Maju Kena, Mundur pun Kena

Di suatu pagi yang cerah…

Hm… Tiada yang hebat dan mempesona
Ketika kau lewat di hadapanku, biasa saja
Masa perkenalan lewatlah sudah
ada yang menarik bayang-bayangmu, tak mau pergi…

Menyanyi banyak mendatangkan manfaat. Apakah itu sebagai ekspresi perasaan atau untuk menghidupkan suasana.

Entah mengapa, pagi itu aku memilih lagu ‘Nuansa Bening’ dan menyenandungkannya dengan gayaku sendiri di rumah. Saat suami selesai sarapan, aku pun bertanya, “Suka ngak dengan nyanyian gua barusan? Baguuuus ngaaaak?” Biasa… ini adalah salah caraku untuk mengawali percakapan pagi dengan sang kekasih hati.

“Bagus. Tapi sayang ‘kan kalau cuma gua yang dengerin.”

“Maksudnya?”

“Coba kalau banyak yang dengar kamu nyanyi….”

“Kenapa harus didengarin orang lain? Gua ‘kan nyanyinya memang spesial buat lu aja.”

“Pandai nyanyi dan suara bagus gitu, sukanya dinikmati sendiri saja. Rugi tahu! Minggu depan anak sepupu gua nikah di Bandung. Nah, itulah saatnya kamu nyanyi di hadapan orang banyak.”

“Apaaaaaaaaaa? Kenapa sih setiap ada kerabat kamu yang nikah, gua harus nyanyi?”

“Iya dong, supaya semua orang tahu kalau kamu itu bisa nyanyi. Disamping itu, gua ‘kan bisa nebeng jadi terkenal juga. Pasti orang-orang akan bilang… Itu lho istrinya A Huat pandai nyanyi. Ha… ha… ha….”

“Dasar curang. Sukanya mendompleng aja. He… he… he…. Ngomong-ngomong, bisa nyanyi bukan berarti bagus lho. Ngak usah ge er. Kualitas suara gua hanya biasa-biasa saja kog.”

“Siapa bilang. ‘Kan orang lain yang memberikan penilaian. Mulai sekarang, kamu lebih baik siapkan sebuah lagu dan terus berlatih untuk dinyanyikan di Bandung nanti.”

“Aduh, ngak usah macam-macamlah. Gua malas kalau harus ke Bandung, nih. Gua ngak usah ikut ya?”

“Terserah….”

Akhirnya, sehari sebelum hari H, terpaksa aku memutuskan untuk pergi juga karena Lisa ingin ikut. Namun, Lisa berubah pikiran dan membatalkan rencananya menjelang keberangkatan. Tanpa Lisa, aku pun tidak termotivasi lagi untuk pergi.  Tapi, suami yang sudah terlanjur senang dan berharap-harap aku tetap ikut terus saja membujuk dan merayu. Aku tidak mungkin bisa mengelak karena di rumah juga sudah ada dua pasang kerabat suami yang akan ikut dengan kami.

Kami baru meninggalkan Jakarta menuju Bandung menjelang siang hari. Dalam perjalanan, aku berusaha keras untuk menyelaraskan pikiran dan hati agar tetap positif sehingga bisa menikmati suasana selama perjalanan. Anggap saja aku ikut agar bisa bertemu dengan anakku, Eric yang sekarang tinggal di Bandung. Bukankah aku juga sudah mengenal sebagian besar kerabat suami sejak dulu, jauh sebelum aku bertemu suamiku lebih dari dua puluh tahun yang lalu? Karena, mereka adalah kenalan almarhum kedua orangtuaku saat Ayah masih bekerja di Rengat pada tahun 1970-an. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan ‘kan?

Ada. Ada yang perlu kukhawatirkan. Bagaimana kalau aku benar-benar diminta menyanyi di depan orang banyak? Ada sekitar 600 orang di sana karena pestanya dalam format ‘Makan Meja’. Sudahlah, daripada pusing-pusing. EGP ajalah.

Singkat cerita. Malamnya, baru saja kami tiba di tempat resepsi dan masih belum sempat mencari tempat duduk, aku langsung ditodong agar mau menyumbangkan lagu saat pesta berlangsung nanti.

“Apa ngak ada yang lain, Ci?” Aku berusaha menolak dengan halus.

“Dari pihak pengantin perempuan baru dua orang. Kita butuh lebih. Masa’ kalah sama pihak pengantin laki-laki. Ayolah. Kalau dalam bentuk karaoke sih banyak yang mau. Tapi karena pakai band, banyak yang tidak berani.”

“Oke deh. Tapi saya akan bicara dengan personil band pengiring dulu ya.”

Aku sadar, kalau menolak terus dan suami tahu, pasti akan dimarahi habis-habisan. Jadi, harus kuatkan hati. Beruntung, aku sudah terbiasa nyanyi dengan iringan band sejak SMA dulu. Malah sebenarnya aku jarang sekali berkaraoke. Karena masih ada waktu dan pesta belum dimulai, aku menuju panggung dan berbicara dengan personil band. Adalah penting memilih lagu dari daftar yang biasa dimainkan oleh band pengiring dan mencocokkan nada dasar. Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar kerabat dari pihak pengantin perempuan datang dari Riau, maka aku pun mencari tahu beberapa lagu Mandarin yang bisa dan biasa dimainkan band pengiring.

Satu setengah jam kemudian, namaku dipanggil untuk tampil. Walaupun hati ini berdegup sedikit lebih kencang, aku berusaha untuk tenang. Saat menyanyi, aku sempat dag dig dug juga karena semua mata tertuju padaku. Orang-orang yang kukenal itu terlihat sangat serius memperhatikan diriku. Yang membuatku lebih kaget lagi adalah ketika beberapa orang, satu per satu mulai naik ke panggung menyerahkan angpao. Gaya apa pula ini? Ya ampun… mereka tidak tahu kalau hal ini malah mengganggu konsentrasiku dalam bernyanyi ya? Untung lagunya benar-benar aku kuasai. Jadi, hal yang tak terduga ini bisa segera kuatasi.

Saat turun panggung, banyak yang memberi pujian. Ibu pengantin perempuan yang juga adalah saudara sepupu suamiku berkomentar, “Setahu aku, kamu dulu ngak menguasai bahasa Mandarin ‘kan?” Aku sempat terdiam beberapa saat sebelum memberikan respon. “Iya, memang dulu aku tidak bisa. Sekarang pun juga tidak mahir. Tapi dibandingkan dulu memang sudah jauh lebih baik.” Aku sempat heran darimana dia bisa menebak kemampuan Bahasa Mandarinku? Apa mungkin karena penghayatan lagu saat menyanyikan ‘Ai Qing De Gu She’ – ‘Cerita Tentang Cinta’ tadi? Ah, tidak usah ambil pusing…

Malam itu, sebenarnya aku tidak terlalu puas dengan penampilanku. Dan, orang yang bisa aku ajak berdiskusi adalah siapa lagi kalau bukan SUAMIKU.

“Gimana? Penampilan gua tadi kurang bagus ya.”

“Sudah cukup bagus. Tapi memang lebih bagus saat kamu nyanyi di rumah sih.”

“Harusnya tadi gua ngak usah nyanyi, ya. Malu-maluin.”

“Semua orang memuji kamu, kog. Hanya aku saja tahu kalau kamu bisa lebih baik dari itu karena sehari-hari aku terbiasa mendengan kamu menyanyi. Makanya, kalau disuruh latihan, ya lakukan saja. Tidak usah banyak cincong. Penyanyi itu ‘kan harus punya 4S: Siap Selalu Setiap Saat. Ketika diminta nyanyi, sudah tahu lagu apa yang akan didendangkan.”

“Gua ‘kan bukan penyanyi profesional. Pun, tidak punya niat untuk jadi penyanyi profesional, kog. Nyanyi ‘kan buat gua cuma sekedar hobi saja.” Protesku.

“Iyalah, gua tahu. Kalau begitu, jadilah penyanyi amatir yang kualitasnya profesional.”

Bisa nyanyi ternyata serba salah juga. Sudah maju untuk unjuk kemampuan pun masih dihadiahi kritikan yang pedas. Tapi, kalau tidak maju, pasti lebih parah lagi. Bisa-bisa marahnya diulang-ulang terus sampai telinga ini jadi panas mendidih. Apalagi sekarang aku sudah punya guru vokal. Standar yang diharapkan pasti lebih tinggi lagi. Dalam hal menyanyi, suamiku ini memang selalu alot.

Walaupun demikian, aku sadar bahwa sebenarnya maksudnya adalah baik. Karena tidak bisa menyanyi, suami jadi banyak berharap padaku. Bayangkan, meskipun sudah mati-matian latihan untuk menyanyikan sebuah lagu, tetap saja banyak nada yang sumbang saat dia ingin mencoba kemampuannya. Sampai-sampai aku suka tidak bisa tahan ketawa. Namun, ada satu pelajaran yang aku petik dari sikapnya yang optimis itu. Suamiku adalah orang yang piawai mentertawakan dirinya sendiri. Gayanya yang lucu itu selalu membuat kami terhibur.

Kalau ingat kata-katanya, aku jadi suka senyum-senyum sendiri. “Orang-orang bisa lari kalau dengar gua nyanyi. Jadi, gua itu kalau nyanyi bukan untuk menghibur, tapi untuk buat orang ketawa. Hebat ‘kan? Kamu aja selalu tertawa terbahak-bahak kalau dengar gua nyanyi, kan? Jadi, ingat! Suaramu yang bagus itu jangan disimpan sendiri ya… Katakan IYA pada setiap kesempatan yang datang. Siapa takut?”

Mulai detik itu juga, jika aku dihadapkan pada pilihan: nyanyi tapi dikritik, atau tidak nyanyi tapi dimarahi habis-habisan. Lebih baik aku maju saja dan nyanyi. Karena, pasti lebih banyak untung daripada ruginya.

Akhir kata, seringkali memang dibutuhkan orang lain untuk melihat potensi diri yang kita miliki.

2 Balasan ke Maju Kena, Mundur pun Kena

  1. Benny Berthonius Situmeang mengatakan:

    Yang saya tahu sejak SMA, Lian Lie bagus nyanyi dipanggung saya rasa siswa SMA DB lebih dr 600 orang…kalau saya senang lihat kualitas suara, penghayatan dan gesture juga sangat komunikatif dgn audience….kalo dikasi nilai ya…9

    • Vina Tan mengatakan:

      Halo Benny,
      Terima kasih banyak ya atas komentarnya. Aku sungguh kaget kalau diberi nilai 9 dan tentu saja aku merasa sangat tersanjung…

      Sudah lebih dari dua tahun ini aku les vokal. Ternyata cukup banyak kekurangan yang dilihat dan diperbaiki oleh guruku. Dia memang guru yang andal dan berkualitas. Makanya, aku senang sekali setiap kali pergi les.

      Dengan pujian dari Benny, rasanya aku akan tambah semangat lagi dalam bernyanyi dan akan lebih giat berlatih. He3x…

      Salam hangat selalu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: