Kabar Buruk di Pagi yang Cerah

Pagi ini cuaca begitu indah dan cerah. Kekecewaan yang saya rasakan setelah menyaksikan film ‘Harry Potter’ tadi malam telah sirna ditelan matahari pagi. Terus terang, saya sama sekali tidak tertarik dengan cerita film tersebut dan sempat tertidur sebentar di dalam gedung bioskop. Apalagi, jadwal film yang kami tonton adalah yang jam 08.45 – 11.15 malam. Apa boleh buat! Demi menyenangkan hati putri tercinta, maka sedikit pengorbanan pasti tidak ada artinya bagi setiap ibu yang mencintai anak-anaknya. Setuju? Di samping itu, saya sungguh tidak tega mengecewakan putri saya, Lisa karena tiket sudah dipesan sejak pagi via M-Tix (pesan tiket nonton melalui sms atau telepon). Saya juga telah berjanji ingin lebih sering berada di dekatnya sebelum Lisa beranjak dewasa satu sampai dua tahun lagi. Seperti yang kita ketahui, saat anak-anak mulai dewasa dan benar-benar menjadi orang dewasa nantinya, bisa-bisa kesempatan emas ini akan menjadi hal yang langka. Jadi, sebelum terlambat dan supaya tidak menyesal nantinya, lebih baik mengalah sedikit demi mempererat hubungan ibu dan anak.

Setelah nonton, kami langsung pulang ke rumah. Malam yang semakin larut tidak menghalangi saya untuk mempersiapkan diri guna menghadapi seminar ‘parenting’ yang akan saya berikan di sebuah sekolah swasta Tangerang keesokan paginya. Seminar tersebut merupakan rangkaian ‘roadshow – session 3’ bersama ‘Mulia Brothers’ dengan tema ‘Proactive Kids’ ke sekolah-sekolah yang ada di Jakarta dan sekitarnya. Untuk session ini, saya telah mempersiapkan tiga buah topik yaitu: 1. Batasan-Batasan dengan Anak (Boundaries with Kids); 2. Dorongan Positif untuk Anak (Positive Push); 3. Jangan Pernah Gagal Menjadi Orang Tua (No Excuse Parenting). Untuk itu, sekolah tempat saya berbicara dipersilakan memilih salah satu dari ketiga topik tersebut.

Sekolah pertama yang saya datangi pagi ini memilih topik kedua, yaitu ‘Dorongan Positif untuk Anak’. Perjalanan menuju sekolah memakan waktu kira-kira empat puluh lima menit. Selama perjalanan, saya berusaha untuk mengingat-ingat poin penting yang akan disampaikan pada seminar nantinya.  Tetapi, ketika saya baru saja melihat bangunan sekolah yang hanya beberapa meter saja di depan mata, handphone pun berdering dan ternyata adik saya, Jef yang menelpon.

Cie, kamu ada di mana?” Saya sedikit heran karena tidak biasanya Jef menanyakan keberadaan saya. Oh iya, cie adalah panggilan kepada kakak perempuan yang lebih tua.

“Di Tangerang karena ada jadwal seminar di sekolah.” Jawab saya.

“MU (Manchester United) bisa batal ke Jakarta, lho.”

“Batal? Kenapa bisa batal?” Saya bertanya sambil terheran-heran. Lagipula, apa untung ruginya buat saya kalau MU batal ke Jakarta?

“Ada bom meledak di Ritz Carlton?”

“Oh iya? Di Markas MU ya?” Tanpa ambil pusing, saya langsung membayangkan kalau markas MU yang dibom.

“Bukan, JW Marriot dan Ritz Carlton di Kuningan, Jakarta yang dibom. Tadi pagi waktu mengantar istri ke kantor di daerah Kuningan, jalanan macet. Katanya ada bom yang meledak di kedua hotel tersebut.”

“Apa? Ngak salah, tuh? Kog bisa ya? Apa ada korban jiwa? Kalau ada, banyak ngak? Aduh, kog bisa terjadi lagi, ya?” Saya terus membombardir Jef dengan rangkaian pertanyaan. Kenyataannya, Jef tidak bisa menjawab karena dia sendiri tidak begitu tahu karena bom baru saja meledak. Setelah percakapan itu, waktu menunjukkan pukul pukul 8.40 pagi. Akhirnya, dengan hati yang gundah gulana dan pikiran yang melayang-layang kembali ke peristiwa bom JW Marriot beberapa tahun yang lalu, saya segera mencari tempat parkir di halaman sekolah.

Ketika bertemu teman-teman dari Mulia Brothers yang merupakan Event Organizer penyelenggaran seminar saya di sekolah-sekolah, saya segera menanyakan kebenaran berita bom yang baru saya dengar beberapa menit yang lalu. Namun, tidak seorang pun yang tahu persis apa yang telah terjadi. Semua hanya yakin jika telah terjadi pemboman di kedua hotel tersebut, Ritz Carlton dan JW Marriot. Karena saya harus memberikan seminar pukul 9.30, maka saya tidak boleh terbawa emosi yang sedang saya rasakan agar tidak mengecewakan para orangtua yang telah hadir.

Seminar yang berakhir pukul 10.45 langsung disambung dengan sesi tanya jawab selama 15 menit. Setelah itu, saya masih melayani orangtua yang ingin bicara secara pribadi dengan saya. Jadi, kira-kira pukul 12 siang, saya meninggalkan sekolah untuk kembali ke rumah. Dalam perjalanan, saya membaca sms yang dikirim oleh suami. Beliau berpesan agar saya jangan ke mana-mana setelah seminar, apalagi mengunjungi mall karena Jakarta baru dibom pagi ini. Sepanjang jalan, hati saya sangat tidak tenang membayangkan apa yang terjadi dengan korban bom. Sesampai di rumah, putra saya, Eric sedang duduk di depan televisi mengikuti berita pembomban yang disiarkan di hampir setiap stasiun televisi. Akhirnya, saya mendapatkan gambaran yang jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Jakarta benar-benar diguncang bom.

Sungguh menggenaskan melihat korban-korban yang tidak berdosa berlumuran darah, apalagi ada yang sampai meninggal. Saya benar-benar tidak percaya kalau hal yang biadab ini kembali terjadi di negeri kita yang tercinta ini, negeri Indonesia. Tetapi, apa mau dikata! Nasi sudah jadi bubur. Penyesalan selalu datang belakangan. Kita hanya bisa bertanya, “Mengapa hal ini bisa terjadi lagi?” Atau berkomentar, “Kita kecolongan karena terlalu fokus mengamankan Pilpres yang berlangsung bulan ini.” Akhirnya, saya menarik kesimpulan, “Apapun yang telah terjadi, kita semua harus tetap optimis dan bangga menjadi bangsa Indonesia.” Marilah bersama-sama kita isi diri masing-masing dengan hal-hal yang baik dan positif agar tetap menjadi manusia Indonesia yang adil dan beradab sesuai dengan Pancasila. Semoga hari esok akan lebih baik. Tomorrow will be better… Míng tiān huì gèng hǎo.
jakarta_bomb_gallery__550x395

5 Balasan ke Kabar Buruk di Pagi yang Cerah

  1. suzinil mengatakan:

    saya juga terkejut dengan kejadian pemboman tersebut. sekarang kita sedang menikmati pesta demokrasi, yang berakhir dengan baik. teganya…dia mengacaukan semua itu. oh ya mba vina, saya baca tulisan sebelumnya mengenai jalan menuju universitas, bahwa eric perlu belajar lagi tentang grammar. menurut mba vina, buku pegangan apa yang bagus untuk anak sma. dinda juga mengeluh bahwa grammarnya ga begitu bagus. bagaimana eric, apakah sudah mulai kuliah..klo perlu bantuan tempat kost mungkin anak saya bisa bantu. anak saya yang gede kuliah di unpad, tinggal di tubagus ismail.

    salam hangat

    suzi majid

    • Vina Tan mengatakan:

      Selamat pagi, Mbak Suzi! Semoga Mbak sekeluarga baik-baik selalu.
      Mengenai buku grammar, buku2 yang ditulis oleh Betty Schrampfer Azar cocok untuk digunakan anak-anak SMA. Ada dijual di Gramedia. Sebenarnya, kunci belajar bahasa Inggris adalah banyak membaca majalah, buku atau artikel dalam bahasa Inggris. Eric akan mulai kuliah tanggal 10 Agustus nanti. Tempat kos sudah dicarikan papanya. Kemarin Minggu kami ke Bandung untuk lihat kamar kos Eric. Terima kasih atas tawaran dari Mbak, ya! Anak Mbak yang gede kuliah jurusan apa di Unpad? Saya ikut mendoakan semoga dia akan sukses selalu dalam ‘study’ dan ‘karir’-nya nanti.

      Salam hangat selalu,
      Vina Tan

  2. suzinil mengatakan:

    mba vina,

    anak saya yang besar kuliah di fe unpad. terima kasih atas doanya, sama2 kita berdoa untuk anak2 tercinta. katanya doa seorang ibu itu lebih ampu dari doa apapun didunia ini.
    salut atas keputusan mba vina, suatu keputusan yang sangat tepat dan susah untuk diputuskan. yaitu lebih mementingkan keluarga, walaupun reunian sekolah jarang terjadi. mba vina dari padang juga. saya juga dulu ingin sekolah di db padang, tapi papa tidak mengizinkan karena waktu itu belum saatnya saya berjauhan dengan orang tua. kami tinggal di pekanbaru dan sekolah di smp santa maria pekanbaru. waktu itu smp santa maria belum ada smanya, makanya saya berkeinginan untuk sekolah db di padang, sudah ikut test dan lulus….
    oh ya mba….dinda ngajak nonton harry potter. dengan berbagai alasan saya menolak untuk menemani karena emang ga suka. tapi setelah membaca tulisan bahwa mba menemani lisa nonton harry potter.ketika dinda ngajak lagi..tanpa pikir panjang saya langsung bilang oke.walaupun dalam hati kalau ga enak ya paling saya tidur..pikir2 itulah komitmen kita sebagai ibu…
    sukses selalu..kapan2 ingin juga mengadiri acara mba vina…
    salam hangat.

    suzi majid

  3. Vina Tan mengatakan:

    Halo Mbak Suzi,
    Terima kasih atas komentarnya. Iya, mari sama-sama kita panjatkan doa untuk anak-anak kita. Semoga mereka tumbuh menjadi pribadi yang cinta bangsa dan negara dan mau berbakti untuk negeri tercinta, Indonesia.
    Menjadi ibu memang harus mau berkorban. Saya banyak belajar hal ini dari almarhumah ibu saya. Tapi, saya percaya bahwa pengorbanan kita tidak akan sia-sia jika kita terus mangasah diri untuk menjadi pribadi yang terus bertumbuh dan berkembang.
    Salam hangat selalu.
    Vina

  4. Vina Tan mengatakan:

    Mbak Suzi,
    Wah, kalau dulu Mbak sampai jadi sekolah di DB, Padang, pasti tahun ini Mbak ikut reuni akbar 55 tahun SMA Don Bosco. Rasanya akan dirayakan secara besar-besaran.
    Bersekolah di sekolah yang bagus memang menguntungkan, tetapi belajar tentang moral yang baik dan benar dari rumah adalah hal lebih menguntungkan lagi.
    Salam hangat selalu,
    Vina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: