Voice Recorder

Beberapa hari ini aku sibuk memindahkan hasil rekaman percakapan-percakapan kami dengan Eric – ketika kondisi psikis Eric belum stabil – ke dalam ‘Microsoft Word‘. Wah, sebenarnya cukup capek juga sih ngetik terus… Tapi, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus melakukannya. Data tersebut pasti akan berguna jika kelak aku menuliskan kisah perjuangan kami untuk melihat Eric kembali normal.

Entah sudah berapa aku menunda-nunda apa yang harus kuketik karena tentu takkan pernah mudah harus mengorek-ngorek luka hati saat melawan masa-masa sulit. Untunglah aku memiliki sebuah alat perekam suara yang awalnya sempat kutolak. Alat ini ternyata sangat membantu untuk mengingatkan kembali kalimat-kalimat penting yang suatu hari nanti pasti akan kubutuhkan.

Begini ceritanya…

Sehari setelah Eric jatuh sakit, aku tidak begitu setuju dengan keinginan suami untuk membeli sebuah alat perekam suara. Spontan aku langsung menolak. “Untuk apa sih? Yang lama aja jarang gua pakai. Sayang ‘kan kalau buang-buang duit aja?” Tapi suami bergeming. Kegigihannya pun tak tergoyahkan sehingga aku lebih baik menyerah. “Yang lama itu ngak bagus karena hanya mampu mengisi satu jam percakapan saja. Sedangkan yang akan gua pesan ini, formatnya MP3, jadi mudah dipindahkan ke komputer. Dengan kapasitas kartu memori yang 4 giga bisa memuat 40 jam pembicaraan. Eric sedang sakit, jadi akan lebih baik jika kita punya voice recorder untuk memantau keadaannya. Percayalah, alat ini pasti akan ada gunanya,” ujar suamiku seakan ingin menepis keraguan dan rasa enggan yang jelas-jelas terpancar dari raut wajahku.

Daripada ribut, lebih baik aku menyerah saja. Mudah sekali bukan? Siapa tahu akan bermanfaat nantinya, kataku dalam hati. Hari itu juga, alat perekam tersebut langsung dipesan dan diantar ke rumah.

Kini, lima bulan telah berlalu. Tentu saja aku patut bersyukur dan berterima kasih pada suami tercinta. Terus terang, apa yang telah terekam dalam alat tersebut tidak pernah kami putar kembali hingga aku memutuskan untuk memindahkannya dalam bentuk tulisan. Harus kuakui, ingatan kita begitu mudah terkikis dan dengan cepat digantikan oleh kejadian-kejadian terbaru. Saat aku mendengar sambil mengetikkan isi percapakan yang tersimpan dalam alat tersebut, aku merasa sangat beruntung. Alat tersebut benar-benar mampu menghidupkan kembali kenangan yang mulai memudar. Maklumlah, masa-masa kritis sudah berlalu. Ibaratnya, musim semi telah datang menggantikan musim dingin. Bunga yang tadinya mati, kini telah kembali bersemi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: