Anda Menuai Apa yang Anda Tanam

Menjadi orangtua masa kini bukan lagi suatu perkara mudah. Masa depan anak-anak yang kita besarkan sangat tergantung pada bagaimana kita menjalankan peran kita sebagai orangtua. Jika hanya mengandalkan naluri dan terpaku pada cara-cara lama yang kita dapatkan dari orangtua zaman dulu, maka besar kemungkinan kita akan dihadapkan pada cukup banyak masalah di kemudian hari. Jadi, untuk dapat mengerti, memahami dan menghadapi anak-anak yang dibesarkan di era yang serba maju ini, kita harus berani berubah, banyak belajar dan terus bertumbuh.

Dua hari yang lalu, Minggu tanggal 3 Januari pukul 7 malam, saya menerima telepon dari seorang kenalan lama keluarga kami yang bernama Alex (bukan nama sebenarnya). Pak Alex tinggal dan bekerja di Jakarta, sedangkan istri dan kedua anaknya yang masih kuliah sudah lebih dari sepuluh tahun ini tinggal di Australia. Setahun belakangan, Pak Alex sudah cukup sering berkonsultasi tentang masalah anak-anaknya dengan saya melalui telepon. Beberapa bulan yang lalu, Pak Alex bahkan mengundang saya untuk datang ke Australia agar bisa membimbing keluarganya supaya bisa keluar dari masalah dan keterpurukan yang sedang mereka rasakan. Sayang, karena saya tidak suka bepergian, maka dengan berat hati saya tidak bisa menerima undangan tersebut.

Saat keluarga Pak Alex datang ke Jakarta beberapa hari yang lalu, Pak Alex pun berusaha agar istri dan anak-anaknya bisa bertemu dengan saya. Melalui telepon, Pak Alex meminta apakah saya bisa ke Pondok Indah karena istri dan anak-anaknya sudah kecapaian sehabis jalan-jalan di Mal seharian. Dengan tegas saya menolak karena saya hampir tidak pernah ke daerah Pondok Indah. Di samping itu, untuk dapat memberikan coaching dengan baik, saya juga harus merasa nyaman. Dan bagi saya, tempat yang paling tepat, ya,  di rumah sendiri.

Dengan putus asa, Pak Alex menjelaskan bahwa anak laki-lakinya kelihatannya sangat depresi dan ingin bunuh diri. Pak Alex pun bertanya apa harus dia lakukan. Saya menyarankan agar dibawa ke psikiater saja supaya bisa segera ditangani. Karena sudah berkali-kali bicara dengan Pak Alex, maka saya sangat paham bahwa pokok masalah yang dihadapinya adalah pola asuh yang salah selama bertahun-tahun. Jika tidak segera ditangani dengan benar, maka cepat atau lambat pasti akan meledak.

Sebenarnya saya merasa bersalah karena tetap meminta Pak Alex dan keluarga untuk datang ke rumah. Pak Alex sudah terdengar sangat putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa lagi dan dia sangat berharap untuk bisa segera bertemu dengan saya. Tapi bagaimana ya? Ternyata saya pun buta dengan daerah Pondok Indah. Akhirnya, setelah percakapan kami selesai, saya segera berdiskusi dengan suami. Menurut suami, jika orang itu butuh, apa pun rintangannya, dia pasti akan berusaha untuk datang. Bukannya kamu yang harus mengalah dan pergi mencari mereka. Jika mereka tidak berusaha, itu artinya mereka tidak sepenuhnya siap untuk di-coach. Kata-kata suami benar-benar bagai air yang menyejukkan. Selanjutnya, karena lapar, kami pun pergi mencari makan di daerah Puri Indah.

Dalam perjalan pulang, telepon genggam suami berdering dan itu dari Pak Alex. Karena suara telepon yang terputus-putus, saya tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang Pak Alex katakan. Tapi suami yang pertama mengangkat telepon menyampaikan bahwa Pak Alex akan ke rumah. Awalnya saya tidak yakin karena sudah pukul 8.30 malam. Namun, setelah Pak Alex menelpon kembali dan berbicara langsung kepada saya, jelaslah bahwa mereka sedang dalam perjalanan ke rumah…

Sebelumnya, saya pernah mengajukan satu syarat kepada Pak Alex agar coaching bisa efektif. Saya bertanya apakah Pak Alex dan istri siap dan bisa berlapang dada menerima kritikan dan uneg-uneg yang akan disampaikan oleh anaknya tentang mereka di depan saya. Karena, tanpa keterbukaan dan kesiapan untuk berubah dan melakukan langkah-langkah yang telah disepakati, maka coaching akan percuma atau tidak akan berhasil.

Saat bertemu, saya mengawali pembicaraan yang ringan-ringan dengan Jimmy, anak Pak Alex. Saya bertanya tentang kegiatan dia sehari-hari, apa saja yang dia paling dia sukai dan apa yang dia tidak suka. Butuh kesabaran untuk menggali isi hati Jimmy karena dia termasuk orang yang sensitif. Walaupun sudah berumur dua puluh satu tahun, Jimmy kurang mandiri, susah mengontrol emosi dan punya disiplin diri yang rendah. Persaingan dan pertentangan antar saudara juga jadi masalah. Jimmy sangat membutuhkan penghargaan dan pengakuan dari kedua orangtuanya bahwa dia anak yang baik. Dalam diri Jimmy juga ada luka batin yang belum sembuh sebagai akibat dari rasa sakit hati karena pernah dipukul dan dikurung di tempat yang gelap. Walaupun kejadiannya sudah cukup lama, namun karena tidak pernah dibicarakan dan ‘diobati’ secara tuntas, maka hal ini masih tetap menjadi ganjalan. Belum lagi kata-kata kasar yang diucapkan oleh kedua orangtua saat dalam keadaan lelah dan marah sehingga semuanya seakan terus berputar dalam sebuah lingkaran setan. Disamping itu, konflik suami istri juga jadi pemicu sehingga memperberat masalah yang ada.

Hati saya miris ketika Jimmy berkata bahwa dia ingin mati saja dan heran mengapa dia tidak mati-mati juga. “Hidup mana enak sih?” kata Jimmy. Selama ini, Jimmy memang kurang bersosialisasi. Waktunya banyak dihabiskan di depan komputer. Dan, inilah yang menjadi penyebab mengapa Jimmy bertambah stress setelah berada di Jakarta. Dia bingung dan tidak tahu mau berbuat apa selama di kota ini. Rasanya berat sekali berpisah dengan komputernya. Kepribadian Jimmy yang melankolis membuat segala sesuatu harus sempurna di matanya. Sehingga, jika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan standar yang ada, dia langsung stres. Ketidaktahuan dan rasa frustrasi kedua orangtua dalam menghadapi Jimmy benar-benar memperburuk keadaan. Di hadapan saya, ketika ada kata-kata kedua orangtuanya yang tidak berkenan di hati, dia langsung gusar dan berjalan bolak-balik sambil mengepalkan tangan. Seluruh tubuhnya menjadi merah karena menahan amarah. Menurut saya, Jimmy tidak bisa bersikap dewasa sesuai dengan umurnya karena pola asuh yang salah. Jelas sekali, apa yang selama ini ditanam, itulah yang sedang dituai.

Yang saya lakukan sebenarnya sangat sederhana. Saya membantu mendeteksi sumber masalah dan menunjukkan jalan keluar yang harus ditempuh agar keadaan bisa menjadi lebih kondusif. Masalah utama adalah komunikasi yang tidak jalan. Tentu saja, tidak ada yang mudah dan sama sekali tidak ada jalan pintas. Yang penting adalah adanya kesadaran diri dan tekad untuk keluar dari masalah. Tentunya, agar bisa berhasil, setiap anggota keluarga harus fokus dan konsisten mempraktekkan langkah-langkah yang sudah disepakati bersama. Dan, komunikasi adalah kunci utama. Mereka harus mulai melatih diri untuk menerapkan komunikasi dua arah, bukan satu arah seperti yang selama ini dipraktekkan. Bapak, ibu dan anak-anak juga harus mulai belajar untuk saling menghargai dan saling menghormati.

Perbincangan kami berakhir setelah berlangsung selama hampir empat jam. Jam satu pagi saat mengantar keluarga Pak Alex menuju mobil mereka, saya sempat bertanya kepada Jimmy, “Sudah nonton film Avatar belum?”

“Belum. Katanya filmnya bagus ya?”

“Iya, tertarik ngak untuk nonton? Kamu pasti akan terkagum-kagum deh dengan tehnik pembuatan film tersebut. Luar biasa!” Jimmy pun tersenyum. Terus terang, selama hampir empat jam, inilah senyuman pertama yang saya lihat di wajahnya.

“Jadi, tunggu apa lagi, Jim? Mulai sekarang, mau ngak Jimmy mulai pikirkan hal-hal positif apa saja yang bisa dilakukan selama di Jakarta? Masih dua belas hari ‘kan?” Kemudian saya melanjutkan, “Jimmy, hidup akan terasa indah jika kita tahu bagaimana mengisinya dengan hal-hal yang berarti. Pertama tentu demi diri kita sendiri dulu, kemudian baru untuk orang-orang di sekitar kita, terutama orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita.”

Saya melihat Pak Alex dan istri serta Jimmy pulang dengan perasaan lega. Harapan saya semoga mereka mau bekerja keras untuk mengatasi masalah yang ada dan mau terus berlatih untuk menjadi lebih baik. Bagi saya, dimana ada keyakinan, disitu pasti ada jalan. Bola sudah ada di tangan. Tinggal kita sendiri yang menentukan mau dilempar ke arah mana. Semoga malam itu memberikan secercah harapan bagi keluarga Pak Alex agar setahap demi setahap bisa lepas dari masalah yang sudah kronis. Tahun ini, Pak Alex sudah berusia enam puluh tiga tahun dan istrinya lima puluh empat. Kedua anak mereka saat ini masih berumur dua puluh dua dan dua puluh satu tahun. Bagaimanapun, perubahan tidak memandang usia dan tidak ada kata terlambat untuk memulai dan membawa hidup ini ke rel yang benar agar bisa sampai ke tujuan.

Satu hal yang pasti, tidak ada diantara kita yang ingin gagal menjadi orangtua, bukan?

You Reap What You Sow

2 Balasan ke Anda Menuai Apa yang Anda Tanam

  1. suzi majid mengatakan:

    setelah membaca tulisan mba vina di atas. saya juga mengalami dengan anak yang pertama. ga mau sekolah, malas belajar. kebetulan saya ikut les dansa dekat rumah, salah satu yang ikut kursus adalah psikolog. saya pun tidak menyia-nyiakan hal ini untuk konsultasi. teman saya itu mengatakan untuk menjadi anak yang baik, jadilah dan berusahalah menjadi orang tua yang baik dulu. tanamkan kasih sayang yang tulus kepada anak dan coba jalin komuniksi dengan baik sama anak. yang paling penting kita orang tua harus menjadi orang tua yang baik, supaya menjadi panutan bagi anak2. bagamana kita mengharapkan anak patuh tidak emosi, sementara kita selalu emosional. memang mba vina, kita tanam semangka hasilnya semangka. kita tanam kebaikan akan kita dapatkan kebaikan. kata pepatah air akan tumpah tidak jauh2 yaitu ke pancuran juga.like father like son…
    sukses selalu untuk mba vina..

    salam hangat

    suzi majid

  2. Vina Tan mengatakan:

    Mbak Suzi,
    Pertama-tama terima kasih ya udah baca tulisan saya. Iya, benar sekali pendapat Mbak. Kuncinya memang ada di tangan kita sebagai orangtua.

    Salam hangat selalu,
    Vina Tan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: