’17 Again’ dan ‘Garuda di Dadaku’

Senin, 22 Juni 2009

Beberapa hari yang lalu, seorang teman menuliskan kata-kata pujian bagi film bioskop ‘Garuda di Dadaku’ pada dinding Fesbuknya. Promosi tersebut sangat berkesan dan membuat saya benar-benar penasaran. “Begitu hebatkah film ini sehingga pantas untuk ditonton?” Kalau iya, sebuah film yang bisa menumbuhkan sekaligus mempertebal rasa patriotisme bangsa harus ditonton oleh siapa saja, terutama anak-anak Indonesia. Artinya, putra-putri saya, Eric dan Lisa termasuk yang wajib nonton juga. Berhubung saat itu Eric masih retret, maka saya hanya bisa mengajak Lisa.

Sebenarnya, saya bukanlah orang yang gila nonton. Hanya film-film yang benar-benar bagus dan menawarkan pesan moral yang dapat memaksa saya datang ke bioskop. Jadi, tidak heran kalau Lisa agak terkejut ketika saya sedikit memaksanya, “Lisa, kamu harus nonton film ‘Garuda di dadaku’, deh. Menurut teman mama, film yang sarat pesan moral ini wajib ditonton oleh generasi muda seperti kamu. Jadi, mau ‘kan, ikut nonton dengan mama?”

Tentu saja Lisa tidak menolak karena menonton adalah hobinya. Bahkan, dia balik merayu agar saya juga mau menemaninya nonton film ’17 (dibaca seventeen) Again’. “Apa, 17 Again? Film remaja itu? Mana pantas, sih, buat mama? Kamu ajak temanmu saja karena mama tidak mau memaksa diri untuk menonton film yang bukan untuk mama.” Demikianlah reaksi spontan dari saya ketika mendengar kata ‘seventeen’. Akan tetapi, bukan namanya Lisa jika harus menyerah begitu saja di saat menghadapi penolakan. Lisa selalu piawai memilih kata-kata kunci untuk meluluhkan hati saya.

“Ma, itu sih bukan film remaja tetapi film yang bercerita tentang kesempatan kedua. Mama pasti akan menyesal kalau tidak menontonnya.”

Kata-kata “kesempatan kedua” benar-benar menyihirku. “Mungkin tidak ada salahnya mendengarkan masukan dari Lisa,” kataku dalam hati. Akhirnya, setelah melihat-lihat jadwal film yang tercantum pada halaman khusus koran Kompas, saya pun menjawab tawaran Lisa.

“Tentang kesempatan kedua, ya, Lis. Baiklah! Bagaimana kalau kita nonton dua film sekaligus dalam satu hari? ’17 again’ pukul 16.50 di Mal Taman Anggrek (MTA). Kemudian diteruskan dengan ‘Garuda di Dadaku’ pukul 20.50 di Mal Puri Indah? Dari MTA, kita bisa kembali ke rumah dulu untuk makan malam. Selanjutnya, baru ke Puri untuk film berikutnya. Setuju?”

“Setuju sekali, Ma. Deal! Tapi kapan ya?”

“Besok, Lis.”

“Besok?”

“Iya. Besok.”

Begitulah, apa yang terjadi pada hari Selasa kemarin, 23 Juni 2009 adalah sungguh menyenangkan dan berarti. Seperti biasa, Selasa pagi adalah jadwal untuk Toastmasters. Jadi, pukul 10.30 pagi, saya menuju Plaza Senayan untuk ikut pertemuan Toastmasters Klub Kebayoran di Chevron, Sentra Senayan. Selesai pertemuan, saya segera kembali ke rumah untuk makan siang. Kira-kira pukul empat sore, saya dan Lisa sudah dalam perjalanan menuju MTA yang hanya berjarak 15 menit dari rumah.

Saat-saat bersama Lisa menonton sebuah film adalah yangย  paling menyenangkan. Alasannya? Karena saya bisa memasukkan pelajaran moral yang dapat dipetik ketika sebuah film selesai ditonton. Tentu saja, saya tidak akan membahas cerita film tersebut dalam tulisan ini karena akan menghilangkan rasa penasaran dari para pembaca yang belum menonton kedua film tersebut.

17-againJadi, dalam perjalanan kembali ke rumah setelah menonton film pertama kami ’17 again’, saya pun bertanya kepada Lisa, “Lisa, kamu suka dengan film ’17 again’?

“Suka, Ma.”

“Pelajaran atau pesan moral apa yang kamu dapatkan setelah menonton film tersebut?”

“Dalam menghadapi hidup, jangan pernah menyesali apa yang telah terjadi. Karena, seandainya pun kita punya kesempatan untuk kembali ke masa lalu, kemungkinan besar kita tetap akan melakukan hal yang sama. So, always lead your life positively.”

Saya memang terbiasa mendiskusikan isi sebuah film bersama Lisa dan apa nilai-nilai moral yang bisa kita pelajari. Bukankah salah satu aspek terpenting dari parenting adalah mengajarkan nilai moral kepada anak. Dan film adalah salah satu alat yang dapat membantu para orangtua jika kita bisa memilih film yang baik dan bermutu. Sehingga, waktu yang kita habiskan di dalam bioskop tidak terbuang dengan percuma.

Akhirnya, ketika pertanyaan yang sama saya tanyakan kembali untuk film kedua yang kami tonton malam itu, pendapat Lisa adalah, “Kita harus berjuang untuk meraih sebuah impian, Ma.”

Film ’17 again’ memang bagus. Tetapi, ‘Garuda di Dadaku’ lebih bagus lagi karena dapat menginspirasi generasi muda bangsa Indosia agar mempunyai sikap hidup yang positif dan pantang menyerah. GARUDA DI DADAKU, GARUDA KEBANGGAANKU… KUYAKIN HARI INI, PASTI MENANG.

garuda_didadaku

8 Balasan ke ’17 Again’ dan ‘Garuda di Dadaku’

  1. takpenting mengatakan:

    salam kenal๐Ÿ™‚
    iya bener, garuda di dadaku emang bagus banget tema dan ide ceritanya. sebenernya sih ceritanya mudah ditebak, tp overall bagus lah, wajib ditonton terutama para muda-mudi Indonesia

    mampir => http://takpenting.wordpress.com

  2. Ardi mengatakan:

    Jadi pengen bawa anak2 buat nonton nech..
    Thx sharingx mbak Vina..๐Ÿ™‚

  3. KoQn mengatakan:

    hhhhee…..

    aduh kayanya indonesia membutuhkan film yang lebih bermutu lagi dech…..๐Ÿ™‚
    jangan suka nyontek film luar gitu…
    just kritik dan saran!!!!!!

  4. KoQn mengatakan:

    hhhhee…..

    aduh kayanya indonesia perlu memajukan negara dech…….๐Ÿ™‚
    jangan suka nyontek film luar gitu…
    just kritik dan saran!!!!!!

  5. yan mengatakan:

    17 again jg sangt bagus….baru ntn di Hbo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: