Raja dan Pembantu yang Setia

Apa yang terjadi jika anak-anak tidak mau mendengarkan nasihat anda? Apakah anda marah dan terus mengkritik mereka? Jika demikian, barangkali cepat atau lambat komunikasi antara orangtua dan anak akan terhambat. Memang, menjadi orangtua zaman sekarang tidaklah gampang. Kita harus menguasai teknik komunikasi agar anak-anak mau membuka mata dan hati mereka sehingga mau menerima nasehat dan kritik yang membangun.

Sebuah pepatah yang ditulis dalam bahasa Mandarin berbunyi:  “liang (2) yao(4) ku(3) kou(3)” yang artinya: “obat mujarab rasanya pahit” (sebagai catatan, angka yang di dalam tanda kurung  adalah kode fonetik dalam bahasa Mandarin). Pepatah ini ditujukan bagi orang-orang yang tidak suka dikritik. Agar lebih memahami makna yang tersirat dalam ungkapan yang indah ini, mari kita simak cerita berikut ini:

Dahulu kala di negeri Tiongkok, hiduplan seorang raja yang tidak mau dikritik. Rakyat dan semua yang tinggal di istana harus patuh kepadanya. Akibatnya, Raja dikelilingi oleh orang-orang yang pandai menjilat untuk menyenangkan hatinya. Para petinggi istana tidak memiliki kemampuan untuk membantu Raja menjalankan roda pemerintahan. Akibatnya, kerajaan menjadi sangat lemah. Ketika musuh datang menyerang, rakyat dan semua pejabat melarikan diri sehingga tidak ada lagi yang tinggal untuk membela dan mempertahankan kerajaan. Ditemani oleh seorang pembantu yang setia, Raja terpaksa meninggalkan tahtanya untuk hidup di pengasingan. Dalam perjalanan, di saat raja lapar dan haus, pembantu pun mengeluarkan bekal yang telah dipersiapkan sebelumnya.

“Bagaimana makanan selezat ini bisa ada di sini?” Tanya raja.

“Saya yang menyiapkannya, Baginda. Saya sudah menduga bahwa suatu hari nanti kita harus meninggalkan kerajaan. Demi menjaga keselamatan Yang Mulia, maka saya menyiapkan perbekalan yang cukup banyak.”

“Bagaimana kamu tahu kalau kita harus meninggalkan kerajaan ini?”

“Saya sudah lama meramalkannya, Yang Mulia.”

“Apa? Tapi kenapa tidak ada yang menyampaikannya kepadaku?”

“Yang Mulia tidak pernah mau menerima saran dan kritik dari kami. Seandainya saya buka mulut sebelum ini, pasti kepala saya yang menjadi taruhannya. Kalau saya mati dipancung, tentu tidak ada yang akan menemani Yang Mulia di pengasingan nanti.”

Mendengar kata-kata pembantunya, muka raja pun merah padam karena menahan amarah. Raja terus mencela dan menyalahkan pembantunya atas apa yang telah terjadi sehingga pembantu tersebut menjadi sedih dan kecewa. Dia mengambil kesimpulan bahwa Raja tidak akan mungkin berubah. Bayangkan, dalam keadaan yang sulit saja, Raja masih bersikap lalim dan kejam. Untuk menjaga keselamatannya, pembantu segera meralat ucapannya, “Yang Mulia, saya sangat menyesal dengan apa yang telah saya katakan. Saya mohon Yang Mulia bersedia memaafkan kesalahan saya.”

Mereka berdua terdiam untuk beberapa saat. Kemudian Raja melanjutkan, “Katakan, kenapa saya harus meninggalkan kerajaan ini?”

“Karena Yang Mulia adalah seorang raja yang baik.”

“Jika saya baik, mengapa tidak bisa hidup tenang di istana dan harus melarikan diri untuk hidup di pengasingan?

“Masalahnya, Yang Mulia dikelilingi oleh orang-orang jahat. Mereka semua iri karena Baginda adalah Raja yang bijaksana. Jadi, secara tidak langsung, merekalah penyebab Baginda meninggalkan negeri ini.”

Akhirnya karena kecapaian, Raja tertidur di atas pangkungan pembantunya. Inilah saat yang tepat untuk melarikan diri, pikir sang pembantu. Akhirnya setelah memindahkan kepala Raja dari pangkuannya dengan hati-hati, pembantu segera melarikan diri. Raja pun mati karena tidak mampu mengurus dirinya sendiri.

Apa pesan moral dari cerita diatas? Seringkali kritik sangat kita butuhkan untuk melangkah maju dalam hidup ini. Kritik itu bagaikan obat yang walaupun terasa pahit tapi mujarab karena memiliki kemampuan untuk mengobati bagian tubuh yang sedang sakit.

Akhir kata, tidak perlu frustrasi atau marah jika anak-anak menolak nasihat anda. Cobalah memakai cerita di atas agar mereka lebih mudah menerima nasihat atau kritik demi kebaikan mereka sendiri.

NB: Cerita diambil dari buku Mandarin yang berjudul: ‘Ren(2) Sheng(1)’ Menentukan Pilihan Hidup.

2 Balasan ke Raja dan Pembantu yang Setia

  1. Ardi mengatakan:

    berbicara jujur tentang kekurangan orang lain adalah hal yang cukup sulit..
    Apalagi kepada orang yg lebih besar..
    Ada tips gak mbak, supaya sang pembantu berani jujur sebelum kerajaan di serang ?

    • Vina Tan mengatakan:

      Ardi, terima kasih atas komentarnya.
      Kejujuran adalah nilai diri yang seharusnya sudah tertanamkan sejak kecil. Kalau kita tidak terbiasa jujur, maka akan susah untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
      Alasan lain: Tidak mudah untuk mempertahankan kejujuran jika seseorang terbiasa dihakimi / disalahkan / dimarahi. Mereka berbohong untuk mencari aman. Jadi, jika hendak mengkritik seseorang:
      berilah kritik yang membangun, bukan kritik yang menghakimi.
      katakan apa hal baik yang telah dilakukan, dan apa yang perlu ditingkatkan.
      Intinya, ketika kita merasa nyaman dengan diri dan lingkungan sekitar, maka akan lebih mudah untuk bersikap jujur.
      Semoga bermanfaat.
      Salam,
      Vina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: