Salah Jalan

Setiap kali mendapatkan jadwal bicara untuk ‘Parenting Seminar’, saya selalu merasa dag dig dug saat melihat lokasi sekolah. Kalau daerahnya masih di sekitar Jakarta Barat, bolehlah lapang rasa dada ini. Akan tetapi, jika tempatnya ada di Bekasi, Bogor atau daerah lainnya yang cukup jauh, saya pasti mulai sibuk dan panik bertanya sana sini untuk mendapatkan informasi yang akurat tentang titik-titik yang harus dilalui agar bisa sampai ke tujuan. Maklum, membaca peta dan membayangkan arah adalah kelemahan terbesar yang ada dalam diri saya. Apalagi, jika tempat-tempat tersebut masih asing atau sama sekali belum pernah saya kunjungi.

Apa boleh buat, kebahagiaan yang saya rasakan saat berbagi cerita dan pengalaman dengan para orangtua murid ternyata mengalahkan rasa bimbang dan gamang saat menuju lokasi yang tidak biasa. Selama ini, sudah berpuluh-puluh sekolah yang saya datangi. Walaupun tempatnya ada yang jauh dan asing, namun saya selalu berhasil tiba di tempat tujuan tanpa halangan yang berarti. Tentu saja, catatan hasil tanya sana-sini itu sangat membantu. Kenyataannya, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh jua. Demikianlah yang terjadi pada saya hari Sabtu kemarin, 7 Nopember 2009, saat dalam perjalanan menuju Kota Harapan Indah, Bekasi.

Sesuai catatan, saat tiba di depan pintu tol menuju Cikampek, harusnya ambil tiket tol dulu. Entah kenapa saat melihat ke kiri dan ada tulisan Cikunir yang letaknya persis bersebelahan dengan pintu tol Cikampek, saya jadi bimbang. Padahal, jelas-jelas pada catatan saya tertulis : ambil tiket tol, tetap di jalur kiri, terus keluar gerbang tol Cikunir 4. Tapi, entah kenapa saya berpikir lain, “Mungkin saya harus keluar Cikunir. Kalau terus dan salah tentu saya tidak tahu bagaimana bisa kembali lagi. Mungkin seharusnya memang Cikunir dan angka empat itu tidak ada.” Saat tiba di depan loket, saya mulai sedikit heran karena hanya perlu membayar Rp 1.000 dan tidak diberi tiket. Sebenarnya insting saya meminta saya untuk mundur, tapi tidak saya lakukan. Malahan, saya bertanya kepada penjaga pintu tol, “Pak, apakah benar kalau mau ke Kota Harapan Indah lewat jalan ini?”

“Iya, benar. Ibu lewat saja.” Saat melihat polisi di jalan, saya pun bertanya dan mendapatkan jawaban yang sama. Akan tetapi, perasaan saya mulai galau dan rasa khawatir mulai menyelemuti diri karena daerah yang saya lewati tidak klop dengan catatan yang ada. “Tidak bisa. Saya pasti sudah salah jalan,” Demikianlah hati ini berbisik. Saat sadar kalau sudah salah jalan, saya pun menelpon Pak Handy, orang yang menjelaskan arah dan jalan menuju ke lokasi. Ternyata saya memang sudah salah jalan. Akan tetapi, saat saya tanya bagaimana kembali ke jalur yang benar, Pak Handy juga tidak bisa membantu. Saya pun menelpon suami saya dan hasilnya sama saja. Tidak ada yang bisa membantu saya keluar dari daerah asing ini. Sepanjang jalan saya hanya melihat tulisan Kali Malang dan Jatiwaringin. Sebegitu luaskah Bekasi sehingga daerah yang satu tidak terkoneksi dengan lainnya walaupun masih sama-sama bernama Bekasi? Apa boleh buat, yang penting jangan panik supaya pikiran tetap jernih.” Saya mulai menghitung dampak terburuk dari kesalahan ini. Mungkin  saya akan terlambat sampai di sekolah atau sama sekali batal berbicara pada seminar yang akan dimulai pada pukul 10.30 pagi. Saat melirik jam, saya tahu bahwa waktu yang tersisa hanya satu jam saja.

Saat mencari jalan keluar, saya mulai berpikir, “Sepertinya harus mengarah ke tol Cikampek deh. Tapi kenapa ya sepanjang jalan lebih banyak tulisan ke Cawang, Pondok Gede, dan Bogor? Kalau ambil Cawang artinya kembali ke Jakarta dong? Ngak bisa. Harus tetap menuju tol Cikampek.” Agar tidak salah, setiap kali bertemu Polisi, saya langsung menanyakan arah tol Cikampek. Dua kali Polisi meminta saya untuk terus saja. Terus terang, rasanya jalan yang saya tempuh sudah sedemikian panjang dan lama, tapi tetap belum ada juga tanda-tanda yang menuju ke Cikampek. Akhirnya, setelah Polisi ketiga memberitahukan agar setelah lampu merah kedua ambil kiri, barulah saya bisa sedikit lega.

Benar, ketika melihat pelang bertuliskan Cikampek, saya pun tersenyum sambil mentertawakan kebodohan dan ketololan sendiri. Salah keluar pintu tol telah membuat semua catatan yang ada di tangan jadi tidak berlaku. Parahnya, saya jadi tersesat begini lagi. Tidak ada waktu untuk berkecil hati atau menyesali apa yang telah terjadi. Bukankah pasti ada hikmah dibalik semua ini? Mungkin setelah meminta maaf karena terlambat, saya bisa memulai seminar dengan cerita salah jalan ini…

“Sama seperti kejadian salah jalan yang saya alami saat menuju ke sini. Sebagai orangtua, kita juga bisa salah dan ketika sadar, tentu harus ada yang dilakukan, bukan? Misalnya, kita bisa bertanya kepada yang lebih tahu, mencoba mencari solusi melalu media. Misalnya via internet, buku atau pun seminar. Dan, yang paling penting adalah tetap tenang dan jangan panik. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya asalkan kita mau berusaha….” Selanjutnya, saat membahas topik seminar tentang “Boundaries with Kids” atau Batasan-Batasan dengan Anak, hadirin terlihat mendengarkan dengan seksama. Dalam sesi tanya jawab, orangtua seakan tidak mau ketinggalan dan terlihat antusias ketika menanyakan masalah anak-anak mereka. Bahkan setelah seminar berakhir, saya masih harus tinggal sekitar satu jam lagi untuk mendengarkan masalah mereka agar bisa memberikan masukan.

Saya memang terlambat dua puluh menit dari jadwal 10.30 yang yang telah ditentukan. Akan tetapi, melihat respon positif dari yang hadir, semua rasa capek dan penat yang saya rasakan sebelum tiba di lokasi seakan hilang tak berbekas. Baru pada pukul 13.45, saya bisa meninggalkan sekolah untuk kembali ke Jakarta. Walaupun terjebak macet saat masuk tol dalam kota, saya tetap berusaha untuk positif dan menikmati kemacetan. Sebenarnya, yang paling susah dilawan saat itu adalah rasa lapar yang telah membuat sekujur badan jadi gemetar. Ditambah lagi, sore itu sebenarnya saya ada janji dengan Pak Ikhsan. Beliau ingin mengajak istri dan putrinya ke rumah untuk konsultasi.

Saat hendak menelpon untuk memundurkan waktu pertemuan, tiba-tiba saya terima SMS dari Pak Ikhsan. Beliau menanyakan apakah jadwal pertemuan bisa diundur hingga jam enam sore. Wah, kebetulan sekali. Memang itu yang sedang saya pikirkan. Kog bisa pas sekali, ya? Karena, saya tidak mungkin dapat memberikan konsultasi dalam keadaan lapar dan gemetar. Paling tidak saya butuh istirahat satu jam untuk memulihkan stamina. Mungkin inilah yang dinamakan kekuatan pikiran. Ketika kita berpikir positif, maka hal-hal baik akan datang pada kita.

Malam itu, pertemuan dengan keluarga Pak Ikhsan membuat hari saya terasa sangat menyenangkan. Hidup selalu terasa lebih indah bila kita mendapatkan kesempatan untuk berbagi dengan orang lain. Terlebih-lebih jika yang dibagi itu adalah pengetahuan dan pengalaman yang mungkin bisa berguna bagi orang lain. Bukankah semakin banyak masalah yang datang pada saya, maka semakin bertambah pula kesempatan untuk meningkatkan kemampuan konsultasi atau coaching yang sudah ada? Semoga!

The good life, as I conceive it, is a happy life. I do not mean that if you are good you will be happy; I mean that if you are happy you will be good. ~ Bertrand Russel

13959_189588473831_675948831_3853357_4615052_n

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: