Akhir Pekan yang Bermanfaat

Rumah adalah tempat yang paling menyenangkan di dunia ini. Itulah sebabnya aku tidak suka dan jarang sekali bepergian karena tidak bisa mendapatkan kenyamanan dan kebebasan seperti di rumah.

Sabtu, 23 Mei 2009

Aku belum rela membuka mata ketika dibangunkan suami pukul 5.30 pagi. “Biarkan aku tidur 30 menit lagi,” kataku dalam hati. Bukankah kalau bangun jam enam, aku masih punya waktu tiga puluh menit lagi untuk bersiap-siap sebelum berangkat ke Bandung pukul 6.30? Terus terang, sebenarnya aku masih enggan pergi pagi itu, apalagi jika harus bermalam. Namun, apa boleh buat, aku sudah rindu dan ingin sekali bertemu dengan putraku, Eric sehingga aku terpaksa melawan diri sendiri. Siapa tahu ada hikmah yang dapat dipetik. Selanjutnya, aku mulai menghitung kapan saat terakhir aku datang ke Bandung. Dan jawabannya adalah dua belas tahun yang lalu. Aku mengguman dalam hati, “Dua belas tahun? Sudah lama sekali aku tidak ke kota Kembang ini. Pasti wajahnya telah banyak berubah. Semakin dewasa atau semakin tuakah kota ini sekarang? Ah, semua itu tidaklah penting. Tujuanku ke Bandung hanya untuk bertemu Eric. Akhirnya, bersama suami dan putriku, Lisa, kami pun meninggalkan Jakarta menuju Bandung, kota tempat Eric sudah indekos selama 9 hari karena ikut bimbingan belajar demi persiapan tes saringan masuk ITB yang akan diadakan pada akhir bulan, tanggal 30 dan 31 Mei 2009.

Sejak gagal pada tes pertama ITB di BSD (Bumi Serpong Damai) pada pertengahan Maret lalu, Eric telah membulatkan tekad untuk ikut kesempatan kedua dan terakhir ini. Diterima di UI jurusan IT tidak membuat tekad Eric luntur untuk mencoba sekali lagi di ITB. Prinsipnya, jangan menyerah selagi masih ada kesempatan. Kalau nanti gagal lagi, barulah UI menjadi pilihannya. Belajar dari kegagalan yang lalu, kali ini Eric benar-benar serius mempersiapkan dirinya, apalagi soal-soal yang diberikan tidak jauh berbeda dengan tes pertama di BSD. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, Eric memutuskan ikut bimbingan belajar langsung ke kota Bandung dan indekos di sini. Sebenarnya, Eric tidak sepenuhnya gagal pada tes yang pertama. Dia hanya tidak berhasil melewati tes skolastik sehingga tidak diterima di jurusan yang dipilih yaitu IT (Information Technology). Dari hasil pemberitahuan yang kami terima, jika saat itu Eric memilih jurusan MIPA, pasti dia sudah menjadi calon mahasiswa ITB sekarang. Saat mengisi formulir masuk ITB kali ini, Eric tetap menjadikan IT sebagai pilihan utama; Teknik Industri dan Teknik Kimia menjadi pilihan kedua dan MIPA adalah pilihan terakhir.

Kami tiba di tempat kos Eric di Jalan Belitung sekitar pukul sepuluh pagi. Setelah itu, kami berangkat menuju Rektorat ITB untuk mengambil kartu pengenal ujian Eric. Kami harus menunggu cukup lama karena antrian yang panjang. Aku meminta izin suami untuk menunggu saja di dalam mobil agar bisa membaca buku yang kubawa dari Jakarta. Setelah mendapatkan kartu ujian, kami melaju ke ITB untuk memastikan lokasi ruangan ujian. Setelah makan siang, kami menurunkan Eric di tempat les sekitar pukul 12.30. Sambil menunggu Eric selesai les, kami bertiga beristirahat di kamarnya. Memang, sebelum ke Bandung, kami telah memutuskan untuk menginap di kamar Eric dan telah mendapatkan izin dari yang empunya rumah. Kebetulan, kamar tersebut cukup luas untuk menampung kami berempat.

Pukul enam sore, suamiku menjemput Eric dari tempat les. Setelah mandi, kami segera menuju Mal Paris van Java untuk makan malam. Rencananya, setelah makan, aku dan Eric akan menonton film Angels & Demons yang main pukul sembilan. Terus terang, sebenarnya aku lebih suka jika suamiku atau Lisa yang menemani Eric. Namun karena suamiku tidak suka nonton bioskop dan Lisa sudah menonton film tersebut di Jakarta, maka akhirnya aku dan Eric yang masuk ke dalam bioskop. Sedangkan, suamiku dan Lisa menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di mal. Dalam perjalanan meninggalkan mal dan berkeliling kota Bandung malam itu, dengan penuh semangat, Lisa bercerita panjang lebar tentang demo ‘juicer’ yang dilihatnya. Katanya, alat tersebut sangat bermanfaat jika ingin hidup sehat. Sepertinya Lisa dan papanya sangat menikmati waktu mereka di mal sembari menunggu aku dan Eric selesai nonton. Setelah puas melihat kota Bandung pada malam hari, kami pun tiba di kamar ‘penginapan’ sekitar pukul 00.30 pagi.

Minggu, 24 Mei 2009

Ketika bangun pagi, kami mulai menanyakan persiapan Eric dalam menghadapi tes ITB yang tinggal beberapa hari lagi. Kami mencoba membantu Eric untuk mencari jawaban atas beberapa soal yang dianggap sulit. Aku menilai Eric sungguh-sungguh mempersiapkan dirinya. Akhirnya, kami mampir ke toko buku Gramedia dan membeli tiga buah buku tes skolatis tambahan sebagai referensi. Setelah makan siang, kami mampir ke Universitas Parahiangan untuk melihat gedung tersebut dari dekat. Dalam perjalanan kembali ke tempat kos di Jalan Belitung, kami membicarakan soal-soal tes masuk perguruan tinggi yang dari tahun ke tahun terus ditambah bobotnya. Sepertinya, calon mahasiswa di masa yang akan datang, tidak cukup hanya mengandalkan hasil tes akademis saja. Mereka juga harus membekali diri dengan tes kepribadian, tes bakat dan tes kecerdasan. Paling tidak, ada keuntungan tambahan yang diperoleh dari tes-tes tersebut.  Salah satunya, mereka dapat lebih mengenal bakat dan kemampuannya sendiri.

Selesai makan siang, kami kembali ke ‘penginapan’ karena suamiku dan Eric hendak berdiskusi dan membahas beberapa hal. Melihat suami yang begitu antusias mendukung anak laki-lakinya, aku pun merasa lega. Memang sudah seharusnya seorang ayah terlibat dalam perkembangan anak-anaknya terutama jika untuk kebaikan anak laki-lakinya.

Father-and-Son

Setelah membelikan makan malam dan makan pagi (untuk keesokan harinya) bagi Eric, pukul lima sore, kami pun bersiap-siap meninggalkan Bandung dan kembali ke Jakarta. Langkahku terasa berat ketika harus membiarkan Eric sendirian lagi di sana. Namun, aku masih dapat menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata agar tidak mengalir keluar. Aku harus tegar dan kuat serta memberikan kesempatan kepada Eric yang begitu bersemangat sedang berjuang untuk menentukan jalan yang akan dilalui. Eric ingin memiliki sayap yang kuat dan kokoh agar kelak dapat terbang seperti elang dalam meraih impiannya.

Kami sekeluarga sangat berbahagia karena dapat berkumpul bersama di Bandung dan menghabiskan akhir pekan yang penuh arti dan bermanfaat. Tidak penting apakah Eric akan berhasil atau gagal lagi kali ini. Paling tidak, Eric telah menunjukkan sikap pantang menyerah yang merupakan salah satu syarat untuk sukses dalam meraih cita-cita.

Selamat berjuang, Nak! Semoga berhasil!

4 Balasan ke Akhir Pekan yang Bermanfaat

  1. Ardi mengatakan:

    Semoga erik selalu bersemangat menghadapi ujian ujian lainnya..😀

  2. Harry Nizam mengatakan:

    Banyak hal yang saya pelajari dari tulisan Anda kali ini.
    Semoga Eric selalu berhasil ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: