“Dingin”

Aku dan suamiku, Anton baru saja selesai bercengkerama dan bermaksud untuk tidur. Tetapi, baru beberapa detik aku merebahkan diri pada kasur yang empuk, tiba-tiba terdengar sebuah lagu yang sudah tidak asing lagi ditelinga…

“Tolong, tv-nya jangan dimatikan dulu, sayang! Itu Emilia Contessa bukan?” Kataku sambil melompat dari tempat tidur, lalu pindah ke depan tv. Hatiku pun jadi berbunga saat Anton juga ikut duduk di sebelahku. Ternyata aku salah besar. Bukan Emilia Contessa yang sedang menyanyi di Metro TV, melainkan Hetty Koes Endang, idolaku saat masih di SMP & SMA dulu. Aku senang sekali bisa mendengar suara Hetty lagi yang masih merdu dan indah seperti dulu. Lagu yang dibawakan adalah “Damai Tapi Gersang” karya Ajie Bandi.

Terus terang, selama ini tv di kamar lebih sering menyala saat suami sedang ada di rumah. Jika melihat aku sedang berada di depan komputer atau duduk membaca, dia langsung memakai earphone agar suara tv tidak mengusikku. Bolehlah ge er sedikit saat tahu bahwa suami lebih senang berada di dekatku daripada harus duduk sendirian di depan tv ruang keluarga.

Kemudian, saat Hetty membawakan lagu kesukaanku yang berjudul “Dingin”, aku benar-benar tidak tahan lagi dan mulai ikut beryanyi…

Malam yang dingin, aku sendiri
Dingin dingin hati ini tambah dingin, entah mengapa
Kalau cinta memang aku sudah tak punya
Air mataku pun kini keringlah sudah, dingin…

Tiba-tiba aku sedikit menyesal karena tidak bisa menahan diri untuk tidak menyanyi. Bukankah lebih baik jika suamiku menikmati suara Hetty yang indah dan terlatih itu daripada suaraku yang hanya biasa-biasa ini? Saat kulirik, Anton hanya tersenyum-senyum saja. Setelah acara selesai, tv-pun dimatikan karena sudah waktunya untuk tidur. Namun, aku masih ingin ‘bermain-main’ sebentar dengan lagu Hetty. Jadi kuulangi lagi bagian refrain-nya saja:

Kaujanjikan berbulan madu, ke ujung dunia (Gua ngak pernah minta bulan madu, kan?)
Kaujanjikan sepatuku dari kulit rusa (Gua ngak butuh sepatu, hanya minta buku saja, ha.. ha..)
Tapi janji tinggal janji, bulan madu hanya mimpi
Tapi janji tinggal janji di bibirmu (Thanks ya, rasanya sampai hari ini kamu belum pernah ingkar janji deh)

Itulah enaknya jika menyanyi tanpa harus tergantung iringan musik. Bisa ditambah dengan kata-kata sendiri. Ha… ha… ha…. Suamiku memang sudah terbiasa dengan istrinya yang tidak bisa diam ini. Menyerah pada nasib dan pasrah saja. Setelah selesai, aku belum juga bisa diam, “Gua bisa nyanyi ‘kan?” Anton hanya mengangguk. “Terima kasih ya sudah mendorong aku untuk les nyanyi. Saat ini gua sih paling pede kalau nyanyi di depan kamu saja. Yah, kalau dibanding Hetty, suara gua sih ngak ada apa-apanya. Tapi kamu suka ngak saat gua nyanyi tadi?” Anton kembali mengangguk dan kemudian tersenyum penuh arti. “Terima kasih sudah membiarkan aku menjadi diriku sendiri. Oke, selamat tidur ya.” Saat kulihat jam, ternyata sudah pukul 2 pagi dan aku baru saja mau tidur. What a wonderful moment.

winter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: