Prihatin

Bagi anda yang sudah membaca posting ‘Anda Menuai Apa yang Anda Tanam’, inilah lanjutan kisahnya…

Kemarin, saya menghabiskan waktu lebih dari dua jam berbicara dengan Pak Alex, Bu Alex dan putrinya, Shirley. Pak Alex ada di Jakarta, sedangkan Bu Alex dan Shirley di Australia. Pokok bahasan tentang keinginan Shirley yang ingin kembali dan meneruskan kuliah fashion di Jakarta. Karena, prospek dunia fashion di Jakarta lebih menjanjikan daripada di kota tempat tinggalnya di Australia. Alasan lain yang tidak kalah penting, Shirley sudah tidak tahan lagi hidup satu atap bersama adiknnya, Jimmy. Tidak ada kecocokan diantara mereka berdua sehingga yang terjadi hanyalah cekcok yang tak berujung. Saat ini, untuk menghindari konflik, mereka sudah hampir tidak bertegur sapa dan tidak ingin berada di ruangan yang sama jika sedang di rumah. Apakah keadaan sudah sedemikian parah? Kalau iya, sungguh memprihatinkan, bukan?

Masih segar dalam ingatan, saat telepon rumah berdering tanggal 15 Januari siang… Melihat nomor telepon yang masuk, saya tahu itu dari Pak Alex yang ingin mengajak putrinya, Shirley ke rumah agar bisa diajak bicara dari hati ke hati. Setelah mengiyakan, saya sempat bertanya tentang putranya, Jimmy. Hati saya sedikit lega ketika Pak Alex mengatakan bahwa sejak pulang dari rumah saya malam itu, Jimmy yang biasanya hanya bisa merengut, kini sudah bisa tersenyum.

Walaupun demikian, saya sangat yakin bahwa masalah yang sudah kronis tidak akan mungkin terselesaikan hanya dengan sebuah senyuman. Masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk membuat keadaan sedikit membaik. Untuk itu, dibutuhkan komitmen, konsistensi dan fokus pada pokok masalah. Sebenarnya, saya sendiri ragu… Mengingat usia Pak Alex dan istrinya yang sudah tidak muda lagi, apakah mereka masih punya cukup tenaga untuk melakukan terobosan agar bisa keluar dari cara-cara lama yang telah membuat sendi-sendi parenting keluarga ini menjadi rapuh? Tapi, tentu saja saya tidak boleh memvonis begitu saja. Kita harus mencoba dan berusaha semaksimal mungkin sebelum menyerah. Setuju ‘kan?

Kembali kepada persoalan Shirley. Waktu yang kami sepakati malam tanggal 15 Januari itu adalah jam 10 karena Shirley masih ada acara makan malam dengan teman-temannya. Juga, malam itu adalah detik-detik terakhir sebelum keluarga Pak Alex kembali ke Australia karena liburan telah usai. Jam empat pagi keluarga Pak Alex sudah harus berangkat ke bandara untuk kembali ke Australia.

Saya bisa merasakan bahwa hanya Pak Alex saja yang paling antusias dan ngotot ingin keluar prahara yang sedang menaungi keluarganya sehingga ia yang selalu memaksa anak-anak dan istrinya untuk saya coach. Makanya, saya tidak sampai hati jika harus menolak permintaan Pak Alex.

Akhirnya, lewat pukul 11 malam barulah Pak Alex memberitahu bahwa Shirley baru saja tiba di rumah dan pasti sudah kemalaman jika harus ke rumah saya. Tapi, Pak Alex memohon dan meminta saya untuk berbicara dengan Shirley via telepon saja. Awalnya saya sudah menolak dengan halus karena pasti akan sulit memulai percakapan dengan orang yang selama ini belum pernah sekalipun bertatap muka dengan saya. Disamping itu, kekuatan mata saya sudah tinggal 5 watt saja. Dan, dalam keadaan ngantuk, apa mungkin masih bisa jadi pendengar yang baik dan berpikir jernih? Tapi, kog hati ini ngak tega juga ya jika harus menolak orang yang sedang dalam kesulitan dan menjerit minta tolong?

Apa mau dikata! Malam itu, saya mencoba menahan kantuk sekuat tenaga. Pembicaraan dengan Shirley berlangsung sampai dua jam. Shirley sempat menangis, tapi akhirnya dia merasa plong karena bisa mengeluarkan semua uneg-unegnya. Jika adiknya Jimmy ingin mati saja karena merasa hidup sudah tak ada artinya, maka keinginan terpendam Shirley adalah lari dari rumah agar bebas dan lepas dari lingkaran setan yang membelenggu.

Sementara itu, bagi saya, semakin lengkap cerita yang didapatkan dari keempat anggota keluarga Pak Alex, semakin jelas dan nyata bahwa kehancuran yang terjadi adalah akibat dari cara parenting yang salah. Antara lain:

  1. Anak-anak terlalu dilindungi dan dimanja sehingga tidak mandiri.
  2. Luka batin anak-anak adalah akibat dari kata-kata yang tidak pantas dari kedua orangtua yang sering tidak bisa mengontrol emosi saat sedang putus asa atau frustrasi menghadapi anak-anaknya.
  3. Kedua anak Pak Alex sangat materialistis dan selalu menuntut Papanya untuk membelikan barang-barang mahal. Padahal, usaha Pak Alex masih dalam perjuangan dan belum sepenuhnya berhasil. Masalah menjadi berat karena Pak Alex gampang mengiyakan jika anak-anaknya meminta barang-barang mahal yang lebih sering tidak  dapat dipenuhinya.
  4. Orangtua merasa punya hak untuk mengontrol hidup anak-anaknya. Akibatnya, anak-anak sering diancam jika tidak mau menuruti kehendak orangtua.

Akibatnya, keinginan Shirley untuk kembali tinggal di Jakarta mengakibatkan keluarga ini tidak siap secara mental dan finansial. Ini tidak akan menjadi masalah besar jika Shirley mau berpijak pada tanah. Tapi, belum apa-apa,  Shirley sudah meminta Papanya untuk membeli rumah mewah demi gengsi dan sebuah mobil agar tidak perlu naik kendaraan umum. Celakanya lagi, Pak Alex dengan enteng telah menyanggupi dan dalam waktu enam bulan pasti akan mampu mengabulkan permintaan putrinya. Pak Alex sangat yakin kalau dalam enam bulan asetnya pasti laku terjual.

Saya sungguh prihatin saat mendapatkan kenyataan bahwa Pak Alex ingin buru-buru membereskan masalah di keluarganya sehingga mengabaikan aspek rasional dari sebuah persoalan. Karena irasional, maka kemampuan untuk berpikir jernih jelas terabaikan. Sehingga, untuk membantu Pak Alex, saya pun mengajukan beberapa pertanyaan:

  1. Pak Alex yakin fixed asset tersebut bisa laku dalam enam bulan?
  2. Kemudian, setelah terjual, apakah langsung bisa mendapatkan rumah idaman? Selama ini, Pak Alex tinggal di rumah saudaranya. Rumah yang dulu mereka tinggali di Jakarta sudah dijual dan uangnya sudah dipakai untuk membeli apartemen di Australia.
  3. Apakah Pak Alex sudah memperhitungakan berapa biaya tambahan yang akan dikeluarkan jika Shirley tinggal di Jakarta?
  4. Saat ini Shirley sudah berusia 23 tahun. Kalau mau kuliah fashion lagi di Jakarta sekitar 3-4 tahun, apa sudah diperhitungkan kapan baru bisa memulai karir? Dan, berapa biaya yang harus disediakan untuk membiayai kuliah tersebut?
  5. Berdasarkan informasi dari Pak Alex bahwa jika usahanya maju maka Shirley juga bersedia meneruskan usaha yang sedang dirintisnya jika sudah jalan dan berhasil. Yang penting mana yang bisa menghasilkan uang lebih cepat. Usaha tersebut tentu saja sangat jauh dari urusan fashion. Karena itulah, saya tanya Pak Alex, apakah Shirley benar-benar dan sungguh-sungguh tertarik di bidang fashion? Sebab jika tidak, apa Pak Alex tidak menyesal buang banyak uang untuk membiayai kuliah Shirley di sebuah sekolah fashion ternama di Jakarta?

Kelima pertanyaan diatas paling tidak membuat Pak Alex seakan tersadar bahwa sebuah keputusan penting harus dipertimbangkan secara matang. Hal ini tentu saja agar tidak keluar dari mulut harimau untuk kemudian masuk ke dalam mulut buaya. Akan sulit jika hanya memikirkan sesuatu yang seolah-olah baik untuk Shirley, tapi harus mengorbankan keuangan keluarga secara keseluruhan. Shirley bukanlah seorang yang teguh, tangguh dan tahan banting. Jadi apakah mungkin ia memiliki kekuatan dan spirit yang dibutuhkan dalam berjuang untuk menggapai impiannya? Waktu jualah yang akan membuktikan.

Saya jelaskan kepada Pak Alex bahwa keputusan yang mendadak jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dan, terus terang, saat ini kondisi keuangan Pak Alex belum memungkinkan karena masih harus menunggu penjualan aset dan keberhasilan usaha yang sedang dirintis.

Jika saya dihadapkan dengan pertanyaan apakah keluarga Pak Alex bisa keluar dari prahara parenting yang sudah terlanjur salah kaprah ini? Jawabannya adalah: SULIT! Tapi, bukan berarti tidak bisa ‘kan? Kalau ingin berhasil, dibutuhkan kesadaran tinggi, tekad yang tidak pernah padam dan kerja keras. Tentu saja, akan jauh lebih mudah membentuk dan mendidik anak yang masih kecil daripada merubah seorang yang sudah masuk kategori usia dewasa. Di samping itu, meminta orangtua yang sudah berusia 50-an dan 60-an untuk berubah, tentu bukan sebuah perkara mudah bukan?

Saya sendiri sangat bersyukur telah diberi kepercayaan untuk ikut menyumbangkan pikiran dalam menangani kasus Pak Alex yang tergolong berat ini. Bagi saya, mau dan mampu berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan orang lain telah memberikan nilai tambah bagi diri saya sendiri. Banyak manfaat yang bisa dipetik ketika kita berbagi. Bukankah gaung yang dikumandangkan akan lebih nyaring terdengar di telinga kita sendiri?

Life Coaching

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: