Belajar dengan Mengajar

teachingAda peribahasa yang mengatakan, “Kita belajar dengan mengajar. Karena dengan belajar kita akan mengajar, dan dengan mengajar kita akan belajar.” Setujukah anda dengan peribahasa ini? Kalau tidak, apa pendapat anda? Menurut hemat saya, kata-kata indah nan penuh arti ini akan lebih mudah dipahami dan diresapi jika kita terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar tersebut.

Anak saya, Eric, yang saat ini duduk di kelas dua belas atau kelas tiga Sekolah Menengah Atas sangat suka mengajar. Menurut wali kelas, Eric sering minta izin untuk memakai ruangan kelas pada jam istirahat. Tujuannya adalah memberikan pelajaran tambahan Matematika, Fisika dan Kimia untuk membantu teman-teman yang ingin meningkatkan nilai pelajaran-pelajaran tersebut. Minatnya yang besar untuk mengajar mulai terlihat sejak duduk di kelas tujuh. Dan, Eric memulai debut amatirnya menjadi guru dengan mengundang beberapa teman untuk belajar ke rumah. Sejak itu, rumah saya pun ramai dikunjungi apalagi ketika musim ulangan atau ujian sekolah tiba. Sungguh menyenangkan! Keuntungan lain yang didapatkan adalah saya lebih mengenal teman-teman Eric yang sering datang ke rumah. Saya juga banyak mendapatkan informasi penting tentang perkembangan, tingkah laku dan sikap mental remaja masa kini.

Suatu hari, terdorong oleh rasa penasaran, saya bertanya kepada Eric tentang waktu belajar untuk dirinya sendiri. Apakah kesibukannya membantu teman-teman tidak akan membawa dampak buruk bagi nilai rapornya nanti. Jawaban Eric sungguh diluar dugaan saya, “Ma, saya harus belajar dulu, dong, sebelum mengajar teman-teman. Sebenarnya, secara tidak langsung, sambil mengajar, saya pun belajar lagi.”  Sungguh bijaksana! Dari mana Eric mendapatkan filosofi hidup ini serta mampu mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari? Saya sangat bersyukur karena Tuhan yang baik hati telah memberikan karunia istimewa untuk Eric.

Sebagai orangtua, kita harus peka dengan bakat dan minat yang dimiliki anak kita. Sejak kecil Eric suka mengajak saya bermain sekolah-sekolahan. Eric yang menjadi guru dan saya sebagai muridnya. Eric juga minta dibelikan trombolin agar dapat meniru salah satu gaya gurunya ketika sedang mengajar di kelas. Seorang ibu pasti akan melakukan apa saja demi kebahagiaan anak-anaknya, bukan? Ketika Eric menanyakan soal-soal yang harus saya jawab sebagai murid, sekali-kali saya bersikap seolah-olah saya tidak mengerti dan menantangnya untuk menerangkan soal tersebut agar saya dapat mengerti. Disamping itu, saya juga membimbing dan mengarahkannya agar tidak pelit ilmu. Karena, hanya dengan memberi kita akan menerima. Jika kita mau mengajarkan ilmu yang kita miliki kepada orang lain, maka pengetahuan kita pun akan terus bertambah. Hal penting lainnya yang ikut saya tanamkan adalah mengajarkan ‘cara belajar’ agar kelak anak-anak memiliki ‘kemampuan belajar sendiri’, sehingga tidak selalu harus tergantung orang lain. Tidak disangka, cikal bakal yang tertanam sejak dini itu akhirnya berkembang dan terus terasah ketika Eric menjadi guru bagi teman-temannya. Semua ini dilakukan dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih.

Konsekuensinya, cukup banyak sikap mental positif  yang telah tertanam dalam diri Eric karena mempraktekkan filosofi ‘belajar dengan mengajar’ ini selama bertahun-tahun, misalnya:

  1. Mandiri dalam belajar.
  2. Semangat belajar yang tinggi.
  3. Rajin dan disiplin dalam belajar.
  4. Menjadi proaktif.
  5. Aktif bertanya kepada guru.
  6. Nilai-nilai pelajaran menjadi bagus dan stabil.
  7. Lebih mudah bergaul dan menyesuaikan diri dengan banyak orang.

Kini, tugas saya sebagai orangtua menjadi jauh lebih ringan. Tidak lama lagi, Eric akan kuliah di salah satu universitas negeri yang cukup terkenal di negeri ini. Saya pernah mengingatkan Eric bahwa menjadi sarjana adalah penting, tapi bukan segala-galanya. Menguasai dan mempraktekkan ‘ilmu-ilmu tentang kehidupan’ adalah jauh lebih penting. Saya cukup bangga ketika melihat Eric tetap mau berbagi ilmu dengan beberapa temannya yang masih harus berjuang untuk ikut tes seleksi masuk universitas.

Satu hal penting yang ingin saya sampaikan di sini adalah apa yang kita tanamkan pada anak-anak sejak usian dini, akan kita petik bertahun-tahun kemudian. Dengan kata lain, kita menuai apa yang telah ditanam. Bertahun-tahun mengamati dan mengikuti perkembangan banyak anak dari kecil hingga remaja ikut memperkaya wawasan dan menambah bobot pengetahuan parenting yang saya miliki. Saat ini, saya pun telah mengikuti jejak Eric dengan mengajarkan kembali pengetahuan dan pengalaman parenting yang saya miliki kepada banyak orangtua melalui seminar-seminar. Percayalah, belajar dengan mengajar adalah salah satu cara terbaik untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dan matang. Jadi, jangan pernah berhenti belajar. Karena, dengan belajar kita akan mengajar, dan dengan mengajar kita akan belajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: