‘King’ atau ‘Garuda di Dadaku’?

Setelah menonton film ‘Garuda di Dadaku’ seminggu yang lalu, aku pun bertekad untuk tidak melewatkan film ‘King’ yang mulai beredar di bioskop tanggal 25 Juni yang lalu. Apalagi, saat ini seorang teman baikku sedang menantikan jawaban atas pertanyaannya. Ceritanya begini: Pada hari Selasa yang lalu, setelah selesai pertemuan Toastmasters, kami berdua terlibat obralan yang ringan dan ringkas. Dari pembicaraan tersebut, aku baru tahu kalau tulisan sebelumnya di blog ini tentang ‘Garuda di Dadaku’ menarik perhatiannya. Kebetulan saat ini suaminya sedang cuti sehingga mereka ingin nonton bersama. Karena ‘King’ juga sudah main di bioskop maka aku pun menyarankan agar dia mengajak suami untuk menonton kedua film tersebut. Sayang sekali kalau harus dilewatkan. Siapa lagi yang akan menghargai film-film hasil karya anak bangsa yang sarat pesan moral jika bukan kita sendiri?

Sayang seribu sayang, temanku ini menjelaskan bahwa karena keterbatasan waktu, suaminya hanya bersedia untuk menonton SATU film saja. Kemudian dia pun meneruskan, “Vina, jika aku harus memilih salah satu dari kedua film tersebut, mana yang kamu sarankan? Menurut putriku lebih baik menunggu kamu nonton ‘King’ dulu dan menuliskan pendapatmu di blog. Setelah itu, baru aku menentukan pilihan.” Terus terang, Aku merasa tersanjung sehingga mau tidak mau harus segera menonton ‘King’ agar bisa membantu temanku itu.

Akhirnya, setelah selesai les vokal hari Rabu sore, aku mengajak putriku, Lisa untuk nonton film ‘King’ di Plaza Senayan. Sepanjang film bergulir, selama itu pula aku bingung karena masing-masing film mempunyai kelebihan yang tidak ada di film lainnya. Satu tentang sepak bola, satunya lagi tentang bulutangkis. Jika ‘Garuda di Dadaku’ menekankan kentalnya campur tangan dan dominannya peran seorang kakek dalam kehidupan sang bintang, maka ‘King’ memotret kekakuan hubungan ayah dan putranya yang merupakan cerminan kehidupan nyata yang umum terjadi dalam masyarakat. Saat itu, sampai film selesai diputar, aku masih belum dapat membuat keputusan. Bingung, karena kedua film tersebut sama bagusnya.

Tiba-tiba, aku teringat akan pelajaran yang didapat selama bertahun-tahun ikut Toastmasters. Apa yang menjadi nilai tambah sehingga film yang satu menjadi lebih menarik untuk ditonton? Pertanyaan inilah yang akhirnya berhasil memecahkan kebuntuan pikiran. Ada tiga poin penting yang akhirnya membuat aku segera mengirimkan sms pendek kepada temanku setelah aku menemukan jawabannya, “Jika kamu memang harus memilih, nonton saja KING”.

Alasannya:

  1. Ada humor dan rasa sedih yang berbaur menjadi satu pada saat yang bersamaan.
  2. Kita bisa memandang bintang-bintang bulutangkis yang dulu pernah berjaya mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional seperti Lim Swie King, Haryanto Arbi dan Ivanna Lie.
  3. Kita bisa melihat sekolah bulutangkis PB Djarum yang berdiri kokoh di kota Kudus.

Semoga bermanfaat!

KING_poster

4 Balasan ke ‘King’ atau ‘Garuda di Dadaku’?

  1. Lucu Indonesia mengatakan:

    hidup film indonesia

  2. farin mengatakan:

    jdi sadar…udh lama sy ga nonton film2 indonesia di bioskop komersial. berp bln trakhir ini slalu nonton film2 d festival or di screening2 khusus non komersil aj.baik film2 indonesia ataupun film2 non holywood. well,ini wkt yg tepat utk msuk ke 21 lg,he3,en sgra nonton KING dan GARUDA… thx for reminding me, bu vina….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: