Membangun Karakter

Puisi di bawah ini berasal dari sebuah buku yang pernah kubaca beberapa waktu yang lalu:

Jangan berjalan di belakangku,
aku bukan seorang pemimpin;
Jangan berjalan di depanku,
aku bukan seorang pengikut;
Tetapi berjalanlah di sampingku,
dan jadilah temanku.

Dengan jelas dan singkat, kata-kata di atas mengungkapkan harapan setiap orangtua jika kelak anaknya dewasa dan siap untuk hidup mandiri. Namun, marilah bertanya pada diri kita masing-masing. Apa yang telah kita lakukan untuk mempersiapkan anak-anak agar suatu hari nanti mampu berdiri di atas kaki sendiri? Umumnya, kita membesarkan anak berdasarkan naluri. Dengan kata lain, kita mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh generasi sebelum kita. Dan, seiring dengan perubahan yang terjadi lebih dari empat puluh tahun terakhir ini, maka tehnik membesarkan anak juga harus disesuaikan. Zaman sudah berubah sehingga kita tidak mungkin hanya bergantung kepada cara-cara lama yang dipakai oleh generasi terdahulu. Kita harus berubah dan meningkatkan pengetahuan tentang mendidik dan membesarkan anak. Apa yang kita lakukan saat ini, hasilnya akan kita petik nanti. Jadi, mau tidak mau, suka tidak suka, kita butuh terobosan baru dalam menghadapi masalah anak sekarang.

Mari kita lihat, hal terpenting apakah yang harus anak-anak miliki? Jawabannya adalah KARAKTER. Nasib atau masa depan seseorang sangat ditentukan oleh karakter yang dimiliki. Karakter yang positif melahirkan kekuatan mental dan integritas. Pencerminan karakter dimulai sejak usia dini dan terbentuk ketika terciptanya ikatan yang kuat dan hubungan yang akrab antar anggota keluarga, sanak saudara dan lingkungan sekitarnya.

Untuk membangun karakter positif dalam diri anak kita, mari kita mulai dengan tiga hal di bawah ini:

1. TANGGUNG JAWAB

Anak-anak harus sadar bahwa kelak mereka akan bertanggung jawab dan menjalani hidup mereka sendiri. Jika ada masalah, maka merekalah yang harus menyelesaikannya tanpa mencari kambing hitam. Sebagai orangtua, kita harus mengajarkan mereka untuk mulai bertanggung jawab pada diri sendiri sejak usia dini. Tentu dengan beban yang disesuaikan dengan umur mereka. Dengan kata lain, apa yang tadinya menjadi beban orangtua, kelak akan merupakan beban mereka. Sebagai contoh, sejak anak-anak duduk di kelas 1, aku telah mempersiapkan mereka agar memiliki tanggung jawab dalam belajar dan sedikit demi sedikit menumbuhkan kemampuan belajar sendiri. Awalnya memang tidak mudah. Tapi jika orangtua fokus dan konsisten, maka hasilnya bisa kita lihat beberapa tahun kemudian.

2. RASA HORMAT

Pernahkah anda berhubungan dengan seseorang yang tidak menghormati dan menghargai orang lain? Kita pasti akan merasa lelah dan putus asa ketika berhadapan dengan orang-orang semacam ini, bukan? Jadi, kalau tidak ingin memiliki anak-anak yang tidak sopan, maka tumbuhkanlah rasa hormat dalam diri mereka agar kelak menjadi orang yang disukai dan dihargai. Anak-anak adalah cermin orangtuanya. Mereka meniru kebiasaan, tingkat laku, sikap dan cara kita memandang hidup ini. Sehingga, sebelum mendidik mereka, didiklah diri kita sendiri terlebih dahulu.

Bagaimana menumbuhkan rasa hormat?

  • Jangan menyakiti perasaan orang lain
  • Pahami bahwa setiap orang itu unik dan berbeda satu dengan yang lainnya
  • Tunjukkan rasa hormat kepada orang-orang yang ada di sekeliling kita, terutama pasangan kita
  • Terima dengan lapang dada jika kita tidak bisa atau belum mendapatkan apa yang kita impikan

Hal terpenting yang harus dimengerti anak-anak adalah dunia bukan milik mereka sendiri. Mereka harus mau berbagi agar tidak menjadi manusia yang egois.

3. MOTIVASI

Di sesi tanya jawab seminar parenting di sekolah-sekolah yang aku datangi, orangtua sering mengeluh kurangnya motivasi belajar dalam diri anak-anaknya. Kenapa ini bisa terjadi dan apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi masalah ini?

  • Anak akan kehilangan motivasi jika sering dihukum dan merasa diri tidak berharga akibat amarah orangtua yang berlebihan. Jadi, hindari rasa marah yang membuat anak merasa terpojok. Jangan membuat mereka menjadi takut dan merasa malu.
  • Anak tidak memahami tujuan belajar. Ketika orangtua hanya mementingkan nilai rapor dan kurang menghargai proses belajar maka motivasi diri anak tidak akan berkembang. Jadi, hargailah usaha mereka daripada hanya mementingkan nilai rapor saja.
  • Tumbuhkan rasa aman dalam diri anak dengan cinta tak bersyarat. Jangan sampai anak punya perasaan bahwa orangtuanya hanya sayang jika mereka berprestasi atau berperilaku baik saja. Anak-anak lebih membutuhkan dukungan dan dorongan positif dari orangtuanya justru ketika mereka sedang putus asa.

Jelaslah bahwa orangtua memainkan peran penting dalam membesarkan anak. Apalagi hidup di zaman modern telah membuat tugas kita menjadi lebih sulit. Jadi, tingkatkan terus kemampuan dan pengetahuan anda agar dapat menjadi orangtua yang sesuai zaman demi masa depan mereka. Akhir kata, renungkanlah kata-kata Jacqueline Kennedy Onasis berikut ini: “Jika anda gagal dalam membesarkan anak anda, saya rasa hal lain apapun yang anda lakukan dengan baik, tidak akan berarti banyak.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: