Membesarkan Anak Laki-Laki

Pagi ini saya ditelpon oleh seorang ibu yang tidak saya kenal sebelumnya. Namanya Liana (bukan nama sebenarnya). Liana mendapatkan nomor telepon dan materi seminar saya dari seorang teman yang pernah hadir di seminar parenting saya di salah satu sekolah di Tangerang. Setelah mendengar keluh-kesah Liana selama beberapa saat, saya pun mulai menebak-nebak kalau yang bermasalah itu adalah anak laki-lakinya. Ternyata dugaan saya benar. Saat menanyakan apa peran ayah dalam membesarkan anak tersebut dan dijawab dengan TIDAK ADA, maka dengan mudah saya dapat menjabarkan akar masalah.

Pada dasarnya, dalam sebuah keluarga, jika peran ibu begitu dominan, sedangkan ayah hampir tidak punya andil dalam pengasuhan anak-anaknya, maka bisa dipastikan bahwa dampak negatif akan sangat terasa dan terlihat nyata pada anak laki-laki saat mereka dewasa nantinya. Setelah mendengar ulasan dan kupasan dari saya, Liana langsung menghubungkannya dengan kenyataan yang ada dalam keluarga besarnya. Liana dan saudara perempuannya sangat mandiri dan dominan, sedangkan saudara laki-lakinya tidak ada yang berhasil. Hal yang sama juga terjadi dalam keluarga suaminya.

Pelajaran berharga yang selama ini saya dapatkan dari buku-buku parenting yang berhubungan dengan kasus-kasus parenting yang ‘datang’ pada saya adalah bahwa masa depan anak-anak kita sangat bergantung kepada cara kita membesarkan dan membimbing anak laki-laki agar kelak menjadi menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan punya sikap terhormat. Karena saya sendiri juga memiliki seorang anak laki-laki, maka ketertarikan akan hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana sepatutnya seorang anak laki-laki dibesarkan tentu saja menarik perhatian saya juga.

Apa yang dibutuhkan anak laki-laki?

1. Pembentukan Karakter

Agar pembentukan karakter anak laki-laki berjalan mulus dan lancar, maka dibutuhkan seorang pemimpin yang bisa menunjukkan arah dan jalan yang tepat serta mengajari anak ilmu kehidupan. Karakter yang kuat akan menumbuhkan jiwa kepimpinan dalam diri seorang anak laki-laki. Dan, ini sangatlah penting karena pemimpin sebuah keluarga seharusnya adalah sang suami. Itulah sebabnya, peran seorang ayah atau laki-laki yang lebih tua lainnya menjadi penting karena untuk tumbuh menjadi laki-laki sejati, anak laki-laki sangat membutuhkan teladan dari laki-laki dewasa.

Perbedaan struktur otak perempuan dan laki-laki juga menjadi salah satu penyebab yang membuat pembentukan karakter akan lebih kuat dan efektif dalam diri anak laki-laki jika dilakukan oleh ayah atau laki-laki dewasa lainnya. Kata-kata dari salah satu buku yang masih saya ingat sampai hari ini adalah: Jika anak laki-laki anda sudah setinggi ibunya, biarkanlah pengajaran ‘ilmu kehidupan’ untuk dirinya diambil alih oleh sang ayah.

Saat ini, yang menjadi masalah utama adalah orangtua menghabiskan terlalu sedikit waktu dengan anak laki-lakinya. Akibatnya, anak laki-laki yang pada dasarnya punya sifat ingin menang, suka berkompetisi dan ingin menjadi bintang ataupun superhero akan lebih condong pada kelompok teman sebaya atau pahlawan yang ditampilkan media. Tanpa adanya teladan dari laki-laki dewasa yang lebih tua untuk membantu anak laki-laki memahami proses pembentukan jati diri yang sedang berlangsung, maka kelak akan timbul banyak masalah dalam keluarga.

Beberapa waktu yang lalu, selesai memberikan seminar di salah satu sekolah di daerah Jakarta Selatan, kepala sekolah minta waktu untuk berbicara sebentar dengan saya. Dia menyampaikan keprihatinannya bahwa seiring meningkatnya persentase orang tua tunggal di sekolah, semakin banyak pula anak didiknya yang bermasalah. Ayah dari anak-anak ini banyak yang pergi begitu saja tanpa kesan dan pesan. Hati saya ikut terenyuh. Jelaslah ini akibat dari kegagalan dalam mendidik anak laki-laki kita. Sehingga ketika dewasa, mereka tidak mampu untuk berkomitmen, mudah lari dari masalah, sampai-sampai tidak mau peduli lagi pada keluarga sendiri.

2. Hubungan yang “tepat” antara ibu dan anak laki-laki

Sepanjang tahap awal kehidupan anak laki-laki, ibu harus mendapatkan dukungan fisik, materi, sosial dan emosional dari pasangan hidupnya, sahabat dan keluarga. Dukungan ini diperlukan untuk pembentukan hubungan yang positif dengan anak laki-lakinya. Dengan dukungan itu, seorang ibu akan mampu menjalin ikatan dan kedekatan dengan anak laki-lakinya sehingga anak tumbuh dengan perasaan layak dicintai. Jika tiba waktunya anak harus berpisah dari sang ibu untuk membangun jati dirinya, maka dia sudah memiliki landasan yang kokoh.

Tanpa adanya dukungan dari orang terdekatnya, ibu cenderung menjadikan anak laki-laki sebagai objek pelampiasan psikologis. Jiwa yang haus tentu tidak akan mampu menyirami hati yang sedang butuh kesejukkan, bukan? Dukungan keluarga yang dimiliki oleh ibu akan membuat anak laki-laki belajar menghargai perempuan.

Saat memasuki usia remaja, seorang anak laki-laki sudah siap berpisah secara psikologis dari ibunya. Ia akan berpindah dari ketergantungan kepada ibu pada tahun-tahun awalnya menju kemandirian emosional selama remaja dan kedewasaan awal untuk kemudian bergerak menuju fase saling tergantung dengan pasangan saat berkeluarga. Jika seorang anak laki-laki tidak berpisah secara psikologis dari ibunya, ia akan sulit menjadi mandiri sehingga akan bermasalah saat membina hubungan dengan pasangannya setelah menikah.

3. Figur Ayah

Seorang ayah yang baik:

  • Harus punya kesadaran untuk menjadi seorang ayah.
  • Harus memiliki jati diri karena bagaimana mungkin seorang ayah bisa membesarkan anak laki-lakinya jika ia adalah ayah yang tidak memiliki jati diri, tertutup dan tidak matang?
  • Harus belajar cara berkomunikasi dengan anak laki-laki yang ia besarkan.
  • Mau mempelajari keahlian-keahlian baru untuk mengikuti pertumbuhan dan perkembangan anak laki-lakinya.
  • Harus tahu kapan saatnya melepaskan anaknya seraya tetap menjadi teladan/panutan.

Kembali kepada kasus Liana pada awal tulisan ini. Anak laki-laki tertuanya saat ini duduk di kelas satu Sekolah Menengah Atas untuk kedua kalinya karena tidak naik kelas di tahun sebelumnya. Walaupun sudah mengulang, tetap saja nilainya tidak baik sehingga ada kemungkinan harus keluar dari sekolah tersebut. Ayah yang lemah dan tidak mampu berperan layaknya seorang ayah walaupun secara fisik hadir di tengah-tengah keluarga telah membuat tugas Liana sebagai seorang Ibu menjadi semakin sulit dan berat.

Terakhir, ada satu hal penting lagi yang saya tanyakan pada Liana. Apakah anaknya suka main game? Ketika jawabannya iya maka semakin lengkapkah keterpurukan yang mungkin terbayangkan dalam benak ini. Apa yang akan terjadi dengan masa depan anak yang tidak bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri? Ketika tidak ada kesadaran diri mungkinkah terbentuk kontrol diri? Saat kontrol diri tidak ada, apakah jika dewasa nanti akan mampu jadi kepala keluarga yang siap membimbing anak-anaknya?

Terus terang, anak laki-laki yang tidak dibesarkan dengan baik bukan hanya menciptakan beban tambahan bagi keluarganya tapi juga akan memperberat masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat. Kekerasan dalam rumah tangga akan semakin banyak terjadi dan tingkat kriminalitas pasti akan terus meningkat. Sehingga, jika kita ingin menghindari masalah yang lebih runyam untuk masa yang akan datang, mulai saat ini perhatikan dan berikanlah yang terbaik bagi anak laki-laki kita di rumah. Agar kelak mereka siap menjadi laki-laki dewasa sejati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: