Menghitung Hari

playing guitarAkhir-akhir ini, setiap kali mendengarkan putra saya, Eric memetik dawai-dawai gitar sambil bernyanyi, saya pun membatin, “Masih berapa hari lagi saya bisa menikmati hal ini?” Saya pun mulai menghitung… satu, dua, tiga, … hingga delapan. Iya, masih ada delapan hari karena setelah itu Eric akan kuliah dan tinggal di Bandung. Terbayang sudah suasana rumah yang akan menjadi lebih sepi lagi tanpa kehadiran Eric.

Beberapa teman pernah bertanya apakah saya siap melepas anak pergi ke Bandung. Tentu saja saya harus siap. Karena, sejak beberapa tahun yang lalu saya sudah mulai mempersiapkan diri. Sebagai orangtua, kita harus sadar bahwa kelak anak-anak akan tumbuh menjadi orang dewasa. Akan tiba saatnya di mana mereka harus mampu mengepakkan sendiri sayapnya dan terbang jauh. Jadi, sebagai orangtua kita harus memberi dukungan dan kebebasan agar kelak anak mampu menjadi dewasa dalam menjalani hidup.

Detik ini, sambil terus mengetik di komputer, saya merasa terharu dan terhibur dengan suara Eric yang bernyanyi mengikuti irama sebuah lagu rohani yang diputar dari komputernya. Setiap waktu terasa begitu berharga. Dan, hidup akan terasa lebih indah jika kita mampu hidup di saat sekarang. Apapun yang Tuhan berikan kepada kita, susah ataupun senang, nikmatilah!

Saat-saat menghitung hari, saya sering merenung dan mengenang ibu yang telah tiada. Dua puluh lima tahun yang lalu, ibu pasti mengalami dan merasakan hal yang sama ketika membiarkan saya meninggalkan kota Padang untuk merantau ke Jakarta. Keadaan ibu pasti lebih berat lagi karena jarak Padang – Jakarta tidaklah sedekat Jakarta – Bandung.

Saya sangat bersyukur karena telah dibesarkan oleh seorang ibu yang tegar dan pantang menyerah walaupun pada saat badai datang menerjang. Ibu telah meninggalkan warisan positif yang tak ternilai. Saya juga merasa beruntung karena telah dibekali dengan pelajaran-pelajaran tentang kehidupan yang akhirnya menjadi berguna dan berarti. Sehingga, ketika Tuhan memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi seorang ibu, saya pun merasa terberkati.

Terima kasih, Ibu.
Engkau adalah teladan bagiku.

Hidup memang tidak selamanya sama.
Kadang di atas dan kadang di bawah.
Jadi, nikmati saja apa yang ada hari ini.
Karena dengan begitulah hidup akan berarti.

la la la la la la…
la la la la la la…
bersukalah, berbahagialah…
oh oh oh …

2 Balasan ke Menghitung Hari

  1. fekhi mengatakan:

    bu vina,
    anakku sih masih kecil, tetapi aku sudah bisa merasakan apa yang Ibu tulis.
    Karena saya juga membayangkan, saat ini saja saya tidak bisa pisah dengan anak saya dalam jangka waktu lama… apalagi nanti ya setelah ia banyak belajar dari saya dan terkoneksi lebih dalam.
    Jelas kesedihan ada, tapi itulah memang tugas seorang ibu bertambah, yaitu pengorbanan🙂
    Kiranya Tuhan senantiasa memberkati Ibu yang terus berusaha tabah dan Ia pasti menghibur tatkala kangen sama anak🙂

    • Vina Tan mengatakan:

      Halo Femi,
      Terima kasih atas komentarnya. Terima kasih juga karena sudah mampir ke blog saya. Saya setuju bahwa hidup adalah pengorbanan.
      Salam,
      Vina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: