Saling Memuji

You don’t love a woman because she is beautiful, but she is beautiful because you love her. ~ Anonymous

Two-Thumbs-Up1

Di balik musibah pasti ada hikmah yang dapat dipetik. Sejak gempa dahsyat yang terjadi di kota Padang tanggal 30 September yang lalu, hubungan saya dengan Paman dan Bibi menjadi lebih akrab lagi. Saya pun jadi lebih sering memikirkan keadaan dan kondisi mereka saat ini. Kenapa tidak? Sejak dulu, mereka telah menjadi bagian dari hidup saya dan sudah saya anggap seperti orangtua sendiri. Apalagi, kedua orangtua saya sendiri telah lama tiada. Jadi, apa pun yang terjadi pada Paman dan Bibi, pasti tidak akan luput dari pantauan saya dan kedua adik saya. Mungkin inilah untungnya pernah hidup bersama keluarga Paman selama lebih kurang dua belas tahun di Padang sehingga ikatan batin yang terjalin tak lekang oleh waktu dan tak lapuk oleh jarak.

Tanpa terasa, sudah sepuluh hari Paman dan Bibi berada di Jakarta. Yaitu, sejak Padang, kota di mana Paman dan Bibi selama ini tinggal, jadi porak poranda karena gempa. Dalam kurun waktu tersebut, saya pun telah empat kali mengunjungi mereka. Dan, selama kunjungan tersebut, ada satu hal positif yang terus mengisi pikiran saya. Sehingga, saya pun tertarik untuk meniru dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jika pernah membaca tulisan saya sebelum ini yang berjudul “Tegar”, anda pasti sudah tahu kalau saat ini Paman sudah tidak lagi dalam kondisi kesehatan yang prima. Hidup Paman hampir sepenuhnya bergantung kepada Bibi. Bahkan untuk aktivitas yang ringan dan rutin sekali pun. Putra sulung Paman juga harus ikut merawat dan menjaga Paman. Bayangkan, makan harus disuapi, minum harus dibantu, jalan pun harus dipapah, dan tentunya masih banyak lagi yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu. Beruntung, saya memiliki seorang Bibi yang tegar dan teguh. Setiap hari, dia merawat Paman dengan sabar, telaten dan sepenuh hati.

Menurut hemat saya, apa yang Paman dapatkan tidak mungkin tertandingi oleh pelayanan VIP rumah sakit mana pun. Untuk hal ini, saya benar-benar harus angkat topi untuk Bibi dan sepupu saya. Sebagai contoh, butuh waktu satu jam untuk menyuapi Paman agar bubur semangkuk habis dimakan. Akan tetapi, yang membuat saya terkesan dan terharu adalah setiap kali Paman selesai dengan buburnya, Bibi langsung mengangkat kedua jempolnya sambil berkata, “Cin Gao” yang artinya ‘sangat pintar’. Kata-kata dalam bahasa Hokkian ini biasa diucapkan untuk memberikan pujian atau dukungan pada lawan bicara kita. Oh ya, sehari-hari kami memang terbiasa berbicara dalam bahasa Hokkian.

Jika Bibi tidak langsung mengangkat kedua jempolnya, otomatis Paman yang akan melakukannya terlebih dahulu sambil berkata, “Cin Gao.” Sungguh pemandangan yang bisa membuat hati siapa pun terenyuh. Selama empat puluh dua tahun hidup bersama, komunikasi di antara mereka masih saja terjalin dengan begitu baik, bahkan lebih baik lagi di saat Paman semakin kehilangan daya dan kekuatannya. Saking penasaran, saya mencoba berimajinasi kira-kira apa ya yang terlintas dalam pikiran mereka saat saling memberikan semangat dengan kedua jempol tersebut.

Bibi : “Aku sudah melakukan tugasku dengan baik, kamu senang?”
Paman : Iya, terima kasih sudah menjaga dan merawatku dengan baik.”
Bibi : “Syukurlah.”
Paman : “Kamu benar-benar istri teladan.”

Kejadian di atas terus berputar dan berputar di benakku. Pagi tadi, saat sedang membaca koran, saya pun menceritakan kejadian tersebut kepada suami. Berharap bisa langsung mempraktekkannya, saya meminta tolong agar dia mau membuang kertas yang ada di tanganku ke tong sampah yang sebenarnya hanya beberapa langkah dari tempat kami duduk. Dengan senang hati suami pun mengikuti ‘perintah’ tersebut. “Xie xie”. Terima kasih, kataku sambil tersenyum dan mengangkat kedua jempol untuk menghargai bantuannya.

Dengan senyuman, suami juga ikut mengangkat kedua jempolnya sambil memperlihatkan tatapannya yang penuh arti. Luar biasa! Pelajaran dan teladan yang baru saya dapatkan dari Paman dan Bibi memang layak untuk terus dipraktekkan dan dipupuk agar menjadi sebuah kebiasaan. Bagaimana dengan Anda? Apakah tertarik untuk mengikuti jejak saya? Jika iya, mulailah sekarang juga dengan orang-orang yang anda cintai dan kasihi. Anda pasti akan lebih bahagia lagi. Selamat mencoba dan semoga berhasil!

2 Balasan ke Saling Memuji

  1. ANWARLIE mengatakan:

    li , inilah yang dinamakan kekuatan cinta dan kasih sayang yang sejak awal perkawinan mereka sudah bertekad untuk saling mengasihi dan berbagi dalam suka dan duka ,dan ini bisa terjadi karena salah satunya ( yg masih sehat ) tidak memikirkan duniawi ( tdk materialistis ) lagi,salut buat istri pamanmu , semoga pamanmu bisa secepatnya sembuh …….dan peringatan untuk kita kita yg sudah berkepala 4 ..agar mulai saat ini jagalah makanan yg kita makan setiap hari ….agar kita selalu dalam keadaan sehat walafiat ………li apabila ada kata2 yg tidak tepat harap dimaklumi …maklum jarang menulis cerita ….

    • Vina Tan mengatakan:

      Halo Fat,
      Terima kasih atas komentarnya. Paman saya sdh ngak mungkin sembuh lagi. Umurnya sdh mau 70 dan sakitnya juga sudah lumayan lama. Rasanya kita semua kalau mau menulis pasti bisa, hanya karena tidak biasa saja maka tidak pede (percaya diri). Setuju Fat, kita harus bisa memperhatikan dan menjaga kesehatan.
      Salam hangat selalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: