Tegar

P1010422Saat membuka mata pagi hari ini, aku terus menangis. Menangis dan menangis sampai mataku sembap dan hidungku bengkak. Aku tak kuasa menahan rasa sedih karena teringat akan pertemuan tadi malam dengan Paman dan Bibi yang baru datang dari Padang untuk mengungsi ke Jakarta. Karena, kota Padang telah porak poranda.

Masih jelas dalam ingatan saat Rabu sore tanggal 30 September 2009 yang baru beberapa hari berlalu. Melalui Facebook, seorang teman meminta agar yang punya sanak saudara di Padang segera mencek keluarganya. Gempa dahsyat dengan kekuatan 7.6 SR baru saja terjadi. Tanpa pikir panjang, aku langsung menghubungi saudara sepupuku yang di sana tapi tidak berhasil. Akhirnya, setelah menelpon saudara lainnya yang ada di Jakarta, aku mendapat kabar bahwa Paman dan Bibi dalam keadaan baik dan selamat. Rumah mereka hanya retak-retak kecil di beberapa tempat. Sedangkan rumah tetangga di seberang jalan roboh. Terus terang, aku sangat khawatir karena kesehatan Paman yang terus memburuk akibat penyakit yang sudah bertahun-tahun bersarang dalam tubuh.

Awalnya, Paman, Bibi dan seorang sepupuku masih ingin bertahan di Padang karena akan repot membawa Paman yang tidak sehat ke Jakarta. Lagipula, bukankah kita selalu merasa aman dan nyaman jika berada di rumah sendiri? Akhirnya, setelah dipertimbangakan lagi, mereka setuju untuk mengungsi ke Jakarta sambil menunggu kondisi kota Padang membaik.

Dalam ingatanku, Padang adalah sebuah kota yang indah dan bersih. Kota ini selalu ada dalam kenangan karena di sinilah aku dibesarkan. Kami sekeluarga tinggal tinggal bersama keluarga paman selama belasan tahun yaitu sejak aku masih berusia lima sampai delapan belas tahun. Jadi, saat tahu bahwa Padang telah luluh lantak karena gempa, hatiku pun ikut menangis. Tanpa terasa, sudah dua puluh lima tahun aku meninggalkan kota ini. Dan, jika dihitung-hitung, selama ini aku hanya pernah kembali sebanyak enam kali saja. Yang terakhir adalah tujuh tahun yang lalu dan secara fisik kota ini sudah sangat berubah. Kini, walaupun sebagian besar kota telah rusak, kenangan yang tersimpan akan tetap berkibar.

Saat mendengar dan melihat kehancuran kota dari foto-foto maupun video yang di-posting teman-teman via Facebook, aku merasa getir. Akan tetapi, air mata masih bisa kutahan dan hanya sempat mengambang sebentar di pelupuk mata. Tadi malam, saat bertemu Paman dan menyaksikan sendiri kondisi fisiknya yang sudah begitu lemah, hatiku serasa diiris-iris. Paman masih mengenaliku dan sorot matanya telah mewakili kata-kata yang tidak terucapkan. Bibi yang telah mendampingi paman selama empat puluh dua tahun terlihat begitu tabah dan teguh dalam merawat dan menjaga Paman. Malahan Bibi masih bisa bercanda bahwa sekarang dia sudah berganti profesi menjadi perawat. Melihat semua ini, aku jadi tidak tahan dan meneteskan air mata. Dengan sekuat tenaga aku berusaha menahannya agar tidak tumpah ruah.

Saat makan malam bersama Bibi dan keempat saudara sepupuku, kami pun mengenang masa-masa indah ketika masih bersama-sama dulu di Padang. Aku juga sempat memberikan penjelasan kepada putriku, Lisa yang ikut duduk di sana bahwa beginilah keadaan kami dulu, selalu ada yang dibicarakan saat duduk bersama baik di meja makan ataupun di ruang keluarga. Aku pun menjelaskan kepada Lisa bahwa keluarga Paman sudah kuanggap seperti keluarga sendiri. Dua belas tahun tumbuh bersama telah membuat tali persaudaraan kami lekat dan taut. Tiga orang saudara sepupuku kini sama-sama tinggal di Jakarta dan kami memang tidak bisa selalu bertemu karena kesibukan masing-masing. Walaupun demikian, jika ada hal penting, kami pasti segera berkumpul. Aku juga senang karena Lisa menyaksikan sendiri bagaimana Paman dirawat dan dijaga dengan baik oleh keluarganya.

Ketika membahas masalah gempa di Padang, aku tidak mendeteksi adanya pikiran negatif dari Bibi dan sepupuku (anak tertua Bibi yang tinggal bersama mereka di Padang). Mereka juga menceritakan kejadian-kejadian positif dibalik cerita-cerita sedih setelah gempa. Misalnya, ada seorang tetangga yang telah tertimbun reruntuhan selama 34 jam tapi masih hidup dan hanya mengalami luka ringan saja. Bibi juga mengatakan bahwa selama ini kita hanya menonton bencana langsung dari TV. Saat mengalami sendiri baru rasanya ngeri. Yang membuat aku terperangah adalah saat Bibi membandingkan gempa di Padang dengan yang terjadi di China tahun lalu. “Gempa di Se Chuan jauh lebih payah dan parah. Saat gempa terjadi cuaca begitu buruk. Ditambah lagi dengan tanah longsor sehingga akses ke sana terputus sama sekali. Tentara yang akan membantu evakuasi harus diturunkan dari udara. Bagaimanapun apa yang terjadi di Padang masih jauh lebih baik karena bantuan bisa segera datang.” Aku hanya bisa terpaku dan tubuhku seakan membeku. Bibi tetap tidak berubah. Tabah, pasrah dan tegar.

Kenangan indah, kondisi Paman yang cukup memprihatinkan, serta ketabahan dan ketegaran Bibi sungguh membuat aku terharu. Itulah sebabnya tadi pagi aku terus menangis saat pikiran-pikiran tersebut tidak mau pergi. Tiba-tiba, aku teringat akan sebuah buku yang berjudul ‘Masa-masa Sulit, Anak-anak yang Tegar’ yang diterjemahkan dari ‘Tough Times, Strong Children’, ditulis oleh Dan Kindlon, Ph. D. Buku ini aku baca sekitar empat setengan tahun yang lalu. Isinya memberikan ilham kepada kita untuk bertindak secara berani bagi anak-anak kita ketika mereka merasa takut. Dan, hal terpenting yang aku dapatkan adalah bagaimana orangtua dapat bersikap proaktif untuk memberdayakan dan memberi kekuatan kepada anak-anak dalam menghadapi ketidakpastian masa depan. Masa-masa sulit memang membutuhkan orangtua yang tegar.

Akhir kata, dalam renungan aku merasa begitu beruntung telah dibesarkan di tengah-tengah orang dewasa yang terbukti tegar, tabah dan kuat saat menghadapi kemalangan. Mereka adalah kedua orangtuaku yang telah tiada serta Paman dan Bibi. You’ll be in my heart, always!

6 Balasan ke Tegar

  1. gasyudha mengatakan:

    seru tuh artikel..
    lam kenal..
    aq gasyudha..
    kunjungi blog saya juga yah..
    gasyudha.wordpress.com

  2. Eko Endarmoko mengatakan:

    Baru saya tahu, mengapa selama ini dalam banyak kesempatan Mbak Vina selalu menampakkan sikap yang jelas dan berpikir positif. Pasti girang bercampur bangga menyadari betapa kita tumbuh di tengah keluarga seperti itu, yang menjadi rabuk bagi tubuhnya jiwa yang sehat — sebuah pemandangan yang kian langka.
    Akan saya jadikan teladan buat membangun keluarga sendiri. Belum terlambat ya?
    Terima kasih Mbak Vina.

    • Vina Tan mengatakan:

      Selamat pagi, Pak Eko.
      Sama-sama, Pak. Di dunia ini tidak ada yang terlambat, Pak. Ayah dan Ibu yang sudah tiada adalah pahlawan sejati saya. Itulah sebabnya saya menulis memoar untuk mengenang mereka dan semoga bisa menjadi panduan hidup bagi anak-anak saya kelak.
      Salam.

  3. Felisia mengatakan:

    Lian Lie, pengalaman yang indah & bermanfaat.
    Saya jadi ingat Paman Lian Lie sering lewat didepan rumah di Pulau Karam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: