanya akal-akalan anak zaman sekarang untuk bisa hang-out. Mengerjakan tugas itu hanya sebagai kedok.”

Kemudian Pak B meneruskan, “Sekarang ini, kalau orangtua punya uang alias kaya, anaknya pasti akan bahagia. Betul ‘kan, Bu Vina?” Terus terang, aku terkejut ketika ”ditembak’ secara mendadak. Aku harus berpikir cepat agar mampu memberikan respon yang tepat, kataku dalam hati. “Kalau hanya uang yang membuat anak bahagia, sepertinya aku tidak setuju, Pak. Beberapa teman pernah mengeluh bahwa mereka tidak bahagia walaupun hidupnya berkecukupan. Anak-anak tidak mandiri dalam belajar dan tidak memiliki motivasi untuk mencapai impiannya. Jangan-jangan impian pun mereka tidak punya. Konflik suami istri menjadi semakin meruncing karena perbedaan yang tidak dapat disatukan dalam mendidik dan membesarkan anak. Itulah uneg-uneg mereka. Jadi, uang memang penting, tapi melihat anak sukses di masa yang akan datang adalah lebih penting. Tidak ada yang ingin gagal menjadi orangtua, bukan? Dan kalau kita tidak menggunakan uang dengan benar dalam mendidik mereka, anak-anak akan menjadi manja dan tidak tahan banting.” Pak B yang mendengar khotbahku terlihat mengangguk-angguk tanda setuju.

Kemudian aku melanjutkan, “Minggu lalu aku bertemu seorang bekas rektor dari salah satu universitas swasta ternama di Jakarta. Dia pun tidak habis pikir mengapa banyak anak dari kelas menengah ke atas tidak mempunyai motivasi diri untuk berhasil di sekolah. Aku pun menjawab bahwa masalahnya adalah orangtua yang mapan sering berpikir bahwa uang akan membuat anak mereka bisa mendapatkan segala-galanya. Mereka lupa bahwa untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, seorang anak harus diperkaya dengan berbagai pengalaman hidup yang kelak akan memberikan dampak positif bagi kehidupan mereka. Alasannya? Anak-anak belajar dari apa yang mereka alami dalam hidup ini. Sebagai contoh, satu setengah tahun yang lalu, ketika putraku Eric (17 tahun) minta dibelikan motor, kami tidak mengabulkannya begitu saja. Karena sangat menginginkannya, dia pun berpikir keras bagaimana bisa mencari uang sendiri untuk membeli motor tersebut. Kebetulan, Eric pandai mengajar sehingga banyak teman yang suka belajar dengannya. Sejak kelas 7, Eric sudah terbiasa mengajar Matematika dan Fisika. Akhirnya, setelah mendapatkan empat orang murid les, Eric pun bisa membeli motor impiannya.”

Dengan bangga akhirnya Pak B pun bercerita bahwa anaknya sudah bisa mencari uang saku sendiri dengan memberikan les pelajaran. Ketika saatnya berpamitan, aku melihat raut wajah Pak B menjadi lebih cerah. Aku pun yakin jika obrolan jalan pagi tersebut telah membuat Pak B sadar bahwa uang bukan faktor utama untuk menjadi bahagia. Kekayaan memang bisa berdampak positif atau menjadi bumerang. Tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Uang memang penting, tapi bukan segala-galanya.

7 Balasan ke Obrolan Pagi Hari

  1. Multibrand mengatakan:

    Wah tulisan yang sangat tepat mengena pada saya!
    Seringkali saya memberikan kepada anak saya apa yang dia minta.
    Tapi untungnya dia anak yang baik hati, contohnya kalau saya cuci mobil
    sendiri pasti dia bantu tanpa diminta. Demikian pula kalau saya merawat
    taman, atau apapun dia akan bantu tanpa diminta.
    Tapi walau demikian, saya akan menahan diri untuk tidak memanjakan dia.
    Terima kasih atas tipsnya.
    Harry

  2. No name mengatakan:

    Ideal nya memang uang bukan segala galanya. Banyak uang pun, orang tetap saja punya masalah, karena mencari kepuasan materi lebih, yang tak ada habis habisnya.

    Demikian banyak materi/barang/kemewahan/service yang ditawarkan oleh perusahaan perusahaan, yang menjajikan kepuasan, kenyamanan, kesedapan. Dan penawaran ini praktis non stop tiap hari, tiap jam. Ini adalah kenyataan yang bukan hanya remaja, namun semua orang alami.

    Rasanya untuk bicara uang tidak buat orang bahagia, adalah ibarat jalan menerpa angin super kenceang dari depan. Hampir semua orang termotivasi untuk cari uang sebanyak banykaknya, layaknya uang adalah segalanya. Orang begitu banyak murung/tak bahagia bila tak mampu beli ini atau itu. Saya rasa ini kenyataan.

    Pencarian uang demi kebahagiaan adalah suatu kenyataan yang kita lihat dimana mana.
    Tetapi…..
    Setiap orang harus berbekal kekuatan pikiran yang objective, untuk menilai seberapa yang pantas. Ibarat pakai baju, harus tahu masing masing ukuran dirinya. Terlalu mendambakan uang mungkin tidak akan pernah bahagia. Namun bila bilang uang tidak perlu, ya, kalau tidak bisa beli apa-apa, sedangkan yang lain lain bisa, pasti timbul pikiran sedih. Jadi harus juga objective, bahwa banyak orang lebih banyak uang, tapi dipihak lain, banyak juga yang uangnya lebih sedikit. Jadi harus objective atas diri kita, dan usahakan agar puas dengan diri kita.

    Lastly, dalam pencariannya, harus ditekankan bahwa kepuasan seyogiyanya bukan hanya pada saat pencapaian, namun dalam proses pencapaiannya pun harus juga memberikan kepuasan/enjoyment. Hingga kita bisa enjoy setiap saat dalam harapan, waktu kita bekerja untuk capai cita cita, bukan enjoy itu hanya didapat bila sudah pegang cita cita itu.

  3. dwi mengatakan:

    nice. tapi judulnya aneh

  4. suzimajid mengatakan:

    mba vina…

    pagi ini saya sempatkan membaca tulisan mba…setiap saya membuka email selalu ingin membaca tulisan mbak vina…menyentuh banget. setelah bertahun-tahun menikah, hubungan kita dengan suami terasa hambar. setelah membacanya, saya mengibaratkan bahwa perkawinan ibarat sebuah taman harus selalu dipupuk, disiram dan dirawat dengan baik. tks mba…

    salam hangat…

    suzi majid

  5. Vina Tan mengatakan:

    Mbak Suzi,
    Terima kasih banyak sudah menyempatkan diri membaca tulisah saya. Semoga bermanfaat!
    Salam hangat,
    Vina

  6. Vina Tan mengatakan:

    Mbak Suzi,

    Saya ini orang rumahan atau orang yang sangat suka berada di rumah. Tidak suka bepergian. Jarang sekali keluar kota. Sp hr ini paling jauh cuma ke Bandung (1x lbh dr 10 thn yl). Keluar rumah kalau ada perlunya saja, misalnya ke Toastmasters, kalau lagi ada jadwal bicara tentang parenting di sekolah2, antar anak2 kalau dibutuhkan & ke toko buku serta jalan2 ke mall bersama suami dan anak2 pd hari Minggu. Yang terakhir, itu pun kalau anak2 ngak sibuk dengan tugas/belajar dan saya juga ngak lagi malas keluar rumah. Kadang2 ketemu teman di restoran sambil memberikan ‘coaching session’.

    Sebenarnya kalau bakat menulis, saya tidak punya, Mbak. Sebelum ini menulis tidak pernah ada dalam kamus saya. Tapi, karena saya ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan, maka saya mulai mencobanya. Awalnya ngak pe de dan maju mundur. Tapi saya keraskan hati untuk tidak menyerah. Saya senang bila tulisan saya berguna bagi orang lain.

    Terima kasih Mbak udah mau membaca tulisan saya.

    Salam hangat selalu,
    Vina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: