‘The Other Side of Me’

The Other Side of Me – Sisi Lain Diriku – karya Sidney Sheldon adalah judul buku yang berada dalam urutan teratas dari daftar buku yang ingin sekali kubaca. Dan, kalau bisa, sih, edisi terjemahan Indonesianya saja. Namun setelah mencari-cari ke Gramedia MTA (Mal Taman Anggrek) dan Gramedia CP (Central Park), aku pun tak berhasil mendapatkannya. Sempat sih terbersit dalam pikiran ini untuk memesannya saja dari Amazon. com. Tapi, niat tersebut aku tunda dulu dan mencoba untuk bersabar sedikit lagi…

Sore ini, saat suamiku hendak ke Gramedia CL (Citra Land) untuk keperluan ‘buat cap/stempel’, maka aku pun minta ikut. Tujuannya untuk menemani saja sekaligus membuat senang hati suami. Jadi, sesampainya di sana, iseng-iseng aku pun melihat-lihat di rak novel terjemahan sambil mencari-cari buku-buku karya Sidney Sheldon. Siapa tahu ada.

Tak dinyana, aku menemukannya! Dalam hati aku bersorak riang sehingga cepat-cepat kulangkahkan kaki menuju kasir untuk menuntaskan pembayaran.

Puas! Puas banget deh rasanya…

7 Balasan ke ‘The Other Side of Me’

  1. suzinil majid mengatakan:

    mba vina,

    apa kabar..saya mau minta saran,boleh kan…
    anak saya kuliah di fe unpad bandung,saat ini kuliah nya diambang drop out, sebelumnya saya sdh berkonsultasi dengan bidang kemahasiswaan dan ybs sdh dipanggil juga, namun usaha tsb tidak membuahkan hsl..
    hambatan utama,karena dia ga bisa matematika, sedangkan di fe semua hitungan… sebelumnya saya sdh menyarankan untuk pindah jurusan..tapi saran saya tidak pernah digubris.. saya punya kelemahan ga bisa keras sama anak…seperti mba vina ketahui, klo tidak kuliah,nanti mau jadi apa.. akhirnya saya sarankan untuk kuliah dekat rumah saja, yang murah meriah dan tidak begitu susah,asal s1 bisa dicapai..
    saya kecewa memang,sia2 rasanya…keluar duit banyak hasil tidak ada… sebagai seorang konsultan mba vina, apa sebaiknya yang saya lakukan… supaya anak saya mempunyai motivasi yang kuat untuk maju,supaya usaha kali ini tidak sia2 lagi…

    terima kasih sebelumnya, saya tunggu sarannya..

    salam hangat

    suzi

    • Vina Tan mengatakan:

      Mbak Suzi,
      Saya baik-baik saja walaupun cukup terkejut dengan cerita Mbak.
      Sebenarnya yang paling baik adalah ketika anak ingin kuliah, mereka sudah tahu jurusan apa yang akan dipilih. Bukan kuliah karena mengikuti pilihan orang tua. Masalahnya, seringkali anak-anak juga ngak tahu mau kuliah apa. Kadang2 sebagai orangtua, tanpa sadar kita selalu maunya anak2 nurut dan mengikuti kemauan kita atau mungkin guru dan orang2 yang lebih tua. Sebaiknya dari kecil dikasih kesempatan untuk memilih. Misalnya dari memilih baju, memilih buku bacaan, dll. Tentu saja kesempatan ini kita berikan pada anak-anak setelah mereka kita arahkan atau kita latih agar tahu memilih yang baik dan benar (walaupun tidak ada yang 100% benar).

      Dalam hidup ini, seringkali kegagalan adalah pelajaran yang paling berharga. Yang bisa kita lakukan kalau anak kita sudah diambang putus kuliah adalah ajak dia berdialog (komunikasi dua arah). Dari sini kita bisa menggali apa saja yang menjadi kendala si anak. Apa iya hanya karena matematika saja atau dia memang tidak tertarik untuk kuliah di FE? Ketika anak sudah terbuka dan memang keadaan sudah tidak bisa diperbaiki, maka ajak dia mencari jalan keluarnya. Kalau sampai drop-out apa sudah dipikirkan jalan keluarnya? Apakah akan pindah kuliah? Bagaimana rencana dia untuk menghidupi dirinya dan keluarganya kelak? Bagaimana dia akan berkarir atau berusaha?

      Intinya, jangan sampai kegagalan kuliah membuat dunia sang anak seolah-olah sudah berakhir. Bukankah banyak orang-orang hebat di dunia adalah mereka yang memutuskan untuk berhenti kuliah dan mengejar impian tanpa harus berkutat dengan pelajaran atau pengajaran yang tidak sesuai dengan jiwa mereka? Saya percaya anak Mbak sudah cukup dewasa untuk diajak berdialog. Ngak ada yang sia-sia, Mbak. Walaupun uang kuliah yang kita keluarkan sudah cukup besar. Belum lagi usaha kita dan usaha dia sendiri selama ini.

      Saya selalu bilang pada anak-anak saya bahwa mereka sendiri yang menentukan masa depan. Ortu hanya bisa mendukung, memfasilitasi, dan mendorong dari belakang. Tapi merekalah yang berada di garis depan. Kalau sampai bertemu dengan kegagalan, jangan pernah khawatir karena selalu ada jalan berbelok, jalan putar balik, atau jalan mundur. Yang penting jangan putus asa karena harapan dan kesempatan selalu terbuka lebar. Intinya, saya meminta mereka untuk tidak mudah menyerah (sikap ini harusnya sudah dibangun dan dilatih sejak kecil), serta lakukan yang terbaik. Kalau sudah dan masih gagal, jangan khawatir, cari jalan keluar dan coba lagi.

      Motivasi atau dorongan yang kuat dalam diri anak tidak bisa kita paksakan atau kita bentuk dalam waktu singkat. Ini harus ditumbuhkan dan perlu proses.

      Oh ya, kalau ada kesempatan, saya bersedia kog ngobrol2 dengan anak Mbak. Mungkin dengan begitu baru kita bisa mencari tahu apa sebenarnya masalah dia dan menemukan jalan keluar terbaik.

      Salam hangat,
      Vina

  2. suzinil majid mengatakan:

    mba vina…

    yang memutuskan untuk kuliah di unpad bukan saya dan papanya, tapi dia sendirilah yang memilih.. kami sebagai ortu ga pernah memaksakan kehendak..
    apakah salah pergaulan…tidak juga karena teman2nya sudah hampir selesai semua kuliahnya..
    saya berdialog dengan dia, akhirnya diambil kesimpulan u kuliah di jakarta (belum tau dimana)setelah mengajukan permohonan pengunduran diri..karena saya ga mau lagi di bandung…
    saya sarankan ambil universitas yang biasa2 saja yang penting bisa selesai..
    memang, saya akui setiap berdialog dengan dia selalu timbul ke tidak cocokkan, akhirnya sama2 emosi…

    saran mba untuk mau berdialog dengan dia, saya sambut dengan senang hati, nanti saya coba berbicara dengan dia… mudah2an dia mau berdialog dengan mba vina…mengenai waktu dan tempat saya serahkan sepenuhnya kepada mba vina…
    sekali lagi terima kasih atas segalabantuannya..
    dengan berbagi cerita ini, rasa beban dihati terssa lebih lapang…

    salam hangat

    suzi

    • Vina Tan mengatakan:

      Hi Mbak Suzi,

      Sama-sama. Saya juga berterima kasih karena sudah mau berbagi cerita dengan saya sehingga saya pun bisa belajar dari Mbak.

      Hidup memang tidak selalu mulus… Karena, dalam perjalanan menaiki ataupun menuruni anak tangga pasti ada hal-hal yang tidak sesuai dengan harapan.

      Rancananya anak Mbak pindah ke Jakarta dengan jurusan yang sama sehingga nilai yang ada bisa ditransfer atau pindah jurusan?

      Saya berharap ada pelajaran yang bisa dipetik anak Mbak setelah tidak berhasil menyesaikan kuliah di Unpad. Gagal tak mengapa, yang penting ke depannya.

      Saya doakan semoga anak Mbak akan berhasil menyelesaikan kuliahnya di Jakarta.

      Saya tunggu ya kalau anak Mbak mau ‘ngobrol-ngobrol’ dengan saya. Tapi kalau ngak mau, ngak usah dipaksakan. Saya percaya anak Mbak pasti sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan sendiri dan dia pasti tahu apa yang terbaik bagi dirinya.

      Salam hangat,
      Vina

      • suzinil majid mengatakan:

        tadinya dia mau pindah jurusan, setelah saya tanya teman sma dulu, saat ini menjadi dosen, dia bilang klo pindah jurusan nilainya yang bisa ditransfer sedikit sekali,sayang banget.. klo dia mau jurusan yg sama lebih gampang..dan dia mau bantu…bila ada kesulitan.. saya sarankan kepada dia untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.. misalnya kursus bahasa inggris.. dia mau mengikuti saran saya.. mohon doanya..semoga kedepannya berjalan dengan baik.. bgm kabar ank mba vina yang di itb?

        terima kasih banyak sudah memberikan saran kepada saya…

        salam manis..

        suzi

      • Vina Tan mengatakan:

        Mbak Suzi,

        Saya akan ikut mendoakan semoga ke depannya kuliah anak Mbak bisa berjalan dengan baik. Oh ya, mengenai anak saya yang di ITB, saat hendak masuk semester 3, Eric kena serangan ‘depresi psikotik’ shg mengalami halusinasi dan delusi. Sejak itu dia berobat rutin ke psikiater. Penyakit tersebut disebabkan oleh karena ada kelebihan zat dopamin dalam otak. Jadi ada kelainan biologis dalam otak sehingga harus berobat rutin. Sp saat ini Eric masih tetap kuliah di ITB, dan tentu saja dengan beberapa penyesuaian. Saya hanya bisa berharap mudah-mudahan bisa sampai tamat. Tapi, juga harus siap kalau yang sebaliknya terjadi.

        Manusia bisa merencanakan, tapi Tuhanlah yang menentukan.

        Salam hangat selalu,
        Vina

  3. suzimajid mengatakan:

    mba vina,

    saya ikut prihatin dengan kondisi eric, mudah2an cepat sembuh….semoga Tuhan memberkati dan memberikan yang terbaik bagi mba vina sekeluarga..

    salam

    suzi majid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: