Lega

Beberapa waktu yang lalu, saat mulai membantu Pak Alex sekeluarga mengatasi masalah mereka, saya tidak mau berharap banyak. Juga tidak yakin kalau coaching akan berhasil. Hanya semangat Pak Alex-lah yang membuat saya tidak pernah mundur. Karena, dia begitu antusias dan sangat serius hendak membawa keluarganya keluar dari krisis parenting ini. Kalau Pak Alex tidak sungguh-sungguh, mungkin saya tidak akan buang-buang waktu untuk berbicara dengan mereka.

Kemarin malam, Pak Alex kembali menelpon. Dia bertanya, “Vina, tadi malam kamu ngomong apa sama Jimmy. Kog sikapnya jadi lembut dan positif saat berbicara dengan saya hari ini?” Saya sempat terdiam dan berpikir keras. Rasa-rasanya tadi malam saya lebih banyak mendengar curhat dari Jimmy. Ya, ada sih saya ngajak Jimmy untuk fokus pada cita-cita dan masa depannya sendiri, dan sedikit dorongan positif untuknya.

Terus terang, akhir-akhir ini, waktu saya cukup banyak tersita untuk mendengarkan curhat masing-masing anggota keluarga Pak Alex sehingga hati saya pun lelah. Emosi dan energi positif saya seolah-olah terhisap oleh keluarga ini. Kini saya benar-benar butuh waktu untuk memulihkan diri.

Melalui telepon, Pak Alex memberitahu saya bahwa sekarang istrinya sudah mendukung keinginan Shirley untuk kembali ke Jakarta. Mereka memutuskan agar Shirley mencari kursus saja agar bisa segera bekerja. Jadi, pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan kepada Pak Alex beberapa waktu yang lalu, ternyata berhasil juga menggiring mereka pada pemecahan masalah yang lebih rasional dan menguntungkan semua pihak. Luar biasa!

Dari awal, saya sudah tegaskan kepada Pak Alex bahwa mereka sendirilah yang harus mengambil keputusan. Peran saya hanya sebagai katalisator yang dapat mempercepat terjadinya perubahan dan perbaikan yang mereka harapkan. Sedangkan, hasil dan usaha, merekalah yang menentukan.

Kini, nada putus asa dari Pak Alex telah digantikan oleh rasa optimis. Harapan seolah-olah membentang luas saat Pak Alex merasakan perkembangan positif yang terjadi pada keluarganya. Pak Alex pun sudah bisa tertawa saat memuji saya di telepon. Di akhir pembicaraan, berulang kali Pak Alex mengucapkan terima kasih atas bantuan moril yang telah saya berikan pada keluarganya.

Menurut saya, faktor utama keberhasilan Pak Alex adalah di saat tidak tahu harus bagaimana Pak Alex bertanya kepada saya apa hal utama yang harus dia lakukan pada kedua anaknya karena telah melukai perasaan mereka selama ini. Pak Alex telah kehilangan kepercayaan dan kasih sayang dari Jimmy dan Shirley. Komunikasi mereka tidak jalan dan yang ada adalah saling menyakiti satu sama lain. Saya hanya meminta Pak Alex untuk meminta maaf kepada kedua anaknya atas kesalahan yang secara tidak sengaja telah dia lakukan. Dan, Pak Alex pun mengikuti saran saya dengan dada lapang.

Pagi ini, Pak Alex menelpon kembali karena ada hal yang ingin ditanyakan. Teringat akan satu masalah penting yang masih mengganjal keluarga ini, saya pun memberi masukan bagaimana mengubah rasa permusuhan antar kedua anaknya menjadi rasa persaudaraan. Karena, tidak ada orangtua yang ingin melihat anak-anaknya bermusuhan satu sama lain, bukan? Dan, hal-hal baik mungkin sekali bisa terjadi karena di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan.

Hati saya akhirnya plong dan lega saat pembicaraan dengan Pak Alex usai. Agar tidak terlena oleh pujian yang baru didapat, cepat-cepat saya buka sebuah buku bijak untuk mendapatkan kata-kata penting di bawah ini:

If you are humble, nothing will touch you, neither praise nor disgrace, because you know what you are. ~ Mother Teresa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: