Dokter Istimewa

Sudah empat bulan lebih aku kenal dengan dr Yossy – psikiater yang mengobati sakit Eric. Selama itu pula aku telah banyak belajar untuk memahami penyakit-penyakit kejiwaan yang disebabkan oleh kelainan neurotransmitter pada otak. Sebenarnya, saat pertama kali membawa Eric ke rumah sakit untuk berobat, aku telah memilih psikiater yang lain. Namun, karena ruang praktek dokter tersebut ada di poli anak, aku jadi ragu dan meminta file Eric agar dipindahkan ke dokter spesialis jiwa yang lain. Saat itu, naluriku mengatakan bahwa lebih baik memilih seorang dokter perempuan karena berdiskusi tentang penyakit anak kami pasti membutuhkan waktu yang lebih panjang. Lagipula, bukankah biasanya perempuan akan lebih enak diajak berdiskusi panjang lebar dibandingkan dengan laki-laki?

Ternyata pilihan yang berdasarkan insting itu akhirnya membawa berkah. Aku bukan saja langsung menemukan seorang dokter yang pas dan cocok untuk mengobati Eric. Akan tetapi, dalam setiap pertemuan, dr Yossy selalu bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaanku dengan senang hati. Dr Yossy bukan hanya sekedar menjawab saja, tapi setiap jawaban selalu disertai penjabaran. Yeah, tentu saja aku merasa puas, bahkan sangat puas sehingga aku pun merasa makin ‘pintar’ saja. Hehehe… Aku merasa sangat beruntung karena secara tidak langsung telah mendapatkan kuliah singkat yang sangat berguna. Berguna bukan saja untuk membantu anakku, tapi juga bermanfaat bagi keluarga pasien yang bertanya padaku. Di samping itu, atas inisiatif dr Yossy, pertemuan dengan sesama keluarga pasien yang diadakan dua bulan sekali sangat bermanfaat agar keluarga pasien bisa saling berbagi dan saling menguatkan.

Berhubung penyakit dengan kelainan cairan kimia di otak tersebut butuh pengobatan jangka panjang, maka kami pun jadi cukup sering bertemu dengan dengan dr Yossy. Alasannya, dua minggu sekali kami harus membawa Eric untuk disuntik obat anti-psikotik (mulai Februari 2011 akan jadi tiga minggu sekali).

Hari ini, saat bertemu dengan dokter di ruang prakteknya, aku punya sebuah cerita untuk dokter…

Sesudah menyimak ‘seminar’ dokter tentang ‘Bipolar Disorder’ tanggal 4 Desember yang baru lalu, aku jadi yakin kalau adik dari salah satu temanku yang sedang bermasalah dengan narkoba adalah seorang penderita Bipolar juga, malah kemungkinan besar penyakit tersebut sudah dideritanya sejak kecil. Aku pun mendesak temanku itu untuk membawa adiknya bertemu dengan seorang psikiater. Hasilnya? Ternyata dugaanku tidak meleset. Menurut temanku, untung aku sudah terlebih dahulu menjelaskan penyakit tersebut pada keluarganya sehingga ketika mendapat diagnosa dari dokter, mereka sudah tidak terlalu kaget lagi.

Usai mendengar ceritaku, dengan penuh semangat dan tanpa segan-segan, dokter langsung memberikan masukan dan penjelasan tambahan yang sangat berguna. Tidak hanya itu saja, sebelum pertemuan berakhir, aku masih sempat menanyakan satu hal untuk memuaskan rasa ingin tahuku…

“Dokter, sepertinya penderita Depresi Psikotik dan Skizofrenia itu banyak kemiripannya ya. Apa yang membuat kita bisa membedakan seseorang penderita ‘Depresi Psikotik’ dengan ‘Skizofrenia?”

Sungguh tak kuduga, jawaban dokter yang singkat dan tepat membuat aku langsung paham. Bagiku, dr Yossy bukan saja seorang dokter yang masih muda dan cantik, namun dia juga dokter yang istimewa – seorang dokter yang tidak pernah ragu untuk mengedukasi pasien dan keluarga pasien agar proses penyembuhan bisa dipermudah dan dipercepat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: