Selamat Jalan Paman!

Siang ini, saat HP-ku berdering dan kulihat nama saudara sepupuku tertera di layar, perasaanku langsung tidak enak. Jangan-jangan yang akan kudengar adalah kabar buruk. Setelah mengungsi ke Jakarta pasca gempa besar yang terjadi kota Padang, paman yang sudah dalam kondisi sakit berat beserta bibi telah balik lagi ke Padang tanggal 15 Nopember yang lalu.

Ternyata, dugaanku tidak meleset. Sepupuku mengabarkan bahwa Paman baru saja meninggal dengan tenang siang ini. Walaupun tahu bahwa cepat atau lambat saatnya pasti akan tiba, tetap saja aku tak kuasa menahan tangis saat berita duka ini kudengar langsung dari sepupuku. Aku mencoba untuk tidak berlama-lama larut dalam kesedihan dan mulai berpikir apa yang sepatut dan seharusnya kulakukan. Aku mulai mencari tiket agar bisa pulang ke Padang secepatnya dan segera menyebar kabar duka tersebut kepada sanak saudara lainnya.

Kenangan-kenangan indah dan manis saat masih tinggal bersama keluarga Paman di Padang satu per satu muncul dari ingatan. Masa dari masih kelas satu Sekolah Dasar sampai tamat Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun, ada satu hal yang tidak mungkin terlupakan. Aku masih duduk di kelas dua SMA. Waktu itu sekolah mengadakan perlombaan nyanyi lagu Minang dan aku adalah salah satu pesertanya.

Saat Paman tahu bahwa aku akan membawakan lagu Minang, Paman langsung menawarkan untuk memanggil temannya ke rumah agar bisa melatih aku. Menurut Paman, menyanyikan lagu Minang itu tidak mudah. Lafal dan cengkoknya harus tepat.

Tentu saja tawaran Paman tidak aku sia-siakan. Selanjutnya Paman langsung menghubungi Om Coco, menjemput dan membawanya ke rumah agar bisa melatih aku. Paman tidak salah karena Om Coco memang hebat. Dia mengajariku bagaimana menyanyi dengan cengkok Minang. Memang tidak gampang sih, tapi masukan dari Om Coco sungguh sangat berguna. Bukan itu saja, setelah selesai latihan, Om Coco juga memberikan bonus buat kami. Beliau menyanyikan lagu “O Sole Mio” yang sangat terkenal itu dan suaranya begitu indah dan merdu. Aku sampai terpana dibuatnya.

Akhirnya, ketika perlombaan usai dan hasil diumumkan, aku sama sekali tidak menduga bisa mendapat juara dua karena peserta lainnya juga bagus-bagus. Aku sangat berterima kasih pada Paman karena telah memanggil Om Coco untukku. Bahkan sampai saat inipun aku masih ingat syairnya…

KOK UPIAK

Kok upiak pai ka ladang
Baok rotan ka tali timbo
Kok upiak nantilah gadang
Adaik sopan nan kadijago

Cubadak masak dibatang
Tumbuah luruih dakek parigi
Nak rancak diliek urang
Budi elok pamikek ati

Upiak rambahlah paku, tarang jalan ka parak
Upiak rubahlah laku, sayang rang bakeh awak

SELAMAT JALAN PAMAN TERCINTA
Beristirahatlah dengan tenang
Kenangan ini akan terus kusimpan di hati
Sejak ayah meninggal saat aku masih kelas tiga SMP
Paman sudah kuanggap sebagai pengganti ayahku
Terima kasih karena sudah ikut menjaga keluarga kami selama bertahun-tahun
Budi dan kebaikan Paman tidak mungkin akan terbalas sampai kapanpun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: