Tumpah

booksPagi ini, untuk beberapa saat saya duduk termenung di depan lemari buku favorit. Ratusan buku yang terpampang didalamnya membuat lemari tersebut penuh sesak sehingga tidak ada lagi tempat yang kosong. Apa yang harus saya lakukan?

Pembaca yang terhormat, jika anda adalah pelahap buku seperti saya, kecil kemungkinannya anda akan berhenti membeli buku baru. Setuju? Akibatnya, sebesar apa pun tempat yang tersedia, suatu hari nanti pasti tidak akan mampu lagi menampung buku-buku yang terus mengalir masuk. Dan, anda pun akan menghadapi dilema yang sama.

Sebenarnya, untuk mengantisipasi hal ini, sudah beberapa kali saya memindahkan sebagian dari ‘harta karun’ tersebut ke sebuah lemari besi yang ada di kantor suami. Letaknya sih tidak jauh dari rumah, cukup lima menit saja jika bersepeda. Dan, lemari tersebut memang khusus disediakan oleh suami untuk menampung buku-buku saya. Awalnya saya tidak setuju karena lemari di rumah sudah cukup besar. Namun, saya pun ‘terpaksa’ menyerah karena terus didesak. “Tidak usah menolak. Percayalah, suatu hari nanti buku-bukumu yang ada di rumah pasti akan tumpah juga.” Kata-kata yang diucapkan suami saat itu akhirnya menjadi kenyataan.

Bertahun-tahun, membaca telah menjadi suatu kebiasaan positif yang terus saya pupuk. ‘Tiada hari tanpa membaca’ adalah moto yang saya yakini telah membawa dampak positif bagi pengembangan diri. Hidup juga menjadi lebih berarti. Karena bagi saya buku adalah salah satu aset yang berharga, maka semuanya tersimpan dan terawat dengan cukup baik. Akan tetapi, hari demi hari, bulan demi bulan, serta tahun demi tahun berlalu dengan cepat. Tanpa terasa, buku pun terus bertambah. Saya pun tersadar bahwa tidak mungkin lagi untuk terus menyimpan sendiri semua buku yang ada. Akhirnya, setelah melalui perang batin dan pertimbangan yang cukup panjang dan matang, saya memutuskan untuk memberikan sebagian buku yang ada kepada orang lain. Syaratnya, orang tersebut haruslah penikmat dan pencinta buku seperti saya.

Bulan lalu, setelah menemukan orang yang tepat, saya pun mengirimkan dua puluh buku untuknya. Saya merasa sangat bahagia dan lega karena buku-buku tersebut diterima dengan tangan terbuka. Tentu saja, pada masa-masa yang akan datang, akan ada lagi buku-buku yang harus keluar sehingga tersedia ruang kosong yang memadai untuk menampung buku-buku baru.

Akhir kata, beban di pundak kini terasa jauh lebih ringan karena saya berhasil menemukan jalan keluar atau solusi bagi buku-buku ‘tumpah’ tersebut. Saya kini merasa lebih senang karena terlepas dari ‘himpitan’ buku. Hidup memang akan lebih menyenangkan ketika kita mampu memberi. Semoga buku-buku tersebut akan bermanfaat bagi yang menerimanya.

2 Balasan ke Tumpah

  1. Eko Endarmoko mengatakan:

    Asyik: Bening, mengalir, sejuk, sederhana — serupa anak air di pegunungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: