Laporan yang Menyejukkan Hati

Pagi ini adalah jadwal saya bertemu dengan guru kelas Lisa untuk mengambil rapor mid semester. Ketika tiba di depan kelas, saya sempat menunggu beberapa menit karena Mr Connor (guru Lisa) masih berbincang-bincang dengan orangtua murid yang lain. Lisa tidak bisa ikut dengan saya karena masih merasa tidak nyaman setelah tadi malam satu gigi geraham belakang kiri bawah dicabut.

Saat saya memperkenalkan diri sebagai mamanya Lisa, Mr Connor yang berasal dari Irlandia langsung menyambut dengan gembira, “Saya senang punya murid seperti Lisa. Walaupun pendiam, tapi dia sangat percaya diri. Dia juga mampu mengikuti pelajaran dengan baik.” Memang, baik Lisa maupun Eric tidak ada yang suka ngomong seperti saya. Sehingga di rumah tidak ada saingan. Enak ‘kan? Sebenarnya ngak juga, sih. Itulah sebabnya agar tidak merasa kesepian maka saya lebih suka menghabiskan waktu luang dengan membaca dan sekarang ditambah lagi dengan menulis.

Mr Connor menjelaskan bahwa sebelum ini dia tidak begitu mengenal Lisa karena hanya pernah mengajar saat Lisa masih di kelas 8 (sekarang Lisa duduk di kelas 11). Saat pertama kali mengarahkan Lisa untuk program sosial ‘mengajar anak jalanan’ beberapa minggu yang lalu, Mr Connor khawatir apakah Lisa akan mampu menyesuaikan diri atau tidak. Beliau takut Lisa tidak terbiasa dengan keadaan yang serba kumuh dan kotor itu. “Lisa, if you don’t feel comfortable, I want you to think that these kids are less comfortable than you are but they still can smile.” Lisa, jika kamu merasa tidak nyaman, cobalah berpikir bahwa keadaan anak-anak ini lebih tidak nyaman lagi, namun mereka masih bisa tersenyum.”

Ternyata apa yang dikhawatirkan Mr Connor tidak menjadi kenyataan. Dalam waktu singkat Lisa sudah duduk bersila dengan anak-anak itu dan mulai mengajar mereka. Setiap Senin jika saya bertanya kepada Lisa bagaimana kegiatan mengajarnya pada hari Minggu, Lisa pasti menjawab, “Great, Mr Connor.” Luar Biasa. Mungkin pada kebanyakan orang, jika diminta untuk mengajar, mereka akan melakukan tugasnya dengan begitu saja. Sedangkan Lisa, dia mampu melihat dan mengajar sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Dengan kata lain, Lisa mampu mengajar dengan hati.

Terus terang, dalam hati saya merasa senang dan bangga tetapi tidak mau terlena. Saya pun menanyakan apa hal-hal yang harus menjadi perhatian bagi Lisa. Jawaban Mr Connor adalah Bahasa Inggris, terutama yang bersifat kesusastraan, tata bahasa dan pemakaian/pemilihan kata-kata yang tepat. Secara keseluruhan nilai Lisa cukup baik. Sebenarnya, saya pun tidak pernah mau khawatir dengan hasil belajar anak-anak. Bagi saya yang lebih penting adalah bagaimana proses belajar itu berjalan. Anak-anak harus mencintai kegiatan belajar itu sendiri. Mereka harus belajar dengan perasaan senang dan gembira bukan karena terpaksa. Karena, belajar adalah kegiatan seumur hidup.

Setelah mendengarkan pendapat dari saya, Mr Connor pun bercerita tentang seorang anak yang dipaksa oleh orangtuanya untuk mengambil program IB (International Baccalaureate) padahal anak tersebut tidak mau. Akhirnya, anak tersebut menjadi depresi sampai-sampai sekolah menyarankan untuk berkonsultasi dengan psikiater. Bayangkan, soal mudah yang harusnya bisa dikerjakan oleh siapa saja, tidak bisa dikerjakannya. Sepertinya, anak itu menyimpan rasa marah yang sangat mendalam tetapi orangtuanya tidak bisa mengerti.

Memang, inilah yang sering saya khawatirkan saat membahas masalah anak dengan para orangtua. Banyak yang hanya memikirkan perkembangan kemampuan intelektual saja, tapi mengabaikan perkembangan spiritual dan emosional anak. Apakah membesarkan seorang anak hanya untuk memperlihatkan dan membanggakan kepada dunia bahwa anak kita adalah pintar dan hebat? Coba tanyakan kepada diri kita masing-masing, apa sih hal terpenting dalam hidup? Apakah kebahagiaan? Bukankah orang yang bahagia itu biasanya tahu bagaimana menyeimbangkan hidup?

Mr Connor sendiri mengakui bahwa apa yang dipelajari anak-anak Sekolah Menengah zaman kini jauh lebih berat dari masa beliau sekolah dulu. Padahal Mr Connor itu masih termasuk muda, lho. Usianya kemungkin besar masih awal 30-an. Sambil menunjuk nilai Lisa untuk pelajaran “Theory of Knowledge”, Mr Connor menjelaskan bahwa pelajaran ini setaraf dengan Ilmu Filsafat untuk mahasiswa. Dalam hati, saya merasa beruntung karena dulu mau mau ‘repot-repot’ belajar demi sebuah kesadaran agar menjadi tahu dan mau menggali serta tidak berhenti mencari cara terbaik agar anak-anak tidak terbebani dengan kurikulum yang berlaku. Tetapi, bagaimana membuat motivasi belajar mereka bisa tetap bertahan. Sebenarnya, cara yang paling tepat dan mudah adalah dengan menjadi contoh hidup bagi anak-anak kita sendiri.

Terus terang, awalnya saya berpikir hanya akan mengambil rapor saja kemudian langung pulang. Tak disangka perbincangan kami berlangsung sampai tiga puluh lima menit. Akhirnya, saya melangkah keluar kelas dan meninggalkan sekolah dengan suasana hati yang sejuk. Semester lalu, saya juga berkesempatan berbincang dengan guru kelas Lisa sebelumnya, Mr Rey yang berasal dari Filipina. Dari beliau saya banyak mendapatkan informasi tentang sistem pendidikan di sana. Di samping itu, Mr Rey juga menjelaskan tentang tingkatan dalam belajar. Sangat menarik.

Akhir kata, hidup akan terasa menyenangkan jika kita mampu menemukan jawaban dan solusi yang dibutuhkan. Sering kali hal ini malah akan memperluas wawasan kita. Sehingga, kita akan termotivasi untuk terus bertumbuh dan berkembang.

satisfied

2 Balasan ke Laporan yang Menyejukkan Hati

  1. Iksa mengatakan:

    Wah enak ya anak sekarang yang sekolahnya sudah penuh perhatian … dulu tak ada pilihan semua sama … he he he
    [ps: salam kenal … kalau kuda api itu artinya belum lama ulang tahun ya, dan lahir dimasa pergolakan, tahan uji nih …]

    • Vina Tan mengatakan:

      Salam kenal juga, Mas Iksa. Terima kasih sudah mampir dan membaca tulisan saya.
      Memang, anak sekarang lebih beruntung karena sistem pendidikan pada sebagian sekolah terus saja membaik.
      Kuda api adalah shio saya menurut zodiak Cina. Memang saya lahir pada masa pergolakan shingga jadi lebih tahan banting. Ha3x… apa benar, ya, tahan uji karena berhubungan dengan masa pergolakan?
      Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: