Merantau

Beberapa hari yang lalu, seorang teman meyakinkan saya agar mau menonton film ‘Merantau’. “Kamu ‘kan sedang menulis buku, jadi perlu nonton film ini.” Akan tetapi saya berkelit dan menganggap film tersebut tidak ada hubungannya dengan buku yang sedang saya kerjakan. Saya memang dibesarkan di kota Padang yang terletak di Propinsi Sumatera Barat. Dan, dari sinopsis yang sudah saya baca, ‘Merantau’ memang bercerita tentang salah satu tradisi yang berasal dari Ranah Minang. Lagipula, ini film silat, Bung! Rasanya dengan waktu yang terbatas, saya merasa tidak perlu untuk menontonnya.

“Paling tidak kamu bisa melihat acting Christine Hakim yang menurut saya bagus sekali!” begitu dia melanjutkan setelah argumentasi dari saya. Akhirnya, kata-kata pamungkas inilah yang berhasil membuat saya penasaran. Akhirnya saya mulai mencari-cari waktu yang tepat untuk melangkahkan kaki menuju bioskop. Tapi, enaknya kapan ya? Hari biasa, saya mungkin bisa, tapi Lisa sekolah. Ngak enak kalau ngak sama Lisa. Akhirnya, pada hari Minggu yang baru lalu, saat men-drop Lisa untuk mengajar di bawah kolong jembatan, saya bertanya apakah dia mau ikut nonton setelah selesai mengajar nanti? Untuk menghemat waktu agar tidak bolak-balik ke bioskop, saya juga memberikan pilihan apakah mau nonton dua film sekaligus: ‘Ups’ dan ‘Merantau’? Atau kalau cuma mau satu saja, pilih yang mana?

“Salah satu saja, Ma. ‘Merantau’ saja?” Begitulah jawaban dari Lisa. Saya yakin Lisa memiilih ‘Merantau’ karena ingin menyenangkan hati saya. Tapi, ngak apa-apalah. Anak juga harus mengalah demi orangtuannya, bukan? Jangan hanya orangtua saja yang selalu berkorban untuk anaknya. Akhirnya, malam itu, kami menuju Plaza Senayan…

Bagaimana dengan filmnya? Tentu saya tidak akan menceritakan isi film tersebut. Tidak adil bagi yang belum sempat nonton. Bisa-bisa saya diprotes karena telah menghilangkan rasa penasaran mereka. Sesuai dengan sinopsis, adegan silatnya memang mantap. Menurut saya, tidak kalah juga dengan film-film silat Mandarin yang pernah saya gilai di era tahun 70-an dan awal 80-an dengan bintang-bintang yang bersinar saat itu: Lo Lieh, Ti Lung dan Chen Lung.

Akhirnya, pesan yang terdapat di penghujung cerita telah meninggalkan kesan yang mendalam. Saya suka dengan kata-katanya. “Katakan kepada Emak bahwa saya sudah melakukan yang terbaik.” Memang betul, selagi kita masih bernafas, lakukanlah hal-hal berguna yang kita anggap terbaik agar tidak menyesal di kemudian hari.

Memang di sana-sini terdapat satu dua kekurangan. Misalnya, dialog Bahasa Minang yang terdengar kaku di telinga serta alur cerita yang agak lambat dan sedikit membosankan. Walaupun demikian, saya cukup bangga dengan film produksi negeri sendiri dan merasa beruntung telah mengikuti nasihat teman saya tadi. So, thank you, friend!

Bagaimana dengan acting Christine Hakim? Setuju, BAGUS SEKALI!

merantau

2 Balasan ke Merantau

  1. kunderemp mengatakan:

    Wow.. Bu.. sempat menonton Ti Lung di bioskop? Saya mah, paling banter yang di bioskop film-film Jet Li, Jackie Chan, dan Donnie Yen..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: