Kelancangan Seorang Apoteker

drugBolehkah apotek memberikan obat yang tidak sesuai dengan resep dokter tanpa berkonsultasi dahulu dengan dokter?

Putriku, Lisa mulai mengeluhkan telinganya yang sakit Senin pagi sebelum berangkat ke sekolah. Aku menduga mungkin hanya panas dalam karena kurang minum air putih saat kami berakhir pekan di Bandung. Nanti juga akan sembuh sendiri, kataku dalam hati. Keesokan harinya, karena rasa sakit yang tidak berkurang, Lisa memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Aku yang mulai khawatir segera menelpon rumah sakit untuk membuat janji dengan seorang dokter THT di Rumah Sakit Siloam, Kebon Jeruk. Setelah memeriksa telinga, hidung dan tenggorokan Lisa dengan teliti dan hati-hati serta dari hasil wawancara, maka diagnosanya adalah telinga menjadi sakit karena dampak dari perbedaan tekanan udara antara kota Bandung dan Jakarta.

Setelah menuliskan resep, aku bertanya kepada dokter apakah obat yang diberikan adalah antibiotik? Dokter menjawab bukan. Obat yang diberikan adalah untuk menghilangkan rasa sakit. Ketika keluar dari ruangan praktek dokter, aku bermaksud menebus resep di rumah sakit. Tetapi, karena obat ‘Mefinal’ dengan dosis 250 gr tidak tersedia, aku menolak untuk diberikan Mefinal 500 mg walaupun bisa dikonsumsi separuhnya saja setiap kali minum. Lebih baik aku beli di apotek dekat rumah saja, kataku dalam hati.

Di apotek, ketika ditanya apakah resep yang akan ditebus adalah untuk bayi, aku pun menjawab, “Bukan, tetapi untuk anak yang berusia lima belas tahun.” Setelah mendapatkan obat, aku pun pulang ke rumah. Namun, aku sangat terkejut ketika hendak menyerahkan obat tersebut untuk segera diminum Lisa. Ternyata yang ada di tangan adalah ‘Mefinal’ 500 mg, bukan 250 gr seperti yang tertulis pada resep. Jadi, tanpa pikir panjang, aku langsung menelpon apotek.

“Bu, saya baru dari apotek beli obat. Begini, bukankah pada resep obat yang barusan saya tebus di sana tertulis ‘Mefinal’ 250 gr. Kenapa yang saya terima adalah 500 mg, Bu?”
“Karena usia anak ibu yang lima belas tahun.”
“Kenapa dinaikkan, bu? Saya ingin yang sesuai dengan resep dokter.”
“Memangnya berapa berat badan anak ibu?”
“Sekitar 45-46 kg. Boleh ya obatnya saya tukar?”
“Terserah. Ya, boleh saja.”
“OK, saya akan segera mengirimkan ‘mbak’ saya ke sana untuk menukarkan obatnya.”

Sungguh, aku sama sekali tidak menyangka jika ada apotek yang berani dan lancang mengganti dosis obat tanpa meminta pendapat konsumen atau berkonsultasi dengan dokter yang bersangkutan. Aku tidak pernah menduga bahwa apotek yang selalu kupercaya bisa berbuat sekehendak hati. Bukankah dokter yang memeriksa dan berhubungan langsung dengan pasien yang lebih tahu? Akhirnya, aku berpikir positif saja. Pasti ada pelajaran hidup yang bisa kupetik. Aku merasa beruntung, karena tidak jadi membeli obat ketika masih berada di  rumah sakit, maka aku tahu dosis obat yang tertulis di resep. Biasanya aku jarang sekali memeriksa secara detail obat yang akan dibeli karena sudah terlanjur percaya dan yakin kalau apotek yang lebih tahu. Di samping itu, untuk apa repot-repot membaca tulisan dokter yang sering kali susah untuk dimengerti?

Pengalaman telah mengajarkan aku untuk lebih teliti dan waspada. Lain kali, aku akan memeriksa dan memastikan dulu obat apa yang tertulis di resep. Sehingga kejadian yang tidak menggenakkan ini tidak akan terulang lagi pada masa yang akan datang. Di samping itu, aku sangat yakin kalau apotek tidak berhak mengganti dosis obat tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan dokter dan pasien.

16 Balasan ke Kelancangan Seorang Apoteker

  1. ariel mengatakan:

    benar loh mbak, sdh byk kejadian spt itu. saya malah selalu minta salinan resepnya.

    • Vina Tan mengatakan:

      Terima kasih atas komentarnya, Ariel. Kebetulan di apotek tempat saya tebus obat tersebut, resep yang asli dikembalikan kepada kita dan apotek yang menyimpan fotokopi resep.

      • suzinil mengatakan:

        benar mba vina. dosis obat ga boleh diganti oleh apoteker tanpa sepengatahuan pasien. dokter memberikan resep tentu ada pertimbangannya, tidak asal memberikan obat. apalagi dengan kasus lisa yang tidak begitu parah..saya setuju dengan tindakan mba vina..

        salam hangat

        suzi majid

      • Vina Tan mengatakan:

        Terima kasih atas dukungannya, Mbak.
        Salam hangat selalu,
        Vina

  2. Harry Nizam mengatakan:

    Wah saya tidak pernah perhatikan resep dokter, selalu anggap “taken for granted” bahwa dokter knows the best, demikian pula apoteker. Pelajaran yang berharga! Terima kasih.

  3. Barata Nagaria mengatakan:

    Prihatin atas Kriminalisasi Pasien oleh RS Omni International Alam Sutera.

    Terus terang kami menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas kriminalisasi pasien yang dilakukan oleh Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera. Apapun alasan kriminalisasi terhadap pasien tersebut, entah itu (terutama) melalui jalur pencemaran nama baik atau pun alasan lainnya, dipastikan akan menjadi bumerang yang sangat buruk bagi rumah sakit tersebut.

    Seperti diketahui, Prita Mulyasari (32) warga Villa Melati Residence Serpong, Tangerang Selatan yang memiliki anak masing-masing 3 tahun dan 1 tahun 3 bulan mengeluh atas pelayanan Rumah Sakit Omni International Alam Sutera (dikelola oleh PT Sarana Mediatama International).

    Keluhan Prita sebenarnya adalah pengalaman pribadinya sendiri ketika berobat di rumah sakit internasional tersebut. Namun karena merasa dipingpong dan tidak mendapat jawaban yang memuaskan soal penyakitnya, Prita kemudian mengirimkan email kepada sahabatnya, yang kemudian menyebar luas di berbagai mailing list.

    Pihak rumah sakit rupanya marah dan mengadukan masalah ini kepada pihak yang berwajib. Akibatnya Prita yang masih menyusui anaknya itu dijebloskan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Tangerang, sejak pertengahan Mei 2009.

    Pertanyannya, pantaskan rumah sakit mengadukan pasiennya, padahal dia mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari pasien ? Bukanlah jika keluhan kecil dari Prita jika ditanggapi secara professional, tidak akan menimbulkan keluhan yang lebih besar ? Bukankah respon yang dilakukan oleh pihak RS Omni Internasional bisa merusak citra rumah sakit secara keseluruhan ?

    Kami salut dan memberikan penghargaan yang baik terhadap Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia (PBHI) dan Dewan Pers yang mengangap bahwa penanganan RS Omni International Alam Sutera terhadap keluhan Prita terlalu berlebihan. Mudah-mudahan, kasus yang buruk seperti ini hanya yang pertama dan yang terakhir yang dilakukan oleh rumah sakit.

    Pada kesempatan yan baik ini kami menghimbau agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari untuk turun tangan menangani persoalan rakyat ini. Bahkan jika perlu, para aktifis konsumen, aktifis perempuan dan anak, serta lembaga bantuan hukum untuk rakyat segera melakukan koordinasi dan komunike bersama untuk menuntaskan persoalan ini secara lebih adil dan lebih beradab.

    Barata Nagaria
    Koordinator
    Solidaritas Anti Kriminalisasi Pasien Indonesia (SAKPI)
    http://anti-kriminal.blogspot.com
    email : barata.nagaria@yahoo.co.id

    • suzinil mengatakan:

      kita sebagai konsumen wajar saja, menyampaikan keluhan…apalagi rumah sakit…banyak keluhan karena pelayanan buruk rumah sakit….dedikasi seorang dokter juga dipertanyakan..
      tidak pantas pihak rumah sakit memberlakukan pasiennya seperti itu….

      salam

      suzi majid

  4. Lex dePraxis mengatakan:

    Wah baru tahu apoteker BISA berbuat seperti itu.. Musti hati-hati mulai sekarang, dan minta kopian resep.

    Salam revolusi romansa,
    Lex dePraxis
    Unlocked!

  5. dyah mengatakan:

    “Terima kasih atas komentarnya, Ariel. Kebetulan di apotek tempat saya tebus obat tersebut, resep yang asli dikembalikan kepada kita dan apotek yang menyimpan fotokopi resep”.

    Menanggapi komentar di atas seharusnya apotek tdk boleh mengembalikan resep asli kpd pasien. Sebagai dokumen resep asli hrs dipegang apotek.Dlm hal jika ada obat yg blm ditebus, apotek berkewajiban menulis jenis dan sisa obat yg belum ditebus dlm bentuk salinan resep.

    Masalah mg obat kdg2 suatu apotek menyediakan obat contohnya Mefinal 500 mg utk memudahkan dia dlm pembelian (dalam rangka mencegah expire date obat) misalnya: seorg dokter jarang sekali memberi mefinal 250 mg jadi apotek menyediakan yang 500 mg.Jd suatu saat ada dokter yg menulis mefinal 250 mg, apotek tinggal menginformasikan kpd pasien utk minum stgh tablet.Buat saya itu tdk masalah.Krn pabrik obat sdh sedemikian rupa memproduksi obatnya supaya flexible, dan ini tentunya sdh diujikan.

    Tp dalam rangka apotek mengganti dosis obat ke pasien (seperti cerita anda) saya sebagai apoteker juga tdk setuju.Apoteker hanya boleh mengganti dosis klau sdh berkomunikasi dgn dokter hanya utk memastikan apakah dokter menuliskan obat itu dengan dosis sekian, krn dr pngalaman saya dokter juga manusia. Kdg2 mereka melakukan kesalahan. Bbrp dokter menulis resep berdasarkan pertimbangan kebiasaan, jd apoteker juga hrs rajin cross check dg dokter

    • Vina Tan mengatakan:

      Halo Dyah,
      Terima kasih atas komentar dan masukannya yang tentunya sangat berguna bagi kami semua.
      Terima kasih juga karena telah membaca tulisan saya.
      Salam.

  6. sleep apnea mengatakan:

    Thanks designed for sharing such a fastidious idea, article is good, thats why i
    have read it entirely

  7. lady gaga mengatakan:

    Simply wish to say your article is as amazing. The clarity for your post is simply great and that
    i can think you are an expert in this subject. Well together with your permission allow me to seize your feed to keep up to
    date with imminent post. Thank you one million and please carry on the enjoyable work.

  8. Supporting mengatakan:

    bukan apoteker kali bu. jangan2 asisten apoteker.

  9. Supporting mengatakan:

    soalnya sekarang2 ini klo kita ke apotek. seringkali apoteker-nya gak ada.

  10. I’m amazed, I must say. Seldom do I encounter a blog that’s equally
    educative and entertaining, and without a doubt, you’ve hit the nail on the head.
    The problem is something that not enough folks are speaking
    intelligently about. Now i’m very happy I came
    across this during my hunt for something relating
    to this.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: