Terbebas dari Rasa Sakit

painPagi ini, saat akan mulai melakukan yoga, telepon rumah berdering. Ternyata teman baikku, Riana (bukan nama sebenarnya) yang menelpon. “Pasti ada yang hendak dibicarakan atau didiskusikan. Jadi, tidak apalah kalau yoga harus ditunda dulu,” kataku dalam hati. Ria memang sudah sangat biasa bertukar pikiran denganku mengenai masalah anak, keluarga ataupun pendidikan. Tapi akhir-akhir ini, karena bermasalah dengan lutut kanannya, kami pun lebih sering membahas masalah kesehatan.

“Vin, kamu ngak pergi.”

“Enggak. Aku ‘kan lebih senang mengeram di rumah. Tadi malam sih sudah jalan-jalan sebentar bersama keluarga ke GI. Hari ini rencananya sih mau di rumah saja. Kalau pun keluar paling hanya untuk cari makan saja.”

“Oh ya, Vin. Dulu kamu pernah sakit lutut ‘kan? Sampai ke dokter dan melakukan MRI segala. Terus akhirnya kog bisa sembuh?”

“Mungkin karena yoga dan jalan pagi, Ria.”

“Aku ini sudah bolak-balik ke dokter dan minum beberapa jenis obat. Tapi ngak sembuh-sembuh, tuh. Karena peradangan, aku sampai ngak berani memakai kakiku secara berlebihan. Aku khawatir dan takut akan terjadi hal-hal yang buruk padaku. Sekarang saja tangan kanan juga mulai sakit. Kita ini ‘kan seumur, Vin. Dulu saat lututmu sakit berarti kamu belum umur 40 ya?

“Iyalah. Masa lebih tua dulu dari sekarang, ha.. ha.. ha… Sebenarnya, kalau mau cepat sembuh, kita harus mau merawat pikiran juga. Kalau terus khawatir dan sering berpikir yang tidak-tidak, penyembuhan pasti akan terhambat. Bertahun-tahun lalu, saat lutut kiriku mulai terasa nyeri dan ngilu, aku berusaha untuk tetap tenang dan mulai mereka-reka apa penyebabnya. Mungkin karena aku pernah jatuh, bisa juga terlalu banyak injak kopling atau suka duduk terlalu lama ketika sedang asyik membaca buku. Maklum Ria, kalau ada buku di tangan, badan seakan berubah menjadi patung. He.. he.. he…”

“Tapi kog sakitmu itu bisa hilang, Vin?”

“Setelah membayar cukup mahal untuk biaya MRI dan hasilnya adalah nihil, dokter hanya memberikan ‘Osteor’ saja (kalau ngak salah ingat ya). Rasa sakit itu sebenarnya petanda bahwa ada yang salah pada tubuh kita. Jadi, jangan anggap enteng. Saat itu, sudah beberapa tahun, dua kali seminggu, aku ikut senam body conditioning. Jadi, walau ngilu atau nyeri datang menyerang, aku tetap ikut senam namun menghindari gerakan-gerakan yang mungkin bisa memperparah rasa sakit. Artinya, aku tetap konsisten melakukan aktivitas yang biasa dilakukan. Empat tahun yang lalu, aku mulai beralih ke yoga. Dan, sejak dua tahun lalu, selain yoga dua sampai tiga kali seminggu, aku selingi dengan dengan jalan pagi dua kali seminggu. Konsekuensinya, sudah cukup lama lututku tidak pernah nyeri dan ngilu lagi.”

“Tapi, rasanya susah ya, Vin, untuk menjadi disiplin seperti kamu!”

“Ria, manusia itu pada dasarnya malas, termasuk diriku. Namun, kalau kita mempunyai TUJUAN saat melakukan sesuatu, pasti motivasi diri akan datang dengan sendirinya. Aku mau sehat. Menurutku, cara yang termudah dan termurah adalah dengan yoga sendiri di rumah serta jalan pagi. Praktis ‘kan?”

“Heran, setelah berbicara dengan kamu, aku jadi penuh semangat ya. Tapi, untuk tetap disiplin berolah raga dan tetap berpikir positif itu ‘kan tidak mudah, ya?”

“Ya, pastilah! Tidak ada yang gampang di dunia ini. Semua harus dilatih dan dibiasakan. Masalahnya, kita mau atau tidak membuat diri kita menjadi lebih peka, bersedia tidak mengurangi rasa malas, dan tetap fokus serta konsisten saat memupuk sebuah kebiasaan yang positif?”

“Iya ya. Itulah biang keroknya. Sering kali kita hanya mau sehat tapi malas berolahraga. Ingin pintar tapi tidak suka belajar. Aku harus lebih sering bicara denganmu, Vin agar bisa ikut ‘mencuri’ semangatmu.”

“Semangat bisa menular, hanya saja untuk mempertahankannya itu yang tidak mudah. Sering kali semangat akan cepat luntur jika tidak diiringi dengan tekad yang kuat.  Orang lain hanya bisa memberikan motivasi. Dan, hanya diri kita sendirilah yang bisa membuatnya tetap tinggal. Dengan senang hati, kamu boleh kog nelpon aku kapan saja.”

Tidak lama setelah itu, pembicaraan kami pun berakhir. Sejam kemudian, Ria menelpon lagi dan bermaksud mengajak aku bertemu di Puri Mal. Terus terang aku jelaskan bahwa aku hanya ingin tinggal di rumah saja hari ini untuk menulis. Akhirnya, pembicaraan kami pun melenceng ke topik yang bagi banyak orang masih tabu. Saking serunya, kami berdua sampai tertawa terbahak-bahak. Ingin tahu topik yang dibahas? Nantikan tulisan saya selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: